Berita Borneotribun.com: Kesehatan Hari ini -->
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Juni 2024

Polres Landak Gelar Donor Darah, Karolin : Baik Untuk Kesehatan, Membantu Kemanusiaan

Polres Landak Gelar Donor Darah, Karolin : Baik Untuk Kesehatan, Membantu Kemanusiaan
Polres Landak Gelar Donor Darah, Karolin : Baik Untuk Kesehatan, Membantu Kemanusiaan.
LANDAK – Dalam rangka memperingati hari Bhayangkara ke 78 tahun, Kepolisian Resort (Polres) Landak melaksanakan kegiatan bakti kesehatan yakni donor darah bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Landak yang bertempat di Kepolisian Sektor (Polsek) Ngabang, Desa Hilir Tengah, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, rabu (19/06/24).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Polres (Kapolres) Landak AKBP I Nyoman Budi Artawan serta Ketua PMI Kabupaten Landak Karolin Margret Natasa dengan didampingi Kepala Polsek Ngabang dan Ketua Ikatan Da'i Indonesia (Ikadi) Kabupaten Landak, tidak hanya diikuti oleh jajaran anggota Polres Landak dan Polsek Ngabang, tetapi juga diikuti oleh jajaran TNI maupun masyarakat umum.

Ketua PMI Kabupaten Landak Karolin Margret Natasa menyambut baik kegiatan donor darah yang dilaksanakan oleh Polres Landak, sebagai bentuk kepedulian pihak kepolisian dalam membantu kemanusiaan.

"Kami selalu mensosialisasikan bahwa donor darah itu baik untuk kesehatan, membantu kemanusiaan. Nah, kita di Kabupaten Landak ini belum banyak pendonor yang aktif terlebih lagi rumah sakit landak yang terus berkembang dan bertambah pasiennya sehingga mengakibatkan selalu kekurangan darah," ucap Karolin.

Lebih lanjut Karolin berharap kegiatan donor darah dilingkungan Polres Landak bisa dilakukan secara rutin hingga ke tingkat polsek-polsek. Karolin juga mengajak pemangku kepentingan baik kepala dusun, kepala desa, camat maupun organisasi kemasyarakatan dapat mengajak masyarakat untuk melakukan donor darah secara rutin.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Kapolres Landak yang terus melakukan upaya menghimpun masyarakat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan donor darah dan untuk membantu sesamanya," ungkap Karolin.

Dari hasil donor darah yang dilaksanakan Polres Landak tersebut PMI Kabupaten Landak mendapatkan 60 kantong darah yang nantinya akan diserahkan langsung ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Landak untuk dilakukan pengecekan dan sterilisasi darah.

Kapolres Landak AKBP I Nyoman Budi Artawan mengucapkan terima kasih kepada Ketua PMI Kabupaten Landak yang terus aktif bergerak menjalin kerjasama donor darah sebagai bentuk kepedulian untuk membantu masyarakat.

"Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ketua PMI Kabupaten Landak yang sudah membantu kami melaksanakan kegiatan donor darah ini, semoga kegiatan kami ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat yang akan membutuhkan darah, kedepannya kita akan terus bersama-sama menjalin kerjasama yang baik ini bersama PMI," terang Nyoman.

Jumat, 07 Juni 2024

Waspadai Gejala Ini! Mengenal Tanda-tanda Obesitas pada Anak

Waspadai Gejala Ini! Mengenal Tanda-tanda Obesitas pada Anak
Waspadai Gejala Ini! Mengenal Tanda-tanda Obesitas pada Anak. (Gambar ilustrasi)
JAKARTA - Obesitas pada anak menjadi salah satu masalah kesehatan yang kian meningkat. Dr. dr. Klara Yuliarti, Sp.A(K), seorang Ahli Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak dari FKUI Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), menjelaskan bahwa ada beberapa tanda fisik yang bisa dikenali sebagai indikasi seorang anak menderita obesitas.

