Berita BorneoTribun: Imlek Hari ini
Tampilkan postingan dengan label Imlek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imlek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2026

Festival Imlek Nasional 2026 Hadirkan Cek Kesehatan Gratis Target 136 Juta Peserta

Layanan Kesehatan Gratis Ramaikan Festival Imlek Nasional Jakarta
Cek Kesehatan Gratis hadir di Festival Imlek Nasional 2026 Lapangan Banteng Jakarta. Pemerintah gandeng halomiyu dorong deteksi dini, target 136 juta peserta program CKG tahun ini. (Gambar ilustrasi AI)

JAKARTA -- Kementerian Ekonomi Kreatif menghadirkan layanan Cek Kesehatan Gratis dalam gelaran Festival Imlek Nasional 2026 di Lapangan Banteng pada 22 Februari hingga 1 Maret 2026. Program ini digelar bersama Kementerian Kesehatan, panitia festival, serta IP lokal halomiyu untuk memperluas akses deteksi dini kesehatan bagi masyarakat.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah menghadirkan layanan kesehatan yang mudah diakses, tanpa biaya, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menegaskan bahwa cek kesehatan bukan hanya untuk orang yang sedang sakit, tetapi juga penting bagi mereka yang merasa sehat.

Menurut Irene, deteksi dini membantu masyarakat tetap produktif sekaligus menjaga keluarga yang bergantung pada mereka. Dengan mengetahui kondisi tubuh sejak awal, risiko penyakit serius bisa ditekan dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Kolaborasi lintas kementerian bersama IP lokal halomiyu menghadirkan konsep ruang CKG yang lebih ramah, visualnya menarik, dan dekat dengan generasi muda. Pendekatan kreatif ini diharapkan membuat edukasi kesehatan terasa ringan dan mudah diterima, terutama di tengah suasana perayaan Imlek yang meriah.

Di ruang CKG, pengunjung bisa melakukan berbagai pemeriksaan seperti tensi darah, gula darah, hepatitis, kesehatan gigi, tuberkulosis, hingga skrining kanker payudara. Layanan ini menjadi peluang emas bagi masyarakat untuk memeriksa kondisi kesehatan tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan formal.

Layanan Kesehatan Gratis Ramaikan Festival Imlek Nasional Jakarta
Cek Kesehatan Gratis hadir di Festival Imlek Nasional 2026 Lapangan Banteng Jakarta. Pemerintah gandeng halomiyu dorong deteksi dini, target 136 juta peserta program CKG tahun ini. (Gambar ilustrasi AI)

Pemerintah menargetkan 136 juta peserta dapat menikmati program prioritas Cek Kesehatan Gratis sepanjang 2026. Penyelenggaraan di event nasional seperti Festival Imlek Nasional menjadi strategi memperluas jangkauan penerima manfaat.

Festival Imlek Nasional 2026 sendiri dikemas sebagai perayaan tahun baru lunar yang merangkul keberagaman Indonesia. Tidak hanya identik dengan budaya Tionghoa, festival ini menjadi ruang temu lintas budaya melalui seni, tradisi, kuliner, parade Imlek, hingga Museum Terbuka bertema akulturasi budaya Tionghoa.

Melalui sinergi ekonomi kreatif dan layanan kesehatan, pemerintah ingin memastikan bahwa perayaan budaya juga menjadi momentum meningkatkan kesadaran hidup sehat. Jika Anda berkunjung, manfaatkan kesempatan ini untuk cek kesehatan sekaligus menikmati kemeriahan festival.

FAQ

Apa itu Cek Kesehatan Gratis di Festival Imlek Nasional 2026?
Program layanan pemeriksaan kesehatan tanpa biaya yang dihadirkan pemerintah selama festival berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta.

Pemeriksaan apa saja yang tersedia?
Tensi darah, gula darah, hepatitis, kesehatan gigi, tuberkulosis, dan skrining kanker payudara.

Apakah layanan ini terbuka untuk umum?
Ya, seluruh pengunjung festival dapat mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis.

Mengapa deteksi dini penting?
Karena penyakit dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan lebih cepat dan risiko komplikasi bisa ditekan.

Sabtu, 21 Februari 2026

Karya Seni AHY Terjual Rp 6,5 Miliar di Perayaan Imlek

Lukisan bernilai Rp 6,5 miliar terjual saat perayaan Imlek, diungkap akun Galery AHY. Karya ini memuat simbol tekad, energi perjuangan, dan apresiasi tinggi terhadap seni bernilai kebangsaan.
Lukisan bernilai Rp 6,5 miliar terjual saat perayaan Imlek, diungkap akun Galery AHY. Karya ini memuat simbol tekad, energi perjuangan, dan apresiasi tinggi terhadap seni bernilai kebangsaan.

Lukisan Bernilai Rp 6,5 Miliar Jadi Sorotan di Perayaan Imlek

JAKARTA -- Akun resmi Galery AHY di media sosial mengungkapkan bahwa sebuah lukisan bernilai Rp 6,5 miliar berhasil terjual dalam perayaan Imlek yang digelar semalam. Karya tersebut bukan sekadar karya seni visual, melainkan simbol filosofi tentang tekad, energi besar, serta semangat perjuangan untuk mencapai tujuan bangsa.

Penjualan lukisan ini menjadi perhatian publik karena nilainya yang fantastis sekaligus pesan kuat yang terkandung di dalamnya. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa setiap goresan warna dalam karya itu merepresentasikan semangat kolektif, optimisme, dan daya juang yang terus menyala.

Momentum perayaan Imlek yang identik dengan harapan baru dan keberuntungan dianggap selaras dengan makna mendalam dari lukisan tersebut. Nilai transaksi Rp 6,5 miliar dinilai sebagai bentuk apresiasi tinggi terhadap karya seni yang sarat pesan kebangsaan dan semangat positif.

Simbol Tekad dan Energi Perjuangan

Dalam narasi yang dibagikan akun Galery AHY, lukisan itu digambarkan sebagai refleksi tekad kuat untuk membangun masa depan bangsa. Energi yang terpancar dari komposisi warna dan garis dipercaya menggambarkan optimisme dan keberanian menghadapi tantangan.

Seni tidak lagi hanya dipahami sebagai estetika, melainkan juga media komunikasi nilai dan gagasan. Karya ini menjadi contoh bagaimana seni mampu menyatukan pesan perjuangan, identitas, dan aspirasi dalam satu kanvas.

Apresiasi Tinggi terhadap Nilai Seni

Terjualnya karya seni dengan harga miliaran rupiah menunjukkan bahwa pasar seni di Indonesia terus berkembang. Kolektor tidak hanya membeli lukisan sebagai investasi, tetapi juga sebagai simbol dukungan terhadap gagasan besar yang diusung dalam karya tersebut.

Perayaan Imlek menjadi momen yang tepat untuk menghadirkan energi positif, sekaligus menegaskan bahwa kreativitas dan semangat kebangsaan dapat berjalan beriringan.

Energi Positif untuk Masa Depan

Unggahan tersebut juga mengajak masyarakat untuk terus menyalakan semangat positif. Pesan yang disampaikan menekankan pentingnya menjaga optimisme dan tekad dalam membangun bangsa.

Dengan capaian ini, karya seni bukan hanya menjadi objek koleksi, tetapi juga inspirasi. Energi perjuangan yang tergambar di dalamnya diharapkan dapat menular kepada masyarakat luas.

FAQ

1. Berapa harga lukisan yang terjual saat perayaan Imlek?
Lukisan tersebut terjual dengan nilai Rp 6,5 miliar.

2. Apa makna filosofis dari lukisan tersebut?
Lukisan itu melambangkan tekad, energi besar, semangat perjuangan, dan optimisme untuk mencapai tujuan bangsa.

3. Mengapa penjualannya menjadi sorotan?
Selain nilainya yang tinggi, karya tersebut mengandung pesan kebangsaan dan semangat positif yang kuat.

4. Siapa yang mengungkapkan informasi ini?
Informasi tersebut diungkap melalui akun Galery AHY di media sosial.

5. Apa pesan utama dari unggahan tersebut?
Masyarakat diajak untuk terus menjaga energi positif dan semangat perjuangan dalam membangun masa depan.

