![]() |
| Drama 2-2 di Kandang Cremonese, Cagliari Bangkit dengan Mental Baja dan Pulang Bawa Poin Berharga. |
JAKARTA - Cremonese harus kembali menelan kekecewaan. Kemenangan yang sudah di depan mata sirna begitu saja setelah Cagliari menunjukkan semangat pantang menyerah. Bermain di Stadion Zini, laga berakhir imbang 2-2, hasil yang membuat tuan rumah memperpanjang puasa kemenangan menjadi lima pertandingan beruntun.
Padahal, Cremonese memulai laga dengan sangat meyakinkan. Setelah empat laga terakhir gagal mencetak gol, tim berjuluk grigiorossi langsung “pecah telur” saat pertandingan baru berjalan empat menit. Kesalahan fatal dari pemain Cagliari, Mina, dimanfaatkan dengan baik. Vardy mencuri bola dan mengirim umpan matang kepada Johnsen yang tanpa ragu menaklukkan kiper. Skor 1-0 dan publik tuan rumah langsung bersorak.
Keputusan mengejutkan pelatih Cremonese, Nicola, terbukti jitu. Johnsen diplot bergerak di antara lini, menciptakan keunggulan jumlah pemain di depan. Sebaliknya, racikan strategi Cagliari justru kurang meyakinkan. Penempatan Palestra di sisi kiri dianggap mematikan potensi sang pemain muda andalan tim U-21. Alur serangan tim tamu pun tersendat.
Masalah Cagliari makin bertambah di menit ke-28. Kali ini Luperto melakukan kesalahan yang berujung serangan balik cepat. Bonazzoli bergerak cepat, mengirim assist kepada Vardy, dan gol kedua pun tercipta. Cremonese unggul 2-0.
Cagliari baru menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di sepuluh menit akhir babak pertama. Beberapa peluang mulai tercipta, termasuk sepakan Rodriguez yang memaksa Audero bekerja keras. Namun, babak pertama tetap ditutup dengan keunggulan dua gol bagi Cremonese.
Memasuki babak kedua, arah pertandingan berubah drastis. Cremonese memilih bermain lebih aman, sementara Cagliari tampil habis-habisan. Pelatih Pisacane langsung melakukan perubahan, memasukkan Esposito dan perlahan mengubah formasi menjadi 4-2-3-1. Hasilnya langsung terasa.
Cagliari mendominasi penguasaan bola hingga 64 persen di babak kedua dan menekan dari segala sisi. Gol balasan akhirnya datang di menit ke-51 lewat Adopo. Memanfaatkan umpan pantul dari Borrelli, Adopo melepaskan tembakan mendatar yang akurat. Skor berubah menjadi 2-1, dan momentum sepenuhnya beralih ke tim tamu.
Tekanan terus berlanjut. Gol Esposito sempat dianulir di menit ke-69, sementara Zappa dan Borrelli gagal memaksimalkan peluang emas. Hingga akhirnya, kebangkitan Cagliari disempurnakan oleh Trepy, mantan pemain Primavera. Umpan panjang Mazzitelli dikontrol dengan tenang, lalu diselesaikan dengan tembakan keras yang membuat skor imbang 2-2. Gol yang menunjukkan kualitas dan mental kuat Cagliari.
Drama belum selesai. Di menit-menit akhir, sempat terjadi kontroversi ketika wasit Bonacina mengeluarkan kartu merah untuk Luperto. Namun, setelah tinjauan VAR, keputusan tersebut dibatalkan dan pertandingan tetap berjalan dengan 11 lawan 11.
Pada masa tambahan waktu, justru Cremonese yang hampir mencuri kemenangan. Vandeputte lolos dalam situasi satu lawan satu dengan kiper Caprile, tetapi tendangannya melebar. Peluang emas terbuang, dan skor 2-2 bertahan hingga peluit akhir.
Hasil imbang ini membuat Cremonese mengoleksi 22 poin hingga akhir putaran pertama, sementara Cagliari naik ke 19 poin. Bagi Cagliari, satu poin ini terasa sangat berharga karena membawa mereka menjauh enam poin dari zona degradasi. Sebuah hasil yang menunjukkan bahwa dengan semangat juang tinggi, laga belum pernah benar-benar berakhir sebelum peluit panjang dibunyikan.
