Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Mempawah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mempawah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juni 2026

Pagi Air Sungai Mempawah Mendadak Jernih, Sejam Kemudian Jutaan Ikan Mulai Mengapung

Ribuan hingga jutaan ikan keramba di Sungai Mempawah mati mendadak. Pembudidaya mengalami kerugian besar dan terpaksa melakukan panen darurat dengan harga murah.
Ribuan hingga jutaan ikan keramba di Sungai Mempawah mati mendadak. Pembudidaya mengalami kerugian besar dan terpaksa melakukan panen darurat dengan harga murah.

Kematian Massal Ikan di Sungai Mempawah, Ancaman Serius bagi Pembudidaya Keramba

MEMPAWAH - Kematian massal ikan yang terjadi di Sungai Mempawah, Kalimantan Barat, menjadi pukulan berat bagi para pembudidaya keramba apung. 

Dalam waktu singkat, ratusan ribu hingga diperkirakan jutaan ekor ikan budidaya ditemukan mati mendadak, menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan air tawar.

Peristiwa yang terjadi pada Rabu (10/6/2026) pagi itu mengundang perhatian banyak pihak. 

Sepanjang aliran Sungai Mempawah, ikan mas dan ikan nila terlihat mengapung dalam kondisi lemas sebelum akhirnya mati. 

Fenomena tersebut membuat permukaan sungai tampak berbeda dari biasanya karena dipenuhi ikan yang timbul ke permukaan.

Bagi para pembudidaya, kejadian ini tidak hanya berdampak pada hasil panen saat ini, tetapi juga mengancam keberlangsungan usaha mereka dalam jangka panjang. 

Banyak ikan yang mati masih berukuran kecil dan belum layak jual. 

Artinya, modal yang telah dikeluarkan untuk bibit, pakan, dan perawatan selama berbulan-bulan berisiko hilang begitu saja.

Situasi darurat memaksa para pemilik keramba mengambil langkah cepat. Ikan yang masih hidup segera dipanen untuk menghindari kerugian yang lebih besar. 

Namun kondisi tersebut membuat harga jual turun drastis. 

Ikan hasil panen darurat hanya dilepas ke pasar sekitar Rp10 ribu per kilogram, jauh di bawah nilai yang diharapkan saat masa panen normal.

Selain kerugian ekonomi, kematian massal ikan juga menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi lingkungan perairan Sungai Mempawah. 

Hingga kini penyebab pasti kejadian tersebut masih belum diketahui. 

Sejumlah pembudidaya mengaku melihat perubahan mendadak pada kondisi air sungai beberapa saat sebelum ikan mulai menunjukkan gejala tidak normal.

Salah seorang pengelola keramba di Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, menyebut air sungai tiba-tiba terlihat sangat jernih pada pagi hari. 

Awalnya kondisi itu diduga akibat masuknya air laut ke aliran sungai. 

Namun setelah dilakukan pengecekan sederhana, air tetap terasa tawar sehingga dugaan tersebut belum dapat dipastikan.

Tidak lama setelah perubahan kondisi air terjadi, ikan-ikan dalam keramba mulai naik ke permukaan dan terlihat kesulitan bertahan hidup. 

Dalam kurun waktu singkat, jumlah ikan yang mati terus bertambah hingga menimbulkan kerugian besar di berbagai titik budidaya.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa usaha budidaya ikan sangat bergantung pada stabilitas kualitas lingkungan perairan. 

Perubahan mendadak pada kondisi air, baik yang disebabkan faktor alam maupun faktor lainnya, dapat berdampak langsung terhadap kelangsungan hidup ikan dalam jumlah besar.

Sementara para pembudidaya berupaya menyelamatkan ikan yang tersisa, harapan kini tertuju pada adanya penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab kematian massal tersebut. 

Kepastian mengenai sumber masalah dinilai penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan mengancam mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada keramba apung di Sungai Mempawah.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi kabar buruk bagi para pelaku usaha perikanan lokal, tetapi juga menunjukkan betapa rentannya sektor budidaya terhadap perubahan kondisi lingkungan yang terjadi secara mendadak. 

Dengan kerugian yang diperkirakan sangat besar, pemulihan usaha para pembudidaya diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Jumat, 15 Mei 2026

Perkuat Rantai Pasok dan Akses Pasar Global, Jaringan Petani Dampingan Gemawan Konsolidasikan Jejaring Ekonomi Lokal

Perkuat Rantai Pasok dan Akses Pasar Global, Jaringan Petani Dampingan Gemawan Konsolidasikan Jejaring Ekonomi Lokal
Perkuat Rantai Pasok dan Akses Pasar Global, Jaringan Petani Dampingan Gemawan Konsolidasikan Jejaring Ekonomi Lokal.
Mempawah — Kelompok desa dampingan Gemawan yang tergabung dalam Jaringan Petani Berbasis Komoditas dari Kabupaten Mempawah, Kubu Raya, dan Sambas menggelar kegiatan bertajuk “Konsolidasi Jaringan Petani dan Temu Bisnis Komoditas” pada Kamis (14/05/2026) di Aula Kantor Desa Bakau Kecil, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Penjabat Kepala Desa Bakau Kecil dan difasilitasi oleh Gemawan sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring ekonomi masyarakat berbasis komoditas lokal serta pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

Koordinator Gemawan Wilayah Mempawah, Lani Ardiansyah, mengatakan kegiatan ini menghadirkan sejumlah pihak strategis, salah satunya PT Hikma Jaya Sempurna yang saat ini fokus mengembangkan produk turunan kelapa, khususnya pengolahan limbah sabut kelapa menjadi cocopeat dan pupuk organik bernilai ekonomi.

Selain itu, kegiatan juga menghadirkan buyer internasional melalui PT Pusaka Insan Indonesia. Menurut Lani, kehadiran mitra industri dan buyer tersebut menjadi momentum penting dalam membuka peluang pasar yang lebih luas bagi komoditas unggulan hasil produksi jaringan petani dampingan.

“Melalui pertemuan ini, kami berharap tercipta kolaborasi yang kuat antara jaringan petani, sektor industri, dan para pemangku kebijakan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif, berkelanjutan, serta berbasis pada potensi sumber daya lokal,” ujar Lani Ardiansyah yang akrab disapa Ucup.

Ia menambahkan bahwa komoditas kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan, baik di Kalimantan Barat secara umum maupun di Kabupaten Mempawah secara khusus. Menurutnya, penguatan sektor kelapa juga menjadi salah satu langkah strategis dalam menjaga lahan masyarakat agar tidak terus beralih fungsi menjadi perkebunan komoditas lain atau perkebunan monokultur.

“Kelapa memiliki potensi pasar ekspor yang cukup besar. Karena itu, pengembangan komoditas ini dapat menjadi alternatif ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan pemanfaatan lahan,” tambahnya.

*Empat Pilar Strategis*

Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Improving Community Based Economic Movement in West Kalimantan” periode 2024–2027 yang diimplementasikan oleh Gemawan. Melalui agenda konsolidasi tersebut, terdapat empat tujuan utama yang ingin dicapai.

Pertama, memperkuat sinergi rantai pasok melalui pembangunan kemitraan produksi dan hilirisasi komoditas kelapa bersama sektor industri.

Kedua, meningkatkan kapasitas petani dan kelembagaan ekonomi lokal melalui kunjungan langsung ke pabrik pengolahan limbah sabut kelapa. Kegiatan ini juga dihadiri Kepala UPT KPH Mempawah sebagai bentuk penguatan kolaborasi multipihak dan dukungan terhadap standarisasi sektor riil.

Ketiga, memperluas jejaring bisnis dengan membuka akses pasar global melalui temu bisnis bersama buyer mancanegara.

Keempat, mendorong formalisasi kerja sama melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) guna membangun kemitraan yang transparan, adil, dan berkelanjutan.

Ucup menegaskan, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat posisi petani lokal dalam rantai pasar yang lebih luas, sekaligus mempertegas pentingnya kolaborasi multipihak dalam membangun ekonomi desa yang mandiri dan berkelanjutan.

“Kami berharap agenda ini tidak hanya menjadi ruang konsolidasi jaringan petani, tetapi juga mampu menghadirkan peluang ekonomi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat desa,” pungkasnya.

Minggu, 29 Maret 2026

Gemawan Dorong Kepemimpinan Perempuan Muda Hadapi Krisis Iklim di Mempawah

Gemawan Dorong Kepemimpinan Perempuan Muda Hadapi Krisis Iklim di Mempawah
Gemawan Dorong Kepemimpinan Perempuan Muda Hadapi Krisis Iklim di Mempawah.

Mempawah — Gemawan menyelenggarakan workshop dan uji coba modul bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Membangun Ketangguhan Komunitas terhadap Krisis Iklim” selama dua hari, pada 27–28 Maret 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Workshop ini melibatkan kelompok perempuan muda dari tiga desa, yakni Desa Sekabuk, Desa Bumbun, dan Desa Suak Barangan. Kegiatan turut dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kecamatan Sadaniang yang diwakili Sekretaris Camat, serta kepala desa dan perangkat desa dari ketiga wilayah tersebut.

Rahma, pegiat Gemawan, menyampaikan bahwa workshop dan modul ini merupakan bagian akhir dari rangkaian Program REDA yang telah berjalan selama kurang lebih dua tahun di Kabupaten Mempawah. Program tersebut dilaksanakan di tiga kabupaten yaitu Mempawah, Kapuas Hulu dan Kubu Raya. Untuk Mempawah ada di 3 desa yaitu Sekabuk, Bumbun, dan Suak Barangan yang ke semua itu adalah kecamatan Sadaniang.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mensosialisasikan hasil riset yang telah dilakukan selama program berjalan. Penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengetahui bahwa proyek ini tidak hanya sebatas penelitian, tetapi juga menghasilkan temuan dan rekomendasi yang dapat dimanfaatkan bersama,” ujar Rahma.

Gemawan Dorong Kepemimpinan Perempuan Muda Hadapi Krisis Iklim di Mempawah
Gemawan Dorong Kepemimpinan Perempuan Muda Hadapi Krisis Iklim di Mempawah.

Ia menjelaskan bahwa selain memaparkan hasil riset, Gemawan juga menyusun modul pelatihan kepemimpinan perempuan muda, khususnya dalam upaya mitigasi perubahan iklim di tingkat komunitas. Workshop ini diikuti oleh sekitar tiga puluhan peserta dari tiga desa, dengan antusiasme yang tinggi dari para peserta dan dukungan pemerintah setempat.

Lebih lanjut, Rahma menyampaikan bahwa riset yang dilakukan mencakup kajian mengenai kepemimpinan perempuan muda dalam proses mitigasi perubahan iklim, serta analisis perubahan tutupan lahan (land cover) di wilayah desa. Hasil kajian ini menunjukkan berbagai dinamika perubahan lingkungan yang terjadi di ketiga desa tersebut.

“Melalui program ini, kami juga mendorong perempuan muda untuk lebih aktif mengambil peran sebagai agen perubahan dalam menghadapi krisis iklim,” tambahnya.

Rahma berharap hasil workshop dan modul yang dihasilkan tidak hanya bermanfaat bagi perempuan muda, tetapi juga dapat menjadi rujukan bagi pemerintah desa dan kecamatan dalam menyusun kebijakan berbasis data dan kebutuhan lokal.

“Kami berharap hasil ini bisa menjadi bahan bagi pemerintah desa untuk ditindaklanjuti, baik dalam bentuk kebijakan maupun program di tingkat desa. Selain itu, kelompok perempuan muda yang telah terbentuk di tiga desa ini diharapkan dapat terus berkembang dan tidak berhenti setelah program berakhir,” jelasnya.

Gemawan Dorong Kepemimpinan Perempuan Muda Hadapi Krisis Iklim di Mempawah
Gemawan Dorong Kepemimpinan Perempuan Muda Hadapi Krisis Iklim di Mempawah.

Ia juga menyoroti kondisi lingkungan yang dihadapi masyarakat saat ini, seperti musim kemarau panjang, keterbatasan akses air bersih, serta dampak kabut asap yang dirasakan langsung oleh warga. Situasi ini menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas komunitas, khususnya perempuan muda, dalam menghadapi krisis iklim.

Sebagai penutup, Rahma berharap modul pelatihan yang telah disusun dapat menjadi alat pembelajaran berkelanjutan bagi generasi muda.

“Modul ini diharapkan dapat digunakan oleh perempuan muda untuk melatih dan mengedukasi generasi lainnya agar lebih sadar dan terlibat dalam upaya mitigasi perubahan iklim,” pungkasnya.

Minggu, 01 Maret 2026

Kitabisa dan Harapan Alam Gerakkan Komunitas Tanam Mangrove

Kolaborasi Kitabisa, Gemawan, dan komunitas lokal menanam mangrove di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai benteng pesisir alami, edukasi lingkungan, dan pelestarian masa depan masyarakat.
Kolaborasi Kitabisa, Gemawan, dan komunitas lokal menanam mangrove di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai benteng pesisir alami, edukasi lingkungan, dan pelestarian masa depan masyarakat.

Mempawah - Pesisir bukan hanya tentang laut. Di sana, mangrove tumbuh sebagai benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi, menjaga kehidupan pesisir, sekaligus menyimpan harapan bagi generasi mendatang.

Semangat itu menjadi dasar kolaborasi antara Kitabisa.org, Harapan Alam (HARPA), Ganavira, Crustea, komunitas Interraction, dan Gemawan dalam kegiatan penanaman mangrove bertajuk “Dari Hati Turun ke Alam – Bersama Tanam Mangrove”.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 28 Februari 2026 di Desa Bakau Kecil, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, dengan melibatkan penerima beasiswa, komunitas pecinta lingkungan, serta masyarakat setempat.

Merawat Pesisir, Merawat Kehidupan

Kolaborasi Kitabisa, Gemawan, dan komunitas lokal menanam mangrove di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai benteng pesisir alami, edukasi lingkungan, dan pelestarian masa depan masyarakat.
Kolaborasi Kitabisa, Gemawan, dan komunitas lokal menanam mangrove di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai benteng pesisir alami, edukasi lingkungan, dan pelestarian masa depan masyarakat.

Mangrove bukan sekadar vegetasi pesisir. Ia adalah pelindung alami dari gelombang dan badai, habitat berbagai biota laut, sekaligus penyangga ekonomi masyarakat.

“Dalam konteks perubahan iklim dan meningkatnya risiko abrasi, keberadaan mangrove menjadi semakin krusial,” ujar Lani Ardiansya, pegiat Gemawan.

Selain menanam bibit mangrove, peserta juga mendapatkan pembelajaran langsung mengenai praktik silvofishery—model budidaya perikanan yang terintegrasi dengan pelestarian mangrove. Pendekatan ini menjadi contoh nyata bahwa konservasi lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dari Aksi ke Edukasi

Kolaborasi Kitabisa, Gemawan, dan komunitas lokal menanam mangrove di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai benteng pesisir alami, edukasi lingkungan, dan pelestarian masa depan masyarakat.
Kolaborasi Kitabisa, Gemawan, dan komunitas lokal menanam mangrove di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai benteng pesisir alami, edukasi lingkungan, dan pelestarian masa depan masyarakat.

Kegiatan ini tidak berhenti pada aksi simbolik. “Dari Hati Turun ke Alam” menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan bersama.

Ucup sapaan Akrabnya, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas latar belakang ini membuktikan kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh dari siapa saja dan menjadi gerakan berdampak ketika disatukan.

Senada dengan itu, Muti dari Komunitas Lingkungan Kitabisa–Interraction berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran komunitas terhadap isu-isu lingkungan. Ia menekankan pentingnya anggota komunitas memahami tujuan setiap program, lalu menyebarkan pengetahuan dan advokasi di lingkungannya masing-masing.

“Harapannya teman-teman komunitas tidak hanya ikut menanam, tapi juga menjadi penyambung informasi dan penggerak kesadaran di ruang mereka sendiri,” ujarnya.

Ke depan, komunitas di Kalimantan Barat—khususnya Pontianak—diharapkan dapat menginisiasi kegiatan lanjutan secara mandiri, baik terkait mangrove maupun isu lingkungan lainnya.

Komitmen Berkelanjutan

Kolaborasi Kitabisa, Gemawan, dan komunitas lokal menanam mangrove di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai benteng pesisir alami, edukasi lingkungan, dan pelestarian masa depan masyarakat.
Kolaborasi Kitabisa, Gemawan, dan komunitas lokal menanam mangrove di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai benteng pesisir alami, edukasi lingkungan, dan pelestarian masa depan masyarakat.

Tantowi Gilang dari Harapan Alam–Kitabisa.org menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari sinergi antara program beasiswa, pemberdayaan, dan pelestarian lingkungan.

“Kegiatan lanjutan pasti ada. Kami masih memiliki banyak pekerjaan rumah, terutama dalam penguatan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan komunitas di Kalimantan Barat. Ke depan, akan ada diskusi kelompok terarah (FGD) serta kegiatan lain untuk memperkuat gerakan ini,” jelasnya.

Ia juga berharap kolaborasi lintas pemangku kepentingan—mulai dari relawan, lembaga lingkungan, hingga penerima beasiswa dan keluarga mereka—dapat memperkuat pendidikan, kesejahteraan, serta melahirkan program-program baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Kolaborasi Kitabisa, Gemawan, dan komunitas lokal menanam mangrove di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai benteng pesisir alami, edukasi lingkungan, dan pelestarian masa depan masyarakat.
Kolaborasi Kitabisa, Gemawan, dan komunitas lokal menanam mangrove di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai benteng pesisir alami, edukasi lingkungan, dan pelestarian masa depan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, para kolaborator mengajak masyarakat luas untuk turut serta menjaga pesisir. Karena pesisir bukan hanya tentang laut—ia adalah tentang kehidupan, keberlanjutan, dan masa depan yang dirawat bersama.

Sabtu, 07 Februari 2026

Bangkit dari Krisis Iklim, Perempuan Muda Sadaniang Bangun “Rumah Ekosistem” Lewat Hutan Analog

Bangkit dari Krisis Iklim, Perempuan Muda Sadaniang Bangun “Rumah Ekosistem” Lewat Hutan Analog
Bangkit dari Krisis Iklim, Perempuan Muda Sadaniang Bangun “Rumah Ekosistem” Lewat Hutan Analog.

MEMPAWAH -- Sadaniang tidak tinggal diam. Di tengah perubahan iklim yang makin terasa hingga ke ladang dan kebun, sekelompok perempuan muda memilih bergerak lebih dulu. Mereka tak sekadar menanam, tapi sedang menyiapkan masa depan lahan mereka sendiri.

