Pontianak - Sebanyak 198 perempuan dari 20 desa di Kabupaten Kubu Raya mengikuti Wisuda Akademi Paradigta Tahun 2026 yang mengusung tema “Perempuan Hebat Desa Berdaulat”, di Aula Kantor Bupati Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu.
"Wisuda ini menjadi puncak rangkaian program pemberdayaan perempuan desa melalui Akademi Paradigta, yang bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan dalam berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan pembangunan desa," kata Ketua Komite Nasional Pendidikan Akademi Paradigta Indonesia, Nani Zulminarni, di Sungai Raya, Rabu.
Ia menambahkan, para peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan meliputi penguatan kepemimpinan, kewirausahaan, komunikasi publik, hingga peningkatan kepercayaan diri. Akademi Paradigta dirancang sebagai ruang belajar strategis bagi perempuan desa untuk memperkuat peran dan kapasitas diri.
"Akademi Paradigta tidak hanya berbicara tentang peningkatan ekonomi, tetapi juga membangun kepemimpinan, keterampilan, serta kepercayaan diri perempuan agar mampu berperan aktif dalam kehidupan sosial dan pembangunan desa," katanya.
Nani menambahkan, melalui pendidikan yang berkelanjutan, perempuan desa diharapkan mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.
Sementara itu, Bupati Kubu Raya Sujiwo, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi jangka panjang bagi kemajuan daerah, terutama dalam pembangunan sumber daya manusia.
"Ketika kita mengurus perempuan, sejatinya kita sedang memperkokoh tiang negara. Perempuan adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anak kita," kata Sujiwo.
Menurutnya, perempuan memiliki peran sentral dalam mengawal program pemerintah dan mempercepat pembangunan, khususnya di tingkat desa. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya berkomitmen memberikan dukungan nyata terhadap keberlanjutan Akademi Paradigta, baik dari sisi kebijakan maupun anggaran.
Sujiwo bahkan meminta agar alokasi anggaran untuk kegiatan Akademi Paradigta ditingkatkan pada perubahan atau penyempurnaan APBD 2026.
"Saya minta dukungan anggaran ditambah hingga Rp100 juta agar para mentor dapat bekerja lebih optimal. Ini bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam mendukung pemberdayaan perempuan," kata Sujiwo.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas organisasi perempuan, seperti PKK, Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Dharma Wanita, BKMT, Muslimat, serta Akademi Paradigta, untuk bersama-sama mengawal program pemerintah dan mendorong percepatan pembangunan daerah.
Sujiwo menilai Akademi Paradigta di Kubu Raya harus berjalan secara berkelanjutan dan aplikatif, tidak berhenti pada momentum wisuda semata.
"Paradigta harus benar-benar hidup di tengah masyarakat dan memberi dampak nyata. Saya melihat kepercayaan diri para wisudawati meningkat, ini menunjukkan pelatihan yang dijalankan berhasil," katanya.
Pewarta : Rendra Oxtora/ANTARA