Iklan

logo

Survei: 63% Warga Yahudi-Amerika Pernah Alami atau Saksikan Sikap Anti-Yahudi

BorneoTribun
4/02/2021 06:50:00 AM Last Updated 2021-04-01T23:50:30Z
Survei: 63% Warga Yahudi-Amerika Pernah Alami atau Saksikan Sikap Anti-Yahudi
Anggota komunitas Ortodoks Yahudi berkumpul di sekitar seorang jurnalis saat melakukan wawancara di sudut jalan di lingkungan Borough Park, Brooklyn, New York, 7 Oktober 2020, (Foto: dok).

BorneoTribun Internasional -- Pada era di mana keprihatinan terhadap keberadaan ekstremisme sayap kanan di Amerika Serikat semakin besar, sebuah survei baru menggambarkan potret yang merisaukan dari pengalaman warga Yahudi-Amerika dengan anti-Yahudi.

Survei yang dirilis pada Rabu (31/3) oleh Liga Antifitnah (Anti-Defamation League/ADL), sebuah kelompok pembela hak-hak Yahudi yang terkemuka di Amerika Seritkat (AS), menunjukkan 63 persen warga Yahudi-Amerika telah mengalami atau menyaksikan sikap anti-Yahudi dalam lima tahun terakhir. Ini merupakan peningkatan besar dibanding survei yang sama tahun lalu, yaitu sebesar 53 persen.

Pada saat yang sama, 59 persen responden dalam survei tahun ini mengatakan dibanding satu dekade lalu, mereka merasa orang Yahudi tidak aman di Amerika. Sebanyak 49 persen mengungkapkan rasa takut dengan terjadinya serangan kekerasan terhadap sinagog.

Sejumlah orang dari komunitas Yahudi Orthodox di Brooklyn, New York, 8 April 2020.

“Apa yang disampaikan dalam laporan ini adalah sebuah paparan sangat luas dari apa yang dialami warga Yahudi-Amerika kini. Dan itu jelas merupakan dampak dari berbagai bentuk anti-Yahudi atau ungkapan anti-Yahudi,” kata Jessica Reaves, Direktur Center on Extremism di ADL.

Survei yang dilakukan pada 7-15 Januari tersebut mengumpulkan jawaban dari 503 warga Yahudi-Amerika usia 18 tahun keatas. Batas kesalahan (margin of error) hasil ini adalah plus atau minus 4,4 persen.

Menurut perkiraan Pew Research pada 2013, sekitar 4,2 juta warga dewasa Amerika mengidentifikasi Yahudi “sebagai agama,” mewakili 1,8 persen dari populasi dewasa AS.

Sebuah perkiraan yang lebih inklusif oleh “The American Jewish Year Book 2019” menunjukkan angka 6,9 juta. Kebanyakan warga Yahudi-Amerika tinggal di kota-kota besar di mana sebagian besar kejahatan bermotif kebencian (hate crime) anti-Yahudi terjadi.

Polisi New York (NYPD) dan anggota patroli keamanan lingkungan Shorim Yahudi memberikan instruksi di tengah kerumunan ratusan pelayat untuk mengikuti prosesi pemakaman Rabbi Chaim Mertz, di tengah pandemi COVID-19 di wilayah Brooklyn di New York, Selasa, 28 April 2020. (Foto: dok).

Temuan baru ini diketahui ketika kota-kota besar di Amerika melaporkan penurunan tajam angka kejahatan bermotif kebencian anti-Yahudi pada 2020, setelah mengalami kenaikan pada 2019 ketika warga Yahudi menjadi sasaran nomor satu dari kejahatan bermotif kebencian di New York, Los Angeles, dan Chicago.

Menurut para pakar, penurunan kejahatan bermotif kebencian anti-Yahudi tahun lalu turun ketika diberlakukannya pembatasan sosial akibat pandemi virus corona, sehingga peluang untuk tatap muka sangat berkurang.

Akibatnya, kebanyakan sikap anti-Yahudi yang dialami orang Yahudi-Amerika terjadi di internet. Sebanyak 36 responden dalam survei ADL mengatakan mereka menghadapi beberapa bentuk pelecehan di dunia maya. Namun, Reaves mencatat, hanya 29 persen yang melaporkan ancaman dan pelecehan di platform media sosial, yang merupakan penurunan dari 43 persen pada 2020. [jm/em]

Oleh: VOA Indonesia
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Survei: 63% Warga Yahudi-Amerika Pernah Alami atau Saksikan Sikap Anti-Yahudi

Terkini di BorneoTribun