Ribuan Tewas dalam Aksi Protes Iran, Siapa Dalang di Balik Kekacauan Nasional?

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Selasa, 20 Januari 2026

Ribuan Tewas dalam Aksi Protes Iran, Siapa Dalang di Balik Kekacauan Nasional?

Para pengunjuk rasa berpartisipasi dalam demonstrasi untuk mendukung protes massal nasional di Iran terhadap pemerintah, di Berlin, Jerman, Minggu, 18 Januari 2026 [Ebrahim Noroozi/AP Photo]
Para pengunjuk rasa berpartisipasi dalam demonstrasi untuk mendukung protes massal nasional di Iran terhadap pemerintah, di Berlin, Jerman, Minggu, 18 Januari 2026 [Ebrahim Noroozi/AP Photo]

Tehran, Iran - Situasi Iran masih dibayangi ketegangan serius. Ribuan nyawa melayang sejak gelombang protes besar-besaran meledak di berbagai kota. Namun hingga kini, satu pertanyaan besar masih menggantung: siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas kematian ribuan warga tersebut?

Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai aktor utama di balik kerusuhan. Di sisi lain, kelompok oposisi dan pemantau HAM justru menuduh aparat negara sebagai pelaku utama kekerasan. Narasi yang saling bertabrakan ini membuat publik dunia kebingungan.

Awal Mula Protes yang Berujung Tragedi

Aksi protes bermula pada 28 Desember, diawali oleh keluhan ekonomi para pedagang di pusat bisnis Teheran. Kenaikan harga dan tekanan ekonomi menjadi pemicu awal. Namun, dalam hitungan hari, protes berkembang menjadi luapan kemarahan nasional terhadap elite politik Iran.

Gelombang demonstrasi menyebar cepat, dari kota besar hingga wilayah kecil. Puncak kekerasan terjadi pada malam 8 dan 9 Januari, yang disebut sebagai periode paling mematikan selama rangkaian protes berlangsung.

Pengakuan Langka dari Pemimpin Tertinggi Iran

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, secara terbuka mengakui bahwa “beberapa ribu” warga Iran telah tewas sejak protes pecah. Pernyataan ini tergolong langka, mengingat Khamenei biasanya menghindari pembahasan angka korban dalam insiden serupa di masa lalu.

Menurut otoritas medis Iran, banyak korban tewas akibat tembakan di kepala dan dada dari jarak dekat, bahkan ada yang ditembak dari atap bangunan. Sebagian lainnya dilaporkan tewas akibat senjata tajam. Mayoritas korban disebut berusia muda, banyak di antaranya masih di kisaran usia 20-an tahun.

Pemadaman Internet dan Isolasi Informasi

Pada malam paling berdarah tersebut, pemerintah Iran memutus total akses internet dan jaringan komunikasi seluler. Warga bahkan tidak bisa menghubungi layanan darurat saat situasi genting.

Pemadaman internet berlangsung hampir dua pekan, membuat sekitar 90 juta penduduk Iran hidup dalam ketidakpastian. Hingga kini, sebagian layanan komunikasi seperti telepon lokal, SMS, dan panggilan internasional perlahan dipulihkan, meski akses internet masih terbatas melalui jaringan intranet lokal.

Akibat pemblokiran digital ini, dokumentasi video protes sangat minim. Hanya segelintir warga yang berhasil membagikan informasi ke luar negeri, baik melalui akses satelit maupun dengan meninggalkan Iran.

Versi Pemerintah Iran

Pemerintah Iran dengan tegas menyatakan bahwa kematian ribuan orang bukan disebabkan aparat negara. Mereka menuding kelompok bersenjata yang disebut sebagai teroris bayaran Amerika Serikat dan Israel sebagai pelaku utama.

Khamenei bahkan menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai penjahat karena secara terbuka ikut campur dalam situasi Iran. Aparat hukum Iran juga memperingatkan bahwa siapa pun yang terlibat dalam kerusuhan akan dihukum cepat dan tanpa ampun.

Mahkamah Agung dan kejaksaan Iran membentuk tim khusus untuk mempercepat proses hukum terhadap para demonstran yang dituduh terlibat dalam aksi kekerasan.

Klaim dari Pemantau HAM dan Oposisi

Kelompok pemantau HAM di luar negeri justru menyampaikan angka korban yang jauh lebih besar. Lembaga Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat mencatat lebih dari 3.300 kematian terkonfirmasi, dengan ribuan lainnya masih dalam proses verifikasi.

Selain itu, lebih dari 2.000 orang dilaporkan mengalami luka serius, dan sekitar 24.000 warga ditangkap. Sumber lain menyebut jumlah korban tewas bisa mencapai 5.000 orang, termasuk ratusan aparat keamanan.

Wilayah barat laut Iran yang didominasi etnis Kurdi disebut sebagai daerah dengan korban terbanyak. Namun, angka-angka ini belum bisa diverifikasi secara independen.

Tuduhan Kontroversial soal Pemakaman Korban

Media asing juga melaporkan tuduhan bahwa keluarga korban dipaksa membayar “uang peluru” agar jenazah bisa dimakamkan, atau diminta menandatangani dokumen yang menyatakan korban adalah anggota milisi Basij, bukan demonstran. Pemerintah Iran membantah keras semua tuduhan tersebut.

Sikap Amerika Serikat dan Israel

Presiden AS Donald Trump secara terbuka mendorong rakyat Iran untuk terus turun ke jalan, bahkan menyebut bantuan sedang dalam perjalanan. Ia juga menyerukan diakhirinya kekuasaan Khamenei yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Pernyataan Trump dibalas tajam oleh jaksa Iran yang menyebut komentar tersebut sebagai omong kosong dan berjanji akan memberikan respons cepat dan tegas.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memilih diam. Namun laporan media Israel menyebut pemerintahnya sempat melarang pejabat memberikan komentar, setelah muncul klaim bahwa agen Israel aktif di Iran selama konflik berlangsung.

Masa Depan Iran Masih Penuh Tanda Tanya

Kini, protes di jalanan memang mereda, namun ketegangan belum sepenuhnya hilang. Aparat keamanan bersenjata lengkap masih berjaga di titik-titik strategis, termasuk pusat perdagangan Teheran.

Dengan narasi yang saling bertolak belakang, dunia internasional masih mencari kebenaran di balik tragedi ini. Yang pasti, luka sosial dan politik di Iran masih jauh dari sembuh, dan masa depan negara itu tetap diliputi ketidakpastian.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.