Berita BorneoTribun: Venezuela hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Venezuela. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Venezuela. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Januari 2026

Trump Teken Perintah Eksekutif soal Minyak Venezuela AS Klaim Lindungi Dana dan Siapkan Investasi Raksasa

Trump Teken Perintah Eksekutif soal Minyak Venezuela AS Klaim Lindungi Dana dan Siapkan Investasi Raksasa

Dunia, Borneotribun.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif baru yang mengatur pengelolaan pendapatan minyak Venezuela dengan tujuan melindungi dana tersebut dari penyitaan melalui proses hukum, kebijakan ini diumumkan ke publik pada Sabtu waktu setempat, berlaku di Amerika Serikat, dan disebut sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan politik Venezuela pasca tumbangnya pemimpin lama Nicolás Maduro, sekaligus membuka jalan bagi masuknya perusahaan minyak AS ke negara Amerika Latin tersebut.

Perintah eksekutif ini diteken Trump di tengah meningkatnya perhatian global terhadap masa depan Venezuela setelah penangkapan Nicolás Maduro yang kini telah dilengserkan, Gedung Putih menilai bahwa jika pendapatan minyak Venezuela diseret ke ranah gugatan hukum atau klaim pihak swasta, hal itu justru akan menghambat upaya Amerika Serikat dalam membangun kembali ekonomi dan sistem pemerintahan negara tersebut.

Dalam dokumen resmi yang dirilis, Trump menyatakan bahwa dana hasil penjualan minyak Venezuela adalah milik negara Venezuela namun untuk sementara waktu dipegang oleh Amerika Serikat untuk kepentingan pemerintahan dan diplomasi, sehingga tidak bisa digugat atau diklaim oleh pihak swasta mana pun.

Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran para eksekutif perusahaan minyak besar dunia yang menilai Venezuela saat ini masih terlalu berisiko untuk investasi.

CEO ExxonMobil Darren Woods secara terbuka menyampaikan pandangannya saat menghadiri pertemuan dengan Trump dan hampir 20 petinggi industri energi di Gedung Putih pada Jumat lalu.

Ia mengatakan bahwa dengan kondisi regulasi dan sistem komersial yang berlaku di Venezuela saat ini, negara tersebut masih belum layak untuk ditanami investasi swasta.

Menurut Woods, ketidakpastian hukum, riwayat nasionalisasi aset, serta sanksi internasional yang panjang membuat perusahaan energi ragu untuk mengucurkan modal besar ke Venezuela.

Trump dalam pertemuan itu berupaya menenangkan kekhawatiran para bos minyak.

Ia menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan energi tidak perlu berurusan langsung dengan pemerintah Venezuela, melainkan akan bekerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat.

Dengan skema ini, Trump menjanjikan kepastian hukum dan keamanan investasi yang lebih jelas bagi perusahaan minyak AS dan mitra Barat lainnya.

Venezuela memang memiliki sejarah panjang penyitaan aset negara dan asing, ditambah sanksi ekonomi dari Amerika Serikat yang telah berlangsung bertahun-tahun, serta ketidakstabilan politik yang membuat infrastruktur minyak negara itu rusak parah.

Padahal, Venezuela dikenal memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia.

Pemerintahan Trump menjadikan upaya mengajak perusahaan minyak AS untuk masuk dan membantu membangun ulang infrastruktur energi Venezuela sebagai salah satu prioritas utama kebijakan luar negerinya di kawasan Amerika Latin.

Gedung Putih bahkan secara terbuka membingkai langkah ini sebagai proyek ekonomi besar-besaran.

Trump sebelumnya telah memerintahkan penyitaan kapal tanker yang membawa minyak Venezuela.

Ia juga menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih penjualan antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak mentah Venezuela yang sebelumnya terkena sanksi.

Tak hanya itu, Trump menyebut AS berencana mengontrol penjualan minyak Venezuela ke pasar global untuk jangka waktu yang belum ditentukan.

Dalam unggahan di media sosial pribadinya saat berada di Florida selatan, Trump menulis bahwa ia mencintai rakyat Venezuela dan mengklaim telah mulai membuat negara tersebut kembali kaya dan aman.

Pernyataan itu menuai beragam reaksi, mulai dari dukungan hingga kritik, baik di dalam negeri AS maupun di komunitas internasional.

Dari sisi hukum, perintah eksekutif ini didasarkan pada National Emergencies Act dan International Emergency Economic Powers Act.

