![]() |
| Wakil Gubernur Kalimantan Barat (Wagub Kalbar), Krisantus Kurniawan, S.IP., M.Si., menerima audiensi Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Kalbar, Kombes Pol. Valentinus Asmoro, S.I.K., M.H., beserta jajaran, di Ruang Kerja Wagub Kalbar, Kantor Gubernur Kalbar, Rabu (14/1/2026). |
PONTIANAK - Jika selama ini Electronic Traffic Law Enforcement atau ETLE dipersepsikan hanya sebagai kamera tilang otomatis, mungkin saatnya kita melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas.
Di Kalimantan Barat, ETLE perlahan berubah menjadi simbol pergeseran cara negara membangun kesadaran warganya di jalan raya.
Pernyataan Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, dalam audiensi bersama Direktorat Lalu Lintas Polda Kalbar, menjadi sinyal kuat bahwa ETLE bukan semata alat penindakan.
Sistem ini diarahkan sebagai instrumen edukasi, kontrol, dan penertiban administrasi kendaraan yang selama ini kerap diabaikan.
Realitas di lapangan tidak bisa dipungkiri. Masih banyak kendaraan beroperasi dengan pajak mati, pelat nomor tidak sesuai, atau bahkan data kendaraan yang tidak tercatat dengan baik.
Praktik ini seolah dianggap wajar, padahal dampaknya besar, mulai dari potensi kecelakaan hingga berkurangnya pendapatan daerah.
ETLE hadir memutus kebiasaan lama itu. Kamera tidak bisa diajak kompromi. Data tidak bisa dinegosiasikan.
Ketika pelanggaran tercatat secara digital, pemilik kendaraan dipaksa berhadapan dengan fakta bahwa ketertiban bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.
Dari sisi pemerintahan, penerapan ETLE secara luas juga membawa efek ganda. Ketertiban lalu lintas meningkat, keselamatan pengguna jalan lebih terjamin, dan Pendapatan Asli Daerah berpeluang naik dari sektor pajak kendaraan bermotor. Uang itu pada akhirnya kembali ke masyarakat dalam bentuk layanan publik.
Yang tak kalah penting, ETLE memperbaiki wajah penegakan hukum. Sistem berbasis kamera dan data elektronik menutup celah subjektivitas.
Semua diperlakukan sama. Tidak ada lagi cerita “lolos karena kenal” atau “damai di tempat”.
Opini publik mungkin masih terbelah. Ada yang merasa diawasi, ada pula yang merasa terbantu. Namun satu hal jelas, ETLE memaksa kita bercermin.
Sudahkah kita benar-benar tertib, bukan karena takut ditilang, tetapi karena sadar itu bagian dari tanggung jawab sebagai warga?
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com