Selasa, 17 Februari 2026

Ucapan Imlek 2026: Makna, Tren Pesan Digital, dan Relevansinya bagi Masyarakat Indonesia

Ucapan Imlek 2026: Makna, Tren Pesan Digital, dan Relevansinya bagi Masyarakat Indonesia
Ucapan Imlek 2026: Makna, Tren Pesan Digital, dan Relevansinya bagi Masyarakat Indonesia.

JAKARTA -- Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 menjadi momentum penting bagi jutaan warga keturunan Tionghoa di Indonesia untuk mempererat hubungan keluarga, komunitas, dan lintas budaya. Selain tradisi sembahyang dan jamuan makan bersama, ucapan Imlek 2026 kembali menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan, baik disampaikan secara langsung maupun melalui platform digital.

Imlek 2026 menandai pergantian tahun dalam kalender lunar Tiongkok, yang secara tradisional diisi dengan doa, harapan, dan ungkapan syukur. Di Indonesia, perayaan ini telah menjadi hari libur nasional sejak era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, yang mencabut berbagai pembatasan ekspresi budaya Tionghoa pada awal 2000-an. Sejak saat itu, perayaan Imlek berkembang menjadi simbol pengakuan keberagaman budaya nasional.

Makna Ucapan Imlek dalam Konteks Budaya Indonesia

Ucapan Imlek tidak sekadar formalitas. Dalam tradisi Tionghoa, kalimat seperti “Gong Xi Fa Cai” atau “Xin Nian Kuai Le” mengandung doa akan kemakmuran, kebahagiaan, dan umur panjang. Di Indonesia, ucapan tersebut kerap dipadukan dengan bahasa Indonesia agar lebih inklusif, seperti “Selamat Tahun Baru Imlek 2026, semoga sehat dan sukses sepanjang tahun.”

Fenomena ini menunjukkan akulturasi budaya yang semakin kuat. Pengamat sosial dari sejumlah perguruan tinggi menilai bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam ucapan Imlek memperluas makna perayaan, dari yang semula bersifat komunitas menjadi perayaan lintas etnis. Hal ini sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

Tidak hanya antarindividu, pemerintah pusat dan daerah pun rutin menyampaikan ucapan resmi Imlek melalui kanal media sosial dan siaran pers. Pesan yang disampaikan umumnya menekankan toleransi, persatuan, dan kontribusi masyarakat Tionghoa dalam pembangunan nasional.

Tren Ucapan Imlek 2026: Digital, Visual, dan Personal

Memasuki 2026, tren ucapan Imlek mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya kartu fisik masih umum digunakan, kini mayoritas masyarakat memilih kartu digital, video pendek, hingga desain grafis yang dibagikan melalui aplikasi pesan instan dan media sosial.

Platform seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp menjadi medium utama penyebaran ucapan Imlek. Desain visual bernuansa merah dan emas tetap dominan, namun dikemas dengan gaya modern. Banyak pelaku UMKM desain grafis dan percetakan lokal memanfaatkan momentum ini untuk menawarkan template ucapan Imlek 2026 yang dapat disesuaikan dengan nama atau logo perusahaan.

Di sektor korporasi, ucapan Imlek juga menjadi bagian dari strategi komunikasi merek. Perusahaan perbankan, ritel, hingga startup teknologi di Indonesia memproduksi konten khusus Imlek untuk memperkuat citra inklusif dan kedekatan dengan konsumen.

Variasi Ucapan Imlek 2026 yang Banyak Digunakan

Sejumlah contoh ucapan Imlek 2026 yang populer di Indonesia antara lain:

  • Selamat Tahun Baru Imlek 2026. Semoga tahun ini membawa kesehatan, kebahagiaan, dan rezeki berlimpah.”

  • “Gong Xi Fa Cai 2026. Semoga segala usaha dilancarkan dan keluarga selalu diberkahi.”

  • “Xin Nian Kuai Le. Mari songsong tahun baru dengan semangat dan harapan baru.”

Selain itu, banyak keluarga yang menambahkan doa personal sesuai kondisi masing-masing, seperti harapan kelancaran usaha, keberhasilan studi, atau pemulihan kesehatan.

Ahli komunikasi budaya menilai personalisasi ucapan menjadi kunci relevansi di era digital. Pesan yang spesifik dan tulus cenderung lebih bermakna dibanding ucapan generik yang disalin massal.

Konteks Kebijakan dan Toleransi Antarumat

Perayaan Imlek di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dinamika kebijakan publik. Setelah sempat dibatasi pada masa lalu, pengakuan Imlek sebagai hari besar nasional menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan antarumat beragama.

Kementerian Agama secara rutin mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan selama perayaan hari besar keagamaan, termasuk Imlek. Aparat keamanan pun biasanya menyiapkan pengamanan di vihara dan klenteng untuk memastikan perayaan berlangsung aman dan tertib.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa perayaan dan ucapan Imlek bukan hanya persoalan budaya, melainkan bagian dari komitmen negara terhadap perlindungan hak beragama dan kebebasan berekspresi.

Dampak Ekonomi Musiman

Ucapan Imlek 2026 juga berdampak pada aktivitas ekonomi. Industri percetakan, dekorasi, parsel, hingga makanan khas seperti kue keranjang dan jeruk mandarin mengalami peningkatan permintaan menjelang perayaan.

Pusat-pusat perbelanjaan di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan biasanya mengusung dekorasi tematik Imlek untuk menarik pengunjung. Kampanye promosi dengan slogan ucapan Imlek kerap menjadi strategi pemasaran untuk meningkatkan penjualan.

Bagi pelaku UMKM, momentum ini menjadi peluang untuk memperluas pasar, termasuk melalui penjualan online. Digitalisasi ucapan dan promosi membuat jangkauan konsumen semakin luas, tidak terbatas pada wilayah tertentu.

Refleksi dan Implikasi ke Depan

Ucapan Imlek 2026 mencerminkan lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi simbol keberlanjutan budaya, adaptasi teknologi, dan penguatan toleransi di Indonesia. Perpaduan bahasa Mandarin dan Indonesia dalam ucapan menunjukkan proses integrasi yang semakin matang.

Ke depan, tren personalisasi dan digitalisasi diperkirakan akan semakin dominan. Namun esensi ucapan yakni doa, harapan, dan niat baik tetap menjadi inti yang tidak berubah.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, ucapan Imlek 2026 bukan hanya milik satu komunitas, melainkan bagian dari mozaik kebudayaan nasional. Perayaan ini sekaligus mengingatkan bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, tetapi praktik nyata yang dirayakan bersama setiap tahunnya.

Senin, 16 Februari 2026

Atraksi Barongsai di Indonesia: Harmoni Budaya, Spiritualitas, dan Prestasi Olahraga Nasional

Atraksi Barongsai di Indonesia: Harmoni Budaya, Spiritualitas, dan Prestasi Olahraga Nasional
Atraksi Barongsai di Indonesia: Harmoni Budaya, Spiritualitas, dan Prestasi Olahraga Nasional.

JAKARTA -- Atraksi barongsai menjadi salah satu ikon perayaan Imlek di Indonesia yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga sarat makna budaya dan spiritual. Di berbagai kota, pertunjukan barongsai rutin hadir saat Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, hingga festival budaya lintas komunitas. Lebih dari sekadar hiburan, barongsai di Indonesia berkembang sebagai simbol harmoni keberagaman sekaligus cabang olahraga yang melahirkan prestasi dunia.

Budayawan dan peneliti kajian ketionghoaan, Alexander Raymon atau Alex Cheung, menjelaskan bahwa barongsai bukan hanya seni pertunjukan, melainkan ekspresi spiritual masyarakat Tionghoa. Dalam tradisi Tiongkok, singa dipercaya sebagai simbol keberanian dan kekuatan yang mampu mengusir roh jahat serta membawa keberuntungan, kemakmuran, dan kedamaian.

“Di masa lampau, masyarakat Tionghoa mempercayai bahwa singa yang menari memiliki kekuatan mengusir kejahatan. Karena itu, dalam perayaan tahun baru Imlek atau perayaan Tionghoa lainnya, barongsai selalu dipersembahkan,” ujar Alex.

