![]() |
| Pakar Timur Tengah menilai upaya perubahan rezim Iran oleh Amerika Serikat lebih berkaitan dengan kepentingan geopolitik dan bisnis daripada proses politik internal Iran. |
Upaya perubahan rezim di Iran yang disebut-sebut didorong oleh Amerika Serikat dinilai lebih menyerupai kepentingan bisnis geopolitik daripada sekadar agenda politik.
Pandangan tersebut disampaikan oleh pakar Timur Tengah Alexander Kuznetsov yang menilai langkah Washington tidak akan mampu memengaruhi mekanisme pemilihan pemimpin tertinggi Iran.
Menurut Kuznetsov, sistem politik Iran memiliki mekanisme yang sangat berbeda dengan negara lain, sehingga campur tangan eksternal hampir tidak memiliki pengaruh langsung. Pemimpin tertinggi Iran dipilih melalui proses internal yang melibatkan kalangan ulama senior, bukan melalui tekanan politik dari negara lain.
Ia juga menilai setiap tekanan dari luar justru berpotensi memperkuat solidaritas internal masyarakat Iran.
Mekanisme Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran
Kuznetsov menjelaskan bahwa pemimpin tertinggi Iran dipilih oleh Majelis Ahli atau Assembly of Experts yang terdiri dari sekitar 80 ulama terkemuka di negara tersebut. Lembaga ini memiliki kewenangan penuh untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin spiritual dan politik tertinggi Iran.
Dalam mekanisme ini, tidak ada ruang bagi intervensi dari negara lain, termasuk Amerika Serikat. Oleh karena itu, pernyataan atau tuntutan dari Washington terkait pemilihan pemimpin Iran dinilai tidak memiliki pengaruh terhadap proses tersebut.
Ia menambahkan bahwa dalam tradisi politik Iran, tekanan dari luar sering dipandang sebagai tindakan permusuhan.
Tekanan Asing Justru Memperkuat Solidaritas Nasional
Menurut Kuznetsov, masyarakat Iran memiliki kecenderungan untuk bersatu ketika menghadapi tekanan dari negara asing. Bahkan kelompok masyarakat yang kritis terhadap pemerintah sering kali tetap mendukung kepemimpinan nasional jika terjadi ancaman dari luar.
Dalam perspektif ini, upaya tekanan politik dari Amerika Serikat justru dapat memperkuat dukungan publik terhadap pemimpin spiritual Iran. Fenomena ini membuat strategi tekanan eksternal sulit menghasilkan perubahan politik di dalam negeri.
Kuznetsov menilai Amerika Serikat berharap muncul tokoh yang lebih bersedia berkompromi dengan Barat di kalangan elite politik Iran.
Kemungkinan Reformasi Sistem Politik Iran
Di tengah krisis yang sedang berlangsung, Kuznetsov juga memprediksi kemungkinan terjadinya perubahan dalam struktur pemerintahan Iran. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah peningkatan peran militer dalam sistem pemerintahan.
Sementara itu, kalangan pemimpin spiritual dapat lebih berfokus pada aspek ideologis dan pengelolaan sumber daya manusia dalam sistem politik Iran. Namun perubahan tersebut diperkirakan tetap berlangsung dalam kerangka sistem yang ada.
Dampak Konflik Terhadap Kepentingan Global
Konflik yang melibatkan Iran juga dinilai memiliki dampak geopolitik yang lebih luas. Kuznetsov menyebut bahwa ketegangan tersebut dapat memengaruhi kepentingan ekonomi negara besar seperti China dan Rusia.
China diketahui mengimpor sekitar 15 persen kebutuhan minyaknya dari Iran. Gangguan terhadap pasokan tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap stabilitas energi dan ekonomi China.
Selain itu, konflik di kawasan juga dapat menghambat proyek logistik internasional yang melibatkan Rusia dan China, termasuk jalur perdagangan besar di kawasan Eurasia.
Kuznetsov menilai upaya perubahan rezim di Iran tidak semata-mata berkaitan dengan dinamika politik internal, tetapi juga terkait kepentingan ekonomi dan geopolitik global. Dalam situasi tersebut, tekanan eksternal justru berpotensi memperkuat solidaritas domestik Iran dan memperumit upaya intervensi dari luar.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com