Trump menyebut potensi terseretnya pendapatan minyak Venezuela ke dalam proses pengadilan sebagai ancaman yang tidak biasa dan luar biasa bagi kepentingan nasional Amerika Serikat.

Dengan dasar itu, pemerintah AS merasa berhak untuk mengambil langkah perlindungan khusus terhadap dana tersebut.

Trump juga mengungkapkan optimisme tinggi soal komitmen investasi dari perusahaan minyak besar.

Dalam pertemuan di Gedung Putih, ia memprediksi akan ada kesepakatan cepat yang membuat perusahaan-perusahaan energi menggelontorkan setidaknya 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.500 triliun ke Venezuela untuk menghidupkan kembali sektor minyak dan gas negara itu.

Angka tersebut disebut mencakup pembangunan kembali kilang, pipa, pelabuhan, serta fasilitas pendukung lain yang rusak akibat krisis berkepanjangan.

Selain itu, Trump mengumumkan bahwa Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat, dengan nilai sekitar 2,8 miliar dolar AS atau setara Rp126 triliun berdasarkan harga pasar saat ini.

Minyak tersebut akan dijual, dan hasilnya diklaim akan memberikan manfaat bagi kedua negara.

Pengumuman ini disampaikan pada Selasa malam, meski detail teknis soal mekanisme penjualan dan pembagian keuntungan belum dijelaskan secara rinci.

Langkah ini menandai peningkatan signifikan keterlibatan langsung pemerintah AS dalam ekonomi Venezuela.

Analis menilai kebijakan ini juga menjadi pukulan telak bagi China, yang selama ini merupakan pembeli utama minyak Venezuela dan mitra dekat pemerintahan sebelumnya.

Dengan kontrol penjualan minyak di tangan AS, pengaruh ekonomi China di Venezuela diperkirakan akan menurun drastis.

Bloomberg melaporkan bahwa Trump dijadwalkan kembali bertemu dengan para eksekutif energi dalam waktu dekat untuk mematangkan rencana masuknya perusahaan Barat dalam proyek rekonstruksi industri minyak Venezuela.

Pemerintah AS berharap kehadiran perusahaan-perusahaan besar seperti ExxonMobil, Chevron, dan mitra Eropa dapat mempercepat pemulihan ekonomi negara tersebut.

Namun, kebijakan Trump ini juga memunculkan tanda tanya besar.

Sejumlah pengamat mempertanyakan sejauh mana legitimasi internasional AS dalam mengelola pendapatan minyak negara lain, meski dengan alasan stabilitas dan pemulihan ekonomi.

Ada pula kekhawatiran bahwa kontrol berlebihan justru bisa memicu ketegangan geopolitik baru di kawasan.

Bagi Venezuela sendiri, dampak jangka pendek dari kebijakan ini adalah masuknya dana segar dan peluang perbaikan infrastruktur energi yang selama ini terpuruk.

Namun dalam jangka panjang, masa depan negara itu akan sangat bergantung pada bagaimana pengelolaan dana minyak dilakukan, apakah benar-benar untuk kepentingan rakyat atau justru menjadi alat tarik-menarik kepentingan global.

Sementara itu, dunia kini menunggu perkembangan lanjutan, termasuk kesepakatan resmi dengan perusahaan minyak besar, respons dari pemerintah transisi Venezuela, serta reaksi negara-negara lain yang selama ini memiliki kepentingan ekonomi di sana.

Kebijakan ini berpotensi mengubah peta energi global dan hubungan Amerika Serikat dengan Amerika Latin dalam beberapa tahun ke depan.

Trump Buka Jalan Venezuela, Investor AS Tergoda Harta Minyak dan Tambang, Tapi Risikonya Tak Main-Main

Trump Buka Jalan Venezuela, Investor AS Tergoda Harta Minyak dan Tambang, Tapi Risikonya Tak Main-Main

Amerika Serikat - Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Venezuela mulai memancing perhatian para investor. Negeri Amerika Latin itu kembali dilirik karena kekayaan minyak dan sumber daya alamnya yang luar biasa, meski bayang-bayang risiko politik dan hukum masih menghantui.

Sejumlah pelaku bisnis Amerika yang punya koneksi politik kini sibuk mencari cara tercepat menuju Caracas. Tujuannya jelas, menjajaki peluang investasi di Venezuela yang dikenal kaya minyak dan mineral, apalagi setelah Trump memerintahkan pencopotan Nicolás Maduro dari kursi kekuasaan.