Jejak Sejarah dan Harmoni Keberagaman

Secara harfiah, barongsai dalam bahasa Mandarin disebut Wǔ shī yang berarti tarian singa. Di sejumlah daerah di Jawa, masyarakat mengenalnya sebagai “samsi” atau “siamsi” dalam dialek Hokkian. Kehadirannya di Indonesia seiring dengan migrasi dan perkembangan komunitas Tionghoa di Nusantara.

Pasca reformasi 1998, ruang ekspresi budaya Tionghoa terbuka lebih luas. Pertunjukan barongsai dan liong kini tampil bebas di ruang publik, tidak hanya terbatas pada perayaan Imlek. Atraksi ini kerap menghiasi pembukaan pusat perbelanjaan, festival pariwisata, acara pemerintahan, hingga perayaan pribadi.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa barongsai telah menjadi bagian dari lanskap budaya Indonesia yang majemuk. Tidak lagi eksklusif sebagai tradisi etnis tertentu, barongsai justru menjadi medium interaksi antarbudaya.

Menurut Alex, seni barongsai di Indonesia juga mengalami proses adaptasi lokal. Muncul variasi seperti barongsai Jawa, penggunaan musik populer sebagai pengiring, hingga kolaborasi dengan tari modern. Sentuhan lokal itu, menurutnya, tidak menghapus identitas Tionghoa, melainkan memperkaya karakter pertunjukan di tiap daerah.

“Identitas budaya tidak memudar, justru semakin berwarna dengan kekhasan Indonesia,” ujarnya.

Sejumlah perkumpulan Tionghoa seperti Hoo Hap Hwee, Hokkian Hwee Koan, Sin Ming Hui, Kuo Chi Yen Chiu She, Khong Kauw Hwee, Shantung Kung Hui, dan Kwong Siew Wai Kuan turut berperan menjaga kesinambungan seni barongsai di berbagai daerah.

Komunitas Inklusif dan Prestasi Dunia

Di tingkat komunitas, salah satu organisasi yang konsisten mengembangkan barongsai adalah Yayasan Barongsai Kong Ha Hong. Selama lebih dari dua dekade, yayasan ini telah membina generasi muda tanpa membedakan suku, agama, maupun ras.

Ketua Yayasan Barongsai Kong Ha Hong, Ronald Sjarif, menegaskan bahwa pihaknya membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin bergabung, dengan batas usia minimal sekitar delapan tahun.

“Kami tidak menyaring berdasarkan latar belakang. Ini yayasan sosial, jadi kami melatih sampai bisa tampil, tanpa memungut bayaran,” kata Ronald.

Pendekatan inklusif tersebut membuahkan hasil. Yayasan ini tercatat lima kali meraih gelar juara dunia dalam kompetisi barongsai internasional pada 2009 dan 2015 di China, 2014 dan 2017 di Indonesia, serta 2019 di China. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa barongsai Indonesia tidak hanya berkembang secara budaya, tetapi juga kompetitif di level global.

Ketertarikan masyarakat pun terus meningkat, terutama setelah menyaksikan pertunjukan di pusat perbelanjaan atau festival. Dari ruang publik itulah regenerasi atlet barongsai kerap bermula.

Dari Tradisi ke Cabang Olahraga

Perkembangan signifikan terjadi ketika barongsai diakui sebagai cabang olahraga oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada 2013. Sejak itu, barongsai mulai dipertandingkan secara resmi, termasuk pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat 2016.

Pembinaan cabang olahraga ini berada di bawah naungan Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI). Dalam konteks olahraga, barongsai tidak hanya menekankan unsur estetika, tetapi juga teknik, kekuatan fisik, keseimbangan, dan tingkat kesulitan gerakan.

Pelatih Barongsai Kong Ha Hong, Andri Wijaya, menjelaskan adanya perbedaan antara barongsai sebagai budaya dan sebagai olahraga. Dalam konteks budaya, pertunjukan biasanya diawali ritual tertentu, seperti doa di vihara atau prosesi “ambil sayur” saat pembukaan usaha, yang memiliki makna simbolis keberuntungan.

Sebaliknya, dalam kompetisi olahraga, fokusnya terletak pada koreografi, sinkronisasi gerak dua penari dalam satu kostum, akurasi lompatan di atas tonggak (jongs), hingga kreativitas kombinasi gerakan yang sering dipadukan dengan unsur Kungfu atau Wushu.

“Karena sudah menjadi olahraga, tekniknya makin tinggi dan tingkat kesulitannya juga makin besar,” ujar Andri.

Standar penilaian dalam kompetisi meliputi teknik, ekspresi, kreativitas, dan ketepatan waktu. Latihan intensif diperlukan untuk membangun kekuatan kaki, koordinasi, serta kepercayaan antarpenari yang berada dalam satu kostum singa.

Masa Depan Barongsai di Indonesia

Pengakuan sebagai cabang olahraga membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk menekuni barongsai secara profesional. Selain menjaga warisan budaya, jalur olahraga memberi ruang prestasi, pembinaan terstruktur, dan kemungkinan dukungan anggaran.

Di sisi lain, barongsai tetap berfungsi sebagai jembatan sosial yang memperkuat toleransi dan persatuan. Keterlibatan peserta dari berbagai latar belakang mencerminkan praktik nyata keberagaman Indonesia.

Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara nilai tradisi dan tuntutan modernisasi. Adaptasi boleh dilakukan, namun akar filosofis dan spiritual tetap perlu dipertahankan agar barongsai tidak kehilangan makna.

Dengan dukungan komunitas, federasi, dan ruang publik yang inklusif, barongsai di Indonesia berpotensi terus tumbuh sebagai simbol harmoni budaya sekaligus sumber prestasi olahraga nasional. Lebih dari sekadar tarian singa, barongsai telah menjadi cermin perjalanan Indonesia dalam merawat keberagaman dan mengubahnya menjadi kekuatan bersama.

Imlek 2026: Perayaan Tahun Kuda Api yang Memperkuat Harmoni Budaya Indonesia

Imlek 2026: Perayaan Tahun Kuda Api yang Memperkuat Harmoni Budaya Indonesia
Imlek 2026: Perayaan Tahun Kuda Api yang Memperkuat Harmoni Budaya Indonesia.

Jakarta – Selasa, 17 Februari 2026, jutaan warga Indonesia menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Perayaan ini jatuh tepat pada hari libur nasional, didahului cuti bersama pada Senin, 16 Februari. 

Tahun ini menandai pergantian shio dari Ular ke Kuda Api, simbol energi dinamis, keberanian, dan semangat maju yang relevan dengan semangat pembangunan nasional.

Di tengah keragaman budaya Indonesia, Imlek bukan lagi sekadar tradisi komunitas Tionghoa. Ia telah menjadi bagian integral dari identitas bangsa, yang dirayakan secara terbuka dan inklusif di berbagai daerah, dari Jakarta hingga Singkawang.

Tanggal dan Jadwal Libur Imlek 2026

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama tiga menteri, Imlek 2026 resmi menjadi hari libur nasional pada 17 Februari 2026. Cuti bersama ditetapkan sehari sebelumnya, sehingga masyarakat mendapatkan long weekend dua hari. 

Libur ini memberikan waktu bagi keluarga untuk berkumpul, membersihkan rumah, dan menjalankan tradisi seperti sembahyang leluhur serta berbagi angpao.

Perayaan berlangsung selama 15 hari, hingga Cap Go Meh pada 3 Maret 2026. Di Indonesia, momen ini sering dimanfaatkan untuk rekreasi dan belanja, terutama di kawasan pecinan yang kini menjadi destinasi wisata unggulan.

Makna Tahun Kuda Api: Energi Dinamis untuk Kemajuan

Dalam kalender Cina, 2026 adalah Tahun Kuda Api (Bing Wu), kombinasi elemen api yang membara dengan sifat kuda yang lincah dan penuh semangat. Menurut pakar feng shui, tahun ini membawa energi transformasi cepat, inovasi, dan keberanian mengambil risiko—ciri yang selaras dengan target pertumbuhan ekonomi Indonesia di era digital.

