Utang Indonesia Tembus Rp 9.637 Triliun, Pemerintah Klaim Rasio Masih Aman | BorneoTribun

Sabtu, 21 Februari 2026

Utang Indonesia Tembus Rp 9.637 Triliun, Pemerintah Klaim Rasio Masih Aman

Utang Indonesia Rp9Triliun lebih per akhir 2025 dengan rasio 40,46 persen terhadap PDB. Pemerintah memastikan kondisi fiskal tetap aman, defisit APBN 2,92 persen dan ekspansi fiskal dorong pertumbuhan ekonomi.
Utang Indonesia Rp9Triliun lebih per akhir 2025 dengan rasio 40,46 persen terhadap PDB. Pemerintah memastikan kondisi fiskal tetap aman, defisit APBN 2,92 persen dan ekspansi fiskal dorong pertumbuhan ekonomi.

JAKARTA -- Pemerintah memastikan posisi utang negara tetap terkendali meski nominalnya menembus Rp 9.637,9 triliun per 31 Desember 2025. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hal tersebut di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026). Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 40,46 persen, dan dinilai masih dalam batas aman.

Total utang pemerintah yang mencapai Rp 9.637,9 triliun memang terlihat besar secara nominal. Namun jika dilihat dari rasio terhadap PDB, angka 40,46 persen tersebut masih relatif terkendali dibanding sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

Sebagai perbandingan, rasio utang Malaysia berada di kisaran 64 persen terhadap PDB. Thailand mencatat sekitar 63,5 persen. Sementara Singapura memiliki rasio jauh lebih tinggi, yakni sekitar 165 hingga 170 persen terhadap PDB. Dengan membandingkan angka tersebut, pemerintah menilai posisi fiskal Indonesia masih berada di level yang sehat.

Menurut Purbaya, pengelolaan utang dilakukan secara hati-hati dan terukur. Pemerintah tetap mematuhi aturan disiplin fiskal dengan menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah ambang batas 3 persen terhadap PDB.

Sepanjang 2025, defisit APBN tercatat Rp 695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap PDB. Angka ini masih berada di bawah batas maksimal yang ditetapkan dalam regulasi keuangan negara.

Pelebaran defisit tersebut, lanjutnya, bukan tanpa perhitungan. Pemerintah sengaja memanfaatkan ruang fiskal untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional yang sempat mengalami perlambatan. Strategi ekspansi fiskal ditempuh agar roda ekonomi kembali bergerak dan pertumbuhan tetap terjaga.

Tanpa stimulus fiskal dan pemanfaatan defisit secara optimal, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan sulit mencapai 5,11 persen. Pemerintah memilih menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan dan mempertahankan kesehatan fiskal.

Langkah ini dinilai sebagai strategi moderat. Pemerintah tidak ingin kebijakan pengetatan anggaran justru menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pemulihan ekonomi. Dengan menjaga defisit tetap di bawah 3 persen, stabilitas fiskal tetap terjaga sembari ekonomi didorong agar tumbuh lebih kuat.

Bagi masyarakat, penting memahami bahwa besarnya angka utang negara tidak bisa dilihat hanya dari nominalnya. Rasio terhadap PDB, kemampuan membayar, serta strategi pengelolaan fiskal menjadi indikator utama untuk menilai apakah kondisi tersebut aman atau berisiko.

FAQ Seputar Utang Indonesia 2025

1. Berapa total utang pemerintah Indonesia per akhir 2025?
Total utang pemerintah tercatat Rp 9.637,9 triliun per 31 Desember 2025.

2. Berapa rasio utang Indonesia terhadap PDB?
Rasio utang terhadap PDB mencapai 40,46 persen.

3. Apakah rasio tersebut berbahaya?
Pemerintah menilai masih aman karena lebih rendah dibanding beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

4. Berapa defisit APBN 2025?
Defisit APBN tercatat Rp 695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap PDB.

5. Mengapa pemerintah memperlebar defisit?
Untuk memberikan stimulus ekonomi dan menjaga pertumbuhan agar tetap di atas 5 persen.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

  

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.