Iklan

Iklan

Hadapi Potensi Tsunami 20 Meter, Begini Langkah Pemprov Jabar

Redaksi
25/09/20, 04:32 WIB Last Updated 2020-09-24T21:32:31Z

 

Hadapi Potensi Tsunami 20 Meter, Begini Langkah Pemprov Jabar
ILUSTRASI. (Foto: klausdie)


BorneoTribun | Jabar - Pemprov Jawa Barat tengah membuat sejumlah upaya untuk menghadapi potensi tsunami di sepanjang pantai selatan Jawa Barat. Salah satunya adalah menyiapkan cetak biru provinsi berbudaya tangguh bencana atau West Java Resilience Culture Province (JRCP)


"Blue print ini untuk menjawab kondisi kebencanaan Jabar yang memang sedemikian rupa di utara, selatan dan di tengah. Artinya sebenarnya prinsip dari JRCP itu tangguh bencana, yang pertama masyarakat yang memahami, mengetahui dan menyadari risiko bencana," ucap Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Dani Ramdan saat dihubungi detikcom, Kamis (24/9/2020).


"Yang kedua adalah aktif dalam mengurangi risiko bencana, karena paradigma kita bukan pada penanggulangan, tapi pada aspek pengurangan dampak bencana, lalu aspek selamat ketika bencana itu terjadi," katanya.


Dani mengatakan penerapan JRCP ini tengah digenjot dari 2019 dan ditargetkan rampung pada 2028 mendatang. Menurut Dani, membentuk budaya tangguh bencana ini tidak mungkin memakan waktu sebentar, sehingga ada beberapa jenjang waktu sosialisasi.


"Tidak bisa 2 - 3 tahun, ada beberapa tahun. JRCP ini memang targetnya agresif, terlalu optimistis kita sadar. Namun hal ini juga seiring dengan kondisi bencana di Jabar yang terus meningkat, tapi ini harus terus digenjot yang mencakup enam dimensi, jadi dimensi masyarakat, infrastruktur, institusi policy, ekologi, knowledge dan local wisdom and financing," katanya.


Selain itu, upaya lainnya adalah memasang sistem peringatan dini (early warning system/EWS) yang dipasang di sepanjang pantai Jabar Selatan. Alat deteksi hasil kerjasama dengan BMKG itu, akan memberikan peringatan dini begitu terdapat anomali pergerakan air laut.


"Memang kondisinya belum ideal, karena alatnya belum terpasang sekian radius kilometer satu sirine. Tetapi setiap tahun kita akan tambah secara bertahap," ujar Dani.


Kemudian adalah menyiapkan rambu-rambu evakuasi sepanjang pantai selatan, seperti di Pangandaran. Walau begitu, ujar Dani, jalur evakuasi akan tetap dievaluasi secara periodik. "Memang rambu ini juga belum merata, ini harus dievaluasi jalurnya karena pernah saat kita gelar simulasi, karena orang dan kendaraan berseliweran karena jalurnya sempit," ucap Dani.


Selain itu, Pemprov Jabar juga telah membuat program Safari Desa Tangguh Bencana di desa-desa yang berada di Jabar selatan. "Ini harus dilakukan setiap tahun agar terpelihara pengetahuannya dan juga memang perangkat desa itu berganti-ganti, tahun ini kita terkendala pandemi. Mudah-mudahan tahun depan kita bisa lanjutkan desa tangguh bencana ini," tutur Dani.


Sebelumnya, Peneliti ITB Sri Widiyantoro menjelaskan tinggi tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur, dengan tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa jika terjadi secara bersamaan.


Menurut Sri, riset tersebut berdasarkan hasil pengolahan data gempa yang tercatat oleh stasiun pengamat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan data Global Positioning System (GPS). Diperoleh indikasi adanya zona dengan aktivitas kegempaan yang relatif rendah terhadap sekitarnya, yang disebut sebagai seismic gap, di selatan Pulau Jawa.


"Seismic gap ini berpotensi sebagai sumber gempa besar (megathrust) pada masa mendatang. Untuk menilai bahaya inundasi, pemodelan tsunami dilakukan berdasarkan beberapa skenario gempa besar di sepanjang segmen megathrust di selatan Pulau Jawa. Skenario terburuk, yaitu jika segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan," kata Sri.


Riset ini sekaligus menjawab seismic gap di sepanjang Jawa dengan total populasi lebih dari 150 juta orang yang sebelumnya masih kurang dipelajari secara intensif. Daerah-daerah di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa, misalnya Palabuhanratu, Pangandaran, Pacitan, dan Banyuwangi yang telah berkembang pesat belakangan ini, rentan terhadap ancaman gempa besar dan tsunami destruktif.


Sebagaimana terjadi pada 1994 dan 2006 yaitu gempa yang menimbulkan tsunami (gempa tsunamigenik) dengan magnitudo momen 8 terjadi di selatan Banyuwangi (Mw 7,8) dan Pangandaran (Mw 7,7). Tsunami yang ditimbulkan oleh kedua gempa ini menewaskan hampir 1.000 orang di kedua tempat tersebut.


"Tidak adanya gempa bumi besar (Mw > 8) dalam beberapa ratus terakhir tahun ini mengindikasikan bahwa gempa tsunamigenik yang dahsyat di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa merupakan ancaman yang harus diwaspadai," ujar Sri. (*)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Hadapi Potensi Tsunami 20 Meter, Begini Langkah Pemprov Jabar

Terkini

Iklan