Revitalisasi Plasma Nutfah Lokal Jadi Strategi Ketahanan Pangan HSU
![]() |
| Pemkab HSU fokus revitalisasi itik alabio dan konservasi kerbau rawa melalui sistem pertanian terintegrasi untuk menjaga populasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. |
Amuntai — Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, kini makin serius mengembangkan potensi lokal lewat revitalisasi itik alabio dan konservasi kerbau rawa berbasis sistem pertanian terintegrasi di lahan rawa.
Langkah ini dinilai strategis untuk menjaga populasi plasma nutfah lokal sekaligus meningkatkan hasil ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor peternakan dan pertanian rawa.
Wakil Bupati HSU Hero Setiawan menegaskan bahwa pengembangan Sistem Pertanian Terintegrasi (Sitani) menjadi salah satu prioritas daerah dalam mendukung kesejahteraan warga.
"Kami ingin sistem pertanian terintegrasi benar-benar terwujud dan memberikan manfaat ekonomi nyata bagi seluruh warga HSU," ujar Hero Setiawan di Amuntai, Senin.
Perlindungan Plasma Nutfah Jadi Prioritas
Revitalisasi itik alabio dan konservasi kerbau rawa tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada perlindungan plasma nutfah lokal yang menjadi identitas daerah.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah memperkuat kawasan konservasi perairan dengan pola pemeliharaan kerbau rawa serta pengembangbiakan itik alabio secara terintegrasi di lahan rawa.
Model ini dinilai cocok dengan karakter wilayah HSU yang didominasi lahan basah dan rawa, sehingga dapat mengoptimalkan sumber daya alam tanpa merusak lingkungan.
Pendekatan ini juga sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan yang menekankan keseimbangan antara produksi pangan dan pelestarian ekosistem.
Kolaborasi Akademisi Dan Peneliti Internasional
Upaya pengembangan sistem pertanian terintegrasi di HSU tidak dilakukan sendirian. Pemerintah daerah menggandeng berbagai pihak, mulai dari akademisi hingga peneliti internasional.
Hero Setiawan menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Pertanian Terintegrasi di Kota Amuntai yang melibatkan akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Lambung Mangkurat (ULM), hingga peneliti internasional asal Wageningen University & Research Belanda, Siep Missaar.
Menurut Hero, kolaborasi ini sangat penting untuk memastikan bahwa pengembangan sektor pertanian di HSU berbasis riset ilmiah dan praktik terbaik.
"Sinergi ini mempertegas arah pembangunan kita dalam mengembangkan sistem pertanian terintegrasi yang berkelanjutan bagi masyarakat," jelasnya.
Penelitian Fokus Pada Sistem Pertanian Terpadu
Pendamping akademik dari Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian ULM, Prof Ika Sumantri, menyebutkan bahwa pihaknya berperan dalam memastikan penelitian yang dilakukan memiliki standar internasional namun tetap relevan dengan kondisi lokal.
Penelitian yang dilakukan oleh Siep Missaar menitikberatkan pada peran penting sektor peternakan dalam sistem pertanian terpadu di wilayah rawa.
Menurutnya, pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
"Hasil penelitian ini diharapkan mendorong implementasi inovasi pertanian di HSU yang mampu menopang logistik pangan di Kalimantan Selatan," jelas Prof Ika Sumantri.
Menuju Pusat Agro-Minapolitan Unggul
Pengembangan sistem pertanian terintegrasi berbasis itik alabio dan kerbau rawa juga menjadi bagian dari visi besar Pemerintah Kabupaten HSU untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat agro-minapolitan unggul di Kalimantan Selatan.
Dengan memanfaatkan potensi lokal secara maksimal, pemerintah optimistis sektor pertanian dan peternakan akan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain itu, pendekatan berbasis potensi lokal dinilai mampu menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan masyarakat di kawasan rawa.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya menjaga keberlanjutan sumber daya alam agar tetap produktif untuk generasi mendatang.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apa itu sistem pertanian terintegrasi (Sitani)?
Sistem pertanian terintegrasi adalah model pengelolaan pertanian yang menggabungkan beberapa sektor seperti peternakan, perikanan, dan pertanian dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
2. Mengapa itik alabio penting bagi HSU?
Itik alabio merupakan plasma nutfah khas Hulu Sungai Utara yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi identitas peternakan lokal.
3. Apa tujuan konservasi kerbau rawa di HSU?
Konservasi bertujuan menjaga populasi kerbau rawa, melestarikan plasma nutfah lokal, serta meningkatkan produktivitas peternakan di lahan rawa.
4. Siapa saja yang terlibat dalam pengembangan pertanian terintegrasi di HSU?
Program ini melibatkan pemerintah daerah, akademisi dari UGM dan ULM, serta peneliti internasional dari Wageningen University & Research Belanda.
5. Bagaimana dampak program ini bagi masyarakat?
Program ini diharapkan meningkatkan pendapatan masyarakat, menjaga ketahanan pangan, dan menciptakan peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal.