Bagi sebagian investor, peluang ekonomi di Venezuela bahkan disebut bisa menjadi “durian runtuh” terbesar sejak runtuhnya Uni Soviet. Alasannya sederhana, Venezuela menyimpan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Namun untuk mengelolanya, negara ini butuh segalanya, mulai dari pipa minyak baru, jalan yang layak, pelabuhan yang modern, hingga perumahan dan fasilitas kesehatan. Semua itu tentu berarti peluang bisnis besar.

Bukan cuma minyak. Venezuela juga punya cadangan gas alam raksasa, emas, berlian, dan berbagai mineral berharga lainnya. Tak heran jika investor mulai ramai membicarakan potensi obligasi Venezuela di grup-grup keuangan, dengan catatan sanksi Amerika Serikat suatu saat dilonggarkan.

Meski begitu, tidak semua pihak menutup mata terhadap risikonya. Ada kekhawatiran bahwa menanam modal di Venezuela sama saja dengan menggelontorkan uang ke negara yang lama dianggap gagal, apalagi dengan sejarah panjang nasionalisasi aset asing.

Namun, bagi investor yang sudah terbiasa bermain di sektor komoditas, risiko politik bukan hal baru. Hans Humes, Ketua Greylock Capital Management, menyebut Venezuela punya kekayaan alam yang “gila-gilaan”. Menurutnya, bicara soal menghindari risiko di dunia komoditas terasa kurang realistis, karena sektor ini memang sering bersinggungan dengan negara-negara bergejolak.

Tantangan terbesar Venezuela kini adalah meyakinkan investor asing bahwa era kebijakan ekonomi represif ala Hugo Chávez dan Maduro benar-benar berakhir. Masalahnya bukan hanya hukum dan kepastian usaha, tetapi juga krisis sumber daya manusia. Banyak insinyur, ilmuwan, dan tenaga ahli yang sudah lama hengkang ke luar negeri.

Di sisi lain, Trump terlihat cukup puas dengan pemerintahan baru Venezuela di bawah Delcy Rodríguez. Ia bahkan menyebut kedua negara mulai bekerja sama dengan baik, terutama dalam membangun ulang infrastruktur minyak dan gas agar lebih modern. Dalam pertemuan dengan para eksekutif migas di Gedung Putih, Trump menjanjikan jaminan keamanan bagi perusahaan yang kembali masuk ke pasar Venezuela.

Meski bernada optimistis, tak semua perusahaan langsung tancap gas. Beberapa CEO mengaku peluangnya memang besar, tetapi syaratnya jelas, aturan main harus diperbaiki.

Trump juga menandatangani perintah eksekutif untuk melindungi pendapatan minyak Venezuela yang disimpan di kas AS agar tidak disita lewat gugatan hukum. Padahal, sejumlah raksasa migas Barat masih menuntut ganti rugi akibat nasionalisasi aset di masa lalu. Exxon, misalnya, masih menagih sekitar Rp15,5 triliun, sementara ConocoPhillips mengklaim hampir Rp139,5 triliun.

Menariknya, Trump menegaskan pemerintahannya tidak akan memberi perlakuan khusus bagi perusahaan yang merasa dirugikan di masa lalu. Menurutnya, fokus ke depan adalah mencari keuntungan baru, bukan mengungkit kerugian lama.

Di Caracas, pemerintah justru sangat berharap masuknya investasi Amerika bisa menyuntikkan dolar ke ekonomi domestik yang lesu. Mata uang bolivar terus melemah, dan investasi asing dianggap kunci stabilisasi. Pada 2023, pemerintah Venezuela bahkan menunda kewajiban pembayaran utang internasional sekitar Rp930 triliun demi menjaga peluang kembali ke pasar global setelah sanksi dicabut.

Sejumlah investor sebenarnya sudah lebih dulu masuk diam-diam ke Venezuela, terutama di sektor nonmigas. Salah satunya Daniel Rottenberg dari Arqos Capital yang sejak 2019 membeli properti strategis di Caracas. Ia melihat nilai aset Venezuela sangat murah dibanding potensi aslinya. Beberapa gedung bekas perusahaan multinasional bahkan diubah menjadi pusat teknologi dan ruang kerja bersama.

Setelah Maduro tersingkir, minat investor global langsung meledak. Pesan dan panggilan berdatangan dari berbagai dana investasi, kantor keluarga kaya, hingga yayasan besar. Tantangannya kini justru bagaimana Venezuela bisa menyerap dana sebesar itu.

Meski penuh rintangan, optimisme tetap ada. Jika produksi minyak pulih dan sektor swasta bergerak, ekonomi Venezuela diprediksi bisa melonjak tajam dalam beberapa tahun ke depan. Setelah ekonomi anjlok lebih dari 70 persen pada periode 2013 hingga 2019, Venezuela memang memulai dari titik yang sangat rendah.

Kesimpulannya, Venezuela kini berdiri di persimpangan jalan. Di satu sisi ada peluang emas dari minyak dan sumber daya alam, di sisi lain ada risiko besar yang tak bisa diabaikan. Bagi investor berani, ini bisa jadi ladang cuan. Tapi bagi yang ragu, Venezuela tetap menyimpan tanda tanya besar.

Trump Blak-blakan Soal Venezuela: AS Bisa Kuasai Minyak Bertahun-tahun, Dunia Internasional Waspada

Trump Blak-blakan Soal Venezuela: AS Bisa Kuasai Minyak Bertahun-tahun, Dunia Internasional Waspada

Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan yang mengundang perhatian dunia. Dalam wawancara panjang bersama The New York Times, Trump secara terbuka menyebut bahwa Amerika Serikat kemungkinan besar akan mengelola Venezuela dalam jangka waktu yang lama, bahkan bisa berlangsung selama bertahun-tahun.

Menurut Trump, belum ada batas waktu yang jelas soal berapa lama AS akan melakukan pengawasan langsung terhadap Venezuela. “Waktu yang akan menjawab,” ucapnya singkat namun tegas. Pernyataan ini langsung memicu spekulasi bahwa intervensi AS di negara Amerika Selatan itu tidak akan bersifat sementara.

Trump juga menegaskan bahwa pemerintahan sementara Venezuela yang kini berkuasa, yang berisi mantan loyalis Nicolás Maduro, disebutnya sangat kooperatif. Ia mengklaim pemerintah tersebut memberikan semua yang dibutuhkan AS, terutama akses terhadap sumber daya minyak.

Dalam gaya bicara khasnya, Trump menyebut rencana besar yang menurutnya saling menguntungkan. Amerika Serikat, kata dia, akan membangun kembali Venezuela dengan pendekatan bisnis yang menguntungkan. Minyak menjadi kunci utama. AS akan mengambil dan memanfaatkan minyak Venezuela, menekan harga minyak global, sekaligus tetap menyalurkan dana untuk membantu perekonomian negara tersebut yang sedang terpuruk.

Pernyataan Trump ini muncul tak lama setelah pejabat pemerintah AS mengungkap rencana untuk mengambil alih penjualan minyak Venezuela secara efektif tanpa batas waktu. Rencana tersebut merupakan bagian dari strategi tiga tahap yang disampaikan Menteri Luar Negeri Marco Rubio kepada Kongres. Partai Republik umumnya mendukung langkah ini, sementara Partai Demokrat kembali mengingatkan risiko intervensi panjang tanpa dasar hukum internasional yang kuat.

Saat ditanya apakah pengawasan AS akan berlangsung tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun, Trump menjawab singkat namun jelas: jauh lebih lama.

Wawancara tersebut juga menyinggung berbagai isu lain, mulai dari imigrasi, perang Rusia-Ukraina, NATO, hingga kondisi kesehatannya. Namun, soal Venezuela, Trump terkesan menghindari pembahasan detail mengenai masa depan politik negara itu. Ia tidak memberikan kepastian kapan pemilu akan digelar, meskipun Venezuela pernah dikenal memiliki tradisi demokrasi yang cukup kuat sebelum era Hugo Chavez.

Trump juga tidak menjelaskan alasan mengapa AS mengakui Delcy Rodríguez sebagai pemimpin baru Venezuela, alih-alih mendukung María Corina Machado yang memenangkan pemilu 2024 dan bahkan meraih Nobel Perdamaian. Ia hanya menyebut bahwa Marco Rubio rutin berkomunikasi dengan Rodríguez dan hubungan mereka berjalan lancar.

Menariknya, di tengah wawancara, Trump sempat menerima telepon dari Presiden Kolombia Gustavo Petro. Percakapan itu disebut meredakan ketegangan, terutama setelah sebelumnya Trump mengancam akan mengambil tindakan terhadap Kolombia terkait isu narkotika. Usai panggilan tersebut, Trump menulis di media sosial bahwa Presiden Petro berencana berkunjung ke Washington.

Trump tampak cukup percaya diri dengan operasi penangkapan Nicolás Maduro yang disebutnya sukses besar. Ia bahkan mengaku memantau persiapan operasi tersebut secara detail, termasuk latihan militer dengan replika lokasi target. Meski mengakui sempat khawatir operasi itu gagal dan menjadi bencana politik, Trump membandingkannya dengan kegagalan operasi militer AS di masa lalu yang menurutnya jauh lebih buruk.

Soal minyak, Trump mengklaim AS sudah mulai mendapatkan keuntungan. Ia menyebut Amerika akan memperoleh sekitar 30 hingga 50 juta barel minyak mentah berat dari Venezuela. Meski begitu, ia mengakui bahwa membangkitkan kembali sektor minyak negara tersebut tidak bisa instan dan akan memakan waktu bertahun-tahun.

Ketika ditanya apakah AS akan mengerahkan pasukan darat jika akses minyak diblokir atau jika Venezuela menolak mengusir pengaruh Rusia dan China, Trump memilih tidak menjawab secara gamblang. Ia hanya menegaskan bahwa hubungan AS dengan pemerintahan saat ini berjalan baik dan penuh rasa saling menghormati.

Trump juga menyadari bahwa banyak perusahaan minyak AS masih ragu berinvestasi di Venezuela. Kekhawatiran utamanya adalah ketidakpastian politik jangka panjang dan potensi konflik kepentingan dengan militer serta intelijen Venezuela. Meski demikian, Trump tetap optimistis dan bahkan menyatakan keinginannya untuk berkunjung langsung ke Venezuela suatu hari nanti.

“Saya pikir suatu saat nanti akan aman,” tutup Trump.

Pernyataan-pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa isu Venezuela bukan sekadar operasi singkat bagi Amerika Serikat. Bagi masyarakat global, langkah AS ini menjadi sinyal kuat bahwa perebutan pengaruh dan sumber daya energi masih akan menjadi cerita panjang di kawasan Amerika Latin.

Senin, 05 Januari 2026

Venezuela Bergejolak Usai Maduro Ditangkap, Militer Akui Delcy Rodriguez Jadi Presiden Sementara

Venezuela Bergejolak Usai Maduro Ditangkap, Militer Akui Delcy Rodriguez Jadi Presiden Sementara
Venezuela Bergejolak Usai Maduro Ditangkap, Militer Akui Delcy Rodriguez Jadi Presiden Sementara.

JAKARTA - Situasi politik Venezuela kembali memanas setelah Presiden Nicolás Maduro ditangkap dalam operasi militer Amerika Serikat. 

Di tengah ketegangan yang meningkat, militer Venezuela secara resmi mengakui Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai pemimpin sementara negara tersebut.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez. 

Ia menegaskan bahwa militer mendukung keputusan Mahkamah Agung yang menunjuk Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara selama 90 hari ke depan. 

Penunjukan ini dilakukan karena Rodriguez berada di posisi berikutnya dalam garis suksesi kepemimpinan nasional.

Delcy Rodriguez bukan sosok baru di lingkaran kekuasaan Venezuela. Sejak 2018, ia menjabat sebagai wakil presiden dan memegang peran penting dalam mengelola perekonomian yang sangat bergantung pada sektor minyak, termasuk pengawasan terhadap badan intelijen negara. 

Pada hari yang sama dengan penangkapan Maduro, Mahkamah Agung Venezuela memerintahkannya untuk mengambil alih kepemimpinan sementara.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa pemerintahnya telah melakukan komunikasi dengan Delcy Rodriguez. 

Trump menyebut Rodriguez menunjukkan sikap terbuka dan bersedia bekerja sama demi masa depan Venezuela yang lebih baik.

Venezuela Bergejolak Usai Maduro Ditangkap, Militer Akui Delcy Rodriguez Jadi Presiden Sementara
Venezuela Bergejolak Usai Maduro Ditangkap, Militer Akui Delcy Rodriguez Jadi Presiden Sementara.

Meski begitu, Rodriguez bukan figur yang bersih dari konflik dengan Washington. Pada masa jabatan pertama Trump, ia sempat dikenai sanksi oleh Amerika Serikat karena dianggap berperan dalam melemahkan demokrasi di Venezuela.

Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional pada Sabtu malam, Rodriguez mengecam keras penangkapan Maduro. 

Ia menyebut operasi militer AS tersebut sebagai tindakan biadab serta penculikan ilegal yang melanggar kedaulatan negara.

Rodriguez menuntut pembebasan segera Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Namun di tengah kecaman tersebut, Rodriguez tetap membuka peluang dialog dengan Amerika Serikat. 

