Halalbihalal PWI Kaltim, Andi Harun Ajak Pers Jaga Fitrah Informasi

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Minggu, 19 April 2026

Halalbihalal PWI Kaltim, Andi Harun Ajak Pers Jaga Fitrah Informasi

Andi Harun menyampaikan tausiyah tentang Jurnalisme Kenabian dalam acara Halalbihalal PWI Kaltim, menekankan etika informasi dan peran pers menjaga kebenaran.
Andi Harun menyampaikan tausiyah tentang Jurnalisme Kenabian dalam acara Halalbihalal PWI Kaltim, menekankan etika informasi dan peran pers menjaga kebenaran.

SAMARINDA — Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyampaikan tausiyah inspiratif mengenai konsep “Jurnalisme Kenabian” di hadapan para insan pers Kalimantan Timur dalam acara Halalbihalal yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur di Gedung PWI Kaltim, Sabtu.

Dalam suasana penuh keakraban pasca-Idul Fitri, Andi Harun mengawali sambutannya dengan mengulas sejarah tradisi halalbihalal di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan memiliki nilai historis kuat dalam menjaga persatuan bangsa.

Menurutnya, halalbihalal pertama kali diinisiasi oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, pada masa awal kemerdekaan.

“Menjelang Idul Fitri di masa awal kemerdekaan, Bung Karno menginisiasi pertemuan tokoh bangsa untuk duduk bersama. Dari sanalah halalbihalal lahir menjadi simbol penyatuan perbedaan,” ujar Andi Harun.

Dalam tausiyahnya, Andi Harun mengaitkan tradisi halalbihalal dengan nilai spiritual yang mendalam. Ia mengutip makna dalam Surah Ar-Rum ayat 30, yang menegaskan bahwa setiap manusia lahir dengan fitrah kebaikan.

Namun, menurutnya, perjalanan hidup sering kali membuat seseorang menjauh dari nilai-nilai tersebut.

Ia menekankan bahwa menjaga fitrah kebaikan merupakan tanggung jawab bersama, termasuk bagi insan pers yang memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kepada publik.

“Tugas kita sekarang adalah menjaga dan mengembalikan fitrah kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam profesi jurnalistik,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Andi Harun juga mengulas etika informasi dengan merujuk pada nilai-nilai dalam Surah Al-Hujurat ayat 12. Ia menyoroti tiga larangan penting yang dinilai sangat relevan dengan tantangan disinformasi di era digital saat ini.

Tiga larangan tersebut meliputi:

1. Suudzon (Prasangka Buruk)
Dalam konteks jurnalistik, suudzon dimaknai sebagai penyampaian informasi yang didasarkan pada asumsi tanpa fakta yang jelas.

2. Tajassus (Mencari Kesalahan)
Larangan ini diartikan sebagai tindakan membongkar aib atau memata-matai tanpa tujuan kemaslahatan yang benar.

3. Ghibah (Menggunjing)
Dalam dunia media, ghibah dapat muncul dalam bentuk berita sensasional yang hanya bertujuan menjatuhkan reputasi seseorang.

Meski demikian, Andi Harun menegaskan bahwa karya jurnalistik yang dibuat untuk kepentingan publik dan melalui proses verifikasi yang ketat tetap berada dalam koridor yang benar.

“Selama pemberitaan bertujuan untuk kepentingan publik, bermanfaat bagi masyarakat, dan melalui proses verifikasi yang ketat, maka karya jurnalistik tersebut tidak termasuk dalam kategori prasangka buruk maupun tajassus,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua PWI Kalimantan Timur, Abdurrahman Amin, menjelaskan bahwa tema “Jurnalisme Kenabian” sengaja diangkat sebagai refleksi bagi wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Ia menilai, paradigma jurnalisme kenabian berakar pada nilai ketuhanan dan kemanusiaan, dengan tujuan mendorong perubahan sosial yang positif.

Menurut Rahman, sosok Andi Harun dipilih sebagai pembicara karena rekam jejaknya yang panjang di dunia politik serta kedekatannya dengan insan pers.

“Jurnalisme kenabian adalah paradigma yang berlandaskan nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Tujuannya jelas: mendorong perubahan sosial yang lebih baik,” kata Rahman.

Ia juga mengajak para wartawan untuk meneladani empat sifat rasul dalam menjalankan profesi jurnalistik.

Empat nilai tersebut antara lain:

  • Sidiq, menyampaikan kebenaran secara jujur

  • Amanah, menjadi profesi yang dapat dipercaya

  • Tabligh, menyampaikan informasi yang edukatif

  • Fathonah, menggunakan kecerdasan dalam menganalisis situasi publik

Acara Halalbihalal tersebut ditutup dengan harapan agar nilai-nilai Idul Fitri dan konsep jurnalisme kenabian mampu memperkuat sinergi antara pers dan pemerintah di Kalimantan Timur.

Rahman berharap wartawan terus berperan sebagai kontrol sosial yang cerdas sekaligus mitra strategis dalam mengawal pembangunan daerah.

“Semoga momentum ini membawa energi positif bagi kita semua untuk terus menjaga harmoni dan integritas di ruang publik,” jelasnya.

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan Jurnalisme Kenabian?
Jurnalisme Kenabian adalah konsep jurnalistik yang berlandaskan nilai ketuhanan dan kemanusiaan, dengan tujuan menyampaikan kebenaran serta mendorong perubahan sosial yang positif.

2. Mengapa tema Jurnalisme Kenabian diangkat oleh PWI Kaltim?
Tema ini diangkat untuk mengingatkan wartawan agar tetap berpegang pada etika, integritas, dan tanggung jawab sosial dalam menyampaikan informasi.

3. Apa pesan utama Andi Harun kepada wartawan?
Andi Harun menekankan pentingnya menjaga fitrah kebaikan, melakukan verifikasi informasi, dan menghindari penyebaran berita tanpa dasar fakta.

4. Apa saja nilai yang dianjurkan dalam Jurnalisme Kenabian?
Empat nilai utama yaitu Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah sebagai pedoman dalam praktik jurnalistik.

5. Apa tujuan kegiatan Halalbihalal PWI Kaltim?
Untuk mempererat silaturahmi antarwartawan serta memperkuat nilai profesionalisme dalam dunia jurnalistik.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.