Perkumpulan Gemawan bersama perempuan muda di Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah, memulai langkah nyata pemulihan lingkungan melalui Pelatihan Teknis Analog Forestry (Hutan Analog). Kegiatan ini digelar selama dua hari, 5–6 Februari 2026, di tiga desa: Sekabuk, Suak Barangan, dan Bumbun.

Pelatihan ini menjadi titik balik cara pandang perempuan muda dalam mengelola lahan. Dari yang sebelumnya bergantung pada satu jenis tanaman, kini mereka diperkenalkan pada sistem pengelolaan lahan berbasis ekosistem, meniru cara kerja hutan alami yang lebih seimbang dan tahan krisis.

Bukan Sekadar Tanam, Tapi Menata Ekosistem

Alih-alih menanam secara terburu-buru, peserta pelatihan justru fokus pada penyiapan lahan demplot. Kelompok Matahari, Bukit Marajangan’t, dan Wanita Sabun kini menerapkan konservasi tanah, seperti penggunaan mulsa dari daun gugur dan tanaman berakar dalam.

Langkah ini penting agar tanah tetap lembap, mikroorganisme hidup, dan lahan tidak rusak karena dibiarkan telanjang.

“Kami ingin bibit tumbuh sehat, bukan sekadar hidup sesaat,” kata Lani Ardiansyah, Koordinator Gemawan Wilayah Mempawah.

Ia menjelaskan, pembagian bibit seperti alpukat, durian, kelengkeng, dan tanaman strata lainnya baru akan dilakukan satu hingga dua minggu ke depan. “Kami sedang membangun rumah ekosistemnya dulu,” ujarnya.

Strategi Perempuan Menghadapi Ketidakpastian Iklim

Pendekatan Analog Forestry ini bukan tanpa alasan. Rahmawati, pegiat Gemawan, menyebut sistem ini berdiri di atas empat fondasi utama: kesehatan tanah, kemandirian, ketahanan, dan keseimbangan ekosistem.

Dengan menanam berbagai jenis tanaman dalam satu lahan, risiko gagal panen dapat ditekan. Jika satu komoditas terdampak cuaca ekstrem, tanaman lain tetap bisa menopang kebutuhan keluarga.

“Ini bukan hanya soal pangan, tapi juga soal ekonomi dan keberlanjutan hidup,” jelas Rahmawati.

Tabungan Hijau untuk Masa Depan

Ke depan, demplot Analog Forestry di Sadaniang diharapkan menjadi sumber pangan harian, penopang ekonomi keluarga, sekaligus penyerap karbon alami. Perempuan muda tak lagi hanya menjadi pekerja lahan, tetapi pengelola ekosistem yang berdaulat atas tanahnya sendiri.

Langkah kecil ini membuktikan bahwa solusi krisis iklim bisa dimulai dari desa, oleh tangan-tangan perempuan muda yang berani berubah.

Sabtu, 24 Januari 2026

Kitabisa.org Gandeng Gemawan dan Crustea, MangSilvo Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Mempawah

Kitabisa.org Gandeng Gemawan dan Crustea, MangSilvo Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Mempawah
Kitabisa.org Gandeng Gemawan dan Crustea, MangSilvo Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Mempawah.

Mempawah – Upaya menjaga pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga terus diperkuat. Kitabisa.org kembali menunjukkan komitmennya terhadap lingkungan dengan mempererat kolaborasi bersama Gemawan dan Crustea melalui program MangSilvo atau Mangrove Silvofishery di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Program ini dilaksanakan di Desa Bakau Kecil, Kecamatan Mempawah Timur, pada Kamis 22 Januari 2026. Fokus utamanya adalah memulihkan ekosistem mangrove sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir lewat sistem budidaya terpadu yang berkelanjutan.

Kitabisa.org Gandeng Gemawan dan Crustea, MangSilvo Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Mempawah
Kitabisa.org Gandeng Gemawan dan Crustea, MangSilvo Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Mempawah.

MangSilvo menggabungkan konservasi mangrove dengan budidaya perikanan seperti ikan nila, udang, dan kepiting dalam satu kawasan tambak. Pendekatan ini memungkinkan alam tetap terjaga, sementara masyarakat tetap bisa produktif secara ekonomi.

Sebagai langkah awal, kolaborasi lintas pihak ini telah menyelesaikan pembangunan tambak dengan sistem tiga sekat dan menebar sekitar 1.500 benih ikan nila salin. Program ini tidak berhenti di situ. Pada Februari mendatang, kegiatan akan dilanjutkan dengan budidaya udang dan kepiting, disertai penanaman mangrove di sepanjang tepian parit tambak.

Lani Ardiansyah menjelaskan bahwa konsep MangSilvo memang dirancang agar kegiatan ekonomi tidak merusak alam. Budidaya tetap berjalan, namun mangrove sebagai pelindung alami pesisir juga terus tumbuh dan berkembang.

Menjaga Lingkungan, Menguatkan Kemandirian Warga

Kitabisa.org Gandeng Gemawan dan Crustea, MangSilvo Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Mempawah
Kitabisa.org Gandeng Gemawan dan Crustea, MangSilvo Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Mempawah.

Bagi Kitabisa.org, MangSilvo bukan sekadar proyek tambak atau penanaman pohon. Program ini menjadi simbol penguatan kedaulatan masyarakat pesisir, khususnya Kelompok Bakau Jaya, yang selama ini konsisten menjaga wilayah pesisir dari ancaman abrasi dan kerusakan lingkungan.

Ucup, perwakilan Gemawan, menyampaikan bahwa keberhasilan menjaga lingkungan sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Menurutnya, alam tidak bisa diselamatkan jika masyarakatnya masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup dasar.

Dari sisi ekonomi, tambak silvofishery menjadi solusi nyata bagi nelayan ketika cuaca ekstrem melanda. Saat angin kencang dan gelombang tinggi membuat aktivitas melaut berisiko, warga tetap memiliki sumber penghasilan alternatif yang lebih aman dan stabil.

Kitabisa.org Gandeng Gemawan dan Crustea, MangSilvo Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Mempawah
Kitabisa.org Gandeng Gemawan dan Crustea, MangSilvo Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Mempawah.

Sementara dari sisi lingkungan, kehadiran mangrove di area tambak membantu menahan abrasi, memperkuat struktur pesisir, serta menjadi habitat alami bagi berbagai biota laut. Model ini dinilai mampu menciptakan keseimbangan antara produksi dan konservasi.

Gemawan bersama para mitra berharap MangSilvo dapat menjadi contoh pengelolaan pesisir berkelanjutan yang bisa diterapkan di daerah lain dengan kondisi serupa.

Di kesempatan yang sama, Sofie dari Kitabisa.org menegaskan bahwa keterlibatan Kitabisa dalam program ini bertujuan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh nelayan dan keluarga mereka, bukan hanya berhenti pada pembangunan fisik.

Kitabisa.org Gandeng Gemawan dan Crustea, MangSilvo Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Mempawah
Kitabisa.org Gandeng Gemawan dan Crustea, MangSilvo Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Mempawah.

Sementara itu, Dzaky dari Crustea menambahkan bahwa program MangSilvo juga menjadi sarana penerapan ilmu pengetahuan secara praktis. Tidak hanya mendorong ekonomi warga, tetapi juga membekali masyarakat dengan pendekatan teknis dan ilmiah agar pengelolaan pesisir bisa berjalan secara berkelanjutan dalam jangka panjang.

Kamis, 11 Desember 2025

JARINGPEDAS Mempawah Gelar Workshop Penyusunan Rencana Strategis

JARINGPEDAS Mempawah Gelar Workshop Penyusunan Rencana Strategis
JARINGPEDAS Mempawah Gelar Workshop Penyusunan Rencana Strategis.
Mempawah – JARINGPEDAS (Jaringan Petani Komoditas) Kabupaten Mempawah menggelar workshop penyusunan Rencana Strategis (Renstra) sebagai langkah memperkuat arah gerak organisasi, Rabu (10/12/2025). Kegiatan ini melibatkan sebanyak 15 Desa yang ada di Kabupaten Mempawah dan merupakan kelanjutan dari proses pembentukan jaringan pada 25 Juni 2025, dan pelatihan advokasi pada November 2025 yang sebelumnya membekali anggota dengan kemampuan analisis isu serta strategi menyuarakan aspirasi petani.

Kepala Desa Galang, Rasyidi, membuka kegiatan dan menegaskan pentingnya penyusunan rencana jangka panjang bagi petani komoditas di Mempawah.

“Saya sangat mendukung kegiatan yang bertujuan memajukan petani. Penyusunan rencana ini akan membantu menentukan langkah-langkah strategis untuk beberapa tahun ke depan,” ujarnya.

Fasilitator workshop, Lani Ardiansyah, menyampaikan bahwa dokumen Renstra menjadi instrumen penting untuk menjaga konsistensi gerakan JARINGPEDAS.

“Tanpa Renstra, jaringan berisiko kehilangan fokus. Melalui workshop ini, kita memetakan visi 3 - 5 tahun ke depan, merumuskan misi, serta menentukan tujuan strategis JARINGPEDAS,” katanya.

Workshop ini ditargetkan menghasilkan rumusan visi, misi, serta struktur kepengurusan baru yang akan menjadi dasar pengembangan jaringan petani komoditas Mempawah secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Sehingga proses penyusunan Renstra ini merupakan perwujudan nyata dari semangat kolektivitas dan inisiatif dari akar rumput, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil JARINGPEDAS berorientasi pada kemandirian petani dan keberlanjutan perjuangan untuk mewujudkan keadilan ekonomi di sektor komoditas.

Sabtu, 06 Desember 2025

Jembatan Harapan Kembali Berdiri: Aksi Cepat Polres Mempawah Selamatkan Akses Warga dan Pelajar di Desa Anshiap

Jembatan Harapan Kembali Berdiri: Aksi Cepat Polres Mempawah Selamatkan Akses Warga dan Pelajar di Desa Anshiap
Jembatan Harapan Kembali Berdiri: Aksi Cepat Polres Mempawah Selamatkan Akses Warga dan Pelajar di Desa Anshiap.

MEMPAWAH - Polres Mempawah, Polda Kalimantan Barat, kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat. Kali ini, kepedulian itu diwujudkan melalui aksi nyata memperbaiki jembatan yang ambruk di Desa Anshiap, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah, pada akhir November 2025.

Selama tiga hari berturut-turut, personel Polres Mempawah bersama warga setempat bahu-membahu memperbaiki jembatan tersebut. Dengan peralatan sederhana dan memanfaatkan kayu yang tersedia di sekitar lokasi, akhirnya jembatan yang menjadi akses penting itu berhasil diperbaiki dan kembali bisa digunakan.

Jembatan ini bukan sekadar penghubung antardusun. Bagi warga Desa Anshiap, terutama para pelajar, jembatan ini merupakan satu-satunya jalan utama menuju sekolah. Ketika jembatan itu ambruk, aktivitas warga langsung terganggu. Para siswa bahkan terpaksa melintasi sungai dengan berjalan menerobos arus demi bisa tetap bersekolah – sebuah risiko besar yang tentu membahayakan keselamatan mereka.

Kini, sejak 5 Desember 2025, warga dan para pelajar sudah bisa kembali melintasi jembatan tersebut dengan aman dan nyaman.

Jembatan Harapan Kembali Berdiri: Aksi Cepat Polres Mempawah Selamatkan Akses Warga dan Pelajar di Desa Anshiap

Kapolres Mempawah, AKBP Jonathan David, menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel dan warga yang terlibat dalam perbaikan jembatan. Ia menegaskan bahwa kerja sama ini dilakukan demi keselamatan anak-anak yang setiap hari melintasi jalur tersebut untuk bersekolah.
“Terima kasih kepada anggota Polres Mempawah dan warga Desa Anshiap yang telah bekerja sama memperbaiki jembatan ini. Semoga adik-adik bisa bersekolah dengan lebih aman,” ujarnya.

Aksi cepat ini menjadi bukti nyata bahwa keberadaan Polri tak hanya dalam menjaga keamanan, tetapi juga hadir langsung membantu masyarakat saat infrastruktur vital mengalami kerusakan. Jembatan yang kembali berdiri ini menjadi simbol harapan baru bagi warga Desa Anshiap.

Kamis, 20 November 2025

Jaringan Petani Komoditas (JARINGPEDAS): Perkuat Pondasi Politik Petani Lokal

Jaringan Petani Komoditas (JARINGPEDAS): Perkuat Pondasi Politik Petani Lokal

MempawahGemawan bersama kelompok petani lokal di Kabupaten Mempawah melaksanakan pelatihan advokasi sebagai upaya memperkuat pola pikir, kapasitas, dan daya tawar petani dalam memperjuangkan hak serta kepentingan mereka. Kegiatan ini diikuti oleh petani dampingan Gemawan dan dilaksanakan pada Rabu (19/11/2025) di Kantor Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah.

Kepala Desa Galang, Rasidi, menyambut baik pelatihan ini karena ia menilai pemahaman advokasi menjadi bekal penting bagi petani dalam menghadapi berbagai persoalan di tingkat lokal.

"Saya selaku kepala desa dan tuan rumah kegiatan ini merasa bangga dan bahagia. Pelatihan ini membantu kami memahami langkah-langkah yang harus ditempuh ketika menghadapi persoalan di lapangan," ujar Rasidi.

Pelatihan diikuti oleh perwakilan gabungan kelompok tani dari 15 desa di Mempawah, mewakili beragam komoditas pertanian. Para peserta berdiskusi secara kelompok untuk memetakan persoalan yang dihadapi petani lokal dan mengelompokkan masalah tersebut berdasarkan kategori.

Fasilitator pelatihan, Lani Ardiansyah, mengajak peserta untuk mengidentifikasi masalah di masing-masing kelompok.

