Cuaca Panas Ekstrem Di Kotim Dipicu Siklon Tropis Narelle, Ini Penjelasan BMKG

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Minggu, 29 Maret 2026

Cuaca Panas Ekstrem Di Kotim Dipicu Siklon Tropis Narelle, Ini Penjelasan BMKG

Cuaca panas di Kotim dipicu siklon tropis Narelle. BMKG ungkap penyebabnya dan BPBD ingatkan risiko karhutla akibat berkurangnya hujan.
Cuaca panas di Kotim dipicu siklon tropis Narelle. BMKG ungkap penyebabnya dan BPBD ingatkan risiko karhutla akibat berkurangnya hujan.

Sampit – Cuaca panas yang terasa cukup ekstrem di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah dalam sepekan terakhir akhirnya terjawab. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit mengungkap penyebab utamanya adalah pengaruh siklon tropis Narelle.

Prakirawan BMKG Kotim, Mitra Hutauruk, menjelaskan bahwa meskipun saat ini wilayah Kotim masih berada dalam musim hujan, fenomena siklon tropis tersebut membuat pembentukan awan hujan menjadi terganggu.

“Beberapa hari terakhir terjadi siklon tropis Narelle yang menyebabkan konsentrasi massa udara tertarik ke wilayah selatan, sehingga pembentukan awan hujan jadi sulit,” jelasnya di Sampit, Sabtu.

Pengaruh Siklon Tropis Narelle

Menurut BMKG, sejak pertengahan Maret 2026, siklon tropis Narelle terpantau aktif di wilayah selatan Indonesia, tepatnya di sekitar Samudra Hindia. Meski tidak melintas langsung ke daratan Kalimantan Tengah, dampaknya tetap terasa secara tidak langsung.

Siklon ini terbentuk dari bibit siklon 96P dan memiliki kekuatan besar yang mampu menarik massa udara menjauh dari wilayah Kalimantan, khususnya Kotawaringin Timur.

Akibatnya, curah hujan di wilayah tersebut mengalami penurunan signifikan. Hal inilah yang membuat suhu udara meningkat dan terasa lebih panas dari biasanya.

“Kondisi ini bersifat sementara dan diperkirakan akan berakhir dalam beberapa hari ke depan seiring melemahnya siklon tersebut,” tambah Mitra.

Dampak Nyata: Hotspot Dan Risiko Karhutla

Dampak dari fenomena ini tidak hanya terasa pada suhu udara yang meningkat, tetapi juga memicu munculnya titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam sepekan terakhir. Lokasi kejadian antara lain di Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Baamang, serta Desa Bengkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, mengingat kondisi saat ini sangat rawan.

“Curah hujan berkurang, sehingga lahan menjadi lebih kering dan mudah terbakar. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” tegasnya.

Karakter Gambut Perparah Risiko Kebakaran

Multazam juga menambahkan bahwa sebagian besar wilayah Kotim memiliki jenis tanah gambut. Kondisi ini membuat risiko kebakaran menjadi lebih tinggi, terutama saat cuaca kering.

Tanah gambut dikenal mudah terbakar dan sulit dipadamkan karena api bisa merambat hingga ke dalam lapisan tanah.

“Meski di permukaan terlihat padam, api di bawah tanah bisa terus menyala. Ini yang membuat penanganannya cukup sulit,” jelasnya.

Upaya Pencegahan Terus Digencarkan

Pemerintah daerah bersama BPBD terus mengintensifkan upaya pencegahan karhutla, termasuk sosialisasi kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan.

Langkah ini diharapkan mampu menekan potensi kebakaran serta mencegah terjadinya kabut asap yang dapat berdampak pada kesehatan dan aktivitas masyarakat.

FAQ

1. Kenapa cuaca di Kotim terasa panas padahal masih musim hujan?
Karena adanya siklon tropis Narelle yang menarik massa udara ke selatan sehingga pembentukan awan hujan berkurang.

2. Apa itu siklon tropis Narelle?
Siklon tropis Narelle adalah sistem badai kuat yang terbentuk di Samudra Hindia dari bibit siklon 96P.

3. Apakah kondisi ini akan berlangsung lama?
Tidak. BMKG memprediksi kondisi ini hanya sementara dan akan berakhir dalam beberapa hari ke depan.

4. Kenapa risiko karhutla meningkat saat ini?
Karena curah hujan menurun, tanah menjadi kering, dan mudah terbakar, terutama di lahan gambut.

5. Apa imbauan pemerintah kepada masyarakat?
Masyarakat diminta untuk tidak membakar lahan guna mencegah kebakaran hutan dan lahan.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.