Berita BorneoTribun: Kesehatan Anak hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2026

Stunting Tidak Selalu Karena Zat Besi, Tapi Risiko Tetap Harus Diwaspadai

Dokter anak dr Lucky Yogasatria menyebut kekurangan zat besi dapat berkontribusi pada stunting anak. Simak penyebab, risiko, dan cara pencegahannya. (Ilustrasi)
Dokter anak dr Lucky Yogasatria menyebut kekurangan zat besi dapat berkontribusi pada stunting anak. Simak penyebab, risiko, dan cara pencegahannya. (Ilustrasi)

Jakarta — Kekurangan zat besi disebut menjadi salah satu faktor yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya stunting pada anak. Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis anak dan konselor laktasi lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS), dr Lucky Yogasatria Sp.A, saat ditemui di Jakarta, Selasa.

Menurut dr Lucky, tidak semua anak yang mengalami stunting pasti mengalami kekurangan zat besi. Namun, kondisi kekurangan zat besi tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara keseluruhan.

“Banyaknya begitu, tapi bukan berarti semuanya anak stunting pasti kekurangan zat besi,” ujar dr Lucky.

Stunting Terjadi Karena Kekurangan Gizi Kronis

dr Lucky menjelaskan bahwa stunting pada anak umumnya terjadi akibat kekurangan gizi kronis atau infeksi yang terjadi secara berulang dalam jangka waktu lama. Kondisi tersebut membuat asupan kalori dan energi yang masuk ke dalam tubuh anak tidak mencukupi kebutuhan tumbuh kembangnya.

Dampak awal yang sering terlihat adalah berat badan anak yang sulit naik. Selain itu, tinggi badan anak juga cenderung berada di bawah standar kurva pertumbuhan yang telah ditetapkan.

Ia menekankan bahwa masa dua tahun pertama kehidupan merupakan periode penting untuk memperbaiki kondisi stunting.

“Itulah mengapa di dua tahun pertama, ketika dia stunting, itu harus segera diperbaiki. Ketika anaknya stunting, sudah pasti otaknya juga kekurangan nutrisi,” jelasnya.

Perlu Memantau Kekurangan Mikro dan Makronutrisi

Lebih lanjut, dr Lucky mengingatkan pentingnya memantau kondisi gizi anak secara menyeluruh. Kekurangan nutrisi tidak hanya berkaitan dengan makronutrisi seperti karbohidrat dan protein, tetapi juga mikronutrisi seperti zat besi dan zinc.

Menurutnya, tanda kekurangan mikronutrisi sering kali tidak terlihat jelas dibandingkan kekurangan protein.

“Kalau anak yang kekurangan protein sudah pasti pertumbuhannya tidak oke, anaknya kurus. Tapi anak yang kekurangan mikronutrisi kadang-kadang tidak terlalu kelihatan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan kadar zat besi dalam tubuh anak, terutama pada anak yang diduga mengalami stunting.

Risiko Kekurangan Zat Besi Pada Anak

Kekurangan zat besi dapat berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak. Beberapa risiko yang mungkin terjadi antara lain:

  • Anemia pada anak

  • Gangguan pertumbuhan otak

  • Penurunan kemampuan kognitif

  • Penurunan IQ

  • Tumbuh kembang tidak optimal

Dalam beberapa kasus, dokter dapat memberikan terapi zat besi atau suplemen tambahan setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan zat besi.

Selain zat besi, dokter juga dapat memeriksa kadar zinc dan vitamin D yang turut berperan penting dalam pertumbuhan anak.

Sumber Makanan Kaya Zat Besi Untuk Anak

Untuk mencegah kekurangan zat besi, dr Lucky menyarankan orang tua memberikan makanan bergizi yang kaya zat besi dalam menu harian anak.

Beberapa contoh makanan yang mengandung zat besi antara lain:

  • Hati ayam

  • Daging ayam

  • Daging sapi

  • Sayuran hijau tertentu

  • Makanan sumber protein hewani

Pemenuhan nutrisi tersebut penting agar pertumbuhan anak tetap optimal dan risiko stunting dapat ditekan.

Pentingnya Asupan Zat Besi Sejak Masa Kehamilan

Selain pada anak, kebutuhan zat besi juga sangat penting bagi ibu hamil. Kekurangan zat besi pada ibu dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan kondisi anemia.

dr Lucky menekankan bahwa ibu hamil sebaiknya rutin mengonsumsi makanan bergizi serta suplemen zat besi sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Langkah pencegahan sejak masa kehamilan dinilai menjadi kunci penting dalam mencegah stunting pada anak di masa depan.

