NGABANG - Pemerintah Kabupaten Landak meraih momen bersejarah setelah berhasil menurunkan angka buta aksara secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Atas capaian ini, Kabupaten Landak menerima Piagam Penghargaan dalam acara Gebyar Pendidikan Non-Formal dan Informal (PNFI) sekaligus Peringatan Hari Aksara Internasional 2025 yang digelar di Jakarta pada 26 September lalu.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ulhaq, dan diterima oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Landak yang mewakili Bupati Landak Karolin Margret Natasa.
Bupati Karolin menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas pengakuan yang diberikan pemerintah pusat. Ia menegaskan bahwa penghargaan ini bukan hanya milik pemerintah daerah, tetapi juga menjadi bukti nyata kerja keras seluruh tenaga pendidik di Kabupaten Landak.
“Kami berterima kasih sebesar-besarnya kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI atas penghargaan ini,” ujar Karolin pada Kamis, 13 November 2025.
Menurutnya, prestasi tersebut adalah hasil dari dedikasi para guru, tutor pendidikan non-formal, serta seluruh pemangku kepentingan yang terus berkomitmen menekan angka buta aksara di berbagai wilayah di Landak.
“Pencapaian luar biasa ini tidak mungkin terwujud tanpa kerja sama semua pihak, terutama para guru yang setiap hari berada di lapangan,” jelasnya.
Data menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dibandingkan tahun 2022, terdapat 7.944 warga yang sudah keluar dari kategori buta aksara hingga 2024, atau terjadi penurunan sebesar 2,98 persen. Hasilnya, saat ini Landak hanya memiliki 1.471 warga yang masih masuk kategori buta aksara, dengan persentase sangat rendah yaitu 0,54 persen—jauh lebih baik dari banyak daerah lain di Indonesia.
“Ini menjadi dasar mengapa pemerintah pusat memberikan apresiasi khusus kepada kepala daerah. Landak terbukti mampu membuat kemajuan besar dalam waktu relatif singkat,” tambah Karolin.
Di akhir pernyataannya, Bupati Karolin mengajak seluruh masyarakat Landak, khususnya para orang tua, untuk terus mendorong anak-anak mereka melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah fondasi utama perubahan pola pikir dan kemajuan generasi mendatang.
“Kami berharap tidak ada lagi anak-anak di Landak yang putus sekolah. Kalau bisa, lanjut ke perguruan tinggi. Lewat pendidikan, pola pikir yang maju bisa terbentuk dan generasi Landak akan siap membangun daerahnya,” tutupnya.