Ia juga berupaya menenangkan para pendukung pemerintah dengan menegaskan bahwa Venezuela siap menjalin hubungan yang saling menghormati, meskipun merasa telah diserang.

Pernyataan Rodriguez langsung dibalas dengan nada keras oleh Donald Trump. Dalam sebuah wawancara media, Trump memperingatkan bahwa Rodriguez akan menghadapi konsekuensi besar jika tidak mengambil langkah yang dianggap benar oleh Amerika Serikat, bahkan lebih berat dibanding yang dialami Maduro.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut angkat bicara. Ia menyebut komunikasi antara Washington dan Caracas saat ini berjalan rumit dan sensitif, sehingga membutuhkan kedewasaan dalam bernegara. 

Meski demikian, Rubio menegaskan tujuan Amerika Serikat tetap sama, yakni mendorong perubahan kepemimpinan yang dapat diajak bekerja sama.

Sementara itu, Nicolás Maduro dan Cilia Flores telah tiba di New York dan akan menghadapi dakwaan federal terkait dugaan perdagangan narkoba serta kerja sama dengan kelompok kriminal yang dikategorikan sebagai organisasi teroris. Tuduhan tersebut telah dibantah oleh Maduro.

Sebuah video yang diunggah akun resmi Gedung Putih memperlihatkan Maduro tersenyum saat digiring oleh dua agen Badan Pemberantasan Narkoba AS. 

Video ini langsung menyebar luas di media sosial dan memicu berbagai reaksi.

Dalam pernyataan terpisah, Menteri Pertahanan Padrino Lopez mengungkapkan bahwa sejumlah pengawal Maduro tewas dalam operasi militer tersebut. 

Venezuela Bergejolak Usai Maduro Ditangkap, Militer Akui Delcy Rodriguez Jadi Presiden Sementara
Venezuela Bergejolak Usai Maduro Ditangkap, Militer Akui Delcy Rodriguez Jadi Presiden Sementara.

Ia menyebut mereka dibunuh secara kejam, meski tidak merinci jumlah korban. 

Hingga kini, pemerintah Venezuela belum merilis data resmi terkait korban luka atau tewas akibat operasi AS.

Donald Trump sendiri mengakui bahwa ada tentara AS yang terluka dalam operasi tersebut, namun memastikan tidak ada korban jiwa dari pihak Amerika.

Menutup pernyataannya, Padrino Lopez mengimbau seluruh warga Venezuela untuk kembali menjalani aktivitas normal, baik di bidang ekonomi, pekerjaan, maupun pendidikan. 

Ia menegaskan bahwa negara harus tetap berjalan sesuai jalur konstitusi.

Perkembangan ini menandai babak baru krisis politik Venezuela yang kini menjadi sorotan dunia, dengan masa depan kepemimpinan negara tersebut masih penuh ketidakpastian.

Minggu, 04 Januari 2026

Trump Gegerkan Dunia Klaim AS Akan Kendalikan Venezuela Usai Maduro Ditangkap

Trump Gegerkan Dunia Klaim AS Akan Kendalikan Venezuela Usai Maduro Ditangkap
Trump Gegerkan Dunia Klaim AS Akan Kendalikan Venezuela Usai Maduro Ditangkap.

JAKARTA - Dunia internasional kembali dibuat terkejut. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu. Pernyataan kontroversial ini muncul setelah operasi militer AS diklaim berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.

Dalam konferensi pers di Florida, Trump mengatakan AS akan menjalankan roda pemerintahan Venezuela sampai ada proses transisi kekuasaan yang dianggap aman dan tepat. Menurutnya, langkah ini diambil agar Venezuela tidak kembali dipimpin oleh sosok yang membawa negara itu ke kondisi krisis berkepanjangan.

Trump menegaskan bahwa Amerika tidak ingin mengambil risiko dengan menyerahkan kekuasaan kepada pihak yang dinilai tidak memikirkan kepentingan rakyat Venezuela. Ia menyebut transisi kepemimpinan harus dilakukan secara hati-hati dan penuh pertimbangan.

Klaim Serangan Militer dan Penangkapan Maduro

Trump Gegerkan Dunia Klaim AS Akan Kendalikan Venezuela Usai Maduro Ditangkap

Sebelumnya, Trump mengumumkan melalui akun Truth Social bahwa militer AS telah melancarkan serangan ke Venezuela dan berhasil menangkap Maduro serta istrinya. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengonfirmasi keduanya sedang dibawa ke New York, tempat Maduro disebut telah didakwa atas sejumlah kejahatan berat.

