Program B50 Kalsel Bikin Sawit Makin Bernilai Tinggi
iklan banner
iklan banner

Selasa, 24 Februari 2026

Program B50 Kalsel Bikin Sawit Makin Bernilai Tinggi

Pemprov Kalsel mempercepat hilirisasi perkebunan sawit dan karet melalui program biodiesel B50, peremajaan tanaman, serta penguatan industri pengolahan guna meningkatkan nilai tambah dan ekonomi daerah.
Pemprov Kalsel mempercepat hilirisasi perkebunan sawit dan karet melalui program biodiesel B50, peremajaan tanaman, serta penguatan industri pengolahan guna meningkatkan nilai tambah dan ekonomi daerah.

Pemprov Kalsel Percepat Hilirisasi Perkebunan, Sawit dan Karet Jadi Prioritas

BANJARMASIN -- Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan menegaskan komitmennya dalam mendorong hilirisasi subsektor perkebunan guna meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah. Hal tersebut disampaikan di Banjarbaru, Senin, sebagai bagian dari strategi besar Pemprov Kalsel dalam memperkuat ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel, Suparmi, mengungkapkan bahwa Gubernur Kalsel H Muhidin memberikan perhatian serius terhadap pengembangan hilirisasi komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kopi, dan kelapa. Langkah ini dinilai penting agar hasil perkebunan tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Hilirisasi Sawit Paling Maju, Program Biodiesel B50 Jadi Andalan

Dari seluruh komoditas unggulan, kelapa sawit menjadi sektor yang paling berkembang dalam hilirisasi. Di Kalimantan Selatan, sejumlah pabrik minyak goreng dan biodiesel telah beroperasi, menciptakan rantai nilai yang lebih panjang dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.

Bahkan pada periode 2024–2025, Kalsel meluncurkan program biodiesel B50. Program ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah sawit, tetapi juga mendukung agenda energi terbarukan nasional. Pengembangan bahan bakar nabati ini menjadi langkah strategis yang memperkuat posisi Kalsel sebagai daerah penghasil sawit yang progresif dan adaptif terhadap kebijakan energi hijau.

Dengan adanya fasilitas pengolahan di dalam daerah, manfaat ekonomi diharapkan tidak lagi terpusat di luar wilayah, melainkan dinikmati langsung oleh petani, pelaku usaha, hingga tenaga kerja lokal.

Karet Didominasi Produk Setengah Jadi, Pemprov Siapkan Strategi Baru

Selain sawit, karet menjadi komoditas unggulan kedua yang kini didorong untuk naik kelas. Selama ini, produk karet Kalsel masih didominasi bahan olahan standar seperti LUM, SIR20, dan Brown Crepe. Produk tersebut umumnya masih dalam bentuk setengah jadi dan memiliki nilai tambah yang terbatas.

Pemprov Kalsel kini tengah menggagas pembentukan koperasi besar karet serta mendorong tumbuhnya industri pengolahan lanjutan. Tujuannya jelas, agar karet tidak lagi bergantung pada produk mentah atau setengah jadi, tetapi mampu menembus pasar industri dengan produk yang lebih kompetitif.

Meski pengembangan industri hilir bukan langsung menjadi kewenangan Dinas Perkebunan dan Peternakan, instansi tersebut tetap memegang peran krusial dalam menjamin ketersediaan bahan baku yang berkualitas dan berkelanjutan.

Peremajaan dan Intensifikasi Karet Jadi Kunci Pasokan Bahan Baku

Untuk mendukung hilirisasi, Pemprov Kalsel menjalankan program peremajaan karet dengan mengganti tanaman tua dan tidak produktif menggunakan bibit unggul. Selain itu, program intensifikasi difokuskan pada peningkatan teknik budidaya, perawatan tanaman, serta penguatan kapasitas petani.

Langkah ini penting agar produksi dan produktivitas tetap stabil bahkan meningkat. Dengan pasokan bahan baku yang terjamin, industri hilir karet diharapkan dapat berkembang lebih cepat dan berkelanjutan.

Strategi ini menunjukkan bahwa hilirisasi bukan sekadar membangun pabrik, tetapi juga memperkuat fondasi dari hulu hingga hilir. Jika berjalan optimal, kebijakan ini diyakini mampu meningkatkan daya saing komoditas daerah serta memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Kalimantan Selatan.

Ke depan, hilirisasi subsektor perkebunan bukan hanya soal peningkatan pendapatan daerah, tetapi juga menjadi harapan baru bagi petani agar hasil kerja keras mereka memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan stabil.

FAQ Seputar Hilirisasi Perkebunan Kalsel

1. Apa itu hilirisasi perkebunan?
Hilirisasi perkebunan adalah proses pengolahan hasil perkebunan menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.

2. Komoditas apa saja yang diprioritaskan di Kalsel?
Kelapa sawit, karet, kopi, dan kelapa menjadi fokus utama pengembangan hilirisasi.

3. Apa itu program biodiesel B50 di Kalsel?
B50 adalah campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dengan solar, yang dikembangkan untuk mendukung energi terbarukan dan meningkatkan nilai tambah sawit.

4. Mengapa karet masih didominasi produk setengah jadi?
Karena industri pengolahan lanjutan masih terbatas, sehingga sebagian besar produksi masih berupa LUM, SIR20, dan Brown Crepe.

5. Apa manfaat hilirisasi bagi masyarakat?
Hilirisasi membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, memperkuat industri lokal, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar