Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Ducati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ducati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2026

Marc Marquez Waspadai Tantangan Fisik di MotoGP Ceko, Tak Ingin Terlalu Percaya Diri

Marc Marquez menatap MotoGP Ceko di Brno dengan hati-hati. Pembalap Ducati itu mengakui karakter sirkuit akan lebih berat bagi kondisi bahunya yang baru pulih.
Marc Marquez menatap MotoGP Ceko di Brno dengan hati-hati. Pembalap Ducati itu mengakui karakter sirkuit akan lebih berat bagi kondisi bahunya yang baru pulih.

JAKARTA - Marc Marquez mengaku akan menghadapi tantangan berbeda pada MotoGP Ceko yang berlangsung akhir pekan ini di Sirkuit Brno. Pembalap Ducati itu enggan terlalu percaya diri meski baru meraih kemenangan pertamanya musim ini pada seri Hungaria.

Marquez datang ke Brno dengan modal positif setelah menyapu bersih pole position, kemenangan sprint, dan kemenangan balapan utama di Hungaria. Hasil tersebut diraih hanya beberapa pekan setelah menjalani operasi pada cedera bahu yang telah lama mengganggunya.

Kemenangan di Hungaria membuat juara dunia bertahan itu kembali menghidupkan peluang perebutan gelar. Ia kini memangkas jarak menjadi 72 poin dari Marco Bezzecchi setelah Aprilia mengalami akhir pekan yang buruk.

Meski pernah menang di Brno bersama Ducati pada musim lalu, Marquez menilai karakter sirkuit kali ini akan lebih menguras fisik. Berbeda dengan Balaton Park yang berlawanan arah jarum jam dan lebih ramah bagi pemulihan bahu kanannya, Brno dinilai jauh lebih menantang.

Detail Kejadian

Marquez mengatakan hasil di Hungaria memberinya perasaan yang luar biasa. Namun, ia menyadari kondisi di Brno tidak akan sama.

"Perasaan di Hungaria luar biasa. Kami mendapatkan hasil sempurna dengan pole position, kemenangan sprint, dan balapan hari Minggu," kata Marquez menjelang MotoGP Ceko.

Menurutnya, tata letak Sirkuit Balaton sangat membantu karena tidak terlalu menuntut fisik. Sebaliknya, Brno merupakan lintasan yang ia sukai tetapi juga sangat berat.

"Di Brno situasinya akan berbeda. Ini sirkuit yang indah dan saya sangat menyukainya. Saya pernah menang bersama Ducati di sini, tetapi trek ini juga sangat berat dan menuntut," ujarnya.

Marquez menegaskan dirinya akan menjalani akhir pekan secara bertahap untuk mencapai performa terbaik setiap harinya.

Di sisi lain garasi Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah mencatat tiga podium beruntun.

Bagnaia menilai perkembangan Desmosedici GP26 mulai menunjukkan hasil positif. Ia optimistis dapat memaksimalkan performanya di Brno dan Assen, dua sirkuit yang termasuk favoritnya.

"Kami tiba di Brno dalam momen yang positif. Tiga podium beruntun memberi dorongan besar," kata Bagnaia.

"Saya sangat menyukai lintasan ini. Brno dan Assen termasuk dua trek favorit saya. Saya yakin bisa memanfaatkan perkembangan yang telah dicapai bersama Desmosedici GP dan menjaga konsistensi," tambahnya.

MotoGP Ceko akan menjadi ujian penting bagi kondisi fisik Marquez setelah operasi bahu yang dijalaninya. Sementara itu, Bagnaia berharap tren positif tiga podium beruntun dapat berlanjut di Brno sebelum kejuaraan berlanjut ke Assen, yang juga menjadi salah satu sirkuit favoritnya.

Bastianini Percaya Diri Bisa Kembali Menang Meski Terpuruk Bersama KTM

Enea Bastianini mengungkap masa sulit bersama KTM dan mengaku bekerja dengan psikolog untuk bangkit. Pebalap Italia itu tetap yakin bisa kembali meraih kemenangan di MotoGP.
Enea Bastianini mengungkap masa sulit bersama KTM dan mengaku bekerja dengan psikolog untuk bangkit. Pebalap Italia itu tetap yakin bisa kembali meraih kemenangan di MotoGP.

JAKARTA - Enea Bastianini mengungkap kesulitan yang dialaminya sejak bergabung dengan Tech3 KTM di MotoGP dan menegaskan keyakinannya untuk kembali meraih kemenangan. Pebalap Italia itu menyampaikan pengakuan tersebut dalam video terbaru MotoGP yang dirilis pada 2026.

Bastianini bergabung dengan Tech3 KTM setelah menjalani periode yang naik turun bersama tim pabrikan Ducati pada 2023 dan 2024. Namun, adaptasinya dengan motor RC16 tidak berjalan sesuai harapan.

Setelah meraih kemenangan dalam tiga musim beruntun bersama Ducati, Bastianini hanya mampu mencatat satu podium grand prix sepanjang musim 2025. Pada musim 2026, pencapaian terbaiknya sejauh ini adalah podium sprint dan finis keenam di balapan utama.

Pebalap berusia 28 tahun itu mengaku sempat kehilangan semangat saat hasil yang diperolehnya jauh dari ekspektasi. Kondisi tersebut membuatnya memutuskan untuk bekerja sama dengan psikolog demi memulihkan kondisi mental.

"Dalam karier saya ada momen yang sulit dan ada momen yang lebih mudah. Ketika bergabung dengan KTM tahun lalu, saya pikir itu adalah masa yang sulit karena saya tidak mendapatkan hasil yang saya harapkan," kata Bastianini.

"Pada saat seperti itu, Anda harus menjaga kondisi psikologis karena sangat mudah merasa terpuruk dan kehilangan arah."

Bastianini mengakui semangatnya sempat menurun ketika datang ke seri grand prix. Ia kemudian mulai bekerja dengan sejumlah orang untuk membantunya kembali menemukan motivasi.

"Saya sempat menurun dan tidak memiliki semangat yang sama ketika datang ke grand prix. Saya mulai bekerja dengan orang-orang untuk kembali membangun mental. Di situlah saya menemukan diri saya lagi, tetapi kami masih jauh dari target yang ingin saya capai," ujarnya.

Bastianini mengoleksi tujuh kemenangan grand prix bersama Ducati pada periode 2022 hingga 2024. Meski kini menghadapi persaingan yang lebih ketat, ia tetap percaya mampu kembali bersaing di barisan depan.

"Pebalap terbaik di dunia ada di sini, jadi semuanya lebih sulit. Tetapi saya tahu saya pernah mengalahkan mereka, dan jika saya pernah melakukannya sekali, saya tahu saya bisa melakukannya lagi. Mimpi saya tetap sama, membuktikan bahwa saya yang tercepat," tutur Bastianini.

Bastianini diperkirakan akan meninggalkan KTM pada akhir musim ini dan menjadi salah satu nama penting dalam bursa pebalap MotoGP 2027. Sempat dikaitkan dengan kepulangan ke Gresini, ia kini disebut lebih berpeluang bergabung dengan Trackhouse Aprilia.

Sementara itu, opsi pebalap Tech3 untuk musim 2027 masih terbuka. Bos tim Guenther Steiner sebelumnya menyatakan ketertarikannya merekrut rookie Moto2, yang bisa saja mengarah kepada Senna Agius.

Perkembangan karier Bastianini pada musim depan akan menjadi salah satu hal yang menarik untuk dipantau, terutama jika kepindahannya ke Trackhouse Aprilia benar-benar terwujud.

Selasa, 16 Juni 2026

Marc Marquez Belum Pulih 100 Persen, Ducati Ungkap Penyebab Sulitnya Awal MotoGP 2026

Davide Tardozzi mengakui awal musim MotoGP 2026 menjadi mimpi buruk bagi Ducati setelah Aprilia mendominasi balapan pembuka dan Marc Marquez belum pulih sepenuhnya.
Davide Tardozzi mengakui awal musim MotoGP 2026 menjadi mimpi buruk bagi Ducati setelah Aprilia mendominasi balapan pembuka dan Marc Marquez belum pulih sepenuhnya.

Davide Tardozzi Sebut Awal Musim MotoGP 2026 Jadi Mimpi Buruk bagi Ducati

JAKARTA - Davide Tardozzi mengakui Ducati mengalami awal musim yang jauh dari harapan pada MotoGP 2026. Manajer tim Ducati itu menyebut beberapa seri pembuka musim sebagai "mimpi buruk" setelah timnya gagal mempertahankan performa impresif yang ditunjukkan saat tes pramusim di Sepang.

Setelah tes di Malaysia, Ducati sebenarnya datang dengan optimisme tinggi. Lima motor Desmosedici mampu menembus enam besar, termasuk juara bertahan Marc Marquez yang kembali mengaspal usai cedera bahu yang dialaminya di Mandalika musim lalu.

Namun situasi berubah drastis menjelang dimulainya musim. Menurut Tardozzi, Aprilia membuat kemajuan besar antara tes Sepang dan tes terakhir di Buriram, Thailand.

Perkembangan tersebut langsung terlihat di lintasan. Aprilia memenangi tiga grand prix pembuka melalui Marco Bezzecchi dan juga meraih kemenangan Sprint lewat Jorge Martin. Sementara Ducati hanya mampu mengoleksi satu kemenangan Sprint hingga seri-seri Eropa dimulai.

"Sejujurnya, ya," kata Tardozzi saat ditanya apakah dirinya terkejut dengan kekuatan Aprilia pada awal musim.

"Setelah Sepang, saya benar-benar yakin kami akan menjalani musim yang bagus. Bukan mimpi buruk seperti yang terjadi dalam beberapa balapan pertama."

Ia memberikan apresiasi kepada Aprilia atas peningkatan performa yang signifikan, namun menegaskan Ducati tidak tinggal diam. Bersama General Manager Ducati Corse, Gigi Dall'Igna, tim terus bekerja untuk memangkas ketertinggalan.

Menurut Tardozzi, Ducati mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Alex Marquez mempersembahkan kemenangan grand prix pertama musim ini di Jerez, sebelum Fabio Di Giannantonio menambah kemenangan kedua di Catalunya.