Kuda melambangkan kebebasan dan ketekunan, sementara api menandakan gairah serta perubahan. Bagi masyarakat Indonesia, ini bisa diartikan sebagai ajakan untuk lebih progresif dalam menghadapi tantangan global, seperti transisi energi dan pengembangan ekonomi kreatif. "Tahun Kuda Api mengajarkan kita untuk bergerak maju tanpa ragu, tapi tetap bijak," ujar seorang ahli budaya Tionghoa-Indonesia dalam diskusi pra-Imlek.

Sejarah Imlek di Indonesia: Dari Larangan ke Pengakuan Penuh

Perayaan Imlek di Indonesia memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perjalanan toleransi bangsa. Tradisi ini dibawa oleh pedagang Tionghoa sejak abad ke-5 Masehi, dan sempat diakui sebagai hari raya resmi pada masa Presiden Soekarno melalui Penetapan Pemerintah No. 2/OEM-1946.

Namun, pada era Orde Baru, Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 membatasi perayaan Imlek hanya di lingkungan keluarga. Kebijakan ini berubah drastis pasca-Reformasi. Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut larangan tersebut melalui Keppres No. 6 Tahun 2000, diikuti Presiden Megawati yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional penuh pada 2002.

Hari ini, Imlek menjadi bukti nyata politik afirmasi terhadap kelompok minoritas, sekaligus memperkaya khazanah budaya nasional. Lebih dari 11 juta warga keturunan Tionghoa di Indonesia—terbesar di luar Cina—menjadikan perayaan ini sebagai jembatan antar-etnis.

Tradisi dan Persiapan Masyarakat Lokal

Di Indonesia, Imlek telah berakulturasi dengan budaya setempat. Masyarakat Jawa sering menyajikan makanan seperti lontong cap go meh, sementara di Pontianak dan Singkawang, parade barongsai dan liong menyatu dengan tarian daerah. Di Semarang, klenteng Sam Poo Kong menjadi pusat ziarah yang ramai dikunjungi semua kalangan.

Persiapan biasanya dimulai sebulan sebelumnya: membersihkan rumah (sapu tahun lama), membeli pakaian baru, dan menyiapkan kue-kue seperti nastar serta kue keranjang. Generasi muda kini turut serta melalui media sosial, membagikan momen "gong xi fa cai" dengan sentuhan lokal, seperti angpao digital via e-wallet.

Dampak Ekonomi: Dorongan Konsumsi dan Pariwisata

Imlek 2026 diprediksi menjadi katalisator ekonomi awal tahun. Di Jakarta, Pemprov DKI menargetkan transaksi hingga Rp10 triliun melalui berbagai festival. Okupansi mal dan hotel diproyeksikan naik signifikan, sementara Jasa Marga memperkirakan 1,6 juta kendaraan melintas tol Jabodetabek selama libur.

Sektor pariwisata juga bergairah. Kawasan pecinan di Glodok, Petak Sembilan, hingga TMII menjadi magnet wisatawan domestik dan mancanegara. "Imlek bukan hanya budaya, tapi juga mesin ekonomi yang inklusif," kata Sekda DKI Jakarta Uus Kuswanto saat membuka festival pra-Imlek.

Secara nasional, lonjakan belanja bahan pangan, pakaian, dan dekorasi diprediksi mendongkrak inflasi terkendali sekaligus pertumbuhan ritel. Sektor UMKM kuliner dan kerajinan Tionghoa-Indonesia pun ikut menuai manfaat.

Imlek Nasional 2026: Harmoni Imlek Nusantara di Jakarta

Tahun ini, pemerintah pusat dan Pemprov DKI menggelar Imlek Nasional 2026 bertema "Harmoni Imlek Nusantara". Rangkaian acara mencakup Festival Lentera di Bundaran HI (13–17 Februari), parade budaya di Lapangan Banteng (22–28 Februari), hingga puncak acara dengan video mapping dan karnaval.

Acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan wujud nyata kebinekaan. Melibatkan seniman dari berbagai suku, festival ini menampilkan akulturasi seperti barongsai bertema wayang dan kuliner fusion. "Ini momentum memperkuat persatuan dalam keragaman," tegas Gubernur DKI Pramono Anung.

Implikasi ke Depan: Mempererat Persatuan Bangsa

Imlek 2026 mengingatkan kita bahwa budaya adalah kekuatan pemersatu. Di tengah dinamika global, perayaan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang menghargai pluralisme. Bagi generasi muda, ini pelajaran berharga tentang toleransi dan gotong royong.

Ke depan, diharapkan perayaan seperti ini semakin masif dan berkelanjutan, tidak hanya di kota besar tapi juga pelosok. Dengan semangat Kuda Api, Indonesia siap melaju lebih cepat menuju masyarakat yang adil, makmur, dan harmonis.

Gong Xi Fa Cai untuk seluruh pembaca. Semoga tahun ini membawa keberuntungan, kesehatan, dan kemajuan bagi bangsa Indonesia.

Jelang Imlek 2026, Vihara Silaparamita Jakarta Timur Berbenah: Ibadah Khidmat, Barongsai Meriah, dan Kebersamaan yang Menghangatkan Hati

Jelang Imlek 2026, Vihara Silaparamita Jakarta Timur Berbenah: Ibadah Khidmat, Barongsai Meriah, dan Kebersamaan yang Menghangatkan Hati
Jelang Imlek 2026, Vihara Silaparamita Jakarta Timur Berbenah: Ibadah Khidmat, Barongsai Meriah, dan Kebersamaan yang Menghangatkan Hati.

JAKARTA -- Menyambut Tahun Baru Imlek 2026, suasana di Vihara Silaparamita mulai terasa berbeda. Sejak awal Februari, pengurus dan umat sudah bahu-membahu melakukan berbagai persiapan demi menyambut momen pergantian tahun dengan hati yang bersih dan penuh harapan.

Ketua Vihara Silaparamita, Ferry Oranto, menjelaskan bahwa persiapan telah dimulai sejak 7 Februari. Kerja bakti dilakukan bersama, mulai dari membersihkan altar, rupang, hingga seluruh area vihara. Bagi umat, kegiatan ini bukan sekadar bersih-bersih biasa.

“Ini simbol penyucian diri dan lingkungan sebelum memasuki tahun yang baru,” ujarnya.

Tradisi ini memang rutin dilakukan setiap tahun. Seluruh pengurus dan umat terlibat aktif, menciptakan suasana gotong royong yang hangat dan penuh kekeluargaan. Momen ini juga menjadi pengingat bahwa Imlek bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang refleksi dan pembaruan diri.

Tepekong Naik, Tradisi Penting Jelang Imlek

Selain kerja bakti, vihara juga menggelar upacara Tepekong Naik yang jatuh pada tanggal 24 bulan ke-12 dalam kalender Imlek. Hari tersebut dikenal sebagai waktu membersihkan rumah dan tempat ibadah.

Bagi umat Tridharma, momen ini sangat bermakna. Banyak keluarga memanfaatkan hari tersebut untuk merapikan rumah masing-masing, sebagai simbol membuang energi lama dan menyambut keberkahan baru.

Ibadah Malam Imlek Digelar Pukul 19.00 WIB

Puncak perayaan akan berlangsung pada malam Tahun Baru Imlek, Senin (16/2), mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai. Ibadah malam pergantian tahun ini menjadi agenda utama yang selalu dinantikan.

Dalam rangkaian ibadah, umat tidak hanya melakukan persembahyangan, tetapi juga mengikuti ceramah keagamaan yang memberikan penguatan spiritual. Setelah itu, suasana akan semakin hangat dengan acara kebersamaan, termasuk pembagian doorprize dan bingkisan.

Menariknya, meski vihara ini mampu menampung hingga 800 sampai 1.000 orang saat perayaan besar seperti Waisak, jumlah umat yang hadir pada malam Imlek biasanya berkisar 150 hingga 200 orang. Hal ini karena banyak keluarga yang memilih merayakan malam pergantian tahun bersama keluarga di rumah.

Namun justru di situlah keistimewaannya. Suasana menjadi lebih intim, lebih khusyuk, dan terasa lebih dekat.

Cap Go Meh Jadi Puncak Kemeriahan

Perayaan belum berhenti di malam Imlek. Pada hari ke-15 atau Cap Go Meh, suasana biasanya jauh lebih meriah. Selain ibadah, umat akan menikmati makan bersama dan pertunjukan barongsai yang menjadi daya tarik utama.

