Trump Buka Jalan Venezuela, Investor AS Tergoda Harta Minyak dan Tambang, Tapi Risikonya Tak Main-Main

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Minggu, 11 Januari 2026

Trump Buka Jalan Venezuela, Investor AS Tergoda Harta Minyak dan Tambang, Tapi Risikonya Tak Main-Main

Trump Buka Jalan Venezuela, Investor AS Tergoda Harta Minyak dan Tambang, Tapi Risikonya Tak Main-Main

Amerika Serikat - Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Venezuela mulai memancing perhatian para investor. Negeri Amerika Latin itu kembali dilirik karena kekayaan minyak dan sumber daya alamnya yang luar biasa, meski bayang-bayang risiko politik dan hukum masih menghantui.

Sejumlah pelaku bisnis Amerika yang punya koneksi politik kini sibuk mencari cara tercepat menuju Caracas. Tujuannya jelas, menjajaki peluang investasi di Venezuela yang dikenal kaya minyak dan mineral, apalagi setelah Trump memerintahkan pencopotan Nicolás Maduro dari kursi kekuasaan.

Bagi sebagian investor, peluang ekonomi di Venezuela bahkan disebut bisa menjadi “durian runtuh” terbesar sejak runtuhnya Uni Soviet. Alasannya sederhana, Venezuela menyimpan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Namun untuk mengelolanya, negara ini butuh segalanya, mulai dari pipa minyak baru, jalan yang layak, pelabuhan yang modern, hingga perumahan dan fasilitas kesehatan. Semua itu tentu berarti peluang bisnis besar.

Bukan cuma minyak. Venezuela juga punya cadangan gas alam raksasa, emas, berlian, dan berbagai mineral berharga lainnya. Tak heran jika investor mulai ramai membicarakan potensi obligasi Venezuela di grup-grup keuangan, dengan catatan sanksi Amerika Serikat suatu saat dilonggarkan.

Meski begitu, tidak semua pihak menutup mata terhadap risikonya. Ada kekhawatiran bahwa menanam modal di Venezuela sama saja dengan menggelontorkan uang ke negara yang lama dianggap gagal, apalagi dengan sejarah panjang nasionalisasi aset asing.

Namun, bagi investor yang sudah terbiasa bermain di sektor komoditas, risiko politik bukan hal baru. Hans Humes, Ketua Greylock Capital Management, menyebut Venezuela punya kekayaan alam yang “gila-gilaan”. Menurutnya, bicara soal menghindari risiko di dunia komoditas terasa kurang realistis, karena sektor ini memang sering bersinggungan dengan negara-negara bergejolak.

Tantangan terbesar Venezuela kini adalah meyakinkan investor asing bahwa era kebijakan ekonomi represif ala Hugo Chávez dan Maduro benar-benar berakhir. Masalahnya bukan hanya hukum dan kepastian usaha, tetapi juga krisis sumber daya manusia. Banyak insinyur, ilmuwan, dan tenaga ahli yang sudah lama hengkang ke luar negeri.

Di sisi lain, Trump terlihat cukup puas dengan pemerintahan baru Venezuela di bawah Delcy Rodríguez. Ia bahkan menyebut kedua negara mulai bekerja sama dengan baik, terutama dalam membangun ulang infrastruktur minyak dan gas agar lebih modern. Dalam pertemuan dengan para eksekutif migas di Gedung Putih, Trump menjanjikan jaminan keamanan bagi perusahaan yang kembali masuk ke pasar Venezuela.

Meski bernada optimistis, tak semua perusahaan langsung tancap gas. Beberapa CEO mengaku peluangnya memang besar, tetapi syaratnya jelas, aturan main harus diperbaiki.

Trump juga menandatangani perintah eksekutif untuk melindungi pendapatan minyak Venezuela yang disimpan di kas AS agar tidak disita lewat gugatan hukum. Padahal, sejumlah raksasa migas Barat masih menuntut ganti rugi akibat nasionalisasi aset di masa lalu. Exxon, misalnya, masih menagih sekitar Rp15,5 triliun, sementara ConocoPhillips mengklaim hampir Rp139,5 triliun.

Menariknya, Trump menegaskan pemerintahannya tidak akan memberi perlakuan khusus bagi perusahaan yang merasa dirugikan di masa lalu. Menurutnya, fokus ke depan adalah mencari keuntungan baru, bukan mengungkit kerugian lama.

Di Caracas, pemerintah justru sangat berharap masuknya investasi Amerika bisa menyuntikkan dolar ke ekonomi domestik yang lesu. Mata uang bolivar terus melemah, dan investasi asing dianggap kunci stabilisasi. Pada 2023, pemerintah Venezuela bahkan menunda kewajiban pembayaran utang internasional sekitar Rp930 triliun demi menjaga peluang kembali ke pasar global setelah sanksi dicabut.

Sejumlah investor sebenarnya sudah lebih dulu masuk diam-diam ke Venezuela, terutama di sektor nonmigas. Salah satunya Daniel Rottenberg dari Arqos Capital yang sejak 2019 membeli properti strategis di Caracas. Ia melihat nilai aset Venezuela sangat murah dibanding potensi aslinya. Beberapa gedung bekas perusahaan multinasional bahkan diubah menjadi pusat teknologi dan ruang kerja bersama.

Setelah Maduro tersingkir, minat investor global langsung meledak. Pesan dan panggilan berdatangan dari berbagai dana investasi, kantor keluarga kaya, hingga yayasan besar. Tantangannya kini justru bagaimana Venezuela bisa menyerap dana sebesar itu.

Meski penuh rintangan, optimisme tetap ada. Jika produksi minyak pulih dan sektor swasta bergerak, ekonomi Venezuela diprediksi bisa melonjak tajam dalam beberapa tahun ke depan. Setelah ekonomi anjlok lebih dari 70 persen pada periode 2013 hingga 2019, Venezuela memang memulai dari titik yang sangat rendah.

Kesimpulannya, Venezuela kini berdiri di persimpangan jalan. Di satu sisi ada peluang emas dari minyak dan sumber daya alam, di sisi lain ada risiko besar yang tak bisa diabaikan. Bagi investor berani, ini bisa jadi ladang cuan. Tapi bagi yang ragu, Venezuela tetap menyimpan tanda tanya besar.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.