Di Catalunya, Francesco Bagnaia akhirnya membawa tim pabrikan Ducati meraih podium hari Minggu pertamanya musim ini. Namun pada saat yang sama, Marc Marquez harus absen karena menjalani operasi akibat masalah saraf radial terjepit di lengan kanannya.

Marquez kembali tampil di Mugello dan finis ketujuh sebelum menunjukkan performa dominan di Balaton Park dengan meraih pole position serta memenangkan Sprint dan balapan utama.

Meski demikian, Tardozzi menegaskan pembalap Spanyol itu masih belum berada dalam kondisi fisik terbaik.

"Saya masih berpikir situasinya sangat sulit baginya. Pole position, menang Sprint, dan menang balapan tidak berarti dia sudah 100 persen. Dia belum 100 persen," ujar Tardozzi.

Ia memperkirakan proses pemulihan Marquez masih membutuhkan waktu setidaknya satu hingga dua bulan lagi.

Balapan di Balaton Park juga menjadi momen penting dalam perebutan gelar juara. Marquez berhasil memangkas selisih 30 poin dari pemuncak klasemen Marco Bezzecchi setelah insiden di tikungan pertama yang melibatkan Jorge Martin.

Kecelakaan tersebut membuat Bezzecchi, Fabio Di Giannantonio, dan beberapa pembalap lain gagal melanjutkan balapan. Meski demikian, Marquez masih tertinggal 72 poin dari Bezzecchi di klasemen sementara.

Tardozzi menilai akhir pekan itu sangat berarti bagi Ducati karena berhasil memangkas jarak poin. Namun ia menegaskan rival-rival mereka tetap menjadi ancaman serius dalam perebutan gelar.

"Hari ini mereka benar-benar tidak beruntung. Saya turut prihatin untuk Marco, Diggia, dan para pembalap lainnya karena seharusnya mereka bisa bertarung memperebutkan podium."

Menurutnya, situasi tersebut merupakan bagian dari dinamika balap. Setelah Ducati mengalami berbagai kesulitan pada awal musim, kini keberuntungan mulai berpihak kepada mereka. Dengan masih banyak balapan tersisa sepanjang musim, Tardozzi meyakini persaingan juara MotoGP 2026 masih sangat terbuka.

Minggu, 17 Mei 2026

Valentino Rossi Minta Ducati Beri Dukungan Penuh untuk Pecco Bagnaia

Valentino Rossi meminta Ducati memberikan dukungan penuh kepada Pecco Bagnaia setelah rider Italia itu kembali kesulitan tampil kompetitif di MotoGP Catalunya.
Valentino Rossi meminta Ducati memberikan dukungan penuh kepada Pecco Bagnaia setelah rider Italia itu kembali kesulitan tampil kompetitif di MotoGP Catalunya.

JAKARTA - Valentino Rossi meminta Ducati memberikan dukungan maksimal kepada Pecco Bagnaia setelah rider pabrikan Italia itu kembali mengalami kesulitan performa pada MotoGP Catalunya, Sabtu waktu setempat, di Sirkuit Barcelona.

Rossi menyampaikan pernyataan tersebut saat hadir sebagai tamu di studio Sky Italia. Mantan juara dunia sembilan kali itu menilai Bagnaia sudah memberikan seluruh kemampuannya di tengah performa yang belum stabil sejak musim lalu.

Bagnaia memang menunjukkan beberapa peningkatan musim ini. Ia sempat meraih pole position di Le Mans dan finis runner-up dalam tiga Sprint Race.

Namun, hingga seri Catalunya, pembalap VR46 Academy itu belum sekali pun naik podium grand prix musim ini. Situasi tersebut memunculkan spekulasi bahwa Bagnaia kemungkinan akan meninggalkan Ducati dan bergabung dengan Aprilia pada 2027.

Rossi menilai hubungan Bagnaia dan Ducati saat ini sedang berada dalam fase sulit, terutama setelah hasil kurang memuaskan sejak musim lalu.

“Musim masih panjang, dan kemungkinan dia tidak akan balapan lagi untuk Ducati tahun depan,” kata Rossi kepada Sky Italia.

“Saya ingin Ducati memberikan usaha yang sama seperti yang dilakukan Pecco untuk kembali ke depan.”

Rossi juga membandingkan situasi tersebut seperti hubungan pernikahan yang sedang menghadapi masalah. Menurutnya, Bagnaia tetap berusaha keras dan Ducati juga perlu melakukan hal yang sama agar kembali kompetitif.

Mendengar komentar Rossi, Bagnaia mengaku musim ini dirinya memang berusaha lebih keras dibanding tahun lalu.

“Saya mencoba memberikan segalanya dalam setiap hal yang saya lakukan,” ujar Bagnaia setelah Sprint Catalunya.

Ia menilai motor GP26 Ducati masih belum memiliki setup dasar yang benar-benar konsisten di semua lintasan. Bagnaia juga membandingkan performanya dengan Fabio Di Giannantonio yang dinilai mampu menemukan paket motor lebih kompetitif.

Menurut Bagnaia, masalah utama Ducati saat ini adalah sulit mendapatkan performa optimal sejak awal balapan.

Meski begitu, ia menyebut timnya mulai menemukan kemajuan kecil di Catalunya, terutama dalam hal karakter motor saat memasuki tikungan.

Pada Sprint Race Catalunya, Bagnaia berhasil finis keenam setelah memulai balapan dari posisi ke-13. Ia mengaku masih kehilangan traksi pada lap-lap awal, terutama di Sirkuit Barcelona yang terkenal licin.

Saat ini Bagnaia berada di posisi kesembilan klasemen sementara MotoGP dan terpaut 10 poin dari rekan setimnya, Marc Marquez, yang absen di Catalunya.

Tekanan terhadap Ducati diperkirakan akan terus meningkat jika performa Bagnaia belum juga kembali stabil dalam beberapa seri berikutnya.

Ulasan Pakar MotoGP: Ducati dan Bagnaia Dinilai Sedang Mengalami Krisis Arah Pengembangan

Ulasan Pakar MotoGP: Ducati dan Bagnaia Dinilai Sedang Mengalami Krisis Arah Pengembangan
Ulasan Pakar MotoGP: Ducati dan Bagnaia Dinilai Sedang Mengalami Krisis Arah Pengembangan.

Komentar Valentino Rossi terhadap situasi Pecco Bagnaia dinilai bukan sekadar bentuk dukungan personal, tetapi juga sinyal bahwa ada persoalan lebih besar di internal Ducati musim ini.

Sejumlah pengamat MotoGP melihat performa Bagnaia yang menurun sejak musim lalu bukan murni akibat gaya balap pembalap Italia tersebut, melainkan karena karakter motor Ducati GP26 yang belum sepenuhnya cocok dengan kebutuhan teknisnya.

Dalam beberapa seri terakhir, Bagnaia memang masih mampu menunjukkan kecepatan satu lap, termasuk saat meraih pole position di Le Mans. Namun saat balapan utama, terutama dalam kondisi grip rendah dan tangki penuh, performanya kerap menurun.

Menurut analisis pakar MotoGP, masalah utama Bagnaia terlihat pada fase awal balapan. Ducati dinilai belum menemukan setup dasar yang stabil untuk menjaga traksi ban belakang secara konsisten, terutama di sirkuit dengan permukaan licin seperti Barcelona.

Situasi itu membuat Bagnaia kesulitan mempertahankan ritme sejak lap pertama. Padahal selama periode juara dunianya, kekuatan terbesar Bagnaia justru berada pada kemampuan menjaga keausan ban dan membangun tempo balapan secara bertahap.

Komentar Rossi yang meminta Ducati “memberikan usaha yang sama” juga dianggap memiliki makna teknis dan psikologis. Banyak analis menilai hubungan pembalap dan pabrikan saat ini mulai kehilangan sinkronisasi setelah hasil buruk sepanjang musim lalu.

Di sisi lain, keberhasilan pembalap lain seperti Fabio Di Giannantonio menemukan setup kompetitif membuat tekanan terhadap garasi Bagnaia semakin besar. Hal itu memperlihatkan bahwa potensi motor Ducati sebenarnya masih ada, tetapi belum berhasil dimaksimalkan oleh tim pabrikan.

Pakar MotoGP juga menilai situasi ini bisa menjadi titik penting bagi masa depan Bagnaia. Jika Ducati gagal mengembalikan performanya dalam waktu dekat, spekulasi kepindahan ke Aprilia pada 2027 kemungkinan akan semakin menguat.

Meski demikian, peluang Bagnaia untuk bangkit masih terbuka. Musim MotoGP masih panjang dan Ducati tetap memiliki salah satu motor tercepat di grid saat ini.

Kunci utamanya adalah seberapa cepat Ducati mampu menemukan paket teknis yang kembali cocok dengan karakter balap Bagnaia, terutama dalam pengelolaan traksi dan stabilitas motor di fase awal balapan.

Jumat, 17 April 2026

Jorge Martin Ungkap Rahasia Aprilia, Teknik Rem Jadi Pembeda Ducati

Jorge Martin ungkap teknik pengereman Aprilia jadi kunci performa, beda jauh dari Ducati dan bantu naik podium beruntun di MotoGP 2026.
Jorge Martin ungkap teknik pengereman Aprilia jadi kunci performa, beda jauh dari Ducati dan bantu naik podium beruntun di MotoGP 2026.

JAKARTA - Musim balap 2026 menjadi momen kebangkitan bagi Jorge Martin setelah menjalani awal yang cukup menantang bersama Aprilia Racing. Meski sempat mengalami debut yang terganggu dan minim waktu tes musim dingin, pembalap asal Spanyol itu kini justru muncul sebagai salah satu kejutan terbesar di ajang MotoGP musim ini.

Dalam empat balapan terakhir, Martin sukses naik podium secara beruntun. Bahkan, ia berhasil meraih kemenangan pertamanya bersama Aprilia pada Sprint Race di Circuit of the Americas (COTA). Hasil konsisten tersebut membuatnya kini bertengger di posisi kedua klasemen sementara, tepat di belakang rekan setimnya, Marco Bezzecchi.

Aerodinamika Jadi Awal Perubahan Besar

Menurut Martin, salah satu faktor utama yang membuat performanya meningkat adalah pembaruan pada sektor aerodinamika motor Aprilia RS-GP. Ia mengaku langsung merasa nyaman sejak pertama kali mencoba pengembangan terbaru tersebut.

“Saya rasa aerodinamika terbaru jadi kunci buat saya. Saya langsung merasa cocok sejak awal,” ujar Martin saat berada di Amerika Serikat.

Pengembangan aerodinamika memang menjadi fokus utama banyak tim MotoGP dalam beberapa musim terakhir. Teknologi ini berpengaruh besar terhadap stabilitas motor, terutama saat menikung cepat dan melakukan pengereman mendadak.

Teknik Pengereman Berbeda dari Ducati

Selain faktor aerodinamika, Martin juga mengungkap adanya perubahan besar pada gaya berkendaranya, khususnya saat pengereman. Ia menyebut teknik pengereman di Aprilia sangat berbeda dibandingkan saat masih membela Ducati.

Meski enggan membocorkan detail teknis secara spesifik, Martin memberi gambaran bahwa pendekatan pengereman di Aprilia membutuhkan adaptasi khusus pada penggunaan tuas rem.

“Saya mengubah sedikit gaya saya saat pengereman, dan itu membuat saya merasa jauh lebih nyaman dengan Aprilia,” jelas Martin.

Ia juga menambahkan bahwa teknik tersebut sebenarnya sudah lebih dulu diterapkan oleh rekan setimnya, Marco Bezzecchi.

“Saya tidak mau terlalu detail menjelaskan, karena tentu saya tidak ingin membantu pembalap lain. Tapi yang jelas, teknik ini sangat berbeda dibandingkan Ducati,” lanjutnya.

Aprilia Kini Makin Kuat Saat Pengereman

Keunggulan Aprilia dalam sektor pengereman ternyata juga diakui oleh pembalap rival. Francesco Bagnaia, pembalap tim pabrikan Ducati, bahkan secara langsung memuji peningkatan performa pengereman motor Aprilia setelah duel sengit di Sprint Race COTA.

“Kalian sekarang jauh lebih kuat saat pengereman,” ujar Bagnaia kepada Martin saat menuju podium.

Komentar tersebut memperlihatkan bahwa Aprilia tidak hanya mengalami peningkatan di atas kertas, tetapi juga diakui oleh pesaing langsung di lintasan.

Isu Transfer Besar Musim Depan

Selain performa di lintasan, masa depan Martin juga menjadi sorotan di paddock MotoGP. Ia dikabarkan akan hengkang dari Aprilia pada musim depan dan berpotensi bergabung dengan Yamaha.

Di sisi lain, Francesco Bagnaia disebut-sebut akan menggantikan posisi Martin di Aprilia. Jika benar terjadi, pergerakan ini diperkirakan menjadi salah satu transfer paling menarik dalam bursa pembalap MotoGP mendatang.

Perubahan komposisi tim ini tentu akan memengaruhi dinamika persaingan di musim berikutnya.

Analisis: Adaptasi Jadi Faktor Penentu

Kisah kebangkitan Jorge Martin menunjukkan bahwa adaptasi terhadap karakter motor menjadi faktor penting dalam dunia balap modern. Tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga bagaimana pembalap menyesuaikan teknik berkendara dengan teknologi yang tersedia.

Perubahan kecil pada gaya pengereman bisa menghasilkan dampak besar terhadap performa keseluruhan. Hal inilah yang kini membuat Martin tampil lebih konsisten dan kompetitif.

Jika tren positif ini berlanjut, bukan tidak mungkin Martin akan menjadi penantang serius dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026.

FAQ

1. Apa faktor utama peningkatan performa Jorge Martin di Aprilia?
Faktor utamanya adalah pembaruan aerodinamika motor dan perubahan teknik pengereman yang lebih sesuai dengan karakter Aprilia RS-GP.

2. Apa perbedaan teknik pengereman Aprilia dan Ducati?
Teknik pengereman Aprilia disebut membutuhkan pendekatan berbeda pada penggunaan tuas rem dibandingkan Ducati, meski detailnya tidak diungkapkan secara lengkap.

3. Berapa posisi Jorge Martin di klasemen MotoGP 2026?
Saat ini Jorge Martin berada di posisi kedua klasemen sementara di belakang Marco Bezzecchi.

4. Apakah Jorge Martin akan pindah tim musim depan?
Ia dikabarkan berpotensi pindah ke Yamaha, sementara Francesco Bagnaia disebut-sebut akan menggantikannya di Aprilia.

5. Apa arti kemenangan Sprint di COTA bagi Martin?
Kemenangan tersebut menjadi kemenangan Sprint pertama Martin bersama Aprilia dan menandai peningkatan performanya musim ini.

Sabtu, 28 Maret 2026

Marc Marquez Kecelakaan di US GP, Crash 190Km/h Bikin Panik Fans

Marc Marquez alami crash 190Km/h di US GP, cedera leher dan punggung, tapi tetap catatkan lap cepat. Simak update lengkapnya di MotoGP COTA 2026.
Marc Marquez alami crash 190Km/h di US GP, cedera leher dan punggung, tapi tetap catatkan lap cepat. Simak update lengkapnya di MotoGP COTA 2026.

Pontianak – Minggu lalu, pembalap juara dunia, Marc Marquez, mengalami kecelakaan serius di US MotoGP saat hanya berada di lap keempat. Kejadian ini terjadi di Circuit of The Americas (COTA) dengan kecepatan mencapai 190 km/jam.

Dalam pernyataannya ke MotoGP.com, Marquez mengaku kesalahan terjadi karena terlalu percaya diri dengan kondisi lintasan yang berubah-ubah setiap tahunnya.

“Bukan cara terbaik untuk memulai,” ujar Marquez. “Aku terlalu percaya pada lintasan, motor, dan diriku sendiri. Harusnya aku mulai lebih hati-hati di sirkuit seperti ini.”

Kecelakaan itu menyebabkan Marquez merasakan nyeri pada leher dan punggungnya. Meski demikian, dengan tangan kiri masih dibalut perban, ia kembali ke lintasan untuk sesi latihan bebas (FP1) terakhir dan berhasil mencatatkan lap tercepat keempat.

Sesi latihan siang hari sempat menjadi tantangan karena lintasan licin membuat sepuluh pembalap lain terjatuh. Marquez, dengan lebih hati-hati, fokus menggunakan ban medium bekas dan akhirnya bersaing memperebutkan posisi tercepat bersama rekan satu tim Ducati, Fabio di Giannantonio, dan pembalap Trackhouse Aprilia, Ai Ogura, yang berhasil mengamankan posisi kedua di sesi tersebut.

“Setelah crash pagi, aku lebih tenang di sesi sore,” jelas Marquez. “Melihat banyak bendera kuning, aku sadar lintasan lebih licin dan ban depan mudah selip. Perlahan, aku kembali dapat feeling normal dan puas dengan hari ini.”

Marquez menyebut suhu lintasan yang lebih dingin di hari berikutnya akan mempengaruhi perilaku motor, sehingga strategi balapan akan disesuaikan. Rekan setimnya, Francesco Bagnaia, finis di posisi kedelapan dan memastikan akses langsung ke Qualifying 2.

Kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa meski berpengalaman, setiap sirkuit membawa tantangan baru, dan kehati-hatian tetap menjadi kunci.

FAQ

Q1: Apa penyebab kecelakaan Marc Marquez di US GP 2026?
A1: Kecelakaan terjadi karena Marquez terlalu percaya diri dengan lintasan COTA yang memiliki bump berbeda dari tahun sebelumnya.

Q2: Apakah Marquez bisa melanjutkan balapan setelah crash?
A2: Ya, meski cedera pada leher dan punggung, Marquez tetap bisa balapan setelah sesi FP1 sore.

Q3: Siapa pembalap tercepat di sesi latihan sore US GP 2026?
A3: Marc Marquez sempat berada di posisi teratas bersama Fabio di Giannantonio dan Ai Ogura.

Q4: Bagaimana kondisi lintasan COTA mempengaruhi balapan?
A4: Lintasan COTA yang berubah setiap tahun, termasuk bump baru dan suhu dingin, mempengaruhi perilaku motor dan strategi pembalap.

Marc Marquez Alami Cedera Tangan Kiri dan Lengan Kanan di FP1 MotoGP AS

Marc Marquez alami cedera lengan kanan dan tangan kiri di FP1 MotoGP AS 2026, namun kembali ke lintasan setelah mendapat perban dan mengganti baju balap Ducati.
Marc Marquez alami cedera lengan kanan dan tangan kiri di FP1 MotoGP AS 2026, namun kembali ke lintasan setelah mendapat perban dan mengganti baju balap Ducati.

Pontianak, 28 Maret 2026 – Tim manajer Ducati, Davide Tardozzi, mengonfirmasi bahwa Marc Marquez mengalami benturan cukup keras pada lengan kanan dan tangan kiri saat kecelakaan di kecepatan 190 km/jam pada sesi latihan bebas pertama (FP1) MotoGP Amerika Serikat, Jumat lalu.

Kecelakaan terjadi di Turn 10 Circuit of the Americas (COTA) dalam 10 menit awal FP1. Marquez kehilangan kontrol bagian depan Desmosedici GP26 saat ban belakang sempat tergelincir, membuatnya meluncur ke gravel dan menabrak barrier pelindung.

Meski sempat lambat berdiri, Marquez akhirnya bisa berjalan sendiri dengan melepas sarung tangan kiri. Pebalap asal Spanyol ini memilih kembali ke pit Ducati menggunakan skuter alih-alih ke pusat medis, dan setelah mengganti baju balap serta mendapat perban di tangan kiri, Marquez kembali ke lintasan untuk 10 menit terakhir FP1.

Dalam sembilan lap, ia berhasil mencatat waktu tercepat keempat, hanya tertinggal 0,378 detik dari Pedro Acosta (KTM). Sementara itu, pemimpin klasemen, Marco Bezzecchi (Aprilia), memulai FP1 di posisi kesembilan dan tetap menggunakan ban yang sama sepanjang sesi.

Marquez adalah juara MotoGP COTA tujuh kali, dengan kemenangan terakhir pada 2021. Saat ini ia berada di posisi kelima klasemen dunia, tertinggal 22 poin dari Bezzecchi, dan sebelumnya sempat mengalami masalah pada velg saat seri pembuka di Thailand.

Beberapa pebalap lain juga sempat kehilangan kontrol di Turn 10, namun berhasil tetap di atas motor. Sesi latihan sore akan dimulai pukul 15.00 waktu setempat (20.00 WIB).

FAQ

1. Apa penyebab kecelakaan Marc Marquez di FP1 MotoGP AS 2026?
Marquez kehilangan kontrol motor Desmosedici GP26 di Turn 10 setelah ban belakang tergelincir.

2. Bagaimana kondisi Marc Marquez setelah kecelakaan?
Marquez mengalami benturan di lengan kanan dan tangan kiri, namun bisa kembali ke lintasan setelah mendapat perban dan mengganti baju balap.

3. Siapa yang tercepat di FP1 MotoGP AS 2026?
Pebalap KTM, Pedro Acosta, mencatat waktu tercepat FP1.

4. Apa posisi Marc Marquez di klasemen sementara?
Marquez saat ini berada di posisi kelima, tertinggal 22 poin dari pemimpin klasemen Marco Bezzecchi.

Rabu, 18 Maret 2026

MotoGP 2027 Pindah ke Adelaide, Pecco Bagnaia Siap Asal Aman dan Seru

Pecco Bagnaia setuju MotoGP pindah ke Adelaide 2027 asal balapan aman, seru, dan bukan di parking lot. Simak tanggapan lengkapnya di sini!
Pecco Bagnaia setuju MotoGP pindah ke Adelaide 2027 asal balapan aman, seru, dan bukan di parking lot. Simak tanggapan lengkapnya di sini!

JAKARTA -- Ducati’s Pecco Bagnaia baru-baru ini buka suara soal rencana MotoGP memindahkan Australian Grand Prix dari Phillip Island ke sirkuit jalanan di Adelaide mulai 2027. Bagnaia mengaku santai asal balapan tetap aman dan seru, bukan sekadar di “parking lot”.

Keputusan ini sempat bikin heboh fans dan masyarakat lokal Phillip Island, karena dipastikan berdampak pada ekonomi setempat. MotoGP Sports Entertainment menegaskan bahwa sirkuit Adelaide, yang merupakan versi modifikasi dari sirkuit Formula 1 era 1980-an dan 1990-an, sudah memenuhi standar keselamatan modern.

Dalam wawancara eksklusif dengan GPOne, Bagnaia menyatakan setuju selama sirkuit tetap aman dan balapan bisa digelar dengan atmosfer menyenangkan.

“Kalau lintasannya aman dan kita bisa balapan dalam setting yang fun tanpa harus di parking lot, gue oke banget,” ujar Bagnaia.

“Gue sudah lihat layout sirkuit Adelaide; terlihat lumayan. Jelas lebih baik dari Balaton Park yang seperti parking lot.”

Meski berat melepas Phillip Island yang legendaris, Bagnaia menilai pindah ke Adelaide bisa jadi pengalaman berbeda dan menarik.

Selain membahas MotoGP, Bagnaia juga memuji Andrea Kimi Antonelli, pembalap Formula 1 baru yang sukses membawa Mercedes menang di GP China. Menurut Bagnaia, Antonelli punya potensi besar meski baru 19 tahun dan pernah latihan bareng di Valentino Rossi Academy.

“Dia keren banget, baru 19 tahun, tapi sudah masuk nama besar. Dengan Mercedes, posisinya maksimal,” ujar Bagnaia.

“Sayang di sprint kena penalti. Gue sudah nge-text dia, tapi pasti banjir pesan. Mudah-mudahan sekarang dia di San Marino, bisa ketemu lebih sering.”

Bagnaia sendiri bakal kembali balapan akhir pekan ini di Brazilian Grand Prix, setelah awal musim MotoGP yang cukup menantang di Thailand.

Jumat, 10 Oktober 2025

Marc Marquez Cedera Usai Tabrakan dengan Bezzecchi di MotoGP Mandalika, Ducati Ungkap Momen Debrief di Balik Layar

Marc Marquez Cedera Usai Tabrakan dengan Bezzecchi di MotoGP Mandalika, Ducati Ungkap Momen Debrief di Balik Layar
Marc Marquez Cedera Usai Tabrakan dengan Bezzecchi di MotoGP Mandalika, Ducati Ungkap Momen Debrief di Balik Layar.

JAKARTA - Sebuah video terbaru dari tim Ducati memperlihatkan momen di balik layar ketika Marc Marquez melakukan debrief pertama usai kecelakaan dengan Marco Bezzecchi di MotoGP Indonesia yang digelar di Sirkuit Mandalika. Insiden tersebut membuat Marquez mengalami cedera serius pada bahu kanannya.

Kejadian itu terjadi di tikungan cepat Turn 7 pada lap pembuka balapan Minggu lalu. Saat itu, pembalap Aprilia Marco Bezzecchi menabrak bagian belakang motor Marquez dari arah belakang. Benturan keras tersebut membuat keduanya terjatuh dan tidak dapat melanjutkan balapan.

Marc Marquez mengalami benturan berat yang langsung membuatnya kesakitan di bahu kanan. Setelah menjalani pemeriksaan medis, dokter mendiagnosis adanya patah tulang di bagian dasar prosesus korakoid serta cedera ligamen di bahu kanan.

Marc Marquez Cedera Usai Tabrakan dengan Bezzecchi di MotoGP Mandalika, Ducati Ungkap Momen Debrief di Balik Layar
Marc Marquez Cedera Usai Tabrakan dengan Bezzecchi di MotoGP Mandalika, Ducati Ungkap Momen Debrief di Balik Layar.

Akibat cedera tersebut, Ducati mengonfirmasi bahwa Marquez tidak akan tampil di dua seri berikutnya, yaitu MotoGP Australia dan MotoGP Malaysia.

Usai balapan di Mandalika, Marquez sempat menyampaikan rasa sedihnya atas insiden tersebut. Namun, ia juga menyebut bahwa tabrakan itu merupakan insiden balap biasa dan meminta para penggemarnya untuk tetap tenang, terutama di tengah gelombang kritik terhadap Bezzecchi di media sosial.

Cedera ini datang hanya seminggu setelah Marquez meraih gelar juara dunia ketujuhnya di MotoGP, sebuah pencapaian luar biasa yang kini harus ia jeda karena kondisi fisiknya.

Dalam episode terbaru dokumenter Inside Ducati, terlihat bagaimana Marquez menceritakan detik-detik sebelum kecelakaan tersebut kepada timnya.

“Ketika saya menyentuh gravel, kecepatannya sangat tinggi,” ujar Marquez. “Saya sebenarnya memulai dengan baik, grip-nya bagus, semuanya normal. Ketika keluar dari pit, ada yang terasa sedikit aneh, tapi setelah itu baik-baik saja.”

Ia melanjutkan, “Bezzecchi sedikit menyentuh saya dari belakang dan saya langsung terlempar. Saya tahu itu bukan kesalahan saya. Itu bukan tempat di mana kami melambat.”

Dalam video yang sama, kepala kru Marquez, Marco Rigamonti, sempat bercanda dengan mengatakan bahwa mereka mungkin akan bertemu lagi di Valencia saat acara penutupan musim MotoGP, menyiratkan bahwa Marquez kemungkinan akan absen hingga akhir musim.

Namun, Marquez dengan nada bercanda menanggapi, “Ah, tidak, saya akan mencoba lebih cepat dari itu. Tapi tergantung, saya belum tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan ligamen ini.”

Sementara itu, Marco Bezzecchi dikabarkan tidak mengalami cedera serius dari insiden tersebut. Meski demikian, ia kemungkinan akan menghadapi hukuman dari FIM Steward saat pertemuan sebelum MotoGP Australia.

Insiden ini menambah daftar panjang drama di musim MotoGP 2025 yang penuh dengan kejutan dan tantangan. Para penggemar tentu berharap Marquez bisa segera pulih dan kembali ke lintasan, mengingat semangat juangnya yang selalu menjadi inspirasi di dunia balap motor.

Marc Marquez Injured After Collision with Bezzecchi at Mandalika MotoGP as Ducati Reveals Behind-the-Scenes Debrief

Marc Marquez Injured After Collision with Bezzecchi at Mandalika MotoGP as Ducati Reveals Behind-the-Scenes Debrief
Marc Marquez Injured After Collision with Bezzecchi at Mandalika MotoGP as Ducati Reveals Behind-the-Scenes Debrief.

A new behind-the-scenes video from Ducati shows Marc Marquez’s first debrief after his crash with Marco Bezzecchi at the Indonesian Grand Prix in Mandalika. The incident left Marquez with a serious shoulder injury.

The crash happened at the fast Turn 7 right-hander during the opening lap of Sunday’s race. Aprilia rider Marco Bezzecchi clipped the back of Marquez’s bike, causing both riders to crash out of the race.

Marquez suffered a heavy fall that immediately caused pain in his right shoulder. After a medical examination, doctors diagnosed him with a fracture at the base of the coracoid process and a ligament injury to his right shoulder.

Because of this injury, Ducati confirmed that Marquez will miss the upcoming Australian and Malaysian Grands Prix.

Speaking after the race in Mandalika, Marquez said he felt sad about what happened but described the crash as a racing incident. He also urged fans to remain calm after Bezzecchi faced online backlash.

The injury came just a week after Marquez celebrated his seventh MotoGP world championship title, making the setback even more emotional for him and his fans.

In the latest episode of Ducati’s Inside documentary series, Marquez shared his first debrief with his crew about what happened before the crash.

“When I touched the gravel, I was going really fast,” Marquez said. “I had a good start, the grip was fine… normal. When I left the garage, there was something a bit strange, but then everything was okay.”

He continued, “He touched me slightly from behind, and I was flying. I know it wasn’t my fault. It wasn’t a section where we were slow.”

In the video, Marquez’s crew chief Marco Rigamonti joked that they would “see you in Valencia at the Gala,” implying that Marquez might miss the rest of the season.

Marquez responded with a laugh, saying, “Come on, no. I’ll try before that. But it depends—I’m not sure how long it takes for the ligament to heal.”

Meanwhile, Marco Bezzecchi escaped serious injury in the incident but is expected to meet with FIM stewards ahead of the Australian Grand Prix, where he may face a penalty for causing the collision.

The incident adds another dramatic chapter to the 2025 MotoGP season, which has already been full of unexpected moments. Fans around the world are now hoping for Marquez’s speedy recovery and return to the track, as his fighting spirit continues to inspire the MotoGP community.

Minggu, 24 Agustus 2025

Marc Marquez Tak Terbendung, Juara Sprint MotoGP Hungaria 2025

Marc Marquez kembali menunjukkan dominasinya di MotoGP 2025 dengan menjuarai sprint race Grand Prix Hungaria di Sirkuit Balaton, Sabtu (23/8/2025). Rider Ducati pabrikan itu mengalahkan duo VR46, Fabio Di Giannantonio dan Franco Morbidelli, lewat penampilan nyaris tanpa cela.

Sejak start dari pole position, Marquez langsung melesat meninggalkan rombongan pembalap lain. Meski sempat lolos dari insiden di tikungan pertama akibat manuver agresif Fabio Quartararo, juara dunia delapan kali itu tetap tenang dan menjaga jarak. Dalam beberapa lap awal, jarak Marquez dengan Di Giannantonio sempat di bawah satu detik, namun perlahan melebar hingga lebih dari dua detik. Sprint 13 lap itu akhirnya ditutup dengan kemenangan ke-13 Marquez musim ini, unggul 2,095 detik di depan Diggia.

Marc Marquez Tak Terbendung, Juara Sprint MotoGP Hungaria 2025
Marc Marquez Tak Terbendung, Juara Sprint MotoGP Hungaria 2025.

“Balapan ini cukup rumit di awal karena ada insiden di Turn 1, tapi saya beruntung bisa terhindar. Setelah itu ritme motor saya sangat baik dan saya bisa menjaga gap sampai akhir,” ujar Marquez seusai balapan, dikutip dari rilis resmi Ducati. “Peringatan track limits memang sempat mengganggu, tapi tidak berpengaruh pada hasil akhir.”

Sementara itu, Fabio Di Giannantonio mengaku puas bisa finis kedua di belakang rekan satu pabrikan Italia. “Saya mencoba menempel Marc di lap awal, tapi kecepatannya luar biasa. Finis podium bersama tim VR46 tetap hasil positif,” ucap Diggia. Morbidelli yang menempati podium ketiga juga menambahkan bahwa kecepatan Ducati memang sulit dilawan, meski dirinya sempat mendapat tekanan dari Luca Marini (Honda) sebelum berhasil mengamankan posisi.

Di belakang mereka, Fermin Aldeguer (Gresini Ducati) finis kelima, Joan Mir (Honda) keenam, dan Marco Bezzecchi (Aprilia) ketujuh. Alex Marquez hanya mampu finis kedelapan setelah start dari posisi 11, sementara juara bertahan Jorge Martin (Aprilia) harus puas di urutan kesembilan meski start dari posisi 17. Nasib sial dialami Pecco Bagnaia yang masih berjuang menemukan setelan motor ideal. Meski mencoba konfigurasi baru, Bagnaia hanya mampu finis ke-13.

Balapan sprint ini juga diwarnai drama besar di awal. Quartararo terlalu agresif saat masuk tikungan pertama, membuat kontak dengan Enea Bastianini (Tech3 KTM) dan memaksa Marco Bezzecchi mengerem mendadak. Tak lama setelah itu, Bastianini menabrak Johann Zarco (LCR Honda) di Turn 12 dan membuat keduanya gagal finis. Insiden-insiden tersebut kini masih dalam penyelidikan FIM Stewards.

Dengan hasil ini, Marc Marquez semakin menjauh di puncak klasemen MotoGP 2025 dengan selisih 152 poin dari adiknya, Alex Marquez. Peluang Marquez mengunci gelar juara dunia musim ini makin terbuka lebar meski balapan utama Minggu besok masih menanti.

Marc Marquez Rebut Pole Hungarian MotoGP 2025, Pecco Bagnaia Terpuruk di Posisi 15

Marc Marquez tampil luar biasa dengan merebut pole position pada kualifikasi MotoGP Hungaria 2025 di Balaton Park, Sabtu (23/8/2025). Sang pemimpin klasemen itu mengunci start terdepan usai catatan waktunya tak mampu dikejar rival, sementara rekan setimnya di Ducati, Francesco “Pecco” Bagnaia, justru terseok-seok hingga hanya mampu finis di posisi 15 hasil terburuknya sepanjang musim ini.

Kualifikasi berlangsung dramatis. Marquez sejatinya diprediksi bakal bersaing ketat dengan bintang muda KTM, Pedro Acosta, setelah keduanya tampil konsisten sejak sesi latihan Jumat. Namun duel itu batal terwujud ketika Acosta terjatuh di tikungan cepat Turn 8 saat baru memulai putaran cepatnya. Walau tidak cedera, insiden itu membuatnya kehilangan momentum dan harus puas menutup sesi di posisi ketujuh.

Marquez sendiri melesat sejak awal. Catatan waktunya 1 menit 36,822 detik langsung menempatkan dirinya di puncak, meski sempat harus membatalkan putaran kedua karena melebar melebihi track limit. Tak menyerah, ia kemudian mencetak 1 menit 36,646 detik, sebelum mengunci pole dengan torehan impresif 1 menit 36,518 detik. Itu menjadi pole kedelapan bagi Marquez musim ini dan mempertegas dominasinya di balapan tahun 2025.

Di belakangnya, kejutan datang dari Marco Bezzecchi yang sukses meloloskan diri dari Q1 dan menempati posisi kedua, hanya terpaut 0,290 detik dari Marquez. Fabio Di Giannantonio dari tim VR46 melengkapi barisan depan dengan menempati grid ketiga. KTM tetap punya wakil di barisan depan lewat Enea Bastianini yang berada di posisi keempat, sementara Franco Morbidelli (VR46) dan Fabio Quartararo (Yamaha) mengisi posisi lima dan enam.

Nasib berbeda dialami Bagnaia. Juara dunia dua kali itu kesulitan sejak awal kualifikasi dan bahkan gagal lolos dari Q1 untuk pertama kalinya musim ini. Ia hanya mampu menempati urutan ke-15, meski nantinya akan sedikit beruntung karena mendapat promosi dua posisi ke grid 13 akibat penalti pembalap lain. Namun hasil ini jelas menjadi pukulan bagi Bagnaia yang belakangan tengah berusaha mengejar ketertinggalan poin dari Marquez di klasemen sementara.

Kualifikasi juga diwarnai insiden lain. Alex Marquez yang tampil di atas Ducati Gresini hanya mampu mencatat posisi 11, namun harus menerima penalti turun tiga grid akibat menghalangi pembalap lain di sesi latihan Jumat. Pol Espargaro yang menjadi pembalap pengganti Tech3 terjatuh di akhir Q2 dan akhirnya start dari posisi 12. Sedangkan Jorge Martin, juara dunia bertahan, masih kesulitan dengan motor Aprilia-nya dan hanya mampu bertengger di posisi 17.

Jumat, 15 Agustus 2025

Update Teknologi Baru Bisa Bantu Aprilia Kejar Ducati dan Marc Marquez di MotoGP Austria

JAKARTA - Pebalap Aprilia MotoGP, Marco Bezzecchi, optimistis teknologi baru yang diperkenalkan di MotoGP Austria 2025 bisa membantu timnya mendekatkan jarak dengan Ducati dan Marc Marquez. Mulai akhir pekan ini di Red Bull Ring, semua tim akan menggunakan pembaruan elektronik dari Marelli yang untuk pertama kalinya menyertakan fitur stability control.

Bezzecchi datang ke Austria dengan modal podium di Brno, yang menjadi podium ketiganya dalam empat balapan terakhir. Ia menilai tambahan fitur stability control ini bisa menjadi senjata baru Aprilia untuk bersaing. “Dalam kasus kami di Aprilia, ini bisa membantu. Kami bekerja untuk terus berkembang dan mencoba mengejar pabrikan lain,” ujarnya dalam konferensi pers pra-balapan.

Marco Bezzecchi optimistis teknologi stability control bantu Aprilia bersaing di MotoGP Austria 2025.
Marco Bezzecchi optimistis teknologi stability control bantu Aprilia bersaing di MotoGP Austria 2025.

Meski mengakui fitur elektronik ini mungkin mengurangi peran murni skill pebalap, Bezzecchi yakin seiring waktu semua tim akan mencapai setelan terbaik, dan faktor pebalap kembali menjadi pembeda. “Awalnya memang rider bisa membuat sedikit perbedaan, tapi nanti saat semua sudah maksimal, rider akan kembali menentukan. Itu hanya soal waktu,” tambahnya.

Bezzecchi juga menegaskan target Aprilia tetap finis di puncak klasemen meski musim ini dimulai dengan sulit. “Musim dingin kemarin berat, saya banyak sendiri. Tapi setelah upgrade, kami mulai lebih dekat dengan para pesaing. Sekarang kami bisa bertarung karena pabrikan bekerja luar biasa, targetnya jelas: mengejar puncak, dan saat ini Marc ada di sana,” katanya.

Dengan catatan sejarah manis di Red Bull Ring termasuk podium MotoGP 2023 dan kemenangan di Moto2 2020 serta Moto3 2018 Bezzecchi berharap teknologi baru ini bisa memperkuat peluangnya. Jika hasil positif tercapai di Austria, Aprilia berpeluang mempersempit selisih poin di klasemen dan menambah persaingan di paruh kedua musim MotoGP 2025.

Sabtu, 09 Agustus 2025

Aprilia Emerges as Serious Challenger to Ducati in 2025 MotoGP Mid-Season

Aprilia rider Marco Bezzecchi celebrating victory at the 2025 Silverstone MotoGP
Aprilia Emerges as Serious Challenger to Ducati in 2025 MotoGP Mid-Season.

Ducati, the Italian manufacturer that has dominated MotoGP for the past two years, is now facing serious pressure from its rivals, especially Aprilia. At the recent Czech MotoGP round in Brno, Ducati only managed to have two riders finish in the top 10 — their lowest result in 66 races. This signals that other teams are making significant progress in the first half of the 2025 season.

Despite Ducati fielding fewer bikes on the grid, competitors like Yamaha and Honda, who struggled recently, have shown improvement. KTM enjoyed its best race at Brno, while Aprilia stole the spotlight by winning at Silverstone. MotoGP experts from Crash.net view Aprilia as the most consistent and promising manufacturer this season. 

Alex Whitworth said, “Aprilia has demonstrated steady podium pace across various circuits, unlike KTM, which showed solid performance in only a few races.” Peter McLaren added, “Despite trailing in the constructor standings and missing star rider Jorge Martin due to injury, Aprilia bounced back strongly with Marco Bezzecchi leading the team and regularly reaching the podium.”

Lewis Duncan highlighted Aprilia’s remarkable progress despite missing Martin for most of the season. “Their victory at the British GP proved Aprilia has a strong package — a great rider and a competitive bike.” Derry Munikartono emphasized that Aprilia’s RS-GP has become one of the most complete bikes on the grid, agile, balanced, and adaptable to various circuits. 

“Aprilia also hasn’t blindly copied Ducati but instead focused on developing their superior aerodynamics,” he said. Jordan Moreland noted that Aprilia has established itself as the second-best team in MotoGP, with Martin’s return expected to further boost their performance.

With this trend, the 2025 MotoGP championship battle is set to become even more exciting. Aprilia’s rapid progress and the return of Jorge Martin will put more pressure on Ducati, especially heading into upcoming rounds in Austria and Germany. Ducati, long the king of the track, will need to maintain consistency to keep their throne.

Marc Marquez Looks Unstoppable in MotoGP 2025 — Who Could Finally Beat Him?

Marc Marquez leading a MotoGP 2025 race on his Honda motorcycle at a race circuit.
Marc Marquez Looks Unstoppable in MotoGP 2025 — Who Could Finally Beat Him?

Marc Marquez has been absolutely dominant in MotoGP 2025. The Spanish rider has won 10 races in a row and currently sits at the top of the standings, with his ninth world championship looking almost certain. However, with half of the season still to go — including some flyaway races — his rivals are determined to end his winning streak.

Experts from Crash.net have weighed in on which rider might be the first to beat Marquez and where it could happen.

Peter McLaren points out, “Beating a mistake-free Marc Marquez on the same brand of bike is incredibly tough. Assuming stable weather, the best chance likely comes from having a technical advantage — like another manufacturer better exploiting the tires.” He highlights KTM’s Pedro Acosta and Aprilia’s Marco Bezzecchi as the top challengers behind Marquez recently. Bezzecchi, who already claimed a MotoGP win at Silverstone, is seen as the more consistent podium contender.

McLaren believes the new Hungarian Grand Prix at Balaton Park, debuting in late August, will be a “step into the unknown for everyone” and could produce surprises. He also notes the Barcelona GP in early September as a possible upset venue, given Aprilia’s historical success there with riders like Aleix Espargaro.

Lewis Duncan notes Ducati and Aprilia have been the only manufacturers to win dry races outside Marquez’s Honda this year. “Bezzecchi’s Silverstone victory showed Aprilia is clearly the second-best bike on the grid. He’s been Marquez’s closest challenger at Assen and pushed him hard at Brno,” Duncan says. He also points out Francesco Bagnaia and Alex Marquez as riders who can capitalize if Marc makes mistakes, thanks to their powerful Ducati machines.

Derry Munikartono says Marquez is currently in a league of his own, dominating even on tracks once seen as weak spots like Lusail, Mugello, and Assen. But if anyone can break his streak, Mandalika could be the place. “It’s the only circuit where Marc hasn’t won yet — it’s physically demanding, has low grip, and is unpredictable. That makes it the best shot for riders like Pecco, Álex, or Bez to finally stop #93 this season,” he explains.

Jordan Moreland predicts Alex Marquez could be the first to beat his brother at Barcelona in September, noting Alex’s strong performance during testing and his affinity for the track.

Alex Whitworth adds that Austria could be the track to end Marquez’s winning run, but admits Marc’s past lack of success there is largely due to bike performance issues, not skill. Whitworth believes the best chance to stop Marquez might come from unexpected events at flyaway races, since Marc is also strong in tricky conditions.

With Marquez’s remarkable form continuing, his rivals still face a tough challenge. The second half of the 2025 MotoGP season promises plenty of excitement as fans watch to see if the champion’s streak will finally be broken or if he will cement his dominance.

Marc Marquez Urged to Be Extra Cautious in Opening Sector of Balaton Park Circuit Amid Potential Crash Spot

Marc Marquez riding a Ducati motorcycle at Balaton Park Circuit, Hungary, showing the track and corner in the background
Marc Marquez Urged to Be Extra Cautious in Opening Sector of Balaton Park Circuit Amid Potential Crash Spot.

Marc Marquez has been advised to take extra care through the opening sector of the Balaton Park Circuit in Hungary, especially around Turns 2 and 3. This warning comes from Ducati test rider Michele Pirro following a major crash that happened during the World Superbike (WSBK) race at the newly built track last July.

The incident occurred in the first full-distance WSBK race when former Ducati MotoGP rider Andrea Iannone collided into the back of Danilo Petrucci at Turn 2. The pile-up also involved Garrett Gerloff, Remy Gardner, and Iker Lecuona, all of whom were injured, causing officials to red-flag the race.

Pirro, who has tested the 4.1 km circuit twice — including a Michelin tire test in June riding a MotoGP bike — said that improvements were made to the asphalt after that test. He noted that both Marquez and his teammate Francesco Bagnaia recently tried the track on a Ducati Panigale V4 R and showed great enthusiasm, enjoying the unique character of the venue compared to other tracks on the MotoGP calendar.

“After the test last June, some improvements were made to the asphalt and I saw all our riders very enthusiastic,” Pirro told GPOne. “Marquez and Bagnaia were happy because they had fun with the Ducati. I think they’ll wear out more brake pads than tires!”

Pirro emphasized the need for extra caution in the early section of the track, especially Turns 2 and 3, considering the serious crash that happened during the WSBK race. He described Balaton Park as an uncommon circuit with lots of braking zones and many restarts.

“We will have to adapt our riding style a bit compared to usual. In my opinion, all the riders will be up to the task,” added Pirro.

Hungary will host its first MotoGP race since 1992 at Balaton Park on August 24. Before MotoGP’s arrival, the World Superbike Championship was the first major international series to race at the venue, staging three races in July. The private test by Marquez and Bagnaia also gave a positive impression of the track’s stop-and-go nature and low-speed layout.

Aprilia Jadi Ancaman Serius Ducati di Paruh Musim MotoGP 2025

Pembalap Aprilia Marco Bezzecchi merayakan kemenangan di MotoGP Silverstone 2025.
Pembalap Aprilia Marco Bezzecchi merayakan kemenangan di MotoGP Silverstone 2025.

JAKARTA - Ducati, pabrikan Italia yang mendominasi MotoGP selama dua tahun terakhir, kini menghadapi tekanan serius dari para pesaingnya, terutama Aprilia. 

Pada putaran MotoGP terbaru di Brno, Republik Ceko, Ducati hanya menempatkan dua pembalap di 10 besar sebuah pencapaian terendah mereka dalam 66 balapan terakhir. 

Hal ini menandakan bahwa tim lain mulai menunjukkan peningkatan performa signifikan di paruh pertama musim 2025.

Meski Ducati turun jumlah motor yang diturunkan di lintasan, rival-rival seperti Yamaha dan Honda yang sempat terseok-seok, kini menunjukkan kemajuan. 

KTM pun meraih hasil terbaiknya di Brno, sementara Aprilia justru mencuri perhatian dengan kemenangan di Silverstone. 

Para pakar MotoGP dari Crash.net menilai Aprilia sebagai pabrikan yang paling konsisten dan menjanjikan saat ini. 

Alex Whitworth menyatakan, “Aprilia telah menunjukkan kecepatan podium yang stabil di berbagai sirkuit, berbeda dengan KTM yang hanya tampil solid di beberapa balapan saja.” Peter McLaren menambahkan, “Meski sempat tertinggal di klasemen konstruktor dan tanpa Jorge Martin yang cedera, Aprilia berhasil bangkit dengan Marco Bezzecchi sebagai pemimpin tim yang membawa mereka ke podium secara rutin.”

Lewis Duncan menyoroti perkembangan Aprilia yang cukup signifikan meski kehilangan Martin sepanjang musim ini. 

“Kemenangan di GP Inggris membuktikan bahwa Aprilia memiliki paket lengkap pembalap hebat dan motor kompetitif.” Sementara Derry Munikartono menegaskan bahwa RS-GP Aprilia kini menjadi salah satu motor paling lengkap di grid MotoGP, lincah, seimbang, dan mudah beradaptasi di berbagai sirkuit. 

“Aprilia juga tidak meniru Ducati secara membabi buta, melainkan mengembangkan aero mereka yang menjadi keunggulan tersendiri,” ujarnya. 

Jordan Moreland pun menilai bahwa Aprilia telah mengukuhkan posisi mereka sebagai pesaing kedua terkuat setelah Ducati, dengan Martin yang kembali dari cedera siap memperkuat performa tim.

Dengan tren ini, persaingan di MotoGP 2025 diprediksi semakin seru. Aprilia yang terus menunjukkan peningkatan pesat dan kehadiran Jorge Martin kembali dalam skuad akan membuat tekanan pada Ducati semakin besar, terutama menjelang putaran-putaran berikutnya di Austria dan Jerman. 

Ducati, yang selama ini jadi raja lintasan, harus menjaga konsistensi agar tak kehilangan tahta.

Marc Marquez Tak Terkalahkan di MotoGP 2025, Siapa yang Bisa Menghentikannya?

Marc Marquez sedang memimpin balapan MotoGP 2025 dengan motor Honda di sirkuit balap.
Marc Marquez sedang memimpin balapan MotoGP 2025 dengan motor Honda di sirkuit balap.

JAKARTA - Marc Marquez semakin menunjukkan dominasinya di MotoGP 2025. Pembalap asal Spanyol ini telah memenangkan 10 balapan berturut-turut dan kini memimpin klasemen sementara dengan kans besar meraih gelar juara dunia kesembilan. Meski demikian, paruh kedua musim yang akan berlangsung di berbagai sirkuit, termasuk sirkuit baru di luar Eropa, membuat para rivalnya masih bertekad menghentikan laju Marquez.

Menurut para pakar MotoGP dari Crash.net, sejumlah pembalap dan sirkuit berpotensi menjadi penantang serius yang dapat mematahkan rekor kemenangan Marquez.

Peter McLaren menilai, “Mengalahkan Marc Marquez yang selalu tampil tanpa kesalahan dengan motor yang sama bukan perkara mudah. Peluang terbaik mungkin ada pada pembalap dengan keunggulan teknis, seperti tim yang mampu memaksimalkan penggunaan ban lebih baik.” Ia menyebut Pedro Acosta (KTM) dan Marco Bezzecchi (Aprilia) sebagai pembalap yang kerap tampil dekat dengan Marquez di beberapa balapan terakhir, dengan Bezzecchi sudah pernah menang di Silverstone dan dikenal sebagai ancaman konsisten di podium.

Lokasi yang berpotensi jadi kejutan, menurut McLaren, adalah Grand Prix Hungaria di Balaton Park yang baru digelar pertama kali pada Agustus mendatang, serta GP Barcelona di awal September, sirkuit yang secara historis menguntungkan Aprilia.

Sementara itu, Lewis Duncan menyoroti dominasi Ducati dan Aprilia, dua pabrikan yang mampu menantang Marquez di lintasan kering. “Kemenangan Bezzecchi di Silverstone menunjukkan bahwa Aprilia saat ini adalah motor kedua terbaik setelah Ducati,” katanya. Duncan juga menambahkan bahwa Francesco Bagnaia dan Alex Marquez bisa jadi pembalap yang mampu mengambil keuntungan jika Marc melakukan kesalahan, seperti yang sudah terjadi beberapa kali musim ini.

Derry Munikartono mengamati bahwa saat ini Marquez berada dalam liga tersendiri, dengan performa impresif bahkan di sirkuit yang sebelumnya dianggap sulit baginya seperti Lusail, Mugello, dan Assen. Namun, Mandalika bisa menjadi tempat di mana dominasi Marc terancam. “Sirkuit Mandalika adalah satu-satunya tempat di mana Marc belum pernah menang, dengan kondisi yang berat dan tak terduga, tempat itu sangat memungkinkan pembalap lain untuk mengejutkan,” ujarnya.

Prediksi lain datang dari Jordan Moreland yang menebak Alex Marquez akan menjadi pembalap pertama yang bisa mengalahkan sang kakak di GP Barcelona, mengingat performa bagus Alex saat uji coba dan kedekatannya dengan sirkuit tersebut.

Alex Whitworth menambahkan bahwa meski Austria bisa jadi tempat yang tepat untuk mengakhiri tren kemenangan Marquez, kondisi motor yang digunakan Marc di sirkuit tersebut kurang mendukung. Ia menyebut, peluang Marquez dikalahkan kemungkinan besar muncul dari faktor tak terduga di balapan flyaway.

Dengan Marquez yang terus menunjukkan performa luar biasa, rival-rivalnya masih harus bekerja keras mencari celah untuk menghentikan laju sang juara. Paruh kedua musim MotoGP 2025 akan menjadi momen menarik untuk melihat apakah Marquez benar-benar tak terkejar atau ada kejutan besar yang menanti.

Marc Marquez Diminta Waspada di Tikungan Awal Balaton Park Circuit, Spot Kecelakaan Potensial

Marc Marquez sedang mengendarai motor Ducati di sirkuit Balaton Park, Hungaria dengan latar belakang trek dan area tikungan.
Marc Marquez sedang mengendarai motor Ducati di sirkuit Balaton Park, Hungaria dengan latar belakang trek dan area tikungan.

JAKARTA - Marc Marquez disarankan untuk ekstra hati-hati di sektor pembuka sirkuit Balaton Park, Hungaria, terutama di area Tikungan 2 dan 3. Peringatan ini datang dari pembalap tes Ducati, Michele Pirro, menyusul kecelakaan besar yang terjadi pada balapan World Superbike (WSBK) di sirkuit baru ini pada Juli lalu.

Insiden itu terjadi pada putaran pertama balapan penuh jarak di WSBK, saat Andrea Iannone menabrak bagian belakang motor Danilo Petrucci di Tikungan 2. Kecelakaan beruntun ini juga melibatkan Garrett Gerloff, Remy Gardner, dan Iker Lecuona, yang semuanya mengalami cedera dan membuat balapan terpaksa dihentikan sementara (red flag).

Michele Pirro, yang pernah menguji lintasan sepanjang 4,1 km tersebut dengan motor MotoGP pada tes ban Michelin Juni lalu, mengatakan bahwa beberapa perbaikan sudah dilakukan pada aspal setelah tes itu. Pirro menilai Marquez dan rekan setimnya, Francesco Bagnaia, yang baru saja mencoba sirkuit dengan Ducati Panigale V4 R, menunjukkan antusiasme tinggi dan menikmati karakter sirkuit yang berbeda dari sirkuit lain di kalender MotoGP.

“Setelah tes di bulan Juni, beberapa perbaikan aspal dilakukan dan saya melihat para pembalap kami sangat bersemangat,” ujar Pirro kepada GPOne. “Marquez dan Bagnaia senang karena mereka bisa bersenang-senang dengan Ducati. Saya pikir mereka akan lebih cepat aus dengan kampas rem dibandingkan ban!”

Pirro mengingatkan agar para pembalap ekstra hati-hati terutama di bagian awal sirkuit, yakni Tikungan 2 dan 3, mengingat di situ pernah terjadi kecelakaan besar saat WSBK. Ia menyebut Balaton Park sebagai sirkuit yang tidak biasa, dengan banyak pengereman dan restart yang harus dihadapi pembalap.

“Gaya balap harus sedikit diadaptasi dibanding biasanya. Menurut saya, semua pembalap pasti siap menghadapi tantangan ini,” tambah Pirro.

MotoGP akan kembali ke Hungaria untuk pertama kalinya sejak 1992 dengan balapan di Balaton Park pada 24 Agustus mendatang. Sebelumnya, WSBK menjadi ajang balap internasional besar pertama yang menguji sirkuit ini lewat tiga balapan di bulan Juli. Tes privat Marquez dan Bagnaia juga memberikan gambaran positif soal karakter sirkuit yang unik dengan layout yang menuntut banyak akselerasi dan pengereman di kecepatan rendah.

Kamis, 19 Juni 2025

Ducati Siapkan Livery Spesial Bertema Renaisans untuk MotoGP Mugello 2025: Marquez & Bagnaia Siap Jadi Ksatria Modern

Ducati Siapkan Livery Spesial Bertema Renaisans untuk MotoGP Mugello 2025: Marquez & Bagnaia Siap Jadi "Ksatria Modern"
Ducati Siapkan Livery Spesial Bertema Renaisans untuk MotoGP Mugello 2025: Marquez & Bagnaia Siap Jadi "Ksatria Modern".

JAKARTA -- MotoGP Italia di Sirkuit Mugello akhir pekan ini bakal jadi lebih dari sekadar balapan. Ducati Lenovo Team resmi menggoda para fans dengan bocoran livery spesial yang akan dipakai oleh Francesco "Pecco" Bagnaia dan pemimpin klasemen saat ini, Marc Marquez. 

Bukan livery biasa, tema kali ini terinspirasi dari kejayaan masa lalu: Renaisans Italia.

Livery Ducati Bertema Renaisans? Yes, Please!

Dalam unggahan di media sosial resminya, Ducati menampilkan teaser video bertajuk “Italian excellence, made of art and ingenuity.” Video itu menampilkan cuplikan visual penuh warna dan gemerlap cat mengilap yang langsung bikin fans penasaran.

Livery baru ini merupakan bentuk penghormatan kepada era Renaisans yang lahir di Florence kota tua bersejarah yang hanya berjarak sekitar 55 km dari sirkuit Mugello. 

Ducati menggambarkan Bagnaia dan Marquez sebagai “ksatria modern” yang akan menunggangi Desmosedici GP mereka melewati jejak sejarah.

"Leonardo. Machiavelli. Dua jiwa. Dua visi. Kini terlahir kembali dalam wujud balapan."

Belum ada gambar resmi yang dirilis, namun diperkirakan Ducati akan memperkenalkannya secara penuh pada Sabtu malam atau Minggu pagi, jelang race day. 

Kalau mengingat tradisi Ducati tahun lalu di mana mereka tampil dengan warna biru nasional untuk menyambut Euro 2024 dan Olimpiade ekspektasi publik kali ini pun cukup tinggi.

Sejarah Manis Ducati di Mugello

Kalau bicara soal dominasi, Francesco Bagnaia adalah raja Mugello dalam tiga tahun terakhir. 

Pebalap Italia ini berhasil memenangkan tiga Grand Prix berturut-turut di sana, dan juga dua sprint race yang pernah digelar di sirkuit ini.

Marc Marquez sendiri terakhir menang di Mugello pada tahun 2014, saat dirinya sedang panas-panasnya dengan 10 kemenangan beruntun. 

Meski begitu, dia datang ke Mugello tahun ini dengan kepercayaan diri tinggi sebagai pemimpin klasemen sementara, unggul 32 poin dari adiknya, Alex Marquez.

Fun fact: Alex Marquez juga punya kenangan manis di Mugello, meski bukan di kelas utama. 

Dia pernah naik podium dua kali di sana saat masih di Moto2, bahkan sempat menang sekali.

Bukan Sekadar Balapan, Ini Soal Budaya dan Identitas

Pemilihan tema Renaisans bukan tanpa alasan. Tidak ada event besar internasional seperti Piala Eropa atau Olimpiade musim panas ini, jadi Ducati memilih sesuatu yang lebih dekat dengan akar budaya: warisan sejarah dan seni Italia.

Florence, sebagai pusat Renaisans, melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Leonardo da Vinci dan Niccolò Machiavelli. 

Ducati ingin membawa semangat inovasi, seni, dan kecerdasan dari masa lalu itu ke lintasan balap modern tempat di mana teknologi dan keberanian bersatu.