Cap Go Meh selalu menjadi agenda yang paling ditunggu. Selain mempererat silaturahmi, momen ini juga menghadirkan nuansa budaya yang kental dan penuh kegembiraan.

Komitmen Menjaga Tradisi dan Kekhusyukan

Ferry memastikan bahwa rangkaian perayaan tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Fokus utama tetap pada ibadah yang khidmat, kebersamaan, dan makna spiritual.

Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar serta membawa kedamaian bagi umat yang hadir.

Dengan berbagai persiapan yang telah dilakukan, Vihara Silaparamita Jakarta Timur siap menyambut Imlek 2026 dengan sederhana namun penuh makna. Lebih dari sekadar perayaan tahunan, Imlek menjadi momentum untuk memperbaiki diri, mempererat persaudaraan, dan memulai tahun baru dengan semangat yang lebih baik.

Bagi Anda yang merayakan, momen ini adalah waktu terbaik untuk kembali pada nilai kebersamaan dan rasa syukur. Selamat menyambut Tahun Baru Imlek 2026, semoga membawa kesehatan, keberuntungan, dan kedamaian bagi kita semua.

Konjen China Hadiri Perayaan Imlek di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Dorong Harmoni dan Hubungan Bilateral

Konjen China Hadiri Perayaan Imlek di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Dorong Harmoni dan Hubungan Bilateral
Konjen China Hadiri Perayaan Imlek di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Dorong Harmoni dan Hubungan Bilateral.

JAKARTA -- Perayaan Tahun Baru Imlek bertajuk “Imlek Vaganza Harmoni Nusantara” di Kelenteng Sam Poo Kong, Kota Semarang, Minggu (15/2), menjadi momentum penting diplomasi budaya.

Konsulat Jenderal (Konjen) China di Surabaya, Ye Su, turut hadir dan berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam perayaan yang dipadati ribuan pengunjung tersebut.

Kehadiran perwakilan resmi Pemerintah China dalam perayaan Imlek di salah satu ikon wisata religi dan sejarah Jawa Tengah itu dinilai bukan sekadar simbolis, tetapi juga mencerminkan eratnya hubungan masyarakat Indonesia dan Tiongkok melalui jalur budaya.

Imlek sebagai Simbol Toleransi dan Kebhinekaan

Dalam sambutannya, Ye Su menyoroti besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap perayaan Tahun Baru Imlek. Menurutnya, perayaan Imlek di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap tradisi Tionghoa yang telah menjadi bagian dari mozaik kebudayaan nasional.

Ia juga menegaskan bahwa Imlek kini telah diakui dan dirayakan pada level kenegaraan di Indonesia. Kondisi ini, kata dia, menjadi indikator kuatnya toleransi beragama dan penghormatan terhadap keberagaman budaya.

“Perayaan seperti ini bukan hanya tradisi komunitas, tetapi juga simbol harmoni dan kerja sama,” ujarnya.

Secara historis, Imlek sempat mengalami pembatasan pada masa lalu. Namun sejak era reformasi dan kebijakan pengakuan kembali hari besar keagamaan Tionghoa, perayaan Imlek berkembang menjadi agenda publik yang inklusif dan terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat. 

Di kota-kota seperti Semarang, Surabaya, dan Jakarta, perayaan Imlek bahkan menjadi daya tarik wisata budaya.

Diplomasi Budaya dan Layanan Konsuler Langsung

Tidak hanya menghadiri seremoni, Konjen China di Surabaya juga membuka layanan konsuler tatap muka bagi warga negara China maupun masyarakat yang membutuhkan pengurusan dokumen. Layanan ini meliputi perlindungan warga serta konsultasi administrasi.

Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk pendekatan langsung kepada komunitas dan penguatan fungsi perlindungan warga negara di wilayah kerja konsulat.

Selain itu, Ye Su membagikan suvenir seperti boneka, kaos, dan pin kepada pengunjung yang mampu menjawab pertanyaan seputar budaya Tionghoa. 

Momen yang paling menarik perhatian adalah ketika ia menulis langsung karakter “Fu” (福), huruf Tionghoa yang melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan berkah, untuk dibagikan kepada pengunjung.

Aksi tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan mempertegas nuansa budaya dalam kegiatan diplomatik yang dikemas secara humanis.

Peran Sam Poo Kong sebagai Pusat Akulturasi

Sebagai lokasi perayaan, Kelenteng Sam Poo Kong memiliki nilai historis yang kuat. Tempat ibadah ini dikenal sebagai simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang telah berlangsung berabad-abad. Kompleks ini juga menjadi destinasi wisata religi dan sejarah unggulan di Semarang.

Ketua Yayasan Sam Poo Kong, Mulyadi Setiakusuma, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Konjen China dalam perayaan tersebut. Ia menilai partisipasi tersebut sebagai bentuk kerja sama yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.

“Inilah bentuk kerja sama. Yang penting bukan dinilai dari jumlah atau mahalnya, tetapi dari niat baik untuk rakyat Indonesia,” ujarnya.

Pihak yayasan juga menggratiskan tiket masuk mulai pukul 18.00 WIB guna membuka akses lebih luas bagi masyarakat. 

Perayaan dimeriahkan oleh penampilan artis nasional seperti Krisdayanti serta atraksi barongsai dengan 1.000 lampu LED yang diklaim hanya tampil setahun sekali.

Dorongan CSR dan Dampak Ekonomi Lokal

Mulyadi juga mengajak perusahaan-perusahaan China yang beroperasi di kawasan industri Kendal dan Batang untuk berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bagi masyarakat Semarang.

Ajakan tersebut relevan mengingat pesatnya investasi China di Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir, terutama di sektor manufaktur dan infrastruktur. 

Keterlibatan perusahaan dalam program sosial dinilai dapat memperkuat penerimaan masyarakat terhadap investasi asing sekaligus memberikan manfaat langsung bagi warga.

Dari sisi ekonomi, perayaan Imlek di Sam Poo Kong juga berdampak pada sektor pariwisata dan UMKM lokal. 

Peningkatan kunjungan wisatawan mendorong perputaran ekonomi, mulai dari pedagang kuliner, perajin suvenir, hingga pelaku jasa transportasi.

Imlek dan Masa Depan Hubungan Indonesia–China

Kehadiran Konjen China dalam perayaan Imlek di Semarang memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan China tidak hanya bertumpu pada kerja sama ekonomi dan investasi, tetapi juga pada diplomasi budaya dan hubungan antarmasyarakat.

Di tengah dinamika geopolitik kawasan, penguatan hubungan melalui jalur budaya dinilai lebih cair dan efektif dalam membangun saling pengertian. 

Perayaan Imlek yang inklusif menjadi ruang dialog sosial yang mempertemukan pemerintah, komunitas Tionghoa, pelaku usaha, dan masyarakat umum.

Ke depan, perayaan seperti Imlek Vaganza Harmoni Nusantara berpotensi menjadi agenda tahunan berskala nasional yang tidak hanya memperkuat identitas kebhinekaan Indonesia, tetapi juga mempererat hubungan bilateral secara lebih seimbang.

Dengan memadukan unsur budaya, pelayanan publik, serta kolaborasi sosial, perayaan Imlek di Kelenteng Sam Poo Kong tahun ini menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi jembatan diplomasi—mendorong harmoni di dalam negeri sekaligus memperluas kerja sama lintas negara.

Minggu, 15 Februari 2026

Penjualan Ornamen Imlek di Batam Naik 50 Persen Jelang Tahun Baru Kongzili 2577

Penjualan Ornamen Imlek di Batam Naik 50 Persen Jelang Tahun Baru Kongzili 2577
Penjualan Ornamen Imlek di Batam Naik 50 Persen Jelang Tahun Baru Kongzili 2577.

BATAM -- Penjualan ornamen Imlek di Kota Batam, Kepulauan Riau, dilaporkan meningkat signifikan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari 2026. 

Sejumlah pedagang mengaku lonjakan pembelian mencapai hingga 50 persen, terutama dalam dua hari terakhir sebelum perayaan.

Pantauan di salah satu pusat perbelanjaan kawasan Batam Kota menunjukkan stan khusus ornamen Imlek ramai dipadati pembeli. 

