![]() |
| Gebrakan Menkomdigi Meutya Hafid Terapkan Gerakan Indonesia ASRI Disiplin Aparatur Dimulai dari Meja Kerja Sendiri. |
JAKARTA - Upaya membangun birokrasi yang profesional ternyata bisa dimulai dari hal sederhana. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengajak seluruh jajaran di Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menanamkan budaya bersih sebagai bagian dari disiplin aparatur negara.
Ajakan ini diwujudkan lewat pelaksanaan Gerakan Indonesia ASRI Aman Sehat Resik Indah di lingkungan kantor kementerian. Bukan sekadar kegiatan bersih-bersih biasa, gerakan ini menjadi simbol tanggung jawab moral sekaligus profesionalisme dalam melayani masyarakat.
Berbicara di Lapangan Anantakupa, Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Meutya menegaskan bahwa kebersihan bukan hanya urusan teknis atau tugas petugas kebersihan. Lebih dari itu, kebersihan mencerminkan integritas dan komitmen aparatur negara dalam menjalankan amanah publik.
Gerakan Indonesia ASRI sendiri merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh kementerian dan lembaga negara menciptakan lingkungan kerja yang tertib, sehat, dan aman. Tujuannya jelas, membangun tata kelola pemerintahan yang semakin profesional dan berwibawa.
Yang menarik, Meutya menekankan bahwa setiap pegawai harus bertanggung jawab atas ruang kerjanya masing-masing. Artinya, budaya bersih tidak boleh hanya bergantung pada office boy atau petugas kebersihan. Semua harus terlibat.
Hari itu, kegiatan ASRI tidak hanya dilakukan di halaman kantor, tetapi juga menyebar hingga ke setiap ruang kerja. Para pejabat tinggi madya, pejabat tinggi pratama, hingga seluruh pegawai turun langsung melakukan korve atau kerja bakti bersama.
Menjelang bulan Ramadan dan perayaan Imlek, Meutya bahkan meminta agar kegiatan bersih-bersih ini dilakukan rutin setiap Jumat pagi. Ia ingin semangat menyambut hari besar keagamaan dimulai dari lingkungan kerja yang bersih dan hati yang juga bersih.
Pesannya sederhana namun kuat. Jika ingin pelayanan publik yang maksimal, mulailah dari disiplin diri sendiri. Dari meja kerja yang rapi, dari ruang kantor yang bersih, hingga tercipta budaya kerja yang sehat dan penuh tanggung jawab.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari kebijakan rumit. Kadang, transformasi birokrasi justru lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Kini pertanyaannya, sudahkah kita memulai budaya bersih dari ruang kerja kita sendiri?
