Singkawang - Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (PKH) Wilayah Kalimantan melalui Seksi Wilayah II Pontianak, Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang, meningkatkan status kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya suhu panas dan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat sejak pertengahan Januari 2026.
Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang Yuyu Wahyudin di Singkawang, Kamis, mengatakan peningkatan kesiapsiagaan dilakukan sebagai respons atas anomali cuaca yang berpotensi memicu karhutla di Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang, dan Kabupaten Sambas.
“Seluruh personel kami instruksikan untuk siaga penuh sebagai garda terdepan deteksi dini dan respons cepat terhadap potensi kebakaran,” ujarnya.
Ia menyebutkan, langkah tersebut sejalan dengan peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait kondisi “hari tanpa hujan” yang mulai terjadi di wilayah Kalimantan Barat, sehingga memerlukan kewaspadaan seluruh pihak.
Yuyu menambahkan, Manggala Agni memperkuat patroli terpadu, koordinasi lintas instansi, serta upaya penyadartahuan kepada masyarakat sebagai langkah pencegahan.
“Kami meningkatkan intensitas patroli, memperkuat koordinasi dengan para pemangku kepentingan, serta melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berisiko memicu kebakaran,” katanya.
Menurut dia, sejak awal Januari 2026 tim gabungan yang terdiri atas Manggala Agni, UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), TNI, Polri, BPBD, aparatur kecamatan dan desa, serta relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) telah aktif melakukan verifikasi lapangan atau ground check terhadap titik panas (hotspot) yang terpantau melalui satelit.
Selain kegiatan pencegahan, Manggala Agni juga melakukan pemadaman karhutla yang saat ini berlangsung di Desa Selakau Tua, Kecamatan Selakau Timur, Kabupaten Sambas, sejak 19 Januari 2026.
Ia menjelaskan, kondisi di lapangan menjadi tantangan tersendiri karena jenis lahan gambut menyebabkan api sulit dipadamkan, bahkan dapat tersimpan di bawah permukaan tanah.
“Di lokasi kebakaran, tim menghadapi beberapa kendala, mulai dari akses menuju titik api yang sulit dijangkau, karakteristik lahan gambut, hingga keterbatasan sumber air dan infrastruktur pendukung,” ujarnya.
Untuk memperkuat strategi penanganan, kata dia, pihaknya juga mengikuti Rapat Koordinasi Antisipasi Karhutla Tahun 2026 yang digelar di Kantor BPBD Kabupaten Sambas pada 20 Januari 2026.
Dalam kesempatan itu, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah karhutla dengan tidak membuka lahan menggunakan cara membakar, terlebih pada kondisi cuaca yang kering dan rentan memicu perluasan api secara cepat.
“Manggala Agni mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Saat ini kondisi cuaca sangat rawan memicu kebakaran dan mempercepat penyebaran api,” katanya.
Oleh : Narwati/ANTARA