Berita BorneoTribun: Muhmajadi hari ini
iklan banner
iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Muhmajadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhmajadi. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 April 2026

Perjuangan 24 Tahun Muhmajadi, Dari Gagal Panen Hingga Kuasai Pasar IKN

Muhmajadi bangkit dari wabah KHP dan sukses mengembangkan ikan nila di Loa Kulu. Kini produksi tembus 10 ton per bulan dan siap menopang kebutuhan pangan IKN.
Muhmajadi bangkit dari wabah KHP dan sukses mengembangkan ikan nila di Loa Kulu. Kini produksi tembus 10 ton per bulan dan siap menopang kebutuhan pangan IKN.

Kutai Kartanegara - Pijakan kaki terasa bergoyang pelan mengikuti irama arus Sungai Mahakam saat melangkah meniti susunan ulin yang membingkai puluhan petak keramba jaring apung di Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Suasana di atas keramba terasa hidup. Dari bawah permukaan air, suara kecipak riuh terdengar bersahutan saat ribuan ikan nila menyambar pakan yang ditebar. Di sinilah Muhmajadi berdiri, seorang pembudidaya ikan yang sudah menekuni usaha ini selama 24 tahun.

"Nila-nila ini telah mengangkat ekonomi keluarga kami, meskipun perjalanan untuk mencapai posisi saat ini tidak mudah," ujar Muhmajadi sambil tersenyum.

Luka Lama Wabah KHP yang Tak Terlupakan

Tahun 2005 menjadi masa paling berat bagi para pembudidaya ikan di Loa Kulu. Saat itu, wabah Koi Herpes Virus (KHP) menyapu habis budidaya ikan mas di sepanjang Sungai Mahakam.

Bangkai ikan mengambang di permukaan sungai. Modal, tenaga, dan harapan para pembudidaya seakan hilang dalam hitungan minggu.

Muhmajadi yang mulai membudidayakan ikan mas sejak 2002 ikut merasakan dampak besar. Usahanya nyaris runtuh, dan banyak rekan sesama pembudidaya harus gulung tikar.

Namun, menyerah bukan pilihan baginya.

Ia bersama anggota Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Gawi Baimbai Sejahtera memutuskan untuk mengubah strategi. Komoditas utama digeser dari ikan mas ke ikan nila yang dikenal lebih tahan terhadap penyakit.

Keputusan itu terbukti menjadi titik balik.

Panen Nila Hingga Satu Ton Setiap Bulan

Kini, dari 36 petak keramba jaring apung miliknya yang dialiri arus Sungai Mahakam, Muhmajadi mampu memanen hingga satu ton ikan nila setiap bulan.

Dalam satu kelompok pembudidaya saja, produksi nila bahkan bisa mencapai lebih dari 10 ton per bulan.

Kampung Perikanan Budidaya Loa Kulu saat ini memiliki sekitar 40 kelompok pembudidaya ikan yang terbagi dalam berbagai spesialisasi, mulai dari pembibitan hingga penggemukan ikan.

Tak heran jika ikan nila dari wilayah ini menjadi salah satu komoditas unggulan untuk memenuhi kebutuhan pasar di Kalimantan Timur.

Belajar Budidaya Modern Hingga Ke Kampus

Keseriusan meningkatkan kualitas budidaya membuat pemerintah daerah mengirim Muhmajadi bersama delapan pembudidaya lainnya untuk mengikuti pendidikan intensif di Sekolah Perikanan Rakyat (SPR) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2025.

Selama tujuh bulan, mereka mendapatkan pembelajaran menyeluruh mulai dari teknik budidaya modern, penanganan penyakit secara ilmiah, hingga manajemen bisnis berbasis kelompok.

Pengalaman tersebut menjadi lompatan besar, terutama bagi pembudidaya tradisional yang sebelumnya hanya mengandalkan pengalaman lapangan.

Kini, ilmu yang didapat tidak hanya diterapkan pada keramba miliknya, tetapi juga dibagikan kepada kelompok pembudidaya lain di wilayah sekitar.

Dampingi BUMDes Hingga Panen Perdana

Sebagai kelompok percontohan, Pokdakan Gawi Baimbai Sejahtera aktif memberikan pendampingan kepada masyarakat lain.

Salah satu hasil nyata terlihat pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sungai Payang yang berhasil melakukan panen perdana ikan patin setelah mendapat pendampingan teknis dan manajerial selama enam bulan.