Penangkapan ini menjadi puncak dari ketegangan yang sudah berlangsung berbulan-bulan antara AS dan pemerintahan Maduro. Operasi militer tersebut disebut dilakukan tanpa persetujuan Kongres AS, yang langsung memicu kritik keras dari sejumlah anggota parlemen.

AS Janjikan Investasi Migas, Tak Takut Kirim Pasukan Darat

Meski tidak merinci bagaimana AS akan “mengelola” Venezuela, Trump menyebut perusahaan minyak raksasa Amerika siap menanamkan investasi besar. Menurutnya, sektor minyak Venezuela akan diperbaiki total, mulai dari infrastruktur hingga produksi, agar kembali menghasilkan keuntungan.

Trump bahkan menyebut langkah ini tidak akan membebani keuangan AS. Alasannya, kekayaan minyak Venezuela dinilai sangat besar dan bisa menjadi sumber pemasukan, baik untuk rakyat Venezuela maupun sebagai kompensasi bagi Amerika Serikat.

Saat ditanya soal kemungkinan kehadiran pasukan AS di darat, Trump menjawab tegas bahwa Amerika tidak gentar. Ia menekankan operasi ini bukan tindakan sia-sia dan bertujuan memastikan Venezuela dikelola dengan benar.

Ancaman Serangan Lanjutan dan Tuduhan Narkoterorisme

Trump juga memperingatkan bahwa militer AS siap melancarkan serangan lanjutan jika situasi menuntut. Ia mengklaim semua opsi telah disiapkan, termasuk gelombang serangan yang lebih besar.

Di sisi lain, Jaksa Agung AS Pam Bondi menyatakan Maduro akan menghadapi proses hukum penuh. Dalam dakwaan yang dibuka ke publik, Maduro dituduh terlibat konspirasi narkoterorisme, penyelundupan kokain, serta kepemilikan senjata berat. Jaksa menuding Maduro memanfaatkan kekuasaannya untuk memfasilitasi perdagangan narkoba skala besar ke Amerika Serikat.

Kritik Tajam dari Demokrat dan Polemik Konstitusi

Langkah Trump menuai kecaman keras dari Partai Demokrat. Sejumlah anggota Kongres menilai tindakan militer tersebut ilegal karena dilakukan tanpa persetujuan legislatif. Mereka mempertanyakan ancaman apa yang sebenarnya ditimbulkan Venezuela hingga AS merasa perlu bertindak secara sepihak.

Namun, Trump menepis semua kritik itu. Ia menyebut para pengkritiknya lemah dan hanya pandai mengeluh. Menurut Trump, operasi tersebut adalah keputusan jenius dan sudah melalui pertimbangan matang.

Venezuela di Persimpangan Jalan

Dengan ditangkapnya Maduro dan klaim AS akan mengendalikan pemerintahan, masa depan Venezuela kini berada di titik paling tidak pasti. Dunia menunggu, apakah langkah ini benar-benar membawa perubahan bagi rakyat Venezuela atau justru memicu konflik baru di kawasan Amerika Latin.

Yang jelas, pernyataan Trump telah membuka babak baru yang penuh kontroversi dalam hubungan internasional dan politik global.

Trump Klaim AS Ambil Alih Venezuela Usai Maduro Ditangkap, Janji Kelola Negara hingga Transisi Berjalan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan kontroversial setelah operasi militer AS di Venezuela berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya. Trump menyebut Amerika Serikat kini akan “menjalankan” Venezuela sampai proses transisi pemerintahan yang dianggap layak benar-benar terjadi.

Berbicara kepada wartawan di Mar-a-Lago, Trump mengatakan pasukan AS sudah berada di Venezuela dan tidak akan pergi dalam waktu dekat. Menurutnya, keberadaan AS diperlukan untuk memastikan pergantian kekuasaan berjalan sesuai rencana.

“Kami sudah di sana sekarang dan akan bertahan sampai ada transisi yang tepat. Pada dasarnya, kami akan menjalankan negara itu sampai proses transisi benar-benar terjadi,” ujar Trump dengan nada tegas.

Pernyataan tersebut menutup rangkaian peristiwa dramatis yang terjadi dalam hitungan jam. Sebelumnya, laporan ledakan terdengar di Caracas, ibu kota Venezuela. Skala operasi baru terlihat jelas setelah Trump mengonfirmasi bahwa Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap.