Tanda-Tanda Fisik Anak Menderita Obesitas

Dalam webinar 'Obesitas pada Anak, Kenali Bahayanya' yang diadakan di Jakarta, Dr. Klara mengungkapkan bahwa anak dengan perut besar, muka bulat, dan dagu tebal adalah beberapa ciri utama yang harus diwaspadai. "Tanda khususnya, sang anak wajahnya bulat, dagu tebal, dan perutnya juga buncit sekali. Kemudian juga pada anak itu kelihatan payudaranya membesar," jelasnya.

Apa Itu Obesitas?

Obesitas adalah penimbunan jaringan lemak yang berlebihan dalam tubuh seseorang, baik dewasa maupun anak-anak. Pada anak yang menderita obesitas parah, biasanya mereka mengalami komplikasi berat seperti bentuk kaki yang menjadi “X” atau “O”.

Kesalahpahaman Tentang Obesitas

Seringkali, anak yang kelebihan berat badan dianggap menderita obesitas. Namun, Dr. Klara menegaskan bahwa diagnosis obesitas harus dilakukan oleh dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat. "Jadi hati-hati, jika mengandalkan tanda klinis memang sering terlewat. Makanya kita harus obyektif karena overweight belum tentu obesitas," tuturnya.

Penyebab Obesitas pada Anak

Dr. Klara juga menjelaskan bahwa penyebab utama obesitas pada anak adalah gaya hidup dan nutrisi yang tidak seimbang, bukan faktor genetik. Anak-anak saat ini cenderung mengkonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori namun rendah nutrisi, serta kurang beraktivitas fisik akibat paparan gawai.

Pentingnya Pemantauan Berkala

Setiap anak berisiko mengalami obesitas, sehingga perlu perhatian khusus dari orang tua. Dr. Klara merekomendasikan agar orang tua rutin mengukur berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala anak-anak. "Makanya ada Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) itu untuk memeriksa secara berkala. Di bawah usia 2 tahun sebulan sekali, di atas 2 tahun bisa lebih jarang. Tapi secara umum anak di balita itu bisa mengecek setiap bulan sekali," katanya.

Menjaga kesehatan anak adalah tanggung jawab bersama. Mengenali tanda-tanda anak menderita obesitas dan melakukan langkah pencegahan serta penanganan yang tepat dapat membantu menghindari komplikasi kesehatan yang lebih serius di kemudian hari. Konsultasikan selalu dengan dokter untuk memastikan anak mendapatkan perawatan yang terbaik.

Dengan informasi ini, semoga para orang tua dapat lebih waspada dan mengambil tindakan yang tepat dalam menjaga kesehatan anak-anak mereka. Tetaplah pantau pertumbuhan anak secara berkala dan terapkan gaya hidup sehat sejak dini.

Kamis, 30 Mei 2024

Kalbar Jadi Tuan Rumah Pertemuan Forum Dekan Fakultas Kedokteran Se-Indonesia

Kalbar Jadi Tuan Rumah Pertemuan Forum Dekan Fakultas Kedokteran Se-Indonesia
Kalbar Jadi Tuan Rumah Pertemuan Forum Dekan Fakultas Kedokteran Se-Indonesia
PONTIANAK - Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Barat dr. Harisson, M.Kes., menerima Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak dr. Ita Armyanti, M.Pd.,Ked.  beserta jajaran bertempat di Ruang Kerja Gubernur Kalbar, Rabu (29/5/2024).

Pertemuan ini membahas persiapan Pertemuan Forum Dekan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Tahun 2024 yang mana Kalimantan Barat didapuk sebagai tuan rumah dalam pertemuan tersebut.

"Jadi kedatangan kami kesini menginformasikan kepada Bapak Pj. Gubernur Harisson, terkait kesiapan Kalimantan Barat sebagai tuan rumah pada pertemuan Forum Dekan AIPKI se-  Indonesia yang Insyaallah akan dilaksanakan pada bulan Juli mendatang," ucap Dekan Fakultas Kedokteran Untan dr. Ita Armyanti, M.Pd.,Ked.

Terkait kesiapan acara, Ita Armyanti belum bisa membeberkan secara terbuka, namun kita (Fakultas Kedokteran Untan) secara keseluruhan sudah sangat siap dalam menyambut pertemuan yang digelar enam bulan sekali tersebut.

"Untuk konsep acara nanti akan kami bahas lebih lanjut secara internal, namun di sisi lain pihaknya merasa terhormat atas penunjukan menjadi tuan rumah dalam kegiatan ini. Salah satu kegiatan Fordek ini sendiri akan diisi pemaparan dari Kementerian terkait, serta dari Institusi Pendidikan Kedokteran," tuturnya.

Sementara itu, Pj. Gubernur Harisson, menyambut baik atas ditunjuknya Kalimantan Barat sebagai tuan rumah pada pertemuan Forum Dekan Fakultas Kedokteran se- Indonesia ini.

"Saya sangat mendukung akan terselenggaranya acara ini. Dan saya berharap dalam pertemuan tersebut pihak Fakultas untuk dapat menyiapkan suatu langkah konkret yang bisa dilibatkan kepada pemerintah terkait hasil dari pertemuannya nanti,"  pungkasnya.

Sebagai informasi untuk diketahui, Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) merupakan Asosiasi yang anggotanya adalah seluruh Institusi Pendidikan Kedokteran yang ada di Indonesia. Sampai dengan saat ini Anggota dari AIPKI ada 93 institusi Pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia. 

AIPKI sendiri dibagi menjadi 6 wilayah sesuai dengan lokasi masing masing institusinya. Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana masuk dalam anggota AIPKI wilayah V.

Forum Dekan AIPKI merupakan kegiatan yang diadakan enam bulan sekali, untuk mendiskusikan berbagai perkembangan Pendidikan Kedokteran di-  Indonesia, dan hampir selalu dihadiri oleh seluruh institusi Pendidikan Kedokteran di Indonesia.(rfa)

Rabu, 29 Mei 2024

Windy Galakkan Aksi Nyata Ika SMANSA Pontianak Kepada Alumni, Sekolah dan Anak Stunting

Windy Galakkan Aksi Nyata Ika SMANSA Pontianak Kepada Alumni, Sekolah dan  Anak Stunting
Windy Galakkan Aksi Nyata Ika SMANSA Pontianak Kepada Alumni, Sekolah dan  Anak Stunting. (Adpim Pemprov Kalbar)
PONTIANAK - Penjabat (Pj) Ketua Tim Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi Kalimantan Barat, Ny. Windy Prihastari Harisson, S.STP., M.Si., selaku Ketua IKA SMANSA Pontianak berkunjung ke Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pontianak,  untuk melakukan aksi-aksi sosial, Rabu (29/5/2024).

Dalam aksi sosialnya kali ini Pj. Ketua TP-PKK (Ketua IKA SMANSA Pontianak) bersama para pengurus IKA SMANSA Pontianak melakukan aksi nyata Gerakan Kakak Asuh Stunting berupa Pemberian 5 Paket Nantuan Makanan Bergizi selama 3 bulan.

Windy Galakkan Aksi Nyata Ika SMANSA Pontianak Kepada Alumni, Sekolah dan  Anak Stunting
Windy Galakkan Aksi Nyata Ika SMANSA Pontianak Kepada Alumni, Sekolah dan  Anak Stunting.
"Tentunya kita terus mendorong para generasi muda maupun organisasi masyarakat untuk turut serta menurunkan angka prevalensi Stunting, salah satunya dengan menjadi Kakak Asuh Stunting," kata Windy.

IKA SMANSA Pontianak berkolaborasi sebagai Kakak Asuh Stunting dalam rangka  turut serta berupaya menurunkan angka Stunting dan mendukung  target Kalbar Zero Stunting.

"Saat ini IKA SMANSA Pontianak mempunyai 5 orang anak asuh Stunting dan akan selalu diperhatikan pola asuhnya dan asupan gizinya, serta bantuan makanan selama tiga bulan ke depan," jelas Ketua IKA SMANSA Pontianak.

Windy menyebut ada beberapa mekanisme untuk menjadi Orang Tua Asuh Stunting atau Kakak Asuh Stunting, dengan memberikan bantuan berupa uang atau memberikan bantuan makanan bergizi.

