Trump Blak-blakan Soal Venezuela: AS Bisa Kuasai Minyak Bertahun-tahun, Dunia Internasional Waspada

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Minggu, 11 Januari 2026

Trump Blak-blakan Soal Venezuela: AS Bisa Kuasai Minyak Bertahun-tahun, Dunia Internasional Waspada

Trump Blak-blakan Soal Venezuela: AS Bisa Kuasai Minyak Bertahun-tahun, Dunia Internasional Waspada

Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan yang mengundang perhatian dunia. Dalam wawancara panjang bersama The New York Times, Trump secara terbuka menyebut bahwa Amerika Serikat kemungkinan besar akan mengelola Venezuela dalam jangka waktu yang lama, bahkan bisa berlangsung selama bertahun-tahun.

Menurut Trump, belum ada batas waktu yang jelas soal berapa lama AS akan melakukan pengawasan langsung terhadap Venezuela. “Waktu yang akan menjawab,” ucapnya singkat namun tegas. Pernyataan ini langsung memicu spekulasi bahwa intervensi AS di negara Amerika Selatan itu tidak akan bersifat sementara.

Trump juga menegaskan bahwa pemerintahan sementara Venezuela yang kini berkuasa, yang berisi mantan loyalis Nicolás Maduro, disebutnya sangat kooperatif. Ia mengklaim pemerintah tersebut memberikan semua yang dibutuhkan AS, terutama akses terhadap sumber daya minyak.

Dalam gaya bicara khasnya, Trump menyebut rencana besar yang menurutnya saling menguntungkan. Amerika Serikat, kata dia, akan membangun kembali Venezuela dengan pendekatan bisnis yang menguntungkan. Minyak menjadi kunci utama. AS akan mengambil dan memanfaatkan minyak Venezuela, menekan harga minyak global, sekaligus tetap menyalurkan dana untuk membantu perekonomian negara tersebut yang sedang terpuruk.

Pernyataan Trump ini muncul tak lama setelah pejabat pemerintah AS mengungkap rencana untuk mengambil alih penjualan minyak Venezuela secara efektif tanpa batas waktu. Rencana tersebut merupakan bagian dari strategi tiga tahap yang disampaikan Menteri Luar Negeri Marco Rubio kepada Kongres. Partai Republik umumnya mendukung langkah ini, sementara Partai Demokrat kembali mengingatkan risiko intervensi panjang tanpa dasar hukum internasional yang kuat.

Saat ditanya apakah pengawasan AS akan berlangsung tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun, Trump menjawab singkat namun jelas: jauh lebih lama.

Wawancara tersebut juga menyinggung berbagai isu lain, mulai dari imigrasi, perang Rusia-Ukraina, NATO, hingga kondisi kesehatannya. Namun, soal Venezuela, Trump terkesan menghindari pembahasan detail mengenai masa depan politik negara itu. Ia tidak memberikan kepastian kapan pemilu akan digelar, meskipun Venezuela pernah dikenal memiliki tradisi demokrasi yang cukup kuat sebelum era Hugo Chavez.

Trump juga tidak menjelaskan alasan mengapa AS mengakui Delcy Rodríguez sebagai pemimpin baru Venezuela, alih-alih mendukung María Corina Machado yang memenangkan pemilu 2024 dan bahkan meraih Nobel Perdamaian. Ia hanya menyebut bahwa Marco Rubio rutin berkomunikasi dengan Rodríguez dan hubungan mereka berjalan lancar.

Menariknya, di tengah wawancara, Trump sempat menerima telepon dari Presiden Kolombia Gustavo Petro. Percakapan itu disebut meredakan ketegangan, terutama setelah sebelumnya Trump mengancam akan mengambil tindakan terhadap Kolombia terkait isu narkotika. Usai panggilan tersebut, Trump menulis di media sosial bahwa Presiden Petro berencana berkunjung ke Washington.

Trump tampak cukup percaya diri dengan operasi penangkapan Nicolás Maduro yang disebutnya sukses besar. Ia bahkan mengaku memantau persiapan operasi tersebut secara detail, termasuk latihan militer dengan replika lokasi target. Meski mengakui sempat khawatir operasi itu gagal dan menjadi bencana politik, Trump membandingkannya dengan kegagalan operasi militer AS di masa lalu yang menurutnya jauh lebih buruk.

Soal minyak, Trump mengklaim AS sudah mulai mendapatkan keuntungan. Ia menyebut Amerika akan memperoleh sekitar 30 hingga 50 juta barel minyak mentah berat dari Venezuela. Meski begitu, ia mengakui bahwa membangkitkan kembali sektor minyak negara tersebut tidak bisa instan dan akan memakan waktu bertahun-tahun.

Ketika ditanya apakah AS akan mengerahkan pasukan darat jika akses minyak diblokir atau jika Venezuela menolak mengusir pengaruh Rusia dan China, Trump memilih tidak menjawab secara gamblang. Ia hanya menegaskan bahwa hubungan AS dengan pemerintahan saat ini berjalan baik dan penuh rasa saling menghormati.

Trump juga menyadari bahwa banyak perusahaan minyak AS masih ragu berinvestasi di Venezuela. Kekhawatiran utamanya adalah ketidakpastian politik jangka panjang dan potensi konflik kepentingan dengan militer serta intelijen Venezuela. Meski demikian, Trump tetap optimistis dan bahkan menyatakan keinginannya untuk berkunjung langsung ke Venezuela suatu hari nanti.

“Saya pikir suatu saat nanti akan aman,” tutup Trump.

Pernyataan-pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa isu Venezuela bukan sekadar operasi singkat bagi Amerika Serikat. Bagi masyarakat global, langkah AS ini menjadi sinyal kuat bahwa perebutan pengaruh dan sumber daya energi masih akan menjadi cerita panjang di kawasan Amerika Latin.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.