Dalam dunia medis, penanganan stunting memerlukan pendekatan berbasis data dan pemeriksaan klinis. Dokter spesialis anak memiliki peran penting dalam melakukan:

  • Pemantauan tumbuh kembang anak

  • Pemeriksaan laboratorium nutrisi

  • Diagnosis penyebab stunting

  • Penentuan terapi yang tepat

Pendekatan ini membantu memastikan bahwa penanganan dilakukan secara tepat dan berbasis keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

FAQ

Apakah semua anak stunting pasti kekurangan zat besi?

Tidak. Tidak semua anak stunting mengalami kekurangan zat besi, namun kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diperiksa.

Apa tanda anak kekurangan zat besi?

Beberapa tanda umum meliputi anak tampak lemas, pucat, mudah lelah, serta pertumbuhan yang tidak optimal.

Apa makanan terbaik untuk mencegah kekurangan zat besi?

Makanan seperti hati ayam, daging sapi, dan daging ayam merupakan sumber zat besi yang baik untuk anak.

Kapan waktu terbaik mencegah stunting?

Pencegahan stunting paling efektif dilakukan sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun pertama kehidupan anak.

Apakah anak stunting bisa pulih?

Ya, terutama jika ditangani sejak dini dengan pemenuhan nutrisi yang tepat dan pemantauan medis rutin.

Anak Kecanduan Gawai? Dokter IDAI Ungkap Cara Efektif Hentikan Dalam 1 Bulan

Dokter anak menyebut kecanduan gawai pada anak bisa dihentikan dalam 2–4 minggu dengan konsistensi orang tua dan pengalihan aktivitas yang tepat.
Dokter anak menyebut kecanduan gawai pada anak bisa dihentikan dalam 2–4 minggu dengan konsistensi orang tua dan pengalihan aktivitas yang tepat.

JAKARTA — Kecanduan gawai pada anak kini menjadi perhatian banyak orang tua. Namun kabar baiknya, kebiasaan tersebut sebenarnya bisa dihentikan dalam waktu relatif singkat, asalkan orang tua konsisten dan mampu mengalihkan perhatian anak ke aktivitas lain yang menarik.

Dokter Anak dan Ahli Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH menjelaskan bahwa proses menghentikan kecanduan gawai pada anak umumnya membutuhkan waktu sekitar dua minggu hingga satu bulan.

“Sebenarnya untuk menghentikan, berdasarkan pengalaman pasien-pasien, biasanya membutuhkan 1–2 minggu kalau kita hentikan sama sekali, walau itu mungkin akan membuat anak sedikit cranky atau rewel,” ujar Bernie saat ditemui di Jakarta, Selasa.

Reaksi Awal Anak Saat Gadget Dihentikan Itu Wajar

Menurut Bernie, reaksi seperti anak menjadi rewel, mudah marah, atau terlihat gelisah saat gawai dihentikan merupakan hal yang wajar. Kondisi ini terjadi karena otak anak sudah terbiasa dengan stimulasi cepat dari layar.

Aktivitas bermain gawai memicu pelepasan dopamin di otak, yaitu zat kimia yang memberi rasa senang. Hal inilah yang membuat anak ingin terus mengulang aktivitas tersebut.

“Ini yang akhirnya anak akan berusaha lagi untuk mendapatkan hal itu. Lagi dan lagi akhirnya akan terjadi kecanduan atau ketergantungan juga adiksi terhadap kegiatan tersebut,” jelas dokter yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Kunci Utama: Alihkan Ke Aktivitas Yang Menarik

Menghentikan penggunaan gawai saja tidak cukup. Orang tua perlu mengganti kebiasaan tersebut dengan kegiatan lain yang lebih menarik bagi anak.

Beberapa aktivitas yang bisa menjadi alternatif antara lain:

  • Bermain permainan tradisional

  • Aktivitas fisik seperti bersepeda atau berlari

  • Menggambar atau mewarnai

  • Bermain bersama teman sebaya

  • Membantu aktivitas ringan di rumah

“Orang tua harus mengalihkan. Orang tua juga harus mengajak melakukan sesuatu yang cukup menarik juga bagi anak, sehingga anak tertarik untuk melakukannya,” ujarnya.

