Stop Oversharing di Media Sosial Ini Cara Kendalikan Emosi Menurut Psikolog

Rabu, 25 Februari 2026

Stop Oversharing di Media Sosial Ini Cara Kendalikan Emosi Menurut Psikolog

Bijak Bermedia Sosial Hindari Oversharing dengan Kendali Emosi
Psikolog Ayu S. Sadewo menjelaskan bahaya oversharing di media sosial saat emosi tinggi. Simak ciri ciri, dampak, dan cara mencegah perilaku impulsif dengan teknik pause. (Gambar ilustrasi AI)

Psikolog Ingatkan Bahaya Oversharing Saat Emosi Tinggi di Media Sosial

JAKARTA -- Psikolog Ayu S. Sadewo S.Psi, Psikolog, mengungkapkan bahwa perilaku oversharing atau membagikan informasi secara berlebihan di media sosial sering terjadi tanpa disadari. Saat dihubungi ANTARA di Jakarta pada Selasa, Ayu menjelaskan bahwa kondisi emosi yang intens kerap memicu tindakan impulsif, termasuk ketika seseorang membuat unggahan di platform digital.

Menurut Ayu, individu cenderung lebih reaktif ketika sedang berada dalam kondisi emosi yang kuat, baik terlalu senang, terlalu sedih, maupun terlalu marah. Dalam situasi tersebut, kemampuan untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari sebuah unggahan bisa menurun.

“Ketika emosi sedang intens, orang menjadi lebih impulsif dan kurang memikirkan konsekuensi dari apa yang dibagikan. Tanpa sadar, informasi yang diunggah bisa jadi sudah berlebihan,” jelasnya.

Ciri Ciri Oversharing di Media Sosial

Psikolog lulusan Profesi Psikolog Universitas Indonesia itu menyebutkan bahwa oversharing dapat dikenali dari beberapa tanda. Salah satunya adalah konten yang terlalu bersifat pribadi dan seharusnya berada di ranah privat, bukan konsumsi publik.

Selain itu, membagikan cerita yang melibatkan orang lain tanpa izin juga termasuk bentuk oversharing yang sering tidak disadari. Tidak jarang, seseorang merasa sedang berbagi pengalaman, padahal secara tidak langsung membuka privasi pihak lain.

Konten yang sangat emosional, terutama yang dibuat saat emosi memuncak, juga menjadi indikator kuat oversharing. Unggahan yang dibuat dalam kondisi euforia berlebihan atau kemarahan mendalam berisiko menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Jika Anda pernah merasa menyesal setelah memposting sesuatu, bisa jadi itu tanda bahwa emosi lebih dominan daripada pertimbangan rasional saat itu.

Mengapa Emosi Memicu Oversharing

Secara psikologis, emosi yang intens dapat mengaktifkan respons impulsif dalam otak. Dalam kondisi ini, dorongan untuk segera mengekspresikan perasaan sering kali lebih kuat daripada kemampuan untuk menahan diri.

Media sosial yang serba cepat dan instan semakin memperbesar peluang oversharing. Hanya dengan beberapa sentuhan, pengalaman pribadi dapat langsung tersebar luas tanpa filter yang memadai.

Inilah mengapa kesadaran diri menjadi kunci utama dalam mengelola perilaku digital.

Cara Mencegah Oversharing dengan Teknik Pause

Ayu menekankan pentingnya menerapkan teknik pause atau jeda sebelum mengunggah sesuatu di media sosial. Cara ini sederhana, tetapi efektif untuk menurunkan intensitas emosi.

Sebelum menekan tombol kirim atau unggah, cobalah berhenti sejenak. Tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan beberapa kali. Dengan memberi waktu bagi otak untuk kembali berpikir rasional, keputusan yang diambil pun menjadi lebih bijak.

“Supaya tidak impulsif, ambil jeda dulu sebelum mengunggah. Beri kesempatan pada proses berpikir untuk kembali aktif, sehingga tidak dikuasai emosi sesaat,” ujar Ayu.

Langkah kecil ini dapat membantu Anda terhindar dari penyesalan dan menjaga privasi, baik milik sendiri maupun orang lain.

Di era digital saat ini, bijak bermedia sosial bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Mengelola emosi sebelum berbagi adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial.

FAQ Seputar Oversharing di Media Sosial

1. Apa itu oversharing di media sosial
Oversharing adalah kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan, terutama hal yang seharusnya bersifat privat.

2. Mengapa orang sering oversharing saat emosi tinggi
Karena emosi intens dapat memicu perilaku impulsif sehingga individu kurang mempertimbangkan dampak unggahan.

3. Apa dampak oversharing bagi diri sendiri
Dampaknya bisa berupa penyesalan, gangguan privasi, konflik relasi, hingga risiko reputasi di dunia digital.

4. Bagaimana cara mencegah oversharing
Salah satunya dengan menerapkan teknik pause, yaitu berhenti sejenak sebelum mengunggah dan memberi waktu untuk berpikir rasional.

5. Apakah semua curhat di media sosial termasuk oversharing
Tidak selalu. Oversharing terjadi jika konten terlalu personal, melibatkan orang lain tanpa izin, atau diunggah saat emosi tidak terkendali.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

  

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar