Kisah Haru Ibu dan 3 Anak Yatim Nya Bertahan Hidup Dari Upah Menjemur Padi
Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.

Sabtu, 22 Mei 2021

Kisah Haru Ibu dan 3 Anak Yatim Nya Bertahan Hidup Dari Upah Menjemur Padi

Ikuti kami:
Google

Namanya ibu Siti Kurniati (34 Tahun) mempunyai 3 anak , anak pertamanya kembar bernama via dan vina yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 5. Dan yang terakhir bernama Ainun umurnya masih 4 Tahun. 

Sekarang ibu siti dan anak-anaknya tinggal menumpang di rumah saudaranya yang merantau di luar pulau jawa. Saudaranya menumpangkan rumah sementara karena iba melihat ibu Siti dan anak-anaknya belum punya rumah. Dulunya ibu Siti di jakarta mengontrak, pulang dari jakarta ternyata hanya mengantar suaminya pulang untuk selamanya.

Ibu siti di tinggal suaminya meninggal baru mau seratus harian ini. Meninggal karena sakit, pembuluh darah dikepalanya pecah karena mempunyai penyakit hipertensi. Dulunya almarhum suaminya hanya bekerja di jakarta ditoko material. Dan ibu siti hanya sebagai ibu rumah tangga.

Ketika belum genap 100 harian suaminya, ibu siti kembali berduka dengan meninggalnya ibu mertuanya. “Mungkin karena terlalu kehilangan anaknya, jadi ibu juga kepikiran, tensinya selalu tinggi dan hari ini baru mau 7 harian” ujar bu siti.

Keadaaan Bu Siti benar-benar terpukul sekarang , mengingat anak-anaknya masih kecil, ibu mertua yang seharusnya menjadi pundak untuk berkeluh kesah, sekarang ikut meninggalkanya. Ibu Siti yang dulunya hanya menjadi ibu rumah tangga, sekarang harus berputar otak agar bisa menafkahi anak-anaknya. Menjadi tulang punggung sekaligus tulang rusuk untuk anak-anaknya.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya sekarang, ibu Siti mau kerja apa saja yang terpenting halal dan bisa buat anak jajan dan makan. Hari ini, ibu Siti ada yang menyuruhnya untuk menjemur padi hasil panenan. “Alhamdulillah, yang penting anak bisa makan” ujarnya. Ternyata upahnya hanya untuk makan saja. Dari menjemur padi tersebut ibu Siti diupah sekilo beras jika nanti padinya sudah di selip.

Saat ini anak-anak ibu Siti juga belum percaya kalau bapaknya sudah tidak ada, “kasian masih pada suka nanyain bapaknya, yang kecil masih pengin di gendong sama bapaknya” ujar bu Siti. Ada juga yang nanyain ” kenapa uang jajanya berkurang” tambahnya. Bu siti sekarang hanya bisa mengajarkan anak-anaknya perihatin. untuk berbuka puasa saja makan seadanya. Hanya bisa makan lauk tempe goreng untuk ketiga anaknya.

Yang terpenting sekarang , ibu Siti hanya memikirkan bagaimana anak-anaknya bisa makan, belum ini anaknya bilang ” temen2 udah beli baju lebaran” ujar via . Namun bu Siti hanya terdiam tidak menjawab karena bingung bagaimana akan menjelaskan bahwa dirinya tidak punya uang. Untuk menu buka puasa saja masih meminjam dulu dengan tetangganya.
Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.
Google Logo Add on Google
Heri Yakop
Heri Yakop
Editor / Wartawan
Wartawan dan editor berpengalaman dalam liputan berita daerah, nasional, sosial, dan politik. Aktif menyajikan informasi yang akurat, terpercaya, dan mudah dipahami pembaca.
  

Bagikan artikel ini

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.

IKLAN
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari!
Promosikan bisnis & produk Anda lebih luas dan efektif.
IKLAN
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari!
Promosikan bisnis & produk Anda lebih luas dan efektif.