Menurut pengalaman klinis, setelah melewati masa awal tanpa gawai, anak biasanya mulai terbiasa dan tidak lagi mencari perangkat tersebut.

“Alihkan dengan permainan yang lain, atau kegiatan lain yang tentunya cukup menyenangkan bagi anak. Berdasarkan pengalaman, cukup sekitar dua minggu, paling lama satu bulan. Sebenarnya anak tidak akan mencari gawai lagi kalau tidak diberikan,” tambah Bernie.

Orang Tua Harus Jadi Contoh Penggunaan Gawai

Selain membatasi penggunaan gawai pada anak, orang tua juga memiliki peran penting sebagai panutan.

Jika orang tua masih sering bermain ponsel di depan anak, maka anak cenderung akan kembali meminta gawai.

“Sebisa mungkin pada saat itu orang tua jangan bermain gawai juga di depan anak, yang tentunya anak akan tertarik lagi untuk meminta gawainya kembali,” tegas Bernie.

Perilaku orang tua menjadi faktor penting dalam membentuk kebiasaan digital anak sejak dini.

Mengapa Kecanduan Gawai Perlu Segera Diatasi

Penggunaan gawai berlebihan pada anak dapat berdampak pada berbagai aspek perkembangan, seperti:

  • Gangguan konsentrasi

  • Keterlambatan bicara

  • Kurangnya aktivitas fisik

  • Gangguan pola tidur

  • Berkurangnya interaksi sosial

Karena itu, pengawasan dan pembatasan penggunaan gawai sejak dini sangat dianjurkan oleh tenaga kesehatan anak.

Tips Praktis Mengurangi Ketergantungan Gadget Pada Anak

Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan orang tua:

  1. Tetapkan jadwal penggunaan gawai harian

  2. Buat zona bebas gadget di rumah

  3. Perbanyak aktivitas fisik anak

  4. Libatkan anak dalam kegiatan keluarga

  5. Konsisten menerapkan aturan

  6. Batasi penggunaan gadget sebelum tidur

Dengan langkah yang konsisten, anak bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru tanpa ketergantungan pada layar.

FAQ

Berapa lama waktu menghentikan kecanduan gawai pada anak?

Berdasarkan pengalaman dokter anak, umumnya membutuhkan waktu sekitar 1–2 minggu, dan paling lama hingga satu bulan, tergantung konsistensi orang tua.

Kenapa anak menjadi rewel saat gadget dihentikan?

Karena otak anak sudah terbiasa dengan stimulasi dopamin dari gawai. Saat dihentikan, anak mengalami proses adaptasi yang membuatnya mudah marah atau gelisah.

Apa cara terbaik mengalihkan anak dari gadget?

Orang tua bisa mengajak anak bermain permainan tradisional, aktivitas fisik, menggambar, atau kegiatan kreatif lainnya yang membuat anak merasa senang.

Apakah orang tua harus ikut membatasi penggunaan gadget?

Ya. Orang tua perlu menjadi contoh karena anak cenderung meniru kebiasaan orang dewasa di sekitarnya.

Apakah anak bisa benar-benar lepas dari kecanduan gadget?

Bisa. Dengan konsistensi dan pengalihan aktivitas yang tepat, anak biasanya tidak lagi mencari gadget setelah melewati masa adaptasi awal.

Kamis, 02 April 2026

Dinkes Kaltim Perkuat Koordinasi Lintas Sektor Tekan Penyebaran Campak

Dinkes Kaltim tingkatkan koordinasi lintas sektor dan edukasi masyarakat untuk menekan penyebaran campak di tengah capaian imunisasi yang masih 60 persen. (Gambar ilustrasi)
Dinkes Kaltim tingkatkan koordinasi lintas sektor dan edukasi masyarakat untuk menekan penyebaran campak di tengah capaian imunisasi yang masih 60 persen. (Gambar ilustrasi)

Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur terus mengintensifkan koordinasi lintas sektor guna menekan penyebaran penyakit campak yang masih menjadi ancaman serius, khususnya bagi anak-anak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kaltim, Fit Nawati, menegaskan bahwa mobilitas penduduk yang tinggi di wilayah ini menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko penularan.

“Campak adalah penyakit yang sangat menular dan berbahaya, terutama bagi anak-anak. Saat ini kita menghadapi tantangan untuk menekan penyebaran penyakit tersebut,” ujarnya dalam pertemuan Koordinasi Kewaspadaan Campak yang digelar secara daring, Rabu.