"Kalau kita memberikan bantuan berupa uang dengan rincian 1 hari Rp. 25.000. untuk tiga kali makan anak asuh Stunting, berarti 1 bulan Rp. 750.000.  selama 3 bulan. Jika ingin memberikan bantuan secara langsung, berarti dibelikan makanannya dengan tiga komponen utama yakni karbohidrat, protein hewani dan lemak, agar lebih terarah", ujarnya.

Serangkaian dengan acara tersebut, Windy juga memberikan bantuan kepada Alumni SMANSA Pontianak, Pierra Agusta, yang menerima Beasiswa Universitas Islam Yogyakarta jalur olahraga Bola Basket namun Pierra terkendala dalam hal biaya akomodasi dan transportasi.

"Kami IKA SMANSA Pontianak selalu memperhatikan adik-adik di sini, salah satunya adalah Pierra, yang berprestasi pada bidang Cabor Basket dan mendapatkan Beasiswa di UI Yogyakarta, jadi IKA SMANSA memberikan bantuan biaya akomodasi berupa uang tiket pulang pergi dan lain-lain," ungkapnya.

Windy berharap banyak anak-anak seperti Pierra yang berprestasi dan mencapai impiannya serta menjadi Generasi Emas 2045.

"Kami berharap banyak Pierra yang lain muncul dari Smansa Pontianak, bukan hanya berprestasi di Akademik tetapi juga di non Akademik untuk menjadi Generasi Emas Kalimantan Barat 2045," harap Windy.

Selain itu IKA SMANSA Pontianak juga menyerahkan bantuan berupa kipas angin kepada SMAN 1 Pontianak.

"Bantuan kipas angin, ini diserahkan ke pihak sekolah khususnya untuk di Musholla supaya adik-adik kita lebih nyaman dan khusyuk ibadahnya," tutur Windy.

IKA SMANSA Pontianak diharapkan lebih memperhatikan anak-anak yang sedang belajar saat ini, Alumni maupun masyarakat pada umumnya.

"Kegiatan aksi-aksi nyata ini terus kita masifkan dan gaungkan, guna bersinergi dalam membangun Kalbar yang lebih baik," tutup Windy. (wnd)

Selasa, 28 Mei 2024

Mengurangi Stres dan Menyembuhkan Diabetes, Manfaat Akupuntur dalam Mengontrol Nafsu Makan dan Berat Badan

Mengurangi Stres dan Menyembuhkan Diabetes, Manfaat Akupuntur dalam Mengontrol Nafsu Makan dan Berat Badan
Mengurangi Stres dan Menyembuhkan Diabetes, Manfaat Akupuntur dalam Mengontrol Nafsu Makan dan Berat Badan.
JAKARTA - Dokter spesialis akupuntur, Dr. Aswadi Ibrahim Sp.Ak, memaparkan bahwa akupuntur memiliki potensi sebagai alternatif untuk mengurangi risiko hiperglikemia, yang merupakan faktor utama dalam diabetes.

"Contohnya, obesitas menangani nafsu makan, lemak, lambung, yang menjadi faktor risiko hiperglikemi," ungkapnya dalam sebuah diskusi daring mengenai peran akupuntur dalam terapi komplementer diabetes, yang diadakan di Jakarta pada hari Minggu.

Menurut Aswadi, eliminasi faktor risiko secara dini dapat memudahkan pengobatan diabetes dibandingkan dengan menghadapinya setelah komplikasi muncul. 

Akupuntur dapat membantu dalam mengendalikan nafsu makan, menurunkan berat badan, atau mengurangi rasa lapar yang cepat muncul.

Dokter yang berpraktik di RS Primaya Makassar ini menjelaskan bahwa hiperglikemia tidak hanya terjadi karena tingginya kadar gula darah, melainkan juga melibatkan kontribusi dari berbagai organ tubuh. 

Hal ini bisa dipicu oleh perintah otak untuk meningkatkan nafsu makan dan aktivitas simpatis yang terkait dengan kondisi psikis seperti tekanan atau stres.

"Aslinya, ini bisa dikontrol. Pencetus tingginya kadar gula darah yang memicu diabetes sebenarnya bisa dicegah, tetapi banyak orang tidak menyadari bahwa tingkat kecemasan dan stres kita tinggi, sementara tingkat dopamin rendah," jelas Aswandi.

Ketika kadar gula darah naik, penyerapan glukosa di lambung meningkat, dan hormon inkretin dilepaskan saat makan untuk merangsang tubuh mengeluarkan insulin. 

Namun, pada orang dengan hiperglikemia, hormon ini tidak bekerja dengan baik sehingga produksi insulin berkurang, menyebabkan kadar gula darah tetap tinggi.

Resistensi insulin dapat menghambat penyerapan glukosa oleh otot, sehingga gula dalam darah tetap tinggi dan menyebabkan hipoglikemia. Namun, akupuntur dapat membantu mencegah hal ini. 

Namun, Aswandi menegaskan bahwa akupuntur tidak berdiri sendiri sebagai modalitas pengobatan, melainkan sebagai bagian dari serangkaian perawatan yang meliputi herbal, pengaturan pola makan, olahraga, dan pijat.

Dengan kombinasi akupuntur dan herbal, gula darah penderita diabetes tidak turun secara drastis hingga menyebabkan hipoglikemia, sehingga terapi ini aman untuk digunakan. 

Aswandi menekankan bahwa akupuntur hanya memberikan stimulasi pada tubuh, yang kemudian memberikan sinyal kembali untuk memperlambat penyerapan makanan, sehingga kenaikan gula darah tidak terlalu cepat.

"Akupuntur adalah pengobatan nonfarmakologi yang juga dapat meredakan stres dan mengatur kondisi emosional. Ketika dikombinasikan dengan herbal, tidak akan menurunkan kadar gula darah secara tiba-tiba pada penderita diabetes, sehingga terapi ini aman," tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa penambahan akupuntur pada pasien diabetes yang sedang menjalani terapi farmakologis atau pengobatan konvensional dapat meningkatkan kontrol glikemik dan memungkinkan penurunan dosis obat-obatan yang diberikan.

Pj. Gubernur Harisson Apresiasi Daerah Yang Berhasil Tekan Angka Stunting

Pj. Gubernur Harisson Apresiasi Daerah Yang Berhasil Tekan Angka Stunting
Pj. Gubernur Harisson Apresiasi Daerah Yang Berhasil Tekan Angka Stunting.
PONTIANAK - Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Barat, dr. Harisson, M.Kes., dengan didampingi Pj. Sekda Provinsi Kalbar, Mohammad Bari, S.Sos., M.Si., selaku Ketua TPPS Kalbar, memimpin High Level Meeting Percepatan Penurunan Angka Stunting di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2024 di Hotel Mercure Pontianak, Senin (27/5/2024).

Agenda tersebut turut dihadiri Bupati/Walikota se- Kalbar atau yang mewakili dan Kepala Bappeda Provinsi, Kabupaten dan Kota se- Kalbar serta beberapa Kepala Perangkat Daerah Kalbar terkait penanganan Stunting.

"Jadi hari ini saya bersama Ketua TPPS Kalbar (Sekda Kalbar), Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Bappeda Kalbar dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan Stunting di Kalbar," kata Harisson saat diwawancarai media.

Dirinya mengungkapkan dalam rapat ini terdapat beberapa permasalahan yang dialami oleh beberapa Kab/Kota di Kalbar mengenai Stunting dan akan bersama-sama untuk diselesaikan. Namun, tak dipungkiri ada beberapa Kabupaten yang berhasil menurunkan angka Stunting di wilayahnya.

"Tadi ada beberapa permasalahan yang dialami dan akan coba kita selesaikan, dan juga tadi kita melakukan pembelajaran terhadap program-program yang dilakukan oleh Kabupaten/Kota yang berhasil menekan angka Stunting. Diantaranya ada Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sekadau dan Kota Pontianak," ungkapnya.

Harisson berharap kepada Kab/Kota yang angka Stuntingnya masih tinggi untuk bersama-sama mencari solusi dan bekerjasama dengan seluruh stakeholder dalam menurunkan angka Stunting.

"Mudah-mudahan dengan adanya terobosan-terobosan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten  Kapuas Hulu, Sekadau dan Kota Pontianak ini dapat membuat Kab/Kota lainnya membuat terobosan yang serupa atau memodifikasi lagi program yang telah dibuat, sehingga penurunan angka Stunting Kalbar mencapai 14 persen sesuai dengan target Nasional pada Tahun 2024 ini," harapnya.

Selanjutnya, dirinya kembali mengajak seluruh Kab/Kota se-Kalbar untuk bersama-sama menurunkan angka Stunting dengan melakukan aksi-aksi nyata kepada anak-anak Stunting.

"Provinsi Kalbar sekarang ini capaiannya 24,5 persen, memang targetnya itu harus 14 persen, maka dari itu perlu terobosan-terobosan yang benar-benar serius dalam rangka menurunkan angka Stunting di angka 14 persen," tutupnya.(wnd)

Sabtu, 25 Mei 2024

PMI Kabupaten Landak Buka Posko Bencana Banjir

PMI Kabupaten Landak Buka Posko Bencana Banjir
PMI Kabupaten Landak Buka Posko Bencana Banjir.
LANDAK – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Landak membuka pokso bencana banjir untuk masyarakat yang terdampak banjir di beberapa wilayah di Kabupaten Landak.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Landak Karolin Margret Natasa mengatakan bahwa telah menerjunkan anggotanya dan relawan PMI di titik-titik lokasi terdampak banjir di Kabupaten Landak.

PMI Kabupaten Landak Buka Posko Bencana Banjir
PMI Kabupaten Landak Buka Posko Bencana Banjir.
"PMI Kabupaten Landak juga membuka posko bencana banjir serta bantuan untuk mengevakuasi masyarakat dari lokasi banjir ke posko-posko yang telah di siapkan dari Pemerintah Kabupaten Landak. Adapun daerah yang terdampak banjir yaitu di Kecamatan Ngabang, Kecamatan Air Besar, Kecamatan Kuala Behe, Kecamatan Sengah Kecamatan Temila, dan Kecamatan Jelimpo," kata Karolin, saat dikonfirmasi melalui via telepon, Sabtu (25/05/24).

PMI Kabupaten Landak membuka posko pelayanan kesehatan di Jalan Pasar Lama, Hilir Tengah II, Ngabang, Hilir Tengah, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Lanjut Karolin mengatakan pelayanan kesehatan menjangkau seluruh masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Landak.

"Selain itu kita juga melakukan jemput pelayanan di lakukan untuk menjangkau yang masyarakat terdampak banjir di enam kecamatan terdampak banjir. Untuk data pelayanan kesehatan yang masuk hingga saat ini di Desa Tebedak ada 48 penerima manfaat sedangkan di Jalan Pasar Lama ada 18 org penerima manfaat. Intinya kita dari PMI Kabupaten Landak hadir ditengah-tengah kesusahan masyarakat," pungkas Karolin.

Minggu, 19 Mei 2024

Parkinson: Penyakit Neurodegeneratif yang Mengancam Seiring Usia

Parkinson: Penyakit Neurodegeneratif yang Mengancam Seiring Usia
Ilustrasi - Operasi pemasangan Deep Brain Stimulation (DBS) pada Pasien Parkinson.
JAKARTA - Parkinson merupakan salah satu penyakit neurodegeneratif yang sering muncul seiring dengan proses penuaan sistem saraf di otak, terutama ketika kadar dopamin mengalami penurunan hingga 30 persen. 

Penyakit ini dapat menyerang tidak hanya pada usia lanjut tetapi juga pada usia lebih muda, mulai dari 50, 40, bahkan 30 tahun.

Menurut dr. Rocksy Fransisca V. Situmeang, Sp.N, dokter spesialis saraf RS Siloam Lippo Village Tangerang, secara teoritis, 15 persen penyakit Parkinson dipengaruhi oleh faktor genetik. 

