![]() |
| Lebih dari 105 Ribu Warga Masih Bertahan di Pengungsian Bencana Sumatera, BNPB Ungkap Kondisi Terkini. |
JAKARTA -- Lebih dari 105 ribu warga di Pulau Sumatera hingga kini masih harus bertahan hidup di pengungsian. Mereka terdampak banjir besar dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara dalam dua bulan terakhir.
Angka ini menunjukkan bahwa duka akibat bencana masih jauh dari kata selesai.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 105.842 jiwa saat ini belum bisa kembali ke rumah masing-masing.
Ribuan warga tersebut terpaksa mengungsi demi keselamatan, dengan pendampingan langsung dari tim gabungan pemerintah pusat dan daerah.
Lokasi pengungsian tersebar, mulai dari posko terpusat hingga pengungsian mandiri di rumah kerabat atau fasilitas umum.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa data tersebut merupakan laporan terbaru yang diterima pada Senin (2/2).
Ia menegaskan, pendataan pengungsi akan terus diperbarui secara berkala agar penyaluran bantuan benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga di lapangan.
“Pengelolaan pengungsian menjadi fokus utama kami. Bukan hanya soal tempat tinggal sementara, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” ujar Abdul.
BNPB bersama pemerintah daerah terus melakukan pendataan secara intensif. Selain logistik pangan, perhatian juga diberikan pada layanan kesehatan, ketersediaan air bersih, sanitasi yang layak, serta perlindungan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.
Semua upaya ini dilakukan agar para pengungsi bisa bertahan dengan kondisi yang lebih manusiawi.
Di balik angka pengungsian yang besar, tersimpan fakta yang lebih menyayat hati. Hingga Senin (2/2), tercatat 1.204 orang meninggal dunia dan 140 warga masih dinyatakan hilang akibat rangkaian bencana yang terjadi sejak dua bulan lalu.
Angka ini menjadi pengingat bahwa dampak bencana tidak hanya soal kerusakan fisik, tetapi juga kehilangan nyawa dan trauma mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Sebagai langkah cepat, BNPB juga mempercepat pembangunan hunian sementara bagi warga yang rumahnya rusak atau hilang tersapu bencana.
Dari 17.332 unit hunian sementara yang diajukan, 5.039 unit telah selesai dibangun dan siap ditempati.
Hunian ini diharapkan menjadi solusi jangka pendek sambil menunggu proses pemulihan dan pembangunan rumah permanen.
BNPB menekankan bahwa percepatan pemulihan infrastruktur menjadi kunci penting untuk menggerakkan kembali roda kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.
Jalan, jembatan, fasilitas umum, hingga akses layanan dasar harus segera pulih agar warga bisa kembali beraktivitas dan bangkit dari keterpurukan.
Situasi ini menjadi panggilan bagi semua pihak. Dukungan, doa, dan kepedulian dari masyarakat luas sangat dibutuhkan agar para penyintas bencana di Sumatera tidak merasa berjuang sendirian.
Bersama, harapan untuk bangkit selalu ada, meski jalan yang ditempuh tidak mudah.
