đŸ”„ Ambisi Trump Soal Greenland Jadi Bumerang: Sekutu Kanan Jauh Eropa Mulai Menjauh, Kedaulatan Jadi Taruhan
iklan banner

Rabu, 28 Januari 2026

đŸ”„ Ambisi Trump Soal Greenland Jadi Bumerang: Sekutu Kanan Jauh Eropa Mulai Menjauh, Kedaulatan Jadi Taruhan

Ambisi Trump Soal Greenland Jadi Bumerang: Sekutu Kanan Jauh Eropa Mulai Menjauh, Kedaulatan Jadi Taruhan
Ambisi Trump Soal Greenland Jadi Bumerang: Sekutu Kanan Jauh Eropa Mulai Menjauh, Kedaulatan Jadi Taruhan.

Bayangkan sekutu berubah jadi pengkritik hanya dalam hitungan bulan. Itulah yang kini terjadi pada Donald Trump. Ambisinya untuk “menguasai” Greenland bukan cuma bikin Eropa resah, tapi juga mengguncang hubungan dengan para sekutu ideologisnya sendiri dari kalangan kanan jauh Eropa.

Dorongan Donald Trump untuk mengambil alih Greenland ternyata membawa dampak yang tak terduga. Bukan hanya memicu ketegangan dengan negara-negara Eropa, langkah ini justru membuat banyak sekutu ideologisnya di Eropa merasa tidak nyaman, bahkan mulai menjaga jarak. Penyebab utamanya satu: prinsip kedaulatan nasional yang selama ini justru jadi “jualan utama” kelompok kanan jauh.

Situasi makin panas setelah Trump melontarkan komentar pedas soal pasukan negara-negara NATO. Ia menyebut tentara sekutu “terlalu menjauh dari garis depan” saat perang di Afghanistan bersama pasukan AS. Ucapan ini langsung menyentil rasa nasionalisme kelompok kanan jauh Eropa dan memicu gelombang kritik.

Minggu lalu, Trump memang terlihat melunak. Ia menyatakan tidak akan merebut Greenland dengan kekerasan atau menjatuhkan tarif dagang pada negara yang menentangnya. Komentar soal pasukan NATO pun coba ia tarik kembali. Namun, bagi kelompok populis kanan radikal di Eropa, nasi sudah terlanjur jadi bubur.

Padahal sebelumnya, Trump dianggap sekutu penting. Kelompok kanan jauh kini memegang atau mendukung pemerintahan di sekitar sepertiga negara Uni Eropa, dan di negara lain mereka sedang naik daun. Mereka sejalan dengan agenda “negara di atas segalanya”, anti-imigrasi, dan kritis terhadap Uni Eropa. Tapi sikap Trump soal Greenland justru dinilai bertentangan dengan misi tersebut.

Perpecahan ini berpotensi mengganggu strategi keamanan nasional AS sendiri, yang ingin membangun “perlawanan” terhadap arah Eropa saat ini dengan menggandeng sekutu-sekutu patriotik demi mencegah apa yang disebut sebagai “penghapusan peradaban”.

Setahun lalu, suasananya sangat berbeda. Banyak tokoh kanan jauh Eropa menyambut kembalinya Trump ke Gedung Putih dengan penuh antusias. Bahkan, beberapa bulan kemudian mereka berkumpul di Madrid, menggaungkan slogan “Make Europe Great Again” sambil memuji agenda America First.

Namun kini, dukungan itu mulai retak. Berbagai survei menunjukkan Trump sangat tidak populer di Eropa. Mayoritas warga Eropa, termasuk sebagian pemilih kanan jauh, menilai Trump sebagai ancaman bagi Uni Eropa dan justru menginginkan Eropa yang lebih solid dan kuat.

Survei terbaru dari platform debat isu Eropa, Le Grand Continent, menunjukkan sekitar 18% hingga 25% pemilih kanan jauh di Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol bahkan menyebut Trump sebagai “musuh Eropa”.

Lebih mengejutkan lagi, antara 30% hingga 49% pemilih partai kanan jauh di empat negara tersebut menyatakan akan mendukung pengiriman pasukan Eropa ke Greenland jika ketegangan dengan AS terus meningkat. Ini sinyal kuat bahwa isu kedaulatan tak bisa ditawar, bahkan oleh penggemar Trump sekalipun.

Ekspansionisme Trump dan kesiapannya menggunakan tekanan ekonomi membuat kelompok kanan jauh Eropa berada di posisi serba salah. Tokoh-tokoh di Prancis, Jerman, dan Italia pun mulai melontarkan kritik, dengan nada yang terdengar mirip politisi arus utama yang biasanya mereka kecam.

Di Parlemen Eropa, para anggota parlemen kanan jauh yang biasanya pro-Trump justru mendukung pembekuan ratifikasi perjanjian dagang Uni Eropa–AS. Mereka menilai pendekatan Trump sebagai bentuk “paksaan” dan “ancaman terhadap kedaulatan”.

Jordan Bardella, presiden National Rally (RN) Prancis dan anak didik Marine Le Pen, menyebut rencana Trump soal Greenland sebagai “tantangan langsung terhadap kedaulatan negara Eropa”. Ia menegaskan bahwa tekanan dagang bukanlah dialog, melainkan pemaksaan. “Menyerah akan menciptakan preseden berbahaya,” ujarnya.

Di Jerman, Alice Weidel dari AfD menilai Trump telah melanggar janji kampanyenya sendiri untuk tidak mencampuri urusan negara lain. Bahkan Nigel Farage dari Reform UK, yang dikenal loyal pada Trump, menyebut ancaman tarif demi mengambil Greenland sebagai tindakan yang sangat bermusuhan.

Sementara itu, pemimpin populis yang sedang berkuasa cenderung lebih berhati-hati. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, meski dikenal dekat dengan Trump, akhirnya mengakui bahwa ancaman soal Greenland adalah sebuah kesalahan. Viktor OrbĂĄn dari Hungaria dan Presiden Polandia Karol Nawrocki memilih nada diplomatis, menekankan pentingnya penyelesaian lewat jalur NATO dan dialog.

Namun ada satu hal yang hampir menyatukan semua pihak: kemarahan atas komentar Trump tentang pasukan NATO di Afghanistan. Meloni menyebut pernyataan itu “tidak bisa diterima”, mengingat 53 tentara Italia gugur dan lebih dari 700 lainnya terluka. Pemimpin Polandia dan Republik Ceko juga menegaskan bahwa pengorbanan prajurit mereka pantas dihormati.

Para analis menilai masih terlalu dini untuk memastikan apakah keretakan ini akan bertahan lama. Namun, jika ancaman terhadap kedaulatan terus berlanjut, partai-partai kanan jauh Eropa dipastikan tak bisa diam. Meski begitu, para pakar juga percaya Trump dan sekutu ideologisnya masih bisa bersatu kembali, misalnya dalam isu imigrasi.

Kesimpulannya, Trump mungkin belum sepenuhnya kehilangan dukungan di Eropa. Namun kasus Greenland menjadi pengingat penting: ketika kedaulatan nasional disentuh, bahkan sekutu paling setia pun bisa berubah menjadi pengkritik.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.