Berita BorneoTribun: Bank Indonesia hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan
iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Bank Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bank Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2026

BI Prediksi Permintaan Rumah Balikpapan Naik Seiring Proyek IKN

BI memprediksi permintaan rumah di Balikpapan meningkat pada 2026 seiring pembangunan IKN dan dominasi KPR dalam pembiayaan properti.
BI memprediksi permintaan rumah di Balikpapan meningkat pada 2026 seiring pembangunan IKN dan dominasi KPR dalam pembiayaan properti.

Balikpapan, Kaltim — Bank Indonesia (BI) memperkirakan permintaan rumah di Kota Balikpapan akan mengalami peningkatan pada 2026. Proyeksi ini sejalan dengan berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) serta mulai bergeraknya aktivitas industri di kawasan tersebut.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan bahwa pembangunan tahap kedua IKN diprediksi akan meningkatkan mobilitas pekerja, yang secara langsung berdampak pada kebutuhan hunian.

“Pembangunan IKN berlanjut tahap dua dan aktivitas industri yang mulai bergerak meningkatkan mobilitas pekerja diperkirakan memberi dorongan tambahan bagi pasar perumahan,” ujarnya, Sabtu.

Pasar Properti Masih Stabil, KPR Jadi Andalan

Menurut BI, pembiayaan melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi tulang punggung sektor properti di Balikpapan. Hingga akhir 2025, penyaluran KPR tercatat mencapai Rp4,97 triliun, dengan kontribusi sebesar 78 persen dari total transaksi perumahan.

Robi menjelaskan, KPR tetap menjadi pilihan utama masyarakat karena memungkinkan pembayaran secara cicilan dalam jangka panjang, terutama di tengah harga rumah yang relatif tinggi.

Pertumbuhan KPR sendiri tercatat sebesar 4,16 persen secara tahunan. Meski melambat dibanding periode sebelumnya, angka ini menunjukkan pembiayaan perumahan masih cukup terjaga.

Segmen Rumah Besar Mulai Diminati

Meski pasar residensial cenderung bergerak lebih lambat, minat terhadap rumah tapak tetap stabil. Bahkan, rumah tipe besar justru mencatat peningkatan penjualan pada akhir 2025.

Fenomena ini menunjukkan adanya segmen pembeli yang masih aktif, khususnya masyarakat dengan kebutuhan ruang lebih luas atau kemampuan finansial yang lebih kuat.

Risiko Kredit Tetap Terkendali

Dari sisi risiko, BI mencatat tingkat kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tetap berada di bawah 5 persen. Angka ini mencerminkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kewajiban kredit masih relatif stabil, meskipun kondisi ekonomi mengalami perubahan.

Hal ini menjadi sinyal positif bagi sektor perbankan sekaligus menunjukkan bahwa pasar properti Balikpapan masih memiliki fundamental yang cukup kuat.

Dampak Langsung IKN ke Balikpapan

Sebagai kota penyangga utama IKN, Balikpapan diperkirakan akan terus mengalami peningkatan permintaan hunian dalam beberapa tahun ke depan. Mobilitas pekerja, ekspansi industri, serta kebutuhan tempat tinggal menjadi faktor utama pendorong.

Dengan tren ini, sektor properti diprediksi tetap menjadi salah satu sektor yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah.

FAQ

1. Kenapa permintaan rumah di Balikpapan meningkat?
Karena pembangunan IKN yang berlanjut serta meningkatnya aktivitas industri dan mobilitas pekerja.

2. Berapa total penyaluran KPR di Balikpapan?
Sekitar Rp4,97 triliun hingga akhir 2025.

3. Apakah pasar properti Balikpapan sedang tumbuh?
Ya, meski melambat, pasar tetap stabil dengan segmen tertentu seperti rumah besar yang meningkat.

4. Apakah KPR masih menjadi pilihan utama?
Masih, dengan porsi 78 persen dari total transaksi properti.

5. Bagaimana risiko kredit perumahan?
Masih terkendali dengan tingkat kredit bermasalah di bawah 5 persen.

Kamis, 02 April 2026

Kota Palangka Raya Gelar Lomba Kampung Keren, Hadiah Capai Rp300 Juta

Lomba Kampung Keren Palangka Raya hadirkan hadiah hingga Rp300 juta untuk dorong lingkungan bersih, ekonomi maju, dan kolaborasi masyarakat.
Lomba Kampung Keren Palangka Raya hadirkan hadiah hingga Rp300 juta untuk dorong lingkungan bersih, ekonomi maju, dan kolaborasi masyarakat.

PALANGKA RAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya terus memperkuat pengelolaan lingkungan demi menciptakan kawasan yang bersih, nyaman, dan berdaya saing. Salah satunya melalui penyelenggaraan Lomba Kampung Kolaborasi, Ekonomi Maju, Religius, Energik, dan Nyaman (Keren).

Wali Kota Fairid Naparin menegaskan, lomba ini tidak sekadar ajang kebersihan, tetapi menjadi gerakan kolaboratif lintas sektor yang melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.

“Dalam lomba ini, kami melibatkan perguruan tinggi serta kolaborasi pentahelix yang ada di Kota Palangka Raya,” ujar Fairid, Kamis.

Ia menjelaskan, setiap perguruan tinggi akan membentuk tim yang kemudian dilaporkan ke pemerintah kota untuk ikut serta dalam program tersebut.

Tidak Sekadar Bersih, Tapi Berdampak Ekonomi

Lomba Kampung Keren dirancang lebih komprehensif. Penilaian tidak hanya fokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mencakup dampak ekonomi, keberagaman, hingga semangat partisipasi masyarakat.

Menurut Fairid, konsep ini bertujuan menciptakan efek berkelanjutan atau multiplier effect bagi masyarakat.

“Jadi, tidak hanya bersih secara lingkungan, tetapi juga ekonominya, keberagaman, semangat peserta, sehingga sesuai dengan visi misi kami,” jelasnya.

Hadiah Ratusan Juta Hingga Rp1 Miliar

Pemkot Palangka Raya menyiapkan hadiah yang cukup besar sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi peserta.

  • Juara 1: Rp300 juta

  • Juara 2: Rp200 juta

  • Juara 3: Rp100 juta

Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan hadiah juara umum pada tahun 2029 sebesar Rp1 miliar bagi peserta yang konsisten menjaga kualitas lingkungan.

“Hadiah ini akan digunakan untuk memaksimalkan upaya menjaga kebersihan lingkungan masing-masing,” tambah Fairid.

Kolaborasi Dengan Bank Indonesia

Dalam pelaksanaannya, program ini juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Tengah yang siap terlibat sebagai bagian dari tim pendamping peserta dari perguruan tinggi.

Kolaborasi ini menjadi salah satu kekuatan utama dalam pendekatan pentahelix, yang menggabungkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.

Dorong Kesadaran Dan Keberlanjutan

Fairid berharap Lomba Kampung Keren tidak hanya menjadi agenda tahunan semata, tetapi mampu membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan.

“Kami ingin kegiatan ini memiliki dampak luas dan berkelanjutan bagi masyarakat Kota Palangka Raya,” tegasnya.

FAQ

1. Apa itu Lomba Kampung Keren?
Lomba Kampung Keren adalah program Pemkot Palangka Raya untuk mendorong lingkungan bersih, ekonomi maju, dan kolaborasi masyarakat.

2. Berapa hadiah yang diberikan?
Hadiah mencapai Rp300 juta untuk juara 1, Rp200 juta juara 2, dan Rp100 juta juara 3. Ada juga hadiah Rp1 miliar untuk juara umum 2029.

3. Siapa saja yang terlibat dalam lomba ini?
Melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan dukungan dari Bank Indonesia.

4. Apa tujuan utama program ini?
Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

5. Apakah lomba ini hanya soal kebersihan?
Tidak. Penilaian juga mencakup aspek ekonomi, keberagaman, dan partisipasi masyarakat.

Sabtu, 28 Maret 2026

QRIS Kaltim Melejit Awal 2026, Pengguna Tembus 859 Ribu

QRIS Kaltim 2026 mencatat lonjakan pengguna hingga 859 ribu, didorong pertumbuhan merchant dan transaksi digital yang semakin masif.
QRIS Kaltim 2026 mencatat lonjakan pengguna hingga 859 ribu, didorong pertumbuhan merchant dan transaksi digital yang semakin masif.

SAMARINDA -- Perkembangan transaksi digital di Kalimantan Timur makin menunjukkan tren positif di awal 2026. Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan (KPw) setempat mencatat lonjakan signifikan pada penggunaan QRIS.

Kepala KPw BI Kaltim, Jajang Hermawan, mengungkapkan bahwa hingga Januari 2026 jumlah pengguna QRIS di wilayah Benua Etam telah mencapai 859,2 ribu orang.

“Angka ini meningkat dibandingkan Desember 2025 yang berada di 850,8 ribu pengguna. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap transaksi digital semakin tinggi,” ujar Jajang di Samarinda.

Merchant QRIS Ikut Melonjak

Tak cuma dari sisi pengguna, pertumbuhan juga terlihat dari jumlah merchant. Data BI menunjukkan merchant QRIS meningkat dari 798,2 ribu pada Desember 2025 menjadi 808,0 ribu unit di Januari 2026.

Menurut Jajang, peningkatan ini bukan sekadar tren, tapi langkah strategis pelaku usaha dalam menghadapi era digital.

“Pelaku usaha kini makin cepat beradaptasi. QRIS membantu efisiensi operasional dan membuat transaksi lebih transparan,” jelasnya.

Penggunaan QRIS sendiri dinilai menjadi tulang punggung dalam memperkuat ekosistem ekonomi digital di daerah.

Peredaran Uang Tetap Stabil

Meski transaksi digital meningkat pesat, peredaran uang tunai di Kaltim tetap menunjukkan kondisi stabil.

Pada periode yang sama, sektor perbankan mencatat net inflow sebesar Rp2,9 triliun. Artinya, jumlah uang yang masuk ke bank lebih besar dibanding yang keluar.

Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi kesehatan ekonomi daerah.

“Likuiditas perbankan tetap terjaga dengan baik. Artinya, meskipun digitalisasi meningkat, aktivitas ekonomi konvensional masih berjalan normal,” tambah Jajang.

Digitalisasi Jadi Kunci Ekonomi Kaltim

Lonjakan QRIS di awal 2026 menunjukkan bahwa transformasi digital di Kaltim berjalan cepat dan semakin matang.

Dengan semakin luasnya penggunaan QRIS, masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan transaksi yang praktis, aman, dan efisien.

Ke depan, BI Kaltim optimistis pertumbuhan ini akan terus berlanjut seiring meningkatnya literasi keuangan digital dan dukungan dari pelaku usaha.

FAQ

1. Apa itu QRIS?

QRIS adalah standar kode QR nasional untuk pembayaran digital yang memudahkan transaksi lintas aplikasi pembayaran.

2. Kenapa QRIS di Kaltim meningkat?

Karena semakin banyak masyarakat dan pelaku usaha yang beralih ke transaksi digital yang praktis dan cepat.

3. Berapa jumlah pengguna QRIS di Kaltim 2026?

Per Januari 2026, jumlah pengguna mencapai 859,2 ribu orang.

4. Apa dampak QRIS bagi ekonomi daerah?

QRIS membantu meningkatkan efisiensi transaksi, transparansi, dan memperkuat ekonomi digital daerah.

5. Apakah transaksi tunai masih digunakan?

Ya, meskipun digital meningkat, transaksi tunai tetap berjalan dan stabil.

Selasa, 17 Maret 2026

Bank Indonesia Siapkan Layanan Penukaran Uang Bagi Pemudik Di Bandara Dan Pelabuhan Balikpapan

Bank Indonesia Siapkan Layanan Penukaran Uang Bagi Pemudik Di Bandara Dan Pelabuhan Balikpapan
Bank Indonesia membuka layanan penukaran uang bagi pemudik di Bandara Sepinggan dan Pelabuhan Semayang Balikpapan. BI juga menyiapkan Rp2 triliun uang layak edar selama Ramadhan 2026. (Gambar ilustrasi AI)

SAMARINDA -- Menjelang arus mudik Ramadhan dan Idul Fitri 2026, Bank Indonesia (BI) menghadirkan layanan penukaran uang khusus bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan pulang kampung dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Layanan ini disediakan melalui program Mudik Peduli 2026, yang berlangsung di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan dan Pelabuhan Semayang. Program tersebut bertujuan memudahkan para pemudik memperoleh uang pecahan layak edar sebelum melakukan perjalanan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa BI telah menyiapkan ratusan paket penukaran uang bagi masyarakat yang akan bepergian menggunakan transportasi udara maupun laut.

“BI menyiapkan sekitar 400 paket penukaran bagi pemudik yang menggunakan pesawat maupun kapal laut,” ujar Robi Ariadi di Balikpapan, Senin.

Permintaan Penukaran Uang Tinggi

Bank Indonesia Siapkan Layanan Penukaran Uang Bagi Pemudik Di Bandara Dan Pelabuhan Balikpapan
Bank Indonesia membuka layanan penukaran uang bagi pemudik di Bandara Sepinggan dan Pelabuhan Semayang Balikpapan. BI juga menyiapkan Rp2 triliun uang layak edar selama Ramadhan 2026. (Gambar ilustrasi AI)

Menurut Robi, antusiasme masyarakat terhadap layanan penukaran uang selama Ramadhan cukup tinggi. Hal ini terlihat dari jumlah paket penukaran yang hampir seluruhnya telah dimanfaatkan masyarakat.

Dari total 26.620 paket penukaran uang yang disediakan, tercatat 24.027 paket telah terealisasi, atau sekitar 90 persen dari total alokasi.

Melihat tingginya permintaan tersebut, BI memutuskan untuk mengoptimalkan sisa alokasi uang layak edar pada pekan terakhir Ramadhan, yakni pada periode 13 hingga 17 Maret 2026.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai tetap terpenuhi menjelang Hari Raya.

Layanan Menjangkau Beberapa Wilayah

Bank Indonesia Siapkan Layanan Penukaran Uang Bagi Pemudik Di Bandara Dan Pelabuhan Balikpapan
Bank Indonesia membuka layanan penukaran uang bagi pemudik di Bandara Sepinggan dan Pelabuhan Semayang Balikpapan. BI juga menyiapkan Rp2 triliun uang layak edar selama Ramadhan 2026. (Gambar ilustrasi AI)

Program penukaran uang ini tidak hanya melayani masyarakat di Kota Balikpapan, tetapi juga mencakup wilayah kerja Kantor Perwakilan BI Balikpapan lainnya.

Wilayah tersebut meliputi:

  • Kota Balikpapan

  • Kabupaten Penajam Paser Utara

  • Kabupaten Paser

Optimalisasi distribusi uang tunai di wilayah tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan transaksi selama Ramadhan dan Idul Fitri.

BI Siapkan Rp2 Triliun Uang Layak Edar

Bank Indonesia membuka layanan penukaran uang bagi pemudik di Bandara Sepinggan dan Pelabuhan Semayang Balikpapan. BI juga menyiapkan Rp2 triliun uang layak edar selama Ramadhan 2026. (Gambar ilustrasi AI)
Bank Indonesia membuka layanan penukaran uang bagi pemudik di Bandara Sepinggan dan Pelabuhan Semayang Balikpapan. BI juga menyiapkan Rp2 triliun uang layak edar selama Ramadhan 2026. (Gambar ilustrasi AI)

Bank Indonesia juga memastikan ketersediaan uang tunai yang cukup selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri 2026.

Hingga 12 Maret 2026, realisasi uang kartal yang telah dikeluarkan oleh Kantor Perwakilan BI Balikpapan tercatat mencapai Rp1,16 triliun, atau sekitar 60 persen dari total uang yang disiapkan.

Secara keseluruhan, BI menyiapkan Rp2 triliun uang layak edar (ULE) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan Lebaran tahun ini.

“Uang layak edar disiapkan Rp2 triliun selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Jumlah itu meningkat sekitar 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” jelas Robi Ariadi.

Bagian Dari Program SERAMBI 2026

Layanan penukaran uang tersebut merupakan bagian dari program Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026.

Program tahun ini mengusung tema “Rupiah Memberi Makna Di Bulan Penuh Berkah”, yang bertujuan mempermudah masyarakat mendapatkan uang pecahan baru serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menggunakan rupiah secara bijak.

Melalui program ini, Bank Indonesia berharap masyarakat dapat memperoleh uang layak edar dengan mudah sekaligus mendukung kelancaran transaksi ekonomi selama momentum Ramadhan dan Idul Fitri.

Senin, 09 Maret 2026

Rupiah Sentuh Rp16.990 Per Dolar AS Saat Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar

Rupiah melemah hingga Rp16.990 per dolar AS seiring konflik Iran-AS dan lonjakan harga minyak dunia. Ekonom menilai tekanan global masih berpotensi menahan penguatan rupiah.
Rupiah melemah hingga Rp16.990 per dolar AS seiring konflik Iran-AS dan lonjakan harga minyak dunia. Ekonom menilai tekanan global masih berpotensi menahan penguatan rupiah.

JAKARTA -- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai masih memberi tekanan besar terhadap nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memandang rupiah berpotensi bertahan di sekitar level terlemah saat ini dan bahkan masih berpeluang melemah apabila konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel belum mereda.

Josua menjelaskan, ketidakpastian justru meningkat setelah muncul dinamika pergantian kepemimpinan di Iran. Proses suksesi berlangsung di tengah perang, sementara elite politik di negara tersebut juga dilaporkan terbelah.

Dalam situasi tersebut, figur Mojtaba Khamenei disebut menjadi sosok yang menguat. Ia dikenal memiliki kedekatan dengan Garda Revolusi Iran dan dipandang memiliki sikap politik yang lebih keras.

“Dalam keadaan seperti ini, pasar cenderung mempertahankan permintaan dolar AS dan mengurangi penempatan dana di negara berkembang, sehingga rupiah sulit pulih cepat,” kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Tekanan tersebut tercermin pada perdagangan awal pekan ini. Pada Senin, rupiah sempat menyentuh level Rp16.990 per dolar AS ketika harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel.

Menurut Josua, langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) saat ini cukup penting untuk menjaga pasar tetap terkendali. Kebijakan tersebut dinilai mampu menahan gejolak agar pelemahan rupiah tidak bergerak secara tidak teratur.

Namun demikian, ia menilai kebijakan tersebut belum tentu cukup untuk membalikkan arah rupiah selama tekanan eksternal masih kuat. Faktor utama yang memengaruhi pergerakan kurs saat ini berasal dari konflik geopolitik, lonjakan harga minyak, dan arus modal global.

Sebagai informasi, pada Februari 2026 lalu Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Kebijakan itu difokuskan pada upaya memperkuat stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian global.

Selain itu, bank sentral juga memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun internasional. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan likuiditas pasar tetap terjaga.

“Artinya, kebijakan Bank Indonesia saat ini lebih tepat dibaca sebagai upaya meredam kepanikan dan smoothing pergerakannya, bukan menjamin rupiah segera kembali menguat,” ujar Josua.

Dari sisi cadangan devisa, Josua menilai posisi Indonesia masih cukup kuat untuk menjadi bantalan stabilitas. Cadangan devisa pada akhir Februari 2026 tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS, setara dengan 6,1 bulan impor.

Kondisi tersebut memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan stabilisasi apabila pasar mengalami tekanan. Meski demikian, penggunaan cadangan devisa tetap perlu dilakukan secara terukur.

Menurutnya, fungsi cadangan devisa adalah untuk meredam gejolak dan menjaga kelancaran kebutuhan valuta asing, bukan mempertahankan satu tingkat kurs tertentu secara terus-menerus ketika tekanan eksternal masih tinggi.

“Cadangan devisa masih kuat, tetapi efektivitasnya akan jauh lebih besar bila tekanan geopolitik mulai mereda,” kata Josua.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kondisi ekonomi global. Selama gangguan pengiriman di Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi masih terjadi, harga minyak diperkirakan tetap tinggi.

Josua menilai harga minyak sangat mungkin bertahan di atas 100 dolar AS per barel dan tetap bergejolak. Bahkan pasar sempat menguji kisaran 120 dolar AS per barel dalam beberapa waktu terakhir.

Ia mengingatkan bahwa dampak konflik tersebut bisa berlangsung cukup lama. Proses pemulihan pengiriman dan produksi energi tidak dapat dilakukan secara instan, sehingga ketidakpastian pasar dapat bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Bagi Indonesia, dampak terhadap inflasi dalam jangka pendek kemungkinan masih relatif tertahan. Pemerintah sebelumnya menyatakan akan menambah subsidi energi dan belum berencana menaikkan harga bahan bakar bersubsidi setidaknya hingga Lebaran.

Namun jika konflik berkepanjangan, tekanan ekonomi diperkirakan akan mulai merambat ke berbagai sektor. Biaya transportasi, logistik, pangan, hingga barang impor berpotensi meningkat.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi daya beli masyarakat serta meningkatkan tekanan harga domestik. Risiko ini dinilai perlu diwaspadai, mengingat inflasi Indonesia pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen.

Rabu, 18 Februari 2026

BI Kaltim Siapkan Rp2,18 Triliun Uang Baru untuk Ramadhan dan Idul Fitri 2026, Cek Jadwal dan Cara Tukarnya

BI Kaltim Siapkan Rp2,18 Triliun Uang Baru untuk Ramadhan dan Idul Fitri 2026, Cek Jadwal dan Cara Tukarnya. (Gambar ilustrasi)
BI Kaltim Siapkan Rp2,18 Triliun Uang Baru untuk Ramadhan dan Idul Fitri 2026, Cek Jadwal dan Cara Tukarnya. (Gambar ilustrasi)

Kaltim - Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah/2026, kebutuhan uang tunai biasanya melonjak tajam. Tradisi berbagi uang baru saat Lebaran membuat masyarakat mulai berburu pecahan segar sejak awal puasa. Menyadari hal itu, Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur menyiapkan uang kartal layak edar (ULE) senilai Rp2,18 triliun.

Kepala BI Kaltim, Jajang Hermawan, menjelaskan bahwa jumlah tersebut diproyeksikan untuk memenuhi lonjakan kebutuhan uang tunai yang biasanya mencapai sekitar 20 persen dari total kebutuhan tahunan di wilayah Kaltim. Angka Rp2,18 triliun ini bahkan meningkat sekitar 19,13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Artinya, masyarakat tak perlu khawatir kekurangan uang baru saat momentum Lebaran tiba.

Pastikan Uang Layak Edar dan Aman

Penyediaan uang layak edar ini merupakan bagian dari amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Tujuannya jelas: memastikan ketersediaan uang Rupiah dalam kondisi baik, pecahan lengkap, tepat waktu, dan aman dari risiko pemalsuan.

Langkah ini juga menjadi wujud komitmen BI dalam menjaga kelancaran transaksi masyarakat selama Ramadhan hingga Idul Fitri 2026. Dengan distribusi yang terencana, kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi tanpa harus antre panjang atau khawatir kehabisan.

Jadwal dan Lokasi Penukaran Uang Baru

Bagi Anda yang ingin menukar uang baru, layanan penukaran dibuka mulai 18 Februari hingga 15 Maret 2026, mengikuti jam operasional perbankan.

BI Kaltim bekerja sama dengan perbankan di tujuh kabupaten/kota, yakni:

  • Samarinda

  • Mahakam Ulu

  • Kutai Barat

  • Kutai Kartanegara

  • Bontang

  • Kutai Timur

  • Berau

Sementara untuk Balikpapan, Paser, dan Penajam Paser Utara, layanan berada di bawah koordinasi Kantor Perwakilan BI Balikpapan.

Tak hanya di kantor bank, layanan penukaran juga tersedia di sejumlah masjid di Samarinda, layanan terpadu di Gedung Pramuka, serta di 35 kantor bank. Program ini dikemas dalam kegiatan bertema Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (Serambi) 2026.

Cara Daftar Penukaran via PINTAR

Untuk menghindari penumpukan antrean, seluruh pendaftaran penukaran dilakukan secara online melalui aplikasi atau laman PINTAR milik BI.

Setiap orang dapat menukar maksimal satu paket senilai Rp5,3 juta.

Pendaftaran dibuka dalam dua tahap:

  • Tahap I: 14 Februari 2026 pukul 08.00 WIB

  • Tahap II: 27 Februari 2026 pukul 08.00 WIB

Pastikan Anda mendaftar lebih awal agar tidak kehabisan kuota.

Ajak Masyarakat Cinta dan Paham Rupiah

Melalui program Serambi 2026, BI Kaltim juga mengajak masyarakat untuk semakin Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. Caranya dengan mengenali keaslian uang melalui metode 3D: dilihat, diraba, dan diterawang.

Selain itu, masyarakat diingatkan untuk merawat uang dengan prinsip 5J:

  • Jangan dilipat

  • Jangan dicoret

  • Jangan diremas

  • Jangan distapler

  • Jangan dibasahi

Langkah sederhana ini penting agar uang tetap layak edar dan tidak cepat rusak.

Momentum Bijak Kelola Keuangan

Ramadhan dan Idul Fitri bukan hanya soal tradisi berbagi uang baru, tetapi juga momentum untuk lebih bijak dalam bertransaksi dan mengatur keuangan keluarga. Dengan ketersediaan Rp2,18 triliun uang tunai di Kaltim, BI berharap distribusi Rupiah berjalan lancar dan tepat sasaran.

Jadi, sudah siap menukar uang baru untuk Lebaran 2026? Jangan lupa cek jadwalnya, daftar lewat PINTAR, dan gunakan Rupiah dengan bijak.

Selasa, 10 Februari 2026

Keponakan Presiden Prabowo, Thomas Djiwandono, Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Harapan Baru Ekonomi Indonesia

Keponakan Presiden Prabowo, Thomas Djiwandono, Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Harapan Baru Ekonomi Indonesia
Keponakan Presiden Prabowo, Thomas Djiwandono, Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Harapan Baru Ekonomi Indonesia.

Jakarta – Momen penting bagi ekonomi Indonesia terjadi hari ini. Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo, resmi dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2026-2031.

Pelantikan ini bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari harapan baru untuk sinergi lebih kuat antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menekankan optimisme itu dengan nada santai tapi penuh makna:

“Kalau biasa makan siang bareng aja lancar, apalagi nanti kerja bareng,” ucap Purbaya sambil tersenyum. Ia yakin Thomas, yang juga keponakan Presiden Prabowo, siap menghadapi tanggung jawab besar ini.

“Lebih pintar dari saya, jadi nggak perlu banyak wejangan. Dia memang sudah profesional,” tambahnya.

Wakil Menkeu, Suahasil Nazara, menegaskan harapannya agar koordinasi kebijakan fiskal dan moneter semakin solid. Kehadiran Thomas diyakini membuat sinergi Kemenkeu dan BI lebih lancar, mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke arah positif.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyoroti peran penting Thomas dalam membangun komunikasi strategis dengan lembaga domestik dan internasional. Hal ini sangat vital untuk menjaga citra ekonomi Indonesia di mata investor asing.

Thomas menggantikan Juda Agung, yang mengundurkan diri Januari lalu. Meski belum memberi pernyataan resmi, senyum hangat dan lambaian tangannya kepada media menunjukkan sikap rendah hati sekaligus kesiapan menghadapi tantangan besar.

Acara pelantikan yang singkat namun khidmat ini dihadiri keluarga Thomas dan sejumlah tokoh penting, termasuk Utusan Khusus Presiden RI Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, serta Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Budisatrio Djiwandono.

Dengan masa jabatan hingga 2031, harapan kini tertumpu pada Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo, bukan hanya untuk menjaga stabilitas moneter, tetapi juga menjadi simbol optimisme dan sinergi bagi masa depan ekonomi Indonesia yang lebih kuat.

Senin, 09 Februari 2026

Kredit UMKM Terus Anjlok, Bank Indonesia Bongkar Penyebabnya

Kredit UMKM Terus Anjlok, Bank Indonesia Bongkar Penyebabnya. (Gambar ilustrasi)
Kredit UMKM Terus Anjlok, Bank Indonesia Bongkar Penyebabnya. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA - Seiring berjalannya waktu, kabar kurang menggembirakan datang dari dunia usaha kecil dan menengah di Indonesia. Kredit yang diberikan kepada segmen UMKM ternyata terus menurun, padahal pemerintah sudah meluncurkan berbagai program prioritas untuk mendongkrak pertumbuhan mereka. Lalu, apa sih yang sebenarnya terjadi?

Data terbaru menunjukkan tren yang cukup mengejutkan. Selama 2025, total kredit UMKM mengalami kontraksi 0,3% dibanding tahun sebelumnya. Kalau dibedah lebih detail, usaha mikro turun hingga 4,68%, usaha menengah turun 2,02%, sementara usaha kecil justru naik tipis 6,8%. Dari sisi pangsa kredit, UMKM juga terlihat merosot. Dari 20,55% di akhir 2023, turun jadi 17,49% di akhir 2025. Artinya, porsi UMKM dari total kredit perbankan makin mengecil.

Menurut pengamatan Bank Indonesia, perlambatan ini terjadi karena risiko yang ditanggung perbankan semakin tinggi. Bank jadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Mereka harus menimbang, seberapa besar risiko yang siap diambil agar tidak mengalami kerugian. Situasi ini membuat banyak UMKM sulit mendapatkan modal tambahan, padahal modal adalah darah kehidupan bagi usaha skala kecil dan menengah.

Meski begitu, BI tetap optimis. Tahun 2026, pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan ditargetkan antara 8%-12%. Hal ini diyakini bisa tercapai karena fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Artinya, kalau risiko bisa dikelola, peluang bagi UMKM untuk mendapatkan kredit juga masih terbuka.

Bagi para pelaku UMKM, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk tetap mendapatkan akses kredit. Pertama, perhatikan laporan keuangan dan catatan bisnis agar lebih transparan bagi bank. Kedua, manfaatkan program pemerintah yang ada, seperti pembiayaan dengan bunga rendah atau skema penjaminan kredit. Ketiga, bangun reputasi usaha yang sehat, karena bank cenderung memilih debitur yang track record-nya jelas.

Menurunnya kredit UMKM memang menjadi tantangan serius, tapi bukan berarti jalan tertutup. Dengan memahami faktor risiko yang menjadi perhatian bank dan mempersiapkan usaha dengan lebih matang, UMKM masih punya kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Kuncinya, kesadaran akan manajemen risiko dan pemanfaatan program pemerintah secara optimal.

Kesimpulannya, kredit UMKM menurun bukan karena salah satu pihak semata, tapi karena kombinasi risiko usaha dan selektivitas perbankan. Namun, peluang tetap ada. Dengan strategi yang tepat, UMKM bisa memanfaatkan kredit sebagai bahan bakar untuk ekspansi usaha, membuka lapangan kerja baru, dan ikut menggerakkan ekonomi nasional. Jadi, jangan patah semangat, karena modal bisa dicari dengan cara yang lebih cerdas.

BI Jaga Rupiah dan Inflasi Meski Modal Asing Bisa Kabur

BI Jaga Rupiah dan Inflasi Meski Modal Asing Bisa Kabur. (GAMBAR ILUSTRASI)
BI Jaga Rupiah dan Inflasi Meski Modal Asing Bisa Kabur. (GAMBAR ILUSTRASI)

JAKARTA -- Belakangan ini, kabar soal modal asing yang bisa kabur dari Indonesia lagi bikin heboh. Penyebabnya, rating outlook surat utang kita sempat diturunin jadi negatif. Bagi sebagian orang, ini kedengeran serem, karena bisa bikin nilai rupiah anjlok dan harga barang naik.

Tapi santai dulu, Bank Indonesia langsung turun tangan. Mereka bilang, stabilitas rupiah dan inflasi tetap jadi prioritas utama. BI juga pastiin sistem keuangan kita masih kuat menghadapi gejolak global. Intinya, BI nggak mau ekonomi terombang-ambing cuma gara-gara kabar buruk dari luar negeri.

Nah, kenapa ini penting banget buat kita sehari-hari? Kalau rupiah stabil, harga barang nggak bakal naik seenaknya. Inflasi terkendali bikin daya beli tetap aman, jadi dompet nggak kaget tiap belanja bulanan. Dengan kata lain, kebijakan BI ini langsung berdampak ke hidup kita, meski kita nggak pegang surat utang atau saham.

Untuk investor, momen kayak gini sebenernya jadi pengingat buat tetap cerdas. Diversifikasi investasi bisa bikin risiko lebih aman kalau pasar lagi nggak stabil. Buat masyarakat umum, cukup ngerti tren ekonomi dan pergerakan harga, supaya bisa atur pengeluaran lebih bijak.

Menariknya, BI juga udah ngecek ketahanan perbankan dan sistem keuangan nasional. Hasilnya, modal perbankan masih kuat dan hampir semua indikator tetap stabil. Jadi walaupun modal asing ada yang cabut, kita nggak perlu panik. Ekonomi Indonesia punya bantalan yang oke buat tetap bertahan.

Kesimpulannya, walaupun ada risiko modal asing kabur, BI udah siap jaga rupiah dan inflasi. Yang penting buat kita, tetap update soal ekonomi, kelola keuangan dengan smart, dan jangan panik tiap ada berita gejolak pasar. Dengan begitu, hidup sehari-hari tetap tenang, dompet aman, dan kita bisa jalan terus tanpa drama harga naik-turun.

Kamis, 05 Februari 2026

Terungkap, 21 Karung Cacahan Uang Rupiah Milik Bank Indonesia Ada di TPS Bekasi

Heboh 21 Karung Cacahan Uang Rupiah Ditemukan di TPS Liar Bekasi, Ini Fakta Sebenarnya
Heboh 21 Karung Cacahan Uang Rupiah Ditemukan di TPS Liar Bekasi, Ini Fakta Sebenarnya.

JAKARTA -- Warga Kabupaten Bekasi dibuat geger setelah puluhan karung berisi potongan uang kertas rupiah ditemukan di sebuah tempat penampungan sampah (TPS) liar. Temuan mengejutkan itu berada di Desa Taman Rahayu, Kecamatan Setu, dan belakangan diketahui berasal dari Bank Indonesia (BI).

Total ada 21 karung berisi uang rupiah yang kondisinya sudah dicacah. Penemuan ini langsung mendapat perhatian serius aparat kepolisian dan instansi terkait karena menyangkut uang negara dan berpotensi disalahgunakan jika jatuh ke tangan yang keliru.

Kapolres Metro Bekasi, Kombes Pol Sumarni, memastikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Bank Indonesia. Hasilnya, cacahan tersebut memang berasal dari BI dan merupakan uang lama yang sudah tidak berlaku.

“Kami sudah koordinasi dengan BI dan dipastikan itu cacahan uang dari BI, uang lama,” ujar Sumarni saat dikonfirmasi di Jakarta.

Heboh 21 Karung Cacahan Uang Rupiah Ditemukan di TPS Liar Bekasi, Ini Fakta Sebenarnya
Heboh 21 Karung Cacahan Uang Rupiah Ditemukan di TPS Liar Bekasi, Ini Fakta Sebenarnya.

Ia juga menegaskan bahwa potongan uang tersebut adalah rupiah asli dan kini telah diamankan sebagai barang bukti untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Senada dengan itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyampaikan bahwa kasus ini sudah dimonitor oleh Polsek Setu dan Polres Metro Bekasi. Polisi bahkan telah mengamankan sampel cacahan uang untuk diuji di laboratorium forensik.

“Sampel diamankan guna memastikan jenis dan keasliannya melalui pemeriksaan forensik,” jelasnya.

Tak hanya berhenti di situ, polisi juga memeriksa sejumlah saksi, mulai dari pemilik lahan, pengelola lokasi, hingga berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi. Tujuannya satu: menelusuri bagaimana cacahan uang BI itu bisa berakhir di TPS liar.

Kapolsek Setu, AKP Usep Aramsyah, menegaskan pengamanan 21 karung cacahan uang dilakukan sebagai langkah antisipasi.

“Kami amankan agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Dari sisi pemerintah daerah, Juru Bicara DLH Kabupaten Bekasi Dedi Kurniawan mengonfirmasi hasil peninjauan lapangan. Menurutnya, potongan tersebut memang uang rupiah asli.

“Iya, itu cacahan uang asli,” kata Dedi.

DLH kini tengah berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan kepolisian untuk menelusuri asal-usul serta mekanisme pembuangan cacahan uang tersebut agar kejadian serupa tidak terulang.

Menariknya, pemilik lahan tempat ditemukannya cacahan uang, Santo (65), mengaku sama sekali tidak tahu bahwa material yang dibuang di lahannya adalah potongan uang rupiah. Ia menyebut material itu digunakan sebagai urukan lahan untuk aktivitas pemilahan sampah.

“Saya butuh urukan, Pak. Kalau harus keluar biaya sendiri, saya tidak kuat. Jadi waktu ada yang buang, saya manfaatkan saja. Saya tidak tahu itu potongan uang,” tuturnya polos.

Kasus ini masih terus didalami oleh pihak berwenang. Temuan 21 karung cacahan uang rupiah di TPS liar Bekasi menjadi pengingat pentingnya pengelolaan limbah, terutama yang berkaitan dengan material sensitif seperti uang negara. Publik pun kini menanti kejelasan, bagaimana prosedur pembuangan cacahan uang BI bisa sampai ke lokasi terbuka yang mudah diakses masyarakat.

Minggu, 01 Februari 2026

IHSG Terjun Bebas, Rupiah Tertekan Dolar AS: Sinyal Bahaya atau Peluang Investasi di Awal 2026?

IHSG Terjun Bebas, Rupiah Tertekan Dolar AS: Sinyal Bahaya atau Peluang Investasi di Awal 2026? (Gambar ilustrasi)
IHSG Terjun Bebas, Rupiah Tertekan Dolar AS: Sinyal Bahaya atau Peluang Investasi di Awal 2026? (Gambar ilustrasi)

JAKARTA -- Pergerakan pasar keuangan Indonesia belakangan ini bikin banyak pelaku pasar mengernyitkan dahi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah cukup dalam, sementara nilai tukar rupiah terus tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Kombinasi ini menjadi sinyal bahwa pasar sedang berada dalam fase penuh tantangan.

Situasi tersebut bukan terjadi tanpa sebab. Tekanan global yang kian kuat, perubahan selera investor dunia ke aset berdenominasi dolar AS, serta proses penyesuaian fundamental ekonomi domestik menjadi faktor utama yang saling berkaitan.

IHSG Terseret Sentimen Global, Investor Pilih Main Aman

Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, IHSG sempat turun ke level terendah dalam periode tertentu. 

Kondisi ini mencerminkan pergeseran strategi investor, terutama investor global, yang mulai mengalihkan dana dari aset berisiko tinggi ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Analis pasar menilai, aksi jual tersebut dipicu oleh sentimen negatif global dan kekhawatiran akan ketidakpastian ekonomi dunia. Alhasil, pasar saham domestik ikut terseret arus realokasi portofolio besar-besaran.

Rupiah Melemah, Dolar AS Kian Perkasa

IHSG Terjun Bebas, Rupiah Tertekan Dolar AS: Sinyal Bahaya atau Peluang Investasi di Awal 2026. (Gambar ilustrasi)
IHSG Terjun Bebas, Rupiah Tertekan Dolar AS: Sinyal Bahaya atau Peluang Investasi di Awal 2026. (Gambar ilustrasi)

Tak hanya IHSG, rupiah juga menghadapi tekanan depresiasi terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah tercatat mendekati posisi terlemahnya dalam beberapa bulan terakhir dan menunjukkan tren melemah sejak awal Januari 2026.

Fenomena ini sejalan dengan kondisi global, di mana arus modal keluar (capital outflows) dari negara berkembang meningkat. 

Dana asing cenderung kembali ke Amerika Serikat, mendorong penguatan dolar AS sekaligus menekan mata uang negara emerging markets, termasuk rupiah.

Net Sell Asing Perparah Tekanan Pasar Domestik

Tekanan pasar semakin terasa setelah data menunjukkan adanya net sell investor asing di pasar obligasi Indonesia

Meskipun imbal hasil instrumen domestik masih tergolong kompetitif, faktor risiko global membuat investor memilih aset yang lebih likuid dan minim risiko.

Kondisi ini memberi tekanan ganda: pasar saham tertekan dan nilai tukar rupiah ikut melemah.

Suku Bunga AS Jadi Biang Kerok Pergerakan Modal

Salah satu faktor fundamental yang paling berpengaruh adalah ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat

Ketika suku bunga AS bertahan tinggi atau ekspektasi pengetatan meningkat, obligasi AS menjadi jauh lebih menarik dibandingkan aset di negara berkembang.

Dampaknya jelas: modal global keluar dari pasar saham Indonesia dan aset berdenominasi rupiah, yang akhirnya menekan IHSG dan nilai tukar.

Langkah Bank Indonesia di Tengah Ruang Gerak Terbatas

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) memilih menahan suku bunga acuan 7-day reverse repurchase rate di level 4,75 persen. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas rupiah sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi.

Namun, keputusan tersebut juga memberi sinyal bahwa ruang pengetatan moneter semakin terbatas, sehingga komunikasi kebijakan yang jelas menjadi kunci untuk meredam gejolak pasar.

Risiko Kepercayaan Investor Jadi Sorotan

Kepercayaan investor turut diuji. Sejumlah laporan media internasional menyoroti isu struktural yang dinilai bisa mengganggu daya tarik investasi di pasar saham Indonesia jika tidak segera dibenahi.

Kekhawatiran ini tercermin dari volatilitas IHSG yang meningkat, terutama saat pasar merespons cepat setiap kabar negatif, baik dari dalam maupun luar negeri.

Flight to Quality Tekan Rupiah Lebih Dalam

Penguatan dolar AS terhadap rupiah menandakan terjadinya flight to quality, yakni pergeseran dana global ke aset yang lebih aman. 

Saat ketidakpastian global dan geopolitik meningkat, permintaan dolar AS melonjak, sementara pasokan rupiah di pasar valas tertekan.

Data awal Januari 2026 menunjukkan bahwa rupiah masih berada dalam tekanan yang cukup signifikan.

Apa yang Perlu Dilakukan ke Depan?

Ke depan, Bank Indonesia perlu menjaga kredibilitas kebijakan moneter yang responsif terhadap dinamika global tanpa mengorbankan stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. 

Di saat yang sama, strategi komunikasi kebijakan yang transparan sangat dibutuhkan untuk menenangkan pasar.

Tak kalah penting, peningkatan investabilitas pasar modal Indonesia harus didorong melalui perbaikan tata kelola, transparansi, dan infrastruktur perdagangan. 