"Bapak-ibu, saya sudah menyiapkan tabel pemetaan. Contohnya, jika masalahnya adalah sulit mendapatkan pupuk organik yang berkualitas dan terjangkau, maka kategorinya adalah input dan saprodi. Silakan jelaskan satu per satu sesuai komoditas masing-masing," jelas Lani.

Selain pemetaan masalah, peserta juga diminta menentukan skor keberhasilan advokasi yang dapat dicapai, dengan rentang nilai 1–10, serta membahasnya dalam kelompok.

"Silakan diskusikan skor ini bersama kelompok agar kita dapat memetakan potensi keberhasilan langkah advokasi yang akan ditempuh," tambah Ucup sapaan akrab Lani Ardiansyah.

Dalam sesi simulasi, peserta memainkan peran-peran kunci seperti wartawan, kepala dinas, pengusaha, petani, dan anggota dewan. Latihan ini menggambarkan dinamika politik yang akan mereka hadapi bagaimana kekuatan modal, birokrasi, dan kepentingan elit sering kali bersinggungan dengan kebutuhan petani.

Di akhir kegiatan, tim Gemawan menyusun simpulan dari seluruh diskusi kelompok. Sebagai langkah nyata, perwakilan petani akan dipersiapkan untuk melakukan audiensi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Mempawah, membawa hasil pemetaan masalah sekaligus menyampaikan tuntutan agar kebijakan daerah lebih berpihak pada petani dan tidak didikte oleh kepentingan ekonomi sempit.

Pelatihan ini bukan sekadar forum belajar, tetapi sebuah upaya membangun kesadaran politik petani, bahwa mereka bukan hanya penghasil pangan, melainkan bagian penting dari warga negara yang berhak mengawal kebijakan dan memperjuangkan ruang hidupnya.

Minggu, 14 September 2025

Lunaskan Utang Perangkat Desa di Mempawah, BPS Berikan Bantuan Gratis POM Migor

Lunaskan Utang Perangkat Desa di Mempawah, BPS Berikan Bantuan Gratis POM Migor
Lunaskan Utang Perangkat Desa di Mempawah, BPS Berikan Bantuan Gratis POM Migor. 
MEMPAWAH – Koperasi Bhumi Pasundan Sejahtera (BPS) membantu melunaskan utang 100 perangkat desa yang tersebar di seluruh Kabupaten Mempawah. Utang-utang perangkat desa tersebut selama ini digunakan untuk berbagai kebutuhan. 

Namun lantaran merasa lebih tinggi angsurannya di bank daerah, maka mereka kompak ramai-ramai beralih ke Koperasi BPS. Terlebih, Koperasi BPS telah menawarkan keuntungan yang menggiurkan dan unit usaha agar angsurannya dapat lebih ringan.

Pelunasan utang itu melalui sistem top up yang realisasi pencairannya mulai dilaksanakan pada bulan November 2025 mendatang. Dimana nantinya, Koperasi BPS yang akan membayarkan utang-utang 100 orang perangkat desa itu di bank daerah.

"Rata-rata utang mereka berkisar Rp50 - 100 juta. Nanti kami yang akan melunaskannya. Di Koperasi BPS ini mereka cukup membayar Rp1 jutaan per bulan dengan tenor selama 5 tahun. Nominal ini mereka nilai lebih rendah dibandingkan tempat sebelumnya," ungkap Ketua Koperasi BPS, Hendra Firmansyah saat memberikan bimtek anggota Koperasi BPS dalam program pelunasan utang riba untuk 100 perangkat desa di Kabupaten Mempawah, Minggu (14/9).

Hendra sebutkan, di Koperasi BPS ini para perangkat desa itu nantinya juga akan mendapat bonus dari Sisa Hasil Usaha (SHU), asuransi, pinjaman KUR serta unit usaha berupa POM Migor.

"Jadi, banyak keuntungan yang diperoleh ketika mereka masuk menjadi anggota Koperasi BPS," jelasnya.

Bahkan, tambah Hendra mereka juga terbantu dengan unit usaha yang dibantu gratis oleh Koperasi BPS yakni berupa POM Minyak Goreng (Migor). "Sehingga mereka tidak terlalu pusing dan terbebani dalam membayar angsuran di Koperasi BPS karena kami memberikan juga bantuan gratis POM Migor," tuturnya.

Dengan adanya unit usaha POM Migor tersebut, maka gaji perangkat desa besar kemungkinan akan utuh untuk kebutuhannya sehari-hari. Karena untuk angsuran cukup hanya dari usaha POM Migor yang diberikan Koperasi BPS.

Koperasi Bhumi Pasundan Sejahtera (BPS) adalah salah satu pengembangan unit usaha dari PT Win Global Solusitama (WGS) di Kalbar, sebuah perusahaan start up pembiayaan berbasis syariah.