Menurut Fit, langkah koordinasi lintas sektor ini merupakan strategi penting untuk memperkuat kewaspadaan sekaligus meningkatkan edukasi masyarakat. Tidak hanya melibatkan instansi pemerintah, upaya ini juga menggandeng kader posyandu dan tokoh masyarakat sebagai ujung tombak di lapangan.

Cakupan Imunisasi Masih Rendah

Salah satu perhatian utama Dinkes Kaltim adalah rendahnya capaian imunisasi. Saat ini, cakupan imunisasi baru mencapai sekitar 60 persen, masih jauh dari target ideal sebesar 90 persen.

“Kami membutuhkan dukungan semua pihak untuk menyosialisasikan pentingnya imunisasi dan mendorong orang tua membawa bayi serta balita ke fasilitas kesehatan terdekat,” tegasnya.

Rendahnya angka imunisasi ini dinilai menjadi faktor utama meningkatnya potensi penyebaran campak di sejumlah wilayah.

Peran Masyarakat Jadi Kunci

Dinkes menilai bahwa penguatan sinergi lintas sektor dan program menjadi langkah krusial untuk memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan kesehatan melalui imunisasi.

Selain itu, evaluasi dan pemetaan wilayah kerja juga terus dilakukan untuk mendeteksi potensi munculnya kasus baru, terutama di daerah dengan cakupan vaksinasi rendah.

Mobilisasi sosial yang melibatkan kader kesehatan dan tokoh masyarakat disebut sebagai strategi efektif untuk menjangkau masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.

“Kami berharap pertemuan ini tidak hanya menjadi forum formal, tetapi menghasilkan kolaborasi nyata yang berdampak langsung pada pencegahan penyebaran penyakit,” tambah Fit.

Ajak Masyarakat Lebih Aktif

Dinkes Kaltim juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatan lingkungan sekitar. Peran aktif masyarakat dinilai sangat penting dalam mendeteksi dini serta mencegah penyebaran penyakit.

Upaya percepatan penanggulangan campak ini diharapkan bisa berjalan optimal melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

FAQ

1. Apa itu penyakit campak?
Campak adalah penyakit infeksi virus yang sangat menular dan dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak.

2. Mengapa imunisasi penting untuk mencegah campak?
Imunisasi membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus campak sehingga dapat mencegah penularan dan komplikasi.

3. Berapa target ideal imunisasi di suatu wilayah?
Target ideal cakupan imunisasi adalah minimal 90 persen untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity).

4. Apa yang harus dilakukan orang tua?
Orang tua diimbau membawa bayi dan balita ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan imunisasi lengkap.

5. Siapa saja yang terlibat dalam pencegahan campak?
Pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.

Jumat, 20 Maret 2026

Anak Sering Main Gadget? Waspadai Dampak Serius Pada Saraf Dan Otak

Dampak gawai berlebihan pada anak bisa ganggu saraf dan tumbuh kembang. IDAI ingatkan pentingnya pengawasan orang tua dan variasi aktivitas anak. (gambar ilustrasi)
Dampak gawai berlebihan pada anak bisa ganggu saraf dan tumbuh kembang. IDAI ingatkan pentingnya pengawasan orang tua dan variasi aktivitas anak. (gambar ilustrasi)

Jakarta — Penggunaan gawai pada anak kini jadi perhatian serius para ahli kesehatan. Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Tuty Herawati, mengingatkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan anak, termasuk sistem saraf.

Menurut Tuty, dampak penggunaan gawai tidak hanya terlihat dari perubahan fisik seperti postur tubuh yang membungkuk. Lebih dari itu, efeknya bisa menjalar ke sistem saraf anak.

“Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi, di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan,” ujarnya dalam acara buka bersama Menteri Komunikasi dan Digital di Jakarta, Selasa (17/3).

Fase Krusial Tumbuh Kembang Anak

Tuty menjelaskan, paparan gawai yang berlebihan pada usia lima hingga 15 tahun—fase penting dalam tumbuh kembang anak—dapat memengaruhi perkembangan secara keseluruhan.

Risiko gangguan ini sangat dipengaruhi oleh:

  • Intensitas penggunaan gawai

  • Durasi waktu layar

  • Keseimbangan aktivitas anak

Anak yang tetap aktif bergerak, bermain di luar, dan rutin berolahraga cenderung memiliki risiko lebih rendah dibandingkan mereka yang terus-menerus terpaku pada layar.

Potensi Gangguan Hingga Dewasa

Penggunaan gawai tanpa pengawasan dalam jangka panjang berpotensi memicu:

  • Masalah postur tubuh

  • Gangguan otot

  • Penurunan fungsi saraf

Yang lebih mengkhawatirkan, dampak ini bisa bertahan hingga anak tumbuh dewasa.

Peran Orang Tua Jadi Kunci

Tuty juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dalam mengawasi penggunaan gawai. Ia menyebut, penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP Tunas bisa menjadi langkah penting dalam melindungi anak dari dampak negatif teknologi.

Namun, aturan saja tidak cukup.

“Peran keluarga sangat penting, mulai dari mengatur, mendampingi, hingga mengawasi penggunaan gawai anak,” tegasnya.

Otak Anak Butuh Stimulasi Beragam

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa otak anak memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap informasi, terutama pada masa golden age.

Namun, jika anak hanya mendapatkan stimulasi yang monoton—misalnya dari game atau konten digital yang berulang perkembangan otak bisa terhambat.

“Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi,” jelasnya.

Ia menyebut kondisi ini sebagai brain drop, yaitu penurunan optimalisasi perkembangan kognitif akibat kurangnya variasi stimulasi.

Teknologi Boleh, Tapi Jangan Jadi Satu-Satunya

Rose menegaskan bahwa perkembangan otak tidak ditentukan oleh ukuran, melainkan jumlah koneksi antar-saraf. Koneksi ini terbentuk dari pengalaman yang beragam.

Karena itu, anak perlu:

  • Interaksi sosial

  • Aktivitas fisik

  • Pengalaman baru di luar layar

“Teknologi bisa dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber stimulasi,” tutupnya.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apakah gawai berbahaya untuk anak?
Tidak selalu. Gawai aman jika digunakan secara bijak dan dengan pengawasan orang tua.

2. Berapa batas aman penggunaan gawai?
Idealnya disesuaikan usia, namun anak tetap harus punya waktu aktivitas fisik dan interaksi sosial.

3. Apa dampak utama gawai berlebihan?
Mulai dari gangguan postur, masalah saraf, hingga perkembangan kognitif yang tidak optimal.

4. Apa itu brain drop?
Kondisi ketika perkembangan otak tidak maksimal akibat kurangnya variasi stimulasi.

Kamis, 05 Maret 2026

Program Makan Bergizi Gratis Disebut Bisa Ubah Budaya Makan Anak Indonesia Menuju Generasi Sehat dan Cerdas 2045

60 Juta Orang Sudah Terima Manfaat Program Makan Bergizi Gratis Ini Target Besar Pemerintah
Program Makan Bergizi Gratis disebut mampu mengubah budaya makan masyarakat Indonesia. Pemerintah menargetkan generasi sehat dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045 melalui peningkatan gizi anak.

60 Juta Orang Sudah Terima Manfaat Program Makan Bergizi Gratis Ini Target Besar Pemerintah

JAKARTA -- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah disebut mampu mendorong perubahan budaya makan dan pola hidup sehat di masyarakat. Program ini menjadi salah satu fondasi penting untuk mempersiapkan generasi Indonesia yang kuat, sehat, dan kompetitif menuju visi Indonesia Emas 2045.

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI Hariqo Wibawa Satria mengatakan bahwa pembangunan kualitas sumber daya manusia tidak hanya bergantung pada pendidikan, tetapi juga pada pola makan sehat yang dimulai sejak usia dini.

Dalam sebuah siniar bersama ANTARA di Jakarta pada Kamis, Hariqo menjelaskan bahwa program MBG dirancang untuk membangun kebiasaan makan sehat sekaligus meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.

Menurutnya, target jangka panjang dari program tersebut adalah menciptakan generasi muda yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga cerdas dan memiliki daya saing global.

“Pada tahun 2045 kita ingin anak-anak Indonesia memiliki pendapatan tinggi, tubuh sehat, otak cerdas, akhlak baik, serta mampu bersaing dengan generasi dari negara lain. Melalui program MBG kita sedang membangun budaya peradaban baru,” ujarnya.

Meningkatkan Kesadaran Gizi di Masyarakat

Hariqo menilai bahwa program ini juga membawa dampak positif terhadap kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang.

Ia mencontohkan bagaimana percakapan di media sosial saat ini tidak hanya dipenuhi isu geopolitik global seperti konflik Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga mulai ramai membahas soal nutrisi, protein, dan pola makan sehat.