Langkah koordinatif antara regulator dan otoritas pasar menjadi kunci agar aliran modal masuk lebih stabil.

Tips untuk Investor dan Trader

Bagi pelaku pasar, kondisi ini menjadi pengingat pentingnya:

  • Diversifikasi portofolio antar aset dan mata uang

  • Manajemen risiko yang disiplin

  • Pemahaman kuat terhadap indikator makroekonomi dan dinamika global

Tekanan pada IHSG dan rupiah sebaiknya dipandang sebagai bagian dari siklus pasar, bukan semata ancaman. 

Dengan strategi yang adaptif dan keputusan berbasis data, volatilitas justru bisa menjadi peluang.

Koreksi IHSG dan penguatan dolar AS terhadap rupiah mencerminkan eratnya keterkaitan pasar keuangan global. 

Tantangan jangka pendek memang nyata, namun dengan koordinasi kebijakan yang solid dan perbaikan struktural berkelanjutan, ketahanan pasar modal Indonesia tetap bisa diperkuat di tengah gelombang gejolak global.

Rabu, 15 Oktober 2025

Utang Luar Negeri Indonesia Agustus 2025 Tembus Rp6.900 Triliun, Pemerintah Catat Pertumbuhan, Swasta Justru Menurun

Utang Luar Negeri Indonesia Agustus 2025 Tembus Rp6.900 Triliun, Pemerintah Catat Pertumbuhan, Swasta Justru Menurun

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2025 mencapai USD 431,9 miliar atau sekitar Rp6.900 triliun, mengalami kenaikan tipis 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Angka ini naik dari Juli 2025 yang tercatat sebesar USD 430,7 miliar. 

Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 30%, hampir sama dengan posisi bulan sebelumnya yang 29,9%.

Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, peningkatan ULN ini didorong oleh pertumbuhan utang pemerintah, sementara utang swasta justru mengalami penurunan.

Utang Pemerintah Naik, Tapi Pertumbuhan Melambat

ULN pemerintah tercatat USD 213,9 miliar atau sekitar Rp3.420 triliun, tumbuh 6,7% dibandingkan Agustus 2024. 
Namun, pertumbuhan ini melambat jika dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 9% (yoy). 
Ramdan menjelaskan, perlambatan ini dipengaruhi oleh berkurangnya aliran modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN).

Utang Swasta Justru Menyusut

Sementara itu, ULN swasta berada di posisi USD 194,2 miliar atau sekitar Rp3.100 triliun, mengalami kontraksi 1,1% (yoy), lebih besar dibandingkan Juli yang hanya 0,2%. 
Penurunan utang swasta ini berasal dari kontraksi utang lembaga non-keuangan sebesar 1,6% (yoy) dan lembaga keuangan sebesar 0,8% (yoy).

Dengan data ini, terlihat bahwa pemerintah masih menjadi motor utama pertumbuhan ULN Indonesia, sementara sektor swasta justru menahan diri. 

Para pengamat menilai, kondisi ini mencerminkan kehati-hatian swasta dalam mengambil utang di tengah dinamika ekonomi global dan fluktuasi pasar modal.

Kamis, 09 Oktober 2025

Consumer Confidence Index Drops to 115 in September Signaling Weaker Optimism Among Indonesians

Consumer Confidence Index Drops to 115 in September Signaling Weaker Optimism Among Indonesians
Consumer Confidence Index Drops to 115 in September Signaling Weaker Optimism Among Indonesians.

Bank Indonesia (BI) reported that public optimism toward the national economy has begun to slow down. According to BI’s latest survey, the Consumer Confidence Index (CCI) in September 2025 stood at 115.

While the number remains above the optimism threshold of 100, it declined from 117.2 in August. In fact, this September figure marks the lowest level since April 2022, showing that people are becoming more cautious about the country’s economic outlook.

Simply put, the CCI reflects how confident consumers feel about the current economic situation and the next six months. A score above 100 indicates optimism, while below 100 shows that consumers are starting to feel pessimistic.

Economic Conditions Feel Heavier for Households

According to Bank Indonesia data, the Current Economic Condition Index (CECI) dropped to 102.7 in September from 105.1 in August. This decline indicates that people are starting to feel financial pressure, both in terms of income and job opportunities.

Meanwhile, the Consumer Expectation Index (CEI), which represents public expectations for the next six months, also slipped from 129.2 in August to 127.2 in September. Although still relatively high, the downward trend shows growing uncertainty about short-term economic prospects.

Job Availability Becomes the Main Concern

Looking at the components that make up the CECI — the Current Income Index (CII), Durable Goods Purchase Index (DGPI), and Job Availability Index (JAI) — all experienced a decline in September.

The Job Availability Index is particularly concerning, falling into the pessimistic zone at 92, down from 93.2 in August. This means people are beginning to feel it’s getting harder to find or keep a job.

Interestingly, this pessimism is most evident among those with high school and diploma-level education. The index for job confidence among high school graduates stood at 86.4, while for diploma holders it was 99.5.

Meanwhile, the other two components — CII and DGPI — remained in optimistic territory, though slightly lower. The Current Income Index was recorded at 112.9, down from 116.9 in August. The Durable Goods Purchase Index reached 103.2, slightly lower than 105.1 the previous month.

What Does This Mean for the Economy and Consumers?

The drop in the CCI suggests that consumer spending power may begin to weaken. When people feel uncertain about their income or job prospects, they tend to delay purchasing non-essential goods such as electronics, vehicles, or home appliances.

This situation can potentially impact Indonesia’s overall economic growth since household consumption remains the largest contributor to the country’s Gross Domestic Product (GDP).

However, BI emphasized that overall consumer confidence is still in optimistic territory because the CCI remains well above 100. Still, the government needs to pay attention to this downward trend to prevent further weakening in the upcoming quarter.

Efforts such as maintaining food price stability, expanding job opportunities, and strengthening household purchasing power are key to sustaining consumer optimism.

In general, Bank Indonesia’s September 2025 survey shows that Indonesians remain optimistic about the economy, but with growing caution. The decline in CCI from 117.2 to 115 serves as an early warning for policymakers and businesses to maintain economic stability and job creation.

Consumers’ cautious behavior amid global uncertainty and potential food price increases poses a challenge for Indonesia’s economic growth in the months ahead.

If the government can maintain public confidence through targeted policies, consumer optimism is expected to recover by the end of the year.

Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 115 pada September Tanda Optimisme Masyarakat Mulai Melemah

Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 115 pada September Tanda Optimisme Masyarakat Mulai Melemah
Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 115 pada September Tanda Optimisme Masyarakat Mulai Melemah.

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional mulai menunjukkan tanda perlambatan. Berdasarkan hasil survei BI, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2025 tercatat sebesar 115.

Angka ini memang masih berada di atas batas optimistis (skor 100), namun mengalami penurunan dari posisi Agustus yang mencapai 117,2. Bahkan, capaian September ini menjadi yang terendah sejak April 2022, menandakan bahwa masyarakat mulai berhati-hati dalam memandang kondisi ekonomi ke depan.

Secara sederhana, IKK mencerminkan seberapa percaya diri konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan enam bulan ke depan. Ketika indeks berada di atas 100, artinya konsumen masih optimis. Namun jika di bawah 100, berarti masyarakat mulai pesimis.

