Pengaruh Mojtaba Khamenei Menguat, Arah Politik Republik Islam Iran Dipertanyakan

Selasa, 10 Maret 2026

Pengaruh Mojtaba Khamenei Menguat, Arah Politik Republik Islam Iran Dipertanyakan

Meningkatnya pengaruh Mojtaba Khamenei memicu perdebatan tentang arah politik dan legitimasi kepemimpinan di Republik Islam Iran.
Meningkatnya pengaruh Mojtaba Khamenei memicu perdebatan tentang arah politik dan legitimasi kepemimpinan di Republik Islam Iran.

Teheran, Iran -- Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai tokoh yang semakin berpengaruh dalam lingkar kekuasaan Iran memicu perdebatan baru tentang arah politik Republik Islam. Kenaikan peran Mojtaba Khamenei dinilai mencerminkan pergeseran sistem politik Iran yang kini lebih menekankan loyalitas keamanan dibanding legitimasi publik.

Selama bertahun-tahun, Mojtaba Khamenei dikenal beroperasi di balik layar dalam elite politik dan keamanan Iran. Sosoknya hampir tidak memiliki profil publik yang jelas, bahkan rekaman suara yang diketahui publik hanya berupa video singkat saat ia memberi tahu mahasiswa seminari bahwa kelasnya dibatalkan.

Minimnya kehadiran publik membuat banyak warga Iran nyaris tidak pernah mendengar langsung pandangan politiknya. Namun, di kalangan elite kekuasaan, pengaruhnya disebut cukup besar terutama dalam jaringan keamanan dan politik dalam negeri.

Sejumlah analis menilai peran Mojtaba Khamenei sudah terlihat sejak pemilihan presiden Iran tahun 2005. Saat itu, ia disebut berperan dalam kemenangan Mahmoud Ahmadinejad, sekaligus memperkuat posisi Garda Revolusi Iran dalam bidang intelijen dan ekonomi.

Keterlibatan tersebut juga dikaitkan dengan berbagai kebijakan yang digunakan pemerintah untuk meredam aksi protes dan membatasi ruang oposisi. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruhnya lebih banyak bertumpu pada jaringan keamanan dibanding dukungan publik luas.

Perdebatan mengenai pemimpin tertinggi Iran sebenarnya telah berlangsung sejak awal berdirinya Republik Islam. Sistem tersebut menggabungkan dua unsur utama: elemen republik yang mengandalkan dukungan rakyat dan unsur teokrasi yang menempatkan pemimpin sebagai wakil otoritas agama.

Ketika Ruhollah Khomeini memimpin revolusi Iran tahun 1979, dua unsur tersebut menyatu dalam satu figur. Khomeini memiliki dukungan publik yang sangat luas sekaligus dihormati sebagai ulama terkemuka.

Konstitusi pertama Iran setelah revolusi menyebutkan bahwa pemimpin tertinggi harus diakui oleh mayoritas rakyat. Ketentuan itu kemudian diubah pada 1989 ketika Ali Khamenei dipilih sebagai pemimpin tertinggi kedua.

Dalam perubahan tersebut, unsur pengakuan publik dihapus dan keputusan sepenuhnya diserahkan kepada Majelis Ahli. Meski demikian, faktor popularitas tetap menjadi pertimbangan karena Ali Khamenei telah dikenal luas sebagai presiden Iran selama delapan tahun.

Situasi tersebut berbeda dengan kondisi yang melatarbelakangi munculnya Mojtaba Khamenei. Ia tidak memiliki pengalaman eksekutif, kedudukan ulama tinggi, maupun popularitas di kalangan masyarakat luas.

Banyak pengamat menilai kenaikan perannya mencerminkan prioritas baru dalam sistem politik Iran. Stabilitas internal dan hubungan dengan lembaga keamanan kini dianggap lebih penting dibanding citra publik atau legitimasi elektoral.

Jika mengikuti pola sebelumnya, beberapa pihak memperkirakan tokoh lain seperti mantan presiden Hassan Rouhani berpotensi menjadi kandidat kuat dalam kepemimpinan Iran. Namun dinamika politik terbaru menunjukkan arah yang berbeda.

Dengan meningkatnya pengaruh Mojtaba Khamenei, sebagian analis menilai Iran tengah memasuki fase baru dalam struktur kekuasaannya. Sistem yang sebelumnya menolak praktik kekuasaan turun-temurun kini dinilai semakin terbuka terhadap model tersebut.

Di tengah ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat dan Israel serta ketidakpercayaan sebagian masyarakat domestik, keputusan ini juga dianggap mempersempit ruang perubahan politik di Iran.

Bagi sebagian pengamat, perkembangan ini menegaskan bahwa Republik Islam Iran saat ini lebih fokus menjaga kesinambungan kekuasaan dan stabilitas internal daripada melakukan reformasi politik yang lebih luas.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

  

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar