![]() |
| Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kedua dari kiri) menyampaikan keterangan pers usai acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat malam (13/2/2026). |
JAKARTA -- Kabar baik datang dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa ekonomi Indonesia sedang berada di jalur yang tepat dan berpeluang besar memasuki fase ekspansi sehat hingga tahun 2033.
Pernyataan ini disampaikan usai acara Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar di Wisma Danantara, Jakarta. Dalam kesempatan itu, Purbaya berbicara lugas dan penuh optimisme mengenai arah ekonomi nasional dalam tujuh hingga sepuluh tahun ke depan.
Target Pertumbuhan 6 Persen, Bukan Sekadar Angka
Menurut Purbaya, pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi di kisaran 6 persen pada tahun ini. Target ini bukan hanya soal angka statistik, tetapi tentang menciptakan lebih banyak peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau ekonomi bergerak sehat, lapangan pekerjaan otomatis akan semakin terbuka,” kurang lebih begitu pesan yang ingin ia sampaikan.
Artinya apa bagi kita? Jika proyeksi ini tercapai, masyarakat bisa merasakan dampak langsung berupa meningkatnya kesempatan kerja, naiknya daya beli, hingga bertumbuhnya sektor usaha kecil dan menengah.
Kunci Utama: Fiskal Dijaga, Defisit Tetap Aman
Optimisme tersebut tentu tidak muncul tanpa strategi. Pemerintah, kata Purbaya, tetap mengedepankan manajemen fiskal yang disiplin.
Belanja negara akan tetap didorong, tetapi dilakukan secara terukur. Rasio defisit anggaran terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dijaga tetap di bawah 3 persen—angka yang selama ini menjadi batas aman. Sementara itu, rasio utang negara akan dipertahankan stabil dan diturunkan secara bertahap.
Ia meyakini, ketika ekonomi tumbuh lebih kuat, penerimaan pajak dan bea cukai juga akan meningkat. Dengan begitu, kebutuhan pembiayaan lewat utang bisa ditekan secara perlahan.
Strategi ini penting. Sebab pertumbuhan tanpa pengelolaan yang hati-hati justru bisa menimbulkan risiko di masa depan.
Memahami Siklus Ekonomi: Ekspansi, Resesi, Lalu Bangkit Lagi
Dalam diskusi panel, Purbaya menjelaskan bahwa siklus ekonomi memang bergerak alami: dari ekspansi, masuk resesi, lalu kembali tumbuh.
Indonesia sendiri pernah menikmati fase ekspansi panjang pada 2009 hingga 2020. Setelah itu, pandemi COVID-19 memicu tekanan ekonomi global dan membawa Indonesia ke fase resesi. Namun kini, kondisi disebut sudah kembali ke jalur ekspansi.
Dua indikator penting ikut menguatkan optimisme tersebut:
Leading Economic Index (LEI), yang memproyeksikan kondisi ekonomi 6–12 bulan ke depan, mulai menunjukkan tren naik.
Coincident Economic Index (CEI), yang menggambarkan kondisi ekonomi saat ini, juga mengalami perbaikan.
Kenaikan kedua indikator ini menjadi sinyal bahwa pertumbuhan berpotensi semakin cepat dalam waktu dekat.
Menuju Indonesia Emas, Bukan Indonesia Suram
Dengan arah kebijakan yang dinilai tepat dan momentum ekonomi yang kembali positif, Purbaya mengajak masyarakat untuk tidak terlalu khawatir terhadap prospek jangka menengah.
Ia bahkan menyebut peluang besar membawa Indonesia menuju visi Indonesia Emas—bukan skenario pesimistis.
Bagi Anda sebagai pelaku usaha, pekerja, atau investor, pesan ini jelas: momentum sedang dibangun. Stabilitas fiskal dijaga, pertumbuhan didorong, dan peluang kerja diproyeksikan meningkat.
Kini pertanyaannya, sudahkah Anda bersiap memanfaatkan fase ekspansi ini?
Karena jika proyeksi hingga 2033 benar-benar terwujud, tujuh hingga sepuluh tahun ke depan bisa menjadi periode emas bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia—dan tentu saja, bagi masa depan kita bersama.