Kondisi Ekonomi Saat Ini Mulai Dirasakan Berat

Dari data Bank Indonesia, Indeks Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat 102,7 pada September, turun dari 105,1 pada Agustus. Angka ini menggambarkan penurunan persepsi masyarakat terhadap situasi ekonomi yang sedang mereka rasakan, baik dari sisi penghasilan maupun peluang kerja.

Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang mencerminkan pandangan masyarakat terhadap ekonomi enam bulan mendatang juga menurun, dari 129,2 pada Agustus menjadi 127,2 di September. Meski masih cukup tinggi, tren penurunan ini menunjukkan mulai munculnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi jangka pendek.

Komponen Pendukung Turun, Lapangan Kerja Jadi Sorotan

Jika dilihat dari komponen pembentuk IKE, yakni Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG), dan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), ketiganya mengalami penurunan pada September.

Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja menjadi perhatian utama karena turun ke zona pesimistis, yaitu di angka 92, melemah dari 93,2 pada Agustus. Artinya, masyarakat mulai merasa sulit untuk mendapatkan pekerjaan baru atau mempertahankan pekerjaan yang ada.

Menariknya, pesimisme ini paling tinggi terjadi di kalangan masyarakat berpendidikan SMA dan Akademi/Diploma. Berdasarkan survei, indeks keyakinan terhadap lapangan kerja bagi kelompok pendidikan SMA berada di 86,4 dan bagi lulusan Diploma di 99,5.

Sementara dua komponen lainnya, IPSI dan IPDG, masih menunjukkan optimisme meski juga menurun. Indeks Penghasilan Saat Ini tercatat di 112,9, turun dari 116,9 pada bulan sebelumnya. Sedangkan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama berada di 103,2, sedikit melemah dari Agustus yang sebesar 105,1.

Apa Artinya Bagi Ekonomi dan Konsumen?

Turunnya IKK menunjukkan bahwa daya beli masyarakat kemungkinan mulai tertahan. Ketika konsumen merasa tidak yakin dengan kondisi ekonomi atau ketersediaan pekerjaan, mereka cenderung menunda pembelian barang-barang non-esensial seperti elektronik, kendaraan, atau perabot rumah tangga.

Kondisi ini bisa berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi nasional, karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Namun, BI menilai bahwa secara umum kepercayaan masyarakat masih berada di level optimistis karena skor IKK masih jauh di atas 100. Meski begitu, pemerintah perlu mewaspadai tren pelemahan ini agar tidak berlanjut pada kuartal berikutnya.

Langkah-langkah seperti menjaga stabilitas harga pangan, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat daya beli masyarakat dapat menjadi kunci untuk menjaga optimisme konsumen tetap terjaga.

Secara keseluruhan, survei Bank Indonesia pada September 2025 mencerminkan bahwa masyarakat masih optimis terhadap ekonomi Indonesia, namun dengan kewaspadaan yang meningkat. Penurunan IKK dari 117,2 ke 115 menjadi sinyal agar pemerintah dan pelaku usaha lebih fokus menjaga kestabilan ekonomi dan lapangan kerja.

Kehati-hatian konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi global dan potensi kenaikan harga pangan menjadi tantangan tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi domestik dalam beberapa bulan ke depan.

Jika kepercayaan masyarakat bisa dijaga melalui kebijakan yang tepat sasaran, optimisme ekonomi diperkirakan bisa pulih kembali di akhir tahun.

Selasa, 05 Agustus 2025

Kredit Konsumsi dan KPR Melemah, Sinyal Waspada dari Daya Beli Masyarakat

Grafik pertumbuhan kredit konsumsi dan KPR Indonesia periode Maret hingga Juni 2025
Grafik pertumbuhan kredit konsumsi dan KPR Indonesia periode Maret hingga Juni 2025. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA - Pertumbuhan kredit konsumsi dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terus melemah hingga pertengahan 2025. 

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit konsumsi tercatat tumbuh 8,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2025, melambat dibandingkan 9,2% pada Maret lalu. 

Tak hanya konsumsi, sektor properti juga ikut tertekan. Pertumbuhan KPR menurun tajam dari 8,9% di Maret menjadi hanya 7,7% di bulan Juni. 

Angka ini menunjukkan kehati-hatian konsumen dalam membelanjakan uang mereka.

BI menyebutkan, perlambatan ini terjadi karena tekanan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. 

Selain itu, ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan juga cenderung hati-hati. 

“Konsumen cenderung menunda belanja besar, termasuk untuk hunian, karena masih mencermati arah inflasi dan suku bunga,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, dalam keterangan tertulis, Senin (4/8/2025).

Sejumlah analis menilai pelemahan ini bisa menjadi indikator awal perlambatan ekonomi secara menyeluruh, terutama jika tren penurunan kredit konsumsi berlanjut di kuartal III. 

Di sisi lain, perbankan juga menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit, mengikuti pengetatan likuiditas global serta kebijakan makroprudensial yang lebih berhati-hati.

Dampaknya, sektor properti dan industri ritel berpotensi mengalami penurunan penjualan dalam beberapa bulan ke depan. 

Bila tidak segera diantisipasi, perlambatan ini bisa menekan pertumbuhan ekonomi nasional, mengingat konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang utama Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. 

Pemerintah dan BI diperkirakan akan mengkaji insentif lanjutan untuk menjaga daya beli dan memacu pertumbuhan kredit pada paruh kedua tahun ini.

Jumat, 01 Maret 2024

BI Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Efisiensi Pengawasan

BI Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Efisiensi Pengawasan. (Gambar ilustrasi)
BI Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Efisiensi Pengawasan. (Gambar ilustrasi)
JAKARTA - Kepala Departemen Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI), Dicky Kartikoyono, mengungkapkan bahwa BI sedang memperkuat pengawasan transaksi dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Dalam pernyataannya di Jakarta pada Kamis, Dicky Kartikoyono menjelaskan bahwa BI sedang mengembangkan sistem pengawasan yang lebih efektif dengan menggunakan teknologi AI. Dia menyebut salah satu teknologi yang saat ini tengah dikembangkan, yakni Proactive Risk Management.

"Dengan masuknya AI dalam sistem pengawasan, kami mendapatkan bantuan yang signifikan. Contohnya, teknologi Proactive Risk Management yang sedang kami kembangkan," ujar Dicky.

Dicky menegaskan bahwa pengawasan transaksi secara real-time dan deteksi penipuan juga akan ditingkatkan melalui pendekatan teknologi. Dia menyatakan bahwa penggunaan teknologi dalam pengawasan ekosistem keuangan secara menyeluruh menjadi fokus utama BI.

Selain untuk pengawasan, teknologi kecerdasan buatan juga akan dimanfaatkan dalam sistem pembayaran. Data yang dikumpulkan dari sistem pembayaran melalui AI akan digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan oleh BI dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"Konsep implementasi kecerdasan buatan dalam pengumpulan data tersebut telah kami susun, dan kami berencana untuk mengembangkan AI generatif yang dapat membantu dalam analisis," jelas Dicky.

Menurutnya, pengumpulan data menjadi hal yang penting dalam proses ini. "Semua infrastruktur sudah kami bangun, dan fokus utama kami saat ini adalah pengumpulan data," tambahnya.