BENGKAYANG - Di tengah kemajuan zaman, masih ada kisah pilu dari pedalaman Kalimantan Barat. Warga Dusun Sungkung Tiga, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, harus menempuh perjalanan berat hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Karena tidak adanya akses jalan yang layak dan minimnya fasilitas kesehatan, warga di sana terpaksa menandu pasien yang sakit melewati hutan dan perbukitan menuju Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.
Perjalanan panjang itu bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan lebih lama jika kondisi jalan licin akibat hujan.
Jalur yang mereka lalui bukan jalan beraspal, melainkan tanah berbatu dan menanjak kondisi yang jelas berisiko, terutama bagi pasien yang sedang lemah.
Suara Netizen: “Sampai Kapan Warga Pedalaman Dibiarkan Begini?”
Kisah ini viral di media sosial dan menuai berbagai tanggapan dari warganet yang ikut prihatin. Banyak yang menyoroti lambatnya pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan yang sudah lama menjadi keluhan masyarakat.
Fransiscus Noprian Dinata menulis di Facebook,
“Sekadar buat jalan rabat beton pun nggak bisa di situ? Padahal dana desa sudah bertahun-tahun cair. Harusnya bisa dibangun.”
Sementara Bocahz Bocahz menambahkan,
“Pemerintah pusat kayaknya lebih sibuk lihat Palestina daripada lihat keadaan negaranya sendiri. Jalan di pedalaman Kalbar rata-rata buruk, Pemda juga bilang nggak ada anggaran.”
Ada pula komentar dari Alfat Wildhan yang menyoroti ketimpangan kebijakan,
“Mata pemerintah kayak buram lihat itu. Delapan puluh tahun merdeka, tapi yang dirasakan cuma harapan kosong. Untuk proyek besar negara dana bisa cair sampai ratusan triliun, tapi buat jalan rakyat nol besar.”
Darmawangsa Darmawangsa juga menulis dengan nada prihatin,
“Ya ampun, kok masih ada ya tempat yang jauh dari jangkauan kendaraan? Semoga ke depan bisa lebih baik dan maju lagi.”
Sementara Asem Aprianto Silas menegaskan,
“Untuk proyek besar dana ada, tapi untuk jalan masyarakat nggak ada sama sekali.”
Pembangunan yang Tak Merata, Harapan yang Belum Padam
Kondisi warga di pedalaman Kalbar ini kembali membuka mata banyak pihak bahwa pembangunan di Indonesia masih belum merata.
Wilayah perbatasan seperti Sungkung sering kali luput dari perhatian, padahal masyarakat di sana juga bagian dari bangsa ini.
Banyak yang berharap agar pemerintah daerah dan pusat bisa lebih serius membenahi akses transportasi serta fasilitas kesehatan di kawasan terpencil.
Jalan yang layak bukan sekadar infrastruktur, tapi urat nadi kehidupan dan harapan bagi masyarakat pedalaman.
Kisah warga Sungkung Tiga ini bukan hanya cerita tentang perjuangan untuk berobat, tetapi juga potret nyata ketimpangan pembangunan di negeri ini.
Semoga ke depan, warga pedalaman tak perlu lagi ditandu menembus hutan demi sekadar mendapatkan layanan kesehatan dasar.
Karena setiap warga negara berhak mendapatkan akses dan perhatian yang sama di mana pun mereka tinggal.