"Namun, dengan pemahaman yang semakin baik mengenai pengaruh genetik dalam penyakit Parkinson, faktor genetik dapat berperan dalam menurunkan risiko terkena penyakit ini,” jelas dr. Rocksy, mengutip Ted Dawson, M.D, Ph.D, Director of the Institute for Cell Engineering John Hopkins Medicine, dalam sebuah siaran pers pada Jumat.

Gejala, Perawatan, dan Pola Hidup

Dr. Rocksy menjelaskan bahwa gejala Parkinson sering disingkat TRAP, yaitu tremor, kekakuan (rigidity), gerakan lambat (akinesia), dan ketidakstabilan postur (postural instability). 

Selain itu, ada gejala non-motorik seperti susah tidur, gangguan penciuman, gangguan buang air besar, dan susah menelan. 

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, segera hubungi dokter spesialis saraf untuk pemeriksaan lebih lanjut. 

Pengobatan yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup pasien Parkinson secara signifikan.

Menurut dr. Rocksy, pola hidup sehat dapat meminimalkan risiko terkena Parkinson. 

“Konsumsi makanan bergizi, cukup air mineral, buah dan sayur tanpa pestisida, serta menjaga lingkungan yang bersih dapat membantu,” ujar dr. Rocksy. Mengontrol tingkat stres juga penting karena stres dapat memicu gejala Parkinson.

Jenis Pengobatan

Ada tiga jenis pengobatan utama untuk Parkinson: obat-obatan, terapi fisik, dan metode operasi. Obat-obatan adalah metode utama untuk mengelola gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien. 

Dokter dapat meresepkan berbagai obat seperti Antikolinergik untuk mengurangi tremor, Levodopa untuk mengatasi gangguan gerak tubuh, dan Agonis Dopamin untuk menggantikan fungsi dopamin di otak.

Fisioterapi juga penting dalam manajemen Parkinson. Terapis fisik bekerja sama dengan pasien untuk mengembangkan program latihan khusus guna meningkatkan kekuatan, keseimbangan, dan koordinasi gerakan. 

Latihan conditioning dan keseimbangan membantu pasien meningkatkan kemampuan bergerak dan mengurangi risiko jatuh.

Prosedur bedah Deep Brain Stimulation (DBS) juga dapat digunakan untuk mengurangi gejala yang tidak terkontrol dengan obat-obatan. 

"DBS dilakukan pada tahap awal Parkinson agar penyakit tidak bertambah parah,” jelas dr. Frandy Susatia, Sp.S, RVT, dokter spesialis saraf di RS Siloam Kebon Jeruk.

Teknologi Bantu

Teknologi modern seperti wearable device kini menjadi tren dalam membantu penderita Parkinson.

 Jam tangan pintar dapat membantu mengatur waktu tidur, mengingatkan jadwal konsumsi obat, dan mengontrol jumlah getaran yang dialami. 

"Penggunaan wearable device dapat sangat membantu dalam manajemen sehari-hari pasien Parkinson,” kata dr. Frandy.

RS Siloam menyediakan perawatan komprehensif untuk Parkinson dengan dukungan tenaga medis profesional dan peralatan medis canggih. 

Untuk konsultasi lebih lanjut, calon pasien dapat memesan jadwal melalui situs siloamhospitals.com/cari-dokter, aplikasi MySiloam, atau contact center 1-500-181.

Vaksinasi Hepatitis B sebagai Langkah Pencegahan Penyakit Hati, Tegas Ahli dari FKUI-RSCM

Vaksinasi Hepatitis B sebagai Langkah Pencegahan Penyakit Hati, Tegas Ahli dari FKUI-RSCM
Vaksinasi Hepatitis B sebagai Langkah Pencegahan Penyakit Hati, Tegas Ahli dari FKUI-RSCM. (Gambar ilustrasi)
JAKARTA - Ketua Divisi Hepatobilier Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani, SpPD-KGEH, FINASIM, menekankan pentingnya vaksinasi Hepatitis B sebagai salah satu langkah utama dalam pencegahan penyakit hati.

"Pencegahan primer dilakukan dengan vaksinasi Hepatitis B yang terbukti dapat menekan angka kejadian kanker hati," kata Rino dalam 'Webinar Aman Kanker Hati' yang dipantau di Jakarta, Sabtu.

Rino menyampaikan bahwa vaksinasi Hepatitis B secara signifikan menurunkan risiko penyakit hati. Hal ini didukung oleh riset dari tahun 1980-an hingga awal 1990-an yang menunjukkan penurunan jumlah penderita kanker hati dari tahun ke tahun.

"Saat ini, vaksin Hepatitis B telah rutin diberikan kepada bayi yang baru lahir untuk mencegah risiko penyakit kanker hati," tambahnya.

Lebih lanjut, Rino menjelaskan bahwa ibu hamil yang terindikasi positif Hepatitis B juga mendapatkan terapi khusus untuk mengurangi potensi penularan kepada bayi yang baru lahir. Selain vaksinasi, Rino juga menekankan pentingnya ultrasonografi (USG) rutin setiap enam bulan sekali sebagai langkah pencegahan dini.

Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu juga mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi alkohol dalam jangka panjang untuk menjaga kesehatan hati. 

"Memang kelihatannya repot, tetapi jelas ini memberikan manfaat yang lebih baik dibandingkan kalau sudah terjadi kanker hati," ujarnya.

Rino juga mengingatkan masyarakat yang telah mengidap Hepatitis B, Hepatitis C, atau penyakit hati berat lainnya agar bersedia melakukan USG secara berkala. 

Hal ini penting untuk menekan risiko berkembangnya kanker hati, karena banyak pasien yang datang sudah dalam kondisi berat sehingga memerlukan upaya pengobatan tingkat lanjut.

"Kanker hati berhubungan erat dengan infeksi virus Hepatitis B dan Hepatitis C meski terdapat pula yang ditemukan tanpa infeksi virus-virus tersebut," jelasnya. 

"Pengobatan masih sulit dan mahal. Oleh karena itu, dapat dicegah dengan vaksinasi dan perilaku hidup sehat, menjaga berat badan, dan berolahraga supaya metabolisme tetap baik," pungkas Rino.

Dengan demikian, vaksinasi Hepatitis B dan perilaku hidup sehat menjadi kunci utama dalam pencegahan kanker hati, sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani dalam webinar tersebut.

Sabtu, 18 Mei 2024

Mitos Serangan Jantung Saat Berolahraga: Penjelasan dari Dokter Spesialis

Mitos Serangan Jantung Saat Berolahraga: Penjelasan dari Dokter Spesialis. (Gambar ilustrasi)
Mitos Serangan Jantung Saat Berolahraga: Penjelasan dari Dokter Spesialis. (Gambar ilustrasi)
JAKARTA - Dr. Teuku Istia Muda Perdan, Sp.J.P, FIHA, seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, mengungkapkan berbagai mitos yang beredar mengenai serangan jantung saat berolahraga. 

Dalam sebuah diskusi kesehatan yang diadakan secara daring pada Selasa, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa beberapa tindakan darurat yang sering dipercaya masyarakat justru tidak tepat.

"Mitos bahwa menepuk punggung atau menusuk jari dengan jarum untuk mengeluarkan darah bisa menolong orang yang mengalami serangan jantung adalah salah. Tindakan tersebut malah bisa memperlama waktu yang seharusnya digunakan untuk membawa pasien ke rumah sakit," jelas dokter yang akrab disapa Dani ini.

Dani juga menegaskan bahwa kepercayaan mengenai tangan dan kaki yang sering berkeringat sebagai tanda penyakit jantung adalah keliru. "Penyakit jantung tidak ada hubungannya dengan produksi keringat pada tangan dan kaki," ujarnya.

Selain itu, mitos lain yang menyebutkan bahwa mandi air dingin setelah berolahraga dapat menyebabkan serangan jantung juga dipatahkan oleh Dani. 

Meski demikian, ia memberikan catatan bagi mereka yang sudah diketahui memiliki penyakit jantung. 

"Orang dengan penyakit jantung disarankan untuk tidak langsung mandi air dingin setelah berolahraga agar tubuh tidak mengalami perubahan suhu yang drastis," katanya.

Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa perubahan suhu mendadak dapat memicu serangan jantung pada pasien dengan penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah. 

"