Meski demikian, ia mengakui bahwa kritik terhadap program tersebut tetap ada. Sebagian warganet mempertanyakan kualitas makanan hingga potensi penyimpangan anggaran.

Namun ia menilai kritik tersebut justru menjadi bagian dari proses edukasi publik.

“Sekarang jika ibu-ibu berbincang, bisa jadi mereka membahas protein atau kandungan gizi makanan. Itu hal yang patut disyukuri karena edukasi gizi mulai masuk ke kehidupan masyarakat,” katanya.

Fondasi Peradaban Baru Melalui Program Prioritas

Hariqo menambahkan bahwa MBG bukan satu-satunya program yang berfokus pada peningkatan kualitas manusia Indonesia.

Pemerintah juga menjalankan beberapa program prioritas lain seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Sekolah Rakyat yang dirancang untuk memperkuat kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Menurutnya, ketiga program tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban yang lebih berkualitas di masa depan.

“Program-program ini bukan sekadar kebijakan sosial biasa. Ini fondasi peradaban kita. Tujuannya jauh lebih besar daripada sekadar memberikan bantuan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa urgensi tersebut menjadi alasan pemerintah menjadikan MBG sebagai salah satu program utama dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Masalah Gizi Indonesia Masih Mengkhawatirkan

Meski Indonesia telah merdeka lebih dari delapan dekade, data menunjukkan bahwa masalah gizi masyarakat masih cukup serius.

Beberapa fakta yang diungkapkan antara lain:

  • Lebih dari 96 persen masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah

  • Sekitar 66 persen anak memiliki pola makan yang buruk

  • Sekitar 65 persen anak tidak sarapan sebelum berangkat sekolah

  • 32 persen remaja putri mengalami anemia

  • 21 persen balita mengalami stunting

Selain itu, sebelum masa pemerintahan saat ini, lebih dari 2.000 orang meninggal setiap hari akibat penyakit tuberkulosis dan penyakit kardiovaskular.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perbaikan pola makan dan kesehatan masyarakat masih menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah.

Sudah Menjangkau Puluhan Juta Penerima Manfaat

Melalui implementasi Program MBG, pemerintah berupaya memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia secara bertahap.

Hingga saat ini, program tersebut disebut telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat di 24.204 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Pemerintah berharap, melalui langkah ini generasi muda Indonesia dapat tumbuh lebih sehat, memiliki kecerdasan optimal, dan siap menghadapi persaingan global pada masa mendatang.

FAQ

Apa itu Program Makan Bergizi Gratis (MBG)?
Program pemerintah yang menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat, khususnya anak-anak, untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan.

Apa tujuan utama MBG?
Meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi persaingan global menuju Indonesia Emas 2045.

Siapa penerima manfaat program ini?
Utamanya anak-anak dan kelompok masyarakat yang membutuhkan asupan gizi lebih baik.

Berapa jumlah penerima manfaat MBG saat ini?
Program ini telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia.

Mengapa program ini dianggap penting?
Karena data menunjukkan masih tingginya angka stunting, anemia, dan pola makan tidak sehat di Indonesia.

Sumber: ANTARA

Rabu, 25 Februari 2026

Orang Tua Wajib Tahu Bahaya Screen Time bagi Tumbuh Kembang Anak

Bahaya Screen Time Berlebihan yang Sering Diabaikan Orang Tua
Dokter IDAI mengingatkan bahaya screen time berlebih pada anak, mulai dari speech delay, gangguan tidur, obesitas hingga risiko virtual autism. Orang tua perlu batasi dan dampingi penggunaan gawai. (Gambar ilustrasi IA)

Bahaya Screen Time Berlebihan yang Sering Diabaikan Orang Tua

JAKARTA -- Dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp.TKPS(K), mengingatkan bahwa paparan layar atau screen time berlebihan pada anak dapat mengganggu tumbuh kembang dan kesehatan. Dalam seminar media yang digelar secara daring di Jakarta pada Selasa, ia menegaskan bahwa dampak screen time tidak hanya terasa dalam waktu singkat, tetapi juga bisa berlanjut hingga bertahun-tahun.

Menurut dr. Farid, dampak jangka pendek screen time berlebih umumnya muncul dalam kurun waktu kurang dari lima tahun paparan. Risiko ini terutama mengintai balita, khususnya anak usia di bawah dua tahun. Anak dapat mengalami keterlambatan motorik, speech delay atau keterlambatan bicara, gangguan perkembangan kognitif, hingga masalah perilaku seperti hiperaktif, impulsif, dan sulit berkonsentrasi.

Ia juga menyoroti fenomena yang kerap disebut sebagai virtual autism, yaitu kondisi gangguan perilaku akibat paparan layar berlebihan yang gejalanya menyerupai autisme. Meski bukan autisme secara klinis, pola perilakunya bisa sangat mirip sehingga perlu diwaspadai sejak dini.

Tak hanya itu, screen time berlebih juga berdampak pada kualitas tidur anak. Paparan cahaya biru buatan dari gawai dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur. Akibatnya, anak menjadi sulit tidur, jam istirahat berkurang, dan kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental.

Dalam jangka panjang, paparan layar tanpa kontrol selama lebih dari lima tahun berisiko menyebabkan gangguan fokus, penurunan prestasi akademik, obesitas, hingga meningkatkan risiko penyakit tidak menular. Kurangnya aktivitas fisik akibat terlalu lama duduk di depan layar juga memperbesar kemungkinan anak mengalami masalah berat badan.

Dr. Farid menekankan bahwa screen time disebut berlebihan bukan semata-mata karena durasi, tetapi juga karena tidak adanya seleksi konten dan minimnya pendampingan orang tua. Ia mengingatkan, orang tua tidak cukup hanya duduk di samping anak. Pendampingan harus aktif, dengan membantu anak memahami apa yang ditonton dan menghubungkannya dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini penting agar penggunaan gawai tidak menggantikan interaksi sosial, aktivitas fisik, dan stimulasi langsung yang sangat dibutuhkan dalam masa emas tumbuh kembang anak. Orang tua diharapkan lebih bijak dalam mengatur waktu layar serta memastikan konten yang dikonsumsi sesuai usia dan bernilai edukatif.

Dengan pengawasan yang tepat, teknologi tetap bisa dimanfaatkan secara positif. Namun tanpa kontrol, dampaknya bisa memengaruhi masa depan anak. Karena itu, peran keluarga menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara dunia digital dan perkembangan optimal buah hati.

FAQ

Apa itu screen time pada anak?
Screen time adalah durasi waktu yang dihabiskan anak untuk menatap layar seperti ponsel, tablet, televisi, atau komputer.

Berapa batas aman screen time untuk balita?
Anak di bawah dua tahun sebaiknya sangat dibatasi atau dihindarkan dari paparan layar, kecuali untuk komunikasi video dengan pendampingan orang tua.

Apa dampak screen time berlebih pada balita?
Risikonya meliputi keterlambatan bicara, gangguan motorik, masalah perilaku, hingga gangguan tidur.

Apa yang dimaksud virtual autism?
Istilah ini merujuk pada gejala gangguan perilaku akibat paparan layar berlebihan yang menyerupai autisme.

Bagaimana cara mencegah dampak buruk screen time?
Batasi durasi, pilih konten sesuai usia, dampingi secara aktif, dan dorong anak melakukan aktivitas fisik serta interaksi sosial langsung.

Kamis, 21 Agustus 2025

Bocah 4 Tahun Meninggal karena Tubuh Dipenuhi Ribuan Cacing Netizen Heboh dan Ungkap Rasa Miris

Kuningan, Jabar - Seorang bocah bernama Raya (4) dikabarkan meninggal dunia setelah tubuhnya dipenuhi ribuan cacing gelang atau askariasis. Peristiwa memilukan ini viral di media sosial sejak pertengahan Agustus 2025, setelah video kondisi Raya tersebar luas. 

Lokasi peristiwa disebut terjadi di sebuah daerah pedesaan Indonesia di kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di mana bocah malang itu hidup dalam keterbatasan hingga terpapar infeksi cacing parah.

Unggahan tentang kisah Raya membuat ribuan warganet bereaksi. Akun TikTok @ita6265 menulis, “Aku yg geli bgt ke cacing nekat klik pencarian Raya cacing di dalam tubuh merinding anj nyesel.” 

Netizen lain, Maria O Jawa, juga mengaku trauma usai menonton video tersebut. “Aku nangis sejadinya liat videonya, smpe trauma tiap mau merem keinget penderitaan Raya,” tulisnya.

Kondisi lingkungan tidak sehat di pedesaan menjadi penyebab anak kecil terinfeksi ribuan cacing gelang hingga meninggal dunia
Kondisi lingkungan tidak sehat di pedesaan menjadi penyebab anak kecil terinfeksi ribuan cacing gelang hingga meninggal dunia. (Gambar ilustrasi IA)

Selain rasa sedih, banyak komentar yang menyinggung ketidakadilan sosial. Akun @tarry0788 menulis, “Miris banget denger berita ini 😭 hidup dg keterbatasan di Indonesia sementara anggota dewan digaji sehari 3 juta. Selamat datang di Indonesia.” 

Senada, akun @mayashopa mengkritik, “DPRD yg katanya wakil rakyat enak joget-joget, rakyatnya malah dalam keadaan menderita.”

Tak sedikit pula netizen yang bertanya-tanya soal medis. Akun @JSM Aulia berkomentar, “Kok bisa ya naik ke mulut, lewat lambung kan ada enzim dan asam lambung, atau tdk mempan?” Sementara akun lain memberikan penjelasan bahwa kondisi buruk lingkungan membuat telur cacing mudah masuk ke tubuh anak kecil. 

Seperti ditulis @Oktavia, “Orangtuanya ODGJ, Raya ini waktu baru ngerangkak sering ditaruh di tanah dan masuk ke kolong rumah, banyak ayam dan kotorannya. Namanya bayi pasti makan segala macem. Sampai usia 4 tahun badannya penuh banget sama cacing, bahkan udah ngegerogotin otak.”

Dari penuturan akun @Nirma Lestari, disebutkan bahwa almarhumah sering bermain di bawah kolong rumah panggung yang berlantai tanah dengan banyak kotoran ayam. Dari situlah telur cacing masuk ke tubuhnya, berkembang biak, dan akhirnya merusak organ vital bocah kecil tersebut.

Kasus ini menyoroti masalah kesehatan lingkungan dan sanitasi yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Infeksi cacing gelang sebenarnya bisa dicegah dengan program pemberian obat cacing rutin, kebersihan lingkungan, serta edukasi orang tua. 

Sabtu, 09 Agustus 2025

Perlu Ruang Aktivitas Fisik Agar Anak Tak Kecanduan Gim dan Gawai, Ini Saran Wakil Menteri

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka sedang berbicara dalam diskusi di Jakarta tentang pentingnya aktivitas fisik anak untuk mencegah kecanduan gawai.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka sedang berbicara dalam diskusi di Jakarta tentang pentingnya aktivitas fisik anak untuk mencegah kecanduan gawai.

Jakarta, 9 Agustus 2025 – Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menekankan pentingnya peran orang tua untuk menyediakan ruang dan waktu bagi aktivitas fisik anak. 

Hal ini disampaikan saat diskusi bertema “Peran Pembangunan Keluarga dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045” di Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Jakarta. 

Tujuannya agar anak-anak tidak kecanduan gim dan gawai yang dapat berdampak buruk bagi tumbuh kembang mereka.

Isyana mengingatkan agar orang tua terus belajar dan mengikuti perkembangan teknologi yang digemari anak-anak. 

Menurutnya, anak-anak kerap lebih cepat memahami dunia digital dibanding orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus aktif “catch up” agar bisa membimbing anak secara tepat.

“Anak-anak memang mencari apa yang disebut cheap dopamine, yaitu kenikmatan instan dari scrolling media sosial atau bermain game online yang bisa memicu adiksi,” jelas Isyana. 

Isyana menambahkan, solusi utama adalah mengajak anak melakukan aktivitas fisik dan berjemur di bawah sinar matahari, sebab tubuh manusia memang didesain untuk bergerak, bukan hanya duduk diam menatap layar.

Sementara itu, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, turut menambahkan program Kementeriannya bernama Ruang Bersama Indonesia (RBI). 

Program ini bertujuan menciptakan ruang yang aman dan inklusif untuk perempuan, anak-anak, dan masyarakat, yang memungkinkan mereka belajar, bermain, serta mengembangkan kreativitas. 

Veronica berharap melalui RBI, anak-anak bisa lebih sering bermain permainan tradisional dan olahraga, sehingga ketergantungan pada gawai bisa berkurang.

Dengan adanya dorongan dari pemerintah dan peran aktif orang tua, diharapkan anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat dan seimbang antara dunia digital dan fisik. 

Ke depan, peningkatan fasilitas ruang terbuka dan program kreatif seperti RBI menjadi kunci mencegah kecanduan teknologi dan membentuk generasi emas 2045 yang cerdas dan produktif.