Ducati Tetap Ducati: Di Balik Seni, Ada Monster Claw

Meski dibalut dalam tema seni dan sejarah, satu elemen khas Ducati tak mungkin dihilangkan—logo Monster Energy

Garis hijau cakar Monster sepertinya masih akan menghiasi livery tersebut, membuatnya tetap berkesan agresif dan modern.

Fans tentu berharap desain ini tidak hanya memanjakan mata, tapi juga membawa keberuntungan untuk tim pabrikan Italia itu. 

Apalagi dengan performa Marc Marquez yang sedang konsisten, ditambah Pecco Bagnaia yang sudah sangat akrab dengan kemenangan di Mugello.

Ducati benar-benar tahu caranya mencuri perhatian. Dengan membawa tema Renaisans Florence ke MotoGP, mereka bukan cuma membalap, tapi juga merayakan sejarah dan budaya Italia

Baik Pecco maupun Marc akan jadi "ksatria modern" yang siap menaklukkan Mugello dengan tampilan yang dijamin mencuri kamera dan hati para fans.

Jadi, jangan sampai kelewatan race-nya tanggal 22 Juni 2025 nanti. Siapa tahu, ini akan jadi salah satu momen paling ikonik sepanjang musim MotoGP tahun ini!

Minggu, 01 Juni 2025

Ducati MotoGP 2025 Lagi Kacau? Motor GP25 yang Dibilang Sempurna Malah Bikin Pusing Bagnaia dan Marquez!

Ducati MotoGP 2025 Lagi Kacau? Motor GP25 yang Dibilang Sempurna Malah Bikin Pusing Bagnaia dan Marquez!
Ducati MotoGP 2025 Lagi Kacau? Motor GP25 yang Dibilang Sempurna Malah Bikin Pusing Bagnaia dan Marquez!

JAKARTA - Lo pasti nggak nyangka deh, motor yang katanya nyaris sempurna bisa jadi masalah besar buat tim sekelas Ducati. Yup, itu yang lagi kejadian di musim MotoGP 2025 sekarang. 

Ducati yang biasanya tampil sangar dan jadi favorit juara, malah mulai keteteran gegara motor baru mereka yang namanya GP25. 

Lucu sih sebenernya, motor yang dibuat buat lebih unggul dari pendahulunya malah bikin dua rider top mereka, Pecco Bagnaia dan Marc Marquez, pada geleng-geleng kepala.

Kalau lo ngikutin MotoGP, lo pasti inget gimana dominannya Ducati musim lalu. Motor GP24 mereka itu bener-bener gila sih, kuat di lintasan mana aja, enteng dikendalikan, dan cocok banget sama gaya balap pembalap-pembalap mereka. 

Nah, masalahnya nih, karena motor itu udah deket banget sama kata "sempurna", pas mereka coba ngembangin jadi GP25... eh malah jadi zonk. 

Susah dikendalikan, terutama pas ngerem masuk tikungan. Kayak kehilangan sesuatu yang krusial.

Ducati MotoGP 2025 Lagi Kacau? Motor GP25 yang Dibilang Sempurna Malah Bikin Pusing Bagnaia dan Marquez!
Ducati MotoGP 2025 Lagi Kacau? Motor GP25 yang Dibilang Sempurna Malah Bikin Pusing Bagnaia dan Marquez!

Dan lo tau siapa yang paling ngerasain efeknya? Tentu aja Pecco Bagnaia, sang juara bertahan yang langsung dapet jatah GP25 tanpa transisi. 

Dia tuh satu-satunya rider yang langsung lompat dari GP24 ke GP25, jadi nggak ada pembanding. 

Nggak ada temen senasib yang bisa ditanya-tanya soal perbedaan motor. Dan ini makin bikin posisi Pecco rumit.

Di sisi lain, Marc Marquez, yang musim lalu masih pake GP23 bareng tim Gresini, sekarang juga nyicipin GP25 bareng tim pabrikan Ducati. 

Awalnya sih oke, tapi makin ke sini, dia juga mulai ngerasa ada yang aneh. 

Di Silverstone kemarin, keduanya sama-sama struggling. Bahkan Marquez, yang biasanya kalem, sampe keluarin komentar serius. 

Dia bilang, "Kita harus analisa ini," dan nadanya tuh nggak kayak biasanya, bro. Udah mulai serius mikirin kenapa motor ini jadi susah banget dibawa ngegas maksimal.

Dan lo tau yang bikin makin menarik? GP24 yang “lama” itu malah makin gacor dipake rider lain. Salah satu buktinya adalah Alex Marquez, adik dari Marc. 

Dia sekarang di tim Gresini, naik GP24, dan performanya justru luar biasa. 

Bahkan sempat mimpin klasemen lho! Sesuatu yang belum pernah dia rasain sepanjang kariernya di MotoGP. 

Menurut pengamat, Alex itu langsung klik sama GP24 sejak pertama kali nyobain di tes akhir musim lalu. Langsung nyetel, pede, dan hasilnya konsisten banget.

Sampai-sampai pengamat MotoGP, Sylvain Guintoli, bilang kalau masalah utama Ducati sekarang tuh ironis banget: mereka punya motor yang nyaris sempurna, tapi malah jadi susah buat dikembangin. 

Lo bayangin aja, mereka bawa part baru ke Sepang buat tes awal musim, tapi rata-rata pembalap pada nggak suka. 

Terutama saat ngerem, GP25 malah jadi susah dihentikan dan masuk tikungan. 

Nggak heran kalau Bagnaia sampe bilang dia "sliding dan spinning di mana-mana" pas balapan di Silverstone. Padahal itu rider andalan Ducati, cuy!

Yang lebih kocak, banyak yang bilang Ducati kayak lagi menciptakan senjata makan tuan. Mereka pengen motor yang lebih baik, tapi perubahan-perubahan itu justru ngilangin rasa nyaman yang selama ini jadi andalan rider mereka. 

Bahkan analis lain, Michael Laverty, bilang bahwa perubahan itu ngilangin "feeling depan" yang sangat dibutuhin Bagnaia buat ngerem dan ngambil tikungan tajam. Gila kan?

Sementara itu, rider lain kayak Jorge Martin dan Enea Bastianini udah pindah tim. Martin sekarang gabung Aprilia, dan Bastianini ke KTM. 

Dua orang yang musim lalu jadi referensi utama Ducati buat setup motor GP24. 

Sekarang yang tersisa cuma Morbidelli, dan dia pun masih pake GP24 juga musim ini. 

Jadi Ducati kayak kehilangan data pembanding buat evaluasi GP25. Dan lo tau sendiri, di MotoGP, data itu segalanya.

Makanya, sekarang Ducati lagi ada di titik dilematis banget. Di satu sisi mereka punya GP25 yang secara teori harusnya lebih canggih. 

Tapi di sisi lain, kenyataan di lapangan berkata lain. Motor ini bukannya bikin rider mereka lebih cepat, malah bikin frustrasi. 

Bahkan Bagnaia, yang notabene juara dunia dua kali, sampe ngerasa kehilangan “feel” yang biasanya dia dapet dari motornya.

Dan bukan cuma Bagnaia, Marquez juga udah mulai nunjukin rasa frustrasinya. Walau dia jago nutupin, di Silverstone kemarin dia bilang secara terang-terangan kalau dia juga kehilangan feeling depan. 

Bedanya, dia bisa adaptasi sedikit lebih cepat. Tapi ya tetep aja, nggak bisa maksimal.

Ducati MotoGP 2025 Lagi Kacau? Motor GP25 yang Dibilang Sempurna Malah Bikin Pusing Bagnaia dan Marquez!
Ducati MotoGP 2025 Lagi Kacau? Motor GP25 yang Dibilang Sempurna Malah Bikin Pusing Bagnaia dan Marquez!

Nah, balik lagi ke Alex Marquez. Rider yang awalnya dianggap underdog ini justru lagi bersinar terang. Dengan motor GP24, dia tampil lebih konsisten dibanding rider pabrikan. 

Menurut Guintoli, Alex emang langsung nyetel sama motor GP24 sejak tes akhir tahun lalu. 

Bahkan performanya di musim ini cuma ketahan karena crash dua kali di Le Mans. 

Selain itu, dia nyaris selalu bawa pulang poin dan bahkan ngalahin Bagnaia di beberapa race. Gila sih, ini namanya plot twist MotoGP 2025!

Situasi ini juga bikin banyak orang bertanya-tanya: apa Ducati harusnya balik lagi ke basis GP24? Atau minimal belajar dari data dan feedback motor itu buat ngembangin GP25. 

Soalnya, kelihatan banget sekarang GP24 lebih stabil, lebih mudah dikendalikan, dan lebih cocok sama karakter sebagian besar rider.

Tapi kan ya, gengsi tim pabrikan gede kayak Ducati juga nggak bisa diremehin. Masa iya mereka mau “mundur” ke spek lama? Tapi ya kalau spek barunya malah bikin kocar-kacir, ya mending realistis aja, nggak sih?

Intinya, musim MotoGP 2025 ini bisa jadi titik balik buat Ducati. Mereka harus cepat-cepat nemuin solusi sebelum makin tertinggal. 

Soalnya pesaing kayak Aprilia dan KTM udah mulai kelihatan mengancam. Belum lagi tim-tim satelit mereka sendiri yang malah tampil lebih konsisten.

Kita tunggu aja gimana strategi Ducati ke depannya. Apakah mereka bakal terus maksa GP25 sampe bener-bener klik? Atau akhirnya ngambil langkah radikal dan balik ke basis motor yang udah terbukti ampuh musim lalu?

Yang jelas, buat lo fans MotoGP dan pecinta drama paddock, musim ini seru banget buat diikutin. Ducati yang biasanya adem ayem dan dominan, sekarang mulai keteteran. 

Rider top mereka kayak Bagnaia dan Marquez juga lagi pusing mikirin cara buat nyatu sama motor barunya.

Dan buat lo yang baru ngikutin MotoGP, ini momen yang pas banget buat nyemplung. Karena drama teknis kayak gini bukan cuma soal mesin, tapi soal chemistry antara pembalap dan motornya juga. 

Dan kayaknya nih, musim ini bakal jadi salah satu musim paling menarik dalam sejarah MotoGP modern.