Trump kemudian mengungkapkan kepada media bahwa Maduro dan istrinya akan dibawa ke New York menggunakan kapal untuk menghadapi proses hukum di Amerika Serikat.

Tak hanya soal politik, Trump juga menyinggung sektor energi Venezuela. Ia menyatakan perusahaan minyak raksasa asal AS akan masuk ke negara tersebut untuk mengelola cadangan minyak yang besar namun infrastrukturnya rusak parah.

“Perusahaan minyak besar Amerika akan masuk, mengucurkan dana miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang hancur, dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu,” kata Trump. Ia juga menegaskan militer AS siap melancarkan serangan lanjutan jika diperlukan demi mengamankan rencana tersebut.

Terkait operasi militer, Trump mengakui ada personel AS yang mengalami luka. Namun ia menekankan tidak ada korban jiwa dari pihak Amerika.

“Operasinya sangat kompleks. Luar biasa rasanya hanya ada beberapa luka dan tidak ada kematian di pihak kami,” ujarnya.

Trump bahkan menggambarkan bagaimana ia memantau jalannya operasi tersebut. Ia mengaku menyaksikannya seperti sedang menonton sebuah acara televisi.

Dalam pembelaannya, Trump menilai langkah ini sebagai keberhasilan besar, termasuk dalam upaya menghentikan masuknya narkoba ke Amerika Serikat. Ia menyebut kritik soal konstitusionalitas sebagai hal lama yang selalu muncul.

Saat ditanya mengenai kekhawatiran China terhadap kendali minyak Venezuela, Trump menegaskan hubungannya dengan Presiden China Xi Jinping berjalan baik. Ia memastikan tidak akan ada masalah serius terkait pasokan minyak.

“Mereka tetap akan mendapatkan minyak. Tapi setelah apa yang kami lakukan semalam, kami tidak bisa membiarkan pihak lain mengambil alih sehingga kami harus mengulanginya lagi,” jelasnya.

Meski demikian, Trump belum memaparkan langkah rinci soal perubahan rezim ke depan. Ia hanya menyebut Venezuela masih memiliki wakil presiden dan melontarkan peringatan keras kepada pihak-pihak yang tetap setia pada Maduro.

“Jika mereka tetap loyal, masa depan mereka sangat buruk. Tapi jika berbalik arah, selalu ada kesempatan. Kebanyakan sudah beralih. Loyalitasnya sangat kecil,” tutup Trump.

Situasi ini pun memicu perhatian dunia internasional. Banyak pihak kini menanti bagaimana langkah lanjutan AS dan bagaimana masa depan Venezuela setelah pernyataan mengejutkan dari Trump tersebut.

Rabu, 10 Februari 2021

Kolombia Tawarkan Tempat Tinggal Sementara bagi Pengungsi Venezuela

Anak-anak migran Venezuelan bermain sepak bola di lapangan kemah pengungsi PBB (UNHCR) di Maicao, Kolombia, 7 Mei 2019. (REUTERS/Luisa Gonzalez)

BorneoTribun.com - Kolombia berniat memberikan status perlindungan sementara kepada ratusan ribu pengungsi Venezuela di bawah suatu program baru.

Presiden Ivan Duque, Senin (9/2) mengatakan migran Venezuela yang berada di negara itu secara ilegal akan memenuhi syarat untuk mendapatkan izin tinggal selama 10 tahun, dan mereka yang memegang visa sementara saat ini akan diizinkan tinggal lebih lama.

Presiden Kolombia Ivan Duque dalam konferensi pers di Bogota, 8 Februari 2021.

Komisaris Tinggi PBB urusan Pengungsi Filippo Grandi, bergabung bersama Presiden Duque di ibu kota, Bogota, berkenaan dengan pengumuman prakarsa perlindungan sementara itu. Ia mengatakan program tersebut merupakan tanda kemanusiaan serta komitmen yang luar biasa terhadap hak asasi dan pragmatisme.

Warga Venezuela dengan izin tinggal resmi selangkah lebih dekat ke akses layanan kesehatan dan mencari pekerjaan di Kolombia.

Kolombia memperkirakan setengah lebih dari hampir dua juta warga Venezuela yang tinggal di negara itu tidak memiliki dokumen tinggal yang sah.

Banyak warga Venezuela melarikan diri ke Kolombia karena kemerosotan ekonomi, kekurangan bahan makanan dan pertikaian politik di tanah air mereka. [uh/ab]

Oleh: VOA Indonesia