Dalam praktik budidaya sehari-hari, Muhmajadi juga menerapkan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Ia memilih menggunakan ramuan herbal sebagai alternatif obat kimia untuk menjaga kesehatan ikan dan kelestarian lingkungan.

Langkah ini dinilai lebih ramah ekosistem dalam jangka panjang.

IKN Jadi Peluang Pasar Baru

Perpindahan pusat pemerintahan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa peluang baru bagi para pembudidaya ikan di Loa Kulu.

Masuknya ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pendatang membuka pasar baru yang sangat potensial.

Muhmajadi dan jaringan pembudidaya lainnya mulai memanfaatkan peluang tersebut dengan rutin memasok sekitar satu ton ikan nila setiap bulan ke sejumlah kolam pancing di wilayah Sepaku.

Ke depan, kebutuhan pasar di kawasan IKN diperkirakan mencapai sekitar 12 ton ikan per bulan.

Para pembudidaya kini menunggu terbentuknya kerja sama resmi dengan pihak Otorita IKN untuk memperluas distribusi.

Loa Kulu Jadi Benteng Ketahanan Pangan

Apa yang terjadi di sepanjang Sungai Mahakam bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang ketahanan pangan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, menilai pengembangan Kampung Budidaya Ikan Nila di Loa Kulu memiliki peran strategis dalam mencukupi kebutuhan protein hewani di wilayah Kalimantan Timur.

Data menunjukkan Kabupaten Kutai Kartanegara menguasai sekitar 79 persen dari total produksi perikanan budidaya di Kalimantan Timur, dengan produksi mencapai 126.139 ton per tahun.

Kecamatan Loa Kulu sendiri menyumbang sekitar 10.229 ton per tahun.

Keberhasilan ini bahkan diakui secara nasional. Melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 111 Tahun 2023, Loa Kulu resmi ditetapkan sebagai Kampung Perikanan Budidaya Komoditi Nila.

Saat ini terdapat sekitar 11.582 kotak keramba di sepanjang aliran Sungai Mahakam yang menjadi sumber utama produksi ikan nila.

Selain keramba, pemerintah juga mengembangkan lahan budidaya kolam air tenang seluas 244,70 hektare untuk mendukung peningkatan produksi.

Tantangan Pakan dan Perubahan Iklim

Meski menunjukkan perkembangan positif, sektor budidaya ikan tetap menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satu yang paling dirasakan pembudidaya adalah kenaikan harga pakan komersial yang terus meningkat dan menggerus keuntungan.

Selain itu, perubahan iklim juga menjadi ancaman serius. Kemarau panjang maupun banjir musiman kerap memengaruhi kualitas air dan memicu kematian ikan dalam jumlah besar.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mulai mendorong penggunaan teknologi tepat guna, termasuk sistem pemantauan kualitas air dan peningkatan standar budidaya.

Pendampingan juga terus dilakukan agar seluruh unit usaha di Loa Kulu dapat mengantongi sertifikat CBIB.

Langkah ini penting agar produk ikan nila dari Loa Kulu memiliki daya saing tinggi di pasar nasional.

Harapan Baru Bagi Ribuan Keluarga

Lebih dari sekadar angka produksi, sektor perikanan budidaya di Loa Kulu menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 1.000 rumah tangga.

Keramba-keramba di sepanjang Sungai Mahakam bukan hanya tempat membesarkan ikan, tetapi juga simbol ketekunan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Bagi Muhmajadi, merawat ikan di Sungai Mahakam bukan sekadar profesi.

Ini adalah upaya menjaga masa depan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi generasi berikutnya, terutama di tengah tumbuhnya kawasan Ibu Kota Nusantara.

FAQ

1. Di mana lokasi Kampung Perikanan Nila Loa Kulu?
Terletak di Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

2. Berapa produksi ikan nila di Loa Kulu?
Satu kelompok pembudidaya dapat menghasilkan lebih dari 10 ton ikan nila per bulan.

3. Apa tantangan utama pembudidaya ikan di Loa Kulu?
Kenaikan harga pakan dan perubahan iklim yang mempengaruhi kualitas air.

4. Mengapa ikan nila dipilih sebagai komoditas utama?
Karena ikan nila memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap penyakit dibanding ikan mas.

5. Apa peluang pasar terbesar bagi ikan nila Loa Kulu?
Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diperkirakan membutuhkan sekitar 12 ton ikan per bulan.