Kunci Asal-usul Bumi: Teleskop James Webb Tunjukkan Foto Spektakuler Taman Langit Tumanah Bidadari
![]() |
| Foto Nebula Kupu-Kupu NGC 6302 dari teleskop James Webb menampilkan sayap bercahaya gas panas yang membentang di angkasa. |
JAKARTA - Teleskop antariksa James Webb (JWST) kembali mencetak sejarah. Kali ini, teleskop paling canggih milik NASA itu berhasil mengabadikan pemandangan luar biasa dari Taman Langit Tumanah Bidadari atau dikenal sebagai Nebula Kupu-Kupu (NGC 6302). Objek kosmik ini berada di rasi bintang Scorpius, sekitar 3.400 tahun cahaya dari Bumi. Foto terbaru yang dirilis ilmuwan pada akhir Agustus 2025 ini menjadi kunci penting dalam memahami proses kematian bintang dan asal mula material pembentuk planet, termasuk Bumi.
Berbeda dengan hasil tangkapan teleskop Hubble sebelumnya, James Webb mampu menyingkap detail lebih dalam dari nebula ini. Untuk pertama kalinya, para astronom bisa melihat jelas bintang kerdil putih super panas yang berada di pusatnya. Bintang tersebut adalah sisa dari bintang mirip Matahari yang tengah berada di fase akhir kehidupannya. Saat sekarat, bintang itu melepaskan lapisan luarnya ke angkasa, membentuk dua sayap gas panas yang menyerupai kupu-kupu bercahaya. Tak hanya itu, James Webb juga menangkap piringan debu berbentuk donat yang mengelilingi inti nebula, serta semburan energi ganda yang melesat ke ruang antarbintang.
“Ini adalah lompatan besar dalam memahami bagaimana material dasar planet seperti Bumi terbentuk dan tersebar di galaksi,” ujar astrofisikawan Mikako Matsuura dari Cardiff University, Inggris, yang memimpin penelitian tersebut. Menurutnya, data dari Webb memperlihatkan betapa kompleksnya “alkimia kosmik” yang terjadi ketika bintang memasuki masa kematiannya. Hasil pengamatan ini diterbitkan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.
Studi tersebut juga membeberkan kandungan kimiawi di dalam Nebula Kupu-Kupu. Di sana, ilmuwan menemukan molekul kuarsa, besi, nikel, hingga karbon dalam bentuk senyawa organik yang disebut hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Menariknya, senyawa organik inilah yang diyakini bisa menjadi bahan awal pembentukan planet berbatu seperti Bumi. “Apa yang kita lihat di nebula ini mungkin adalah bahan mentah dari dunia baru yang suatu hari bisa menyerupai planet kita,” kata Matsuura.
Temuan ini dianggap sangat penting karena bisa membantu menjawab misteri lama: bagaimana elemen-elemen pembentuk kehidupan sampai ke Bumi miliaran tahun lalu. Dengan teknologi Webb, para astronom kini bisa menelusuri lebih jauh bagaimana bintang yang sekarat menyumbangkan “debu kehidupan” ke ruang kosmik. Penelitian lanjutan diperkirakan akan fokus pada pemetaan distribusi senyawa organik di nebula, yang berpotensi membuka wawasan baru soal kemungkinan adanya planet serupa Bumi di sistem bintang lain.