Warga tampak memilih berbagai dekorasi bernuansa merah dan emas untuk menghiasi rumah, mulai dari lampion, angpau, gantungan simbol keberuntungan, hingga duilian atau stiker doa.

Lonjakan Penjualan Terjadi Sepekan Menjelang Imlek

Flora (25), salah satu penjual ornamen di lantai 1 pusat perbelanjaan tersebut, mengatakan peningkatan transaksi sudah terasa sejak sepekan sebelum Imlek. Namun, puncaknya terjadi pada H-2 perayaan.

“Seminggu menjelang Imlek sudah mulai ramai. Tapi semakin dekat harinya, semakin banyak yang berbelanja,” ujarnya.

Stan miliknya telah beroperasi sejak awal Februari 2026 dengan menawarkan sekitar 20 jenis ornamen. Harga yang dipatok cukup beragam, mulai dari Rp9.000 hingga Rp1 juta lebih untuk ornamen berukuran besar dan eksklusif.

Produk yang paling diminati tahun ini adalah lampion merah berlampu dengan tulisan “Fu” (福) yang melambangkan rezeki dan keberuntungan. Lampion berdiameter kurang dari satu meter tersebut dijual seharga Rp1,1 juta per pasang dan telah habis terjual sebanyak 20 kotak.

“Yang paling banyak dicari itu lampion yang ada lampunya. Sekarang stoknya sudah habis,” kata Flora.

Simbolisme Keberuntungan Jadi Daya Tarik

Menurut Flora, tingginya minat terhadap lampion berlampu tidak lepas dari keyakinan sebagian umat Khonghucu bahwa warna merah menyala melambangkan keberkahan dan perlindungan dari hal-hal negatif.

“Semakin merah rumah mereka, dipercaya semakin membawa berkah,” jelasnya.

Selain lampion, ornamen berbentuk nanas dan bawang putih juga banyak dicari. Dalam tradisi Tionghoa, nanas sering dikaitkan dengan simbol kemakmuran, sementara bawang putih melambangkan perlindungan dan kedamaian.

Duilian atau stiker doa berwarna merah dengan tulisan emas juga menjadi incaran pembeli. Biasanya ditempel di pintu atau dinding rumah sebagai harapan akan rezeki dan keberuntungan di tahun baru.

Menariknya, ornamen tahun ini juga dihiasi gambar shio kuda, yang merupakan simbol tahun 2577 Kongzili, serta ikan koi yang dikenal sebagai lambang kelimpahan dan kesuksesan.

Pusat Perbelanjaan Jadi Sentra Penjualan

Pedagang lain, Yenni, menyebutkan bahwa pusat perbelanjaan di Batam menjadi lokasi utama penjualan ornamen Imlek. Beberapa titik yang ramai di antaranya adalah One Batam Mall, BCS Mall, dan Nagoya Hill Shopping Mall.

Menurutnya, mayoritas pembeli berasal dari warga Batam. Namun, tidak sedikit juga pembeli dari luar daerah, bahkan dari Singapura, yang sengaja datang untuk berbelanja.

“Mayoritas warga Batam, tapi ada juga dari Singapura yang belanja di sini,” ujarnya.

Hal ini menunjukkan posisi Batam sebagai kawasan perdagangan strategis yang memiliki daya tarik lintas negara, khususnya menjelang perayaan besar seperti Imlek.

Diskon Hingga 40 Persen Dongkrak Daya Beli

Menjelang hari-H, sejumlah pedagang memberikan potongan harga hingga 40 persen untuk menarik pembeli. Salah satu contohnya adalah stiker doa rezeki atau Chaisan yang awalnya dijual Rp90 ribu, kini ditawarkan Rp38 ribu.

Strategi diskon ini dinilai efektif mendorong perputaran barang, terutama untuk stok yang tersisa menjelang pergantian tahun. Selain itu, momentum cuti bersama pada 16 Februari 2026 yang ditetapkan pemerintah turut meningkatkan aktivitas belanja masyarakat.

Libur panjang yang berdekatan dengan awal Ramadan juga membuat masyarakat memanfaatkan waktu untuk berbelanja sekaligus mempersiapkan kebutuhan rumah tangga.

Dampak Ekonomi Lokal dan Perputaran UMKM

Lonjakan penjualan ornamen Imlek di Batam memberikan dampak positif terhadap pelaku usaha musiman dan sektor ritel. Meskipun bersifat tahunan, perayaan Imlek terbukti menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal, terutama di kota dengan populasi Tionghoa yang cukup besar seperti Batam.

Peningkatan hingga 50 persen dalam waktu singkat menunjukkan tingginya daya beli masyarakat untuk kebutuhan simbolik dan tradisi budaya. Di sisi lain, persaingan antarpenjual juga semakin ketat, mengingat banyaknya stan musiman yang bermunculan.

Fenomena ini mencerminkan bagaimana perayaan keagamaan dan budaya memiliki kontribusi nyata terhadap perputaran ekonomi daerah, khususnya sektor perdagangan eceran.

Imlek 2577 dan Harapan di Tahun Baru

Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026, menjadi momentum penting bagi umat Khonghucu dan masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. Selain sebagai perayaan spiritual dan budaya, Imlek juga menjadi ajang mempererat hubungan keluarga serta memperkuat identitas tradisi.

Meningkatnya penjualan ornamen di Batam menjadi indikator bahwa semangat menyambut tahun baru tetap tinggi, meskipun dinamika ekonomi nasional dan global masih penuh tantangan.

Ke depan, tren belanja ornamen Imlek diperkirakan tetap stabil selama daya beli masyarakat terjaga dan pusat perbelanjaan mampu menghadirkan variasi produk yang relevan dengan kebutuhan budaya.

Dengan dukungan kebijakan cuti bersama dan aktivitas perdagangan lintas negara, Batam kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu episentrum perayaan Imlek di wilayah barat Indonesia.

900 Personel Gabungan Turun Tangan, Pengamanan Imlek 2577 dan Cap Go Meh 2026 di Singkawang Diperketat Jelang Ramadhan

900 Personel Gabungan Turun Tangan, Pengamanan Imlek 2577 dan Cap Go Meh 2026 di Singkawang Diperketat Jelang Ramadhan
900 Personel Gabungan Turun Tangan, Pengamanan Imlek 2577 dan Cap Go Meh 2026 di Singkawang Diperketat Jelang Ramadhan.

SINGKAWANG -- Suasana perayaan Tahun Baru Imlek 2577 dan Cap Go Meh 2026 di Kota Singkawang dipastikan berlangsung dengan pengamanan ekstra. Sebanyak 900 personel gabungan diterjunkan oleh Polres Singkawang bersama Polda Kalbar untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Kapolres Singkawang, Dody Yudianto Arruan, menegaskan bahwa peningkatan pengamanan dilakukan karena lonjakan aktivitas warga dan wisatawan yang datang ke Singkawang setiap musim Imlek dan Cap Go Meh. Tahun ini, situasinya semakin istimewa karena Cap Go Meh berdekatan dengan awal bulan suci Ramadhan 2026.

“Kondisi ini menuntut kesiapan maksimal dari seluruh aparat. Kami ingin memastikan seluruh rangkaian perayaan berjalan aman, tertib, dan tetap kondusif,” ujarnya.

900 Personel Disiagakan di Titik Strategis

Dari total 900 personel yang dikerahkan, 150 anggota berasal dari Polres Singkawang, sementara sisanya merupakan bantuan kendali operasi dari Polda Kalbar serta dukungan unsur TNI, Pemerintah Kota Singkawang, Jasa Raharja, dan berbagai organisasi kemasyarakatan.

Pengamanan difokuskan pada lokasi kegiatan budaya, vihara dan tempat ibadah, pusat keramaian, jalur lalu lintas utama, hingga objek vital lainnya. Petugas juga akan melakukan patroli rutin serta pengaturan lalu lintas di titik-titik rawan kemacetan.

Pendekatan yang digunakan bukan semata-mata represif, melainkan humanis. Artinya, aparat hadir bukan untuk membatasi, tetapi untuk memastikan masyarakat dapat merayakan momen penting ini dengan rasa aman dan nyaman.

Jaga Toleransi, Jangan Terprovokasi

Kapolres juga mengajak masyarakat untuk memperkuat persatuan, mengingat perayaan Imlek dan Ramadhan berlangsung dalam waktu yang berdekatan. Ia menegaskan pentingnya menjaga harmoni antarumat beragama di Kota Singkawang.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi, terutama oleh isu-isu bernuansa SARA yang beredar di media sosial,” tegasnya.

Untuk mencegah penyebaran informasi yang berpotensi memecah belah, kepolisian juga meningkatkan patroli siber guna memantau perkembangan isu di dunia maya.

Singkawang, Kota Toleran yang Harus Dijaga Bersama

Singkawang selama ini dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. Citra positif tersebut, menurut Kapolres, adalah tanggung jawab bersama yang harus terus dirawat.

Momentum Imlek 2577, Cap Go Meh 2026, dan datangnya Ramadhan seharusnya menjadi ajang memperkuat persaudaraan, bukan sebaliknya. Dengan sinergi aparat keamanan dan dukungan penuh masyarakat, perayaan budaya dan keagamaan di Singkawang diharapkan berlangsung damai, tertib, dan penuh kebersamaan.

Mari bersama menjaga suasana tetap sejuk. Karena keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi juga tanggung jawab kita semua.

Haru Sambut Imlek 2577, Perkumpulan Hakka Indonesia Singkawang Bagikan 5.000 Paket untuk Warga Tionghoa

Penyerahan paket Imlek di Sekretariat Perhakin Singkawang. ANTARA/Narwati
Penyerahan paket Imlek di Sekretariat Perhakin Singkawang. ANTARA/Narwati

SINGKAWANG -- Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Kota Singkawang terasa lebih hangat tahun ini. Sebanyak 5.000 paket Imlek disalurkan oleh Perkumpulan Hakka Indonesia (Perhakin) Kota Singkawang kepada warga Tionghoa, sebagai bentuk kepedulian sosial dan semangat berbagi menjelang hari besar tersebut.

Ketua Perhakin Singkawang, Tjhai Chui Mie, menjelaskan bahwa pembagian bantuan dilakukan selama dua hari, Jumat hingga Sabtu (13–14/2). Langkah ini diambil agar distribusi paket bisa menjangkau masyarakat secara merata di berbagai wilayah.

“Kami menyiapkan total 5.000 paket Imlek. Harapannya, seluruh masyarakat Tionghoa di Singkawang bisa merayakan Imlek dengan penuh kebahagiaan,” ujarnya.

Distribusi Dilakukan Bertahap di Berbagai Lokasi

Pada hari pertama, paket dibagikan di Sekretariat Perhakin Singkawang, kawasan Kaliasin, serta Posyandu di Kelurahan Roban. Sementara di hari kedua, penyaluran dilanjutkan ke wilayah Singkawang Utara dan Singkawang Tengah.

Pola distribusi bertahap ini bukan tanpa alasan. Selain untuk menghindari penumpukan warga, cara ini juga memastikan bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Isi Paket dan Makna Tradisi

Setiap paket Imlek berisi minuman, kue keranjang, dan roti—makanan yang identik dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Kue keranjang, misalnya, melambangkan harapan akan kehidupan yang lebih manis dan rezeki yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Bagi banyak keluarga, bantuan ini bukan sekadar paket sembako. Lebih dari itu, ini adalah simbol kebersamaan dan perhatian di momen yang penuh makna.

Dukungan Donatur dari Dalam dan Luar Negeri

Kegiatan sosial ini dapat terlaksana berkat dukungan para donatur dari berbagai daerah, seperti Jakarta dan Surabaya, bahkan hingga luar negeri seperti Singapura. Kolaborasi lintas daerah ini menunjukkan bahwa semangat berbagi tidak mengenal batas wilayah.

Tak hanya mendukung pembagian paket Imlek, sejumlah donatur juga berkontribusi pada program sosial lainnya, termasuk penimbunan tanah untuk mendukung kegiatan penanaman pohon di Kota Singkawang.

Harapan dan Doa untuk Kebaikan Bersama

Perhakin Singkawang menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh donatur yang telah berpartisipasi. Berkat dukungan tersebut, ribuan warga dapat merasakan manfaat langsung menjelang perayaan Imlek.

Momen ini menjadi pengingat bahwa perayaan bukan hanya tentang kemeriahan, tetapi juga tentang berbagi dan mempererat rasa persaudaraan. Semoga semangat kepedulian ini terus tumbuh, sehingga setiap perayaan di Singkawang selalu diwarnai dengan kebahagiaan dan kebersamaan.

Editor: Heri Yakop | Sumber: Antara/Narwati

Cak Imin dan DPP PKB Rayakan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara Jakarta Barat

Cak Imin dan DPP PKB Rayakan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara Jakarta Barat
Cak Imin dan DPP PKB Rayakan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara Jakarta Barat.

JAKARTA -- Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) Abdul Muhaimin Iskandar menghadiri perayaan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara, Jakarta Barat, Minggu. 

Kehadiran Cak Imin sapaan akrabnya bersama jajaran elite PKB menjadi simbol komitmen partai dalam merawat kebhinekaan dan memperkuat dialog lintas agama di Indonesia.

Dalam keterangannya kepada media usai acara, Cak Imin menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya karena PKB dapat merayakan Imlek secara langsung di vihara. 

Ia berharap Tahun Baru Imlek membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Pesan Moral di Tahun Kuda Api

Perayaan Imlek 2577 Kongzili yang bertepatan dengan Tahun Kuda Api dimaknai Cak Imin sebagai momentum untuk memperkuat keberanian dan ketangguhan, namun tetap berpijak pada moralitas dan nilai kemanusiaan.

Menurutnya, semangat keberanian harus diiringi dengan kepedulian sosial. “Keberanian maupun ketangguhan harus diikuti dengan semangat moral yang tinggi dan kepedulian, serta kemanusiaan. Itu semua mewujudkan komitmen kita membela yang paling lemah,” ujarnya.

Pesan tersebut selaras dengan karakter PKB yang selama ini menempatkan isu keadilan sosial dan perlindungan kelompok rentan sebagai agenda politik utama. 

Dalam konteks nasional, pernyataan ini dapat dibaca sebagai upaya menegaskan posisi partai di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang masih menghadirkan tantangan bagi masyarakat bawah.

Makna Kehadiran PKB dalam Perayaan Imlek

Kehadiran jajaran DPP PKB dalam perayaan Imlek di vihara memiliki makna simbolik yang kuat. Sebagai partai yang lahir dari tradisi Nahdlatul Ulama, PKB selama ini dikenal berbasis pada komunitas Muslim. 

Partisipasi dalam perayaan keagamaan umat Buddha dan Tionghoa memperlihatkan komitmen terhadap prinsip toleransi dan inklusivitas.

Turut hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh PKB, antara lain Faisol Riza, Rusdi Kirana, Daniel Johan, serta Abdul Halim Iskandar. 

Kehadiran kolektif elite partai menunjukkan bahwa partisipasi ini bukan sekadar simbol personal, melainkan bagian dari sikap kelembagaan.

Di sisi lain, langkah tersebut juga mencerminkan dinamika politik Indonesia yang semakin menempatkan pluralisme sebagai fondasi penting dalam membangun stabilitas sosial. 

Dalam beberapa tahun terakhir, narasi moderasi beragama dan persatuan nasional terus digaungkan pemerintah maupun partai politik.

Sambutan Maha Bhiksu dan Harapan untuk Bangsa

Maha Bhiksu Dutavira Sthavira menyampaikan apresiasi atas kehadiran Cak Imin dan jajaran DPP PKB. Ia berharap Tahun Kuda Api membawa semangat kemajuan bagi bangsa dan negara.

“Semoga semua rakyat hidupnya bisa lebih sejahtera dan mampu menghadapi tantangan hidup yang tidak mudah ini,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perayaan Imlek tidak semata-mata ritual budaya atau keagamaan, tetapi juga momentum refleksi kolektif atas kondisi sosial-ekonomi nasional. 

Di tengah tekanan global, fluktuasi harga kebutuhan pokok, serta tantangan lapangan kerja, harapan akan stabilitas dan kesejahteraan menjadi aspirasi lintas komunitas.

Imlek dan Politik Kebangsaan

Secara historis, perayaan Imlek di Indonesia mengalami dinamika panjang, terutama pada masa pembatasan ekspresi budaya Tionghoa di era Orde Baru. Sejak reformasi dan ditetapkannya Imlek sebagai hari libur nasional, perayaan ini menjadi bagian dari kalender resmi kenegaraan.

Kehadiran tokoh politik dalam perayaan Imlek kini dipandang sebagai wujud pengakuan negara terhadap keberagaman budaya dan agama. Dalam perspektif politik kebangsaan, momen ini juga menjadi ruang membangun komunikasi dengan komunitas Tionghoa dan umat Buddha yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.

Analis politik dari sejumlah lembaga kajian menilai, pendekatan inklusif semacam ini berkontribusi pada stabilitas sosial. Dialog lintas agama yang dilakukan secara terbuka dapat meredam potensi polarisasi dan memperkuat kohesi nasional.

Implikasi ke Depan

Perayaan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara yang dihadiri Cak Imin dan jajaran DPP PKB memperlihatkan pentingnya simbol persatuan dalam praktik politik Indonesia. Di tengah dinamika demokrasi yang kerap diwarnai kompetisi keras, pesan moral tentang keberanian, ketangguhan, dan kepedulian menjadi relevan untuk terus digaungkan.

Bagi masyarakat, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa nilai toleransi bukan sekadar slogan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam ruang-ruang politik. Tahun Kuda Api, sebagaimana disampaikan dalam sambutan, diharapkan membawa energi pembaruan dan semangat membangun kesejahteraan bersama.

Ke depan, konsistensi sikap inklusif dari para pemimpin politik akan menjadi kunci dalam menjaga harmoni sosial. Perayaan Imlek yang dirayakan bersama lintas komunitas menunjukkan bahwa keberagaman Indonesia dapat menjadi kekuatan, bukan perbedaan yang memecah belah.

Sabtu, 14 Februari 2026

Menbud Fadli Zon: Imlek Nasional Cerminkan Akulturasi Budaya dan Harmoni Nusantara

Menbud Fadli Zon: Imlek Nasional Cerminkan Akulturasi Budaya dan Harmoni Nusantara
Menbud Fadli Zon.

JAKARTA -- Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa perayaan Imlek Nasional di Indonesia bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan representasi nyata akulturasi budaya yang telah berlangsung panjang dalam sejarah bangsa. 

Pernyataan itu disampaikan saat ia menghadiri agenda terkait perayaan Imlek di Jakarta, sekaligus mengungkap keterlibatannya sebagai penasihat dalam kepanitiaan Imlek Nasional tahun ini.

Menurut Fadli, Imlek merupakan peristiwa budaya yang menunjukkan keterbukaan Indonesia terhadap berbagai pengaruh global. 

Fadli menilai perayaan tersebut menjadi simbol bagaimana unsur budaya Tionghoa berinteraksi, beradaptasi, dan menyatu dengan budaya lokal di Nusantara.

“Imlek adalah salah satu perayaan yang merupakan juga peristiwa budaya. Ini menggambarkan akulturasi budaya kita yang sangat terbuka dan sudah panjang,” ujar Fadli.

Imlek sebagai Cermin Sejarah Pertukaran Budaya

Pernyataan Menbud tersebut mempertegas posisi Indonesia sebagai ruang pertemuan peradaban. Sejak masa perdagangan maritim kuno, wilayah Nusantara telah menjadi titik singgung budaya dari Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Eropa. Interaksi tersebut melahirkan proses akulturasi yang membentuk identitas kebudayaan Indonesia modern.

Fadli menyebut pengaruh budaya Tionghoa sebagai salah satu elemen penting dalam mosaik kebudayaan nasional. Jejaknya terlihat dalam kuliner, arsitektur, bahasa, kesenian, hingga tradisi perayaan seperti Tahun Baru Imlek yang kini dirayakan secara terbuka dan inklusif.

Dalam konteks kebijakan kebudayaan, pendekatan ini sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menempatkan keberagaman sebagai fondasi persatuan. Imlek Nasional, menurutnya, bukan hanya perayaan komunitas tertentu, melainkan bagian dari warisan budaya yang memperkaya identitas Indonesia.

Imlek Festival 2026 di Lapangan Banteng

Pemerintah berencana menyelenggarakan Imlek Festival secara perdana pada 17 Februari–3 Maret 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta. Mengusung tema “Harmoni Nusantara”, festival ini dirancang sebagai perayaan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

Rangkaian acara mencakup Festival Lentera di berbagai kota, festival pasar kuliner dengan sajian makanan hasil akulturasi, pertunjukan seni dan kreatif, hingga museum terbuka yang menampilkan sejarah akulturasi budaya Tionghoa di Indonesia. Parade Imlek Nusantara juga akan digelar dengan penampilan barongsai serta atraksi budaya lainnya.

Puncak perayaan akan menampilkan atlet nasional dari cabang silat dan wushu, sebagai simbol pertemuan tradisi lokal dan warisan budaya Tionghoa yang telah berkembang di Indonesia.

Dengan konsep inklusif, Imlek Festival 2026 diharapkan menjadi ruang dialog budaya yang memperkuat toleransi antarumat beragama sekaligus meningkatkan partisipasi publik dalam kegiatan seni dan budaya.

Aktivasi Nasional di Berbagai Kota

Selain di Jakarta, Imlek Festival 2026 akan dirayakan melalui aktivasi di sejumlah kota seperti Singkawang, Palembang, Solo, Semarang, Manado, Makassar, Surabaya, Medan, Bogor, Batam, dan Pontianak.

Singkawang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat perayaan Imlek dan Cap Go Meh terbesar di Indonesia. Sementara kota-kota lain memiliki kekhasan ekspresi budaya Imlek yang telah berakulturasi dengan tradisi setempat.

Pendekatan desentralisasi ini dinilai penting untuk memastikan perayaan tidak terpusat di ibu kota semata, melainkan mencerminkan keberagaman praktik budaya di berbagai daerah. Model ini juga membuka peluang penguatan ekonomi kreatif lokal, mulai dari UMKM kuliner, pengrajin dekorasi, hingga pelaku seni pertunjukan.

Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Masyarakat

Secara sosial, perayaan Imlek Nasional yang terbuka bagi publik berpotensi memperkuat kohesi sosial. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, ruang-ruang interaksi lintas budaya menjadi instrumen penting untuk merawat toleransi.

Secara ekonomi, festival berskala nasional dapat mendorong perputaran ekonomi di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pengalaman sejumlah kota menunjukkan bahwa perayaan budaya mampu meningkatkan okupansi hotel, kunjungan wisata, serta penjualan produk UMKM.

Pengamat kebudayaan menilai kebijakan ini sejalan dengan arah pembangunan berbasis kebudayaan yang menempatkan tradisi sebagai aset strategis, bukan sekadar simbol. Dengan pengelolaan yang profesional dan berkelanjutan, Imlek Festival berpotensi menjadi agenda budaya tahunan yang memperkuat citra Indonesia sebagai negara multikultural.

Implikasi Kebijakan Kebudayaan ke Depan

Pernyataan Menbud Fadli Zon mengenai akulturasi budaya menegaskan paradigma kebudayaan yang inklusif. Pemerintah tampaknya ingin menempatkan perayaan Imlek sebagai bagian integral dari kebudayaan nasional, bukan hanya identitas etnis tertentu.

Ke depan, konsistensi kebijakan menjadi kunci. Perayaan lintas budaya perlu diimbangi dengan edukasi publik mengenai sejarah akulturasi, sehingga masyarakat memahami bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan fondasi kebangsaan.

Jika dikelola secara berkesinambungan, Imlek Nasional dapat menjadi model penguatan diplomasi budaya dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis tradisi. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa Indonesia tumbuh dari perjumpaan berbagai budaya dan justru di sanalah letak kekuatannya.

Dengan semangat Harmoni Nusantara, perayaan Imlek Nasional 2026 diharapkan tidak hanya menjadi pesta budaya, tetapi juga momentum memperkuat identitas Indonesia sebagai bangsa yang inklusif, toleran, dan kaya akan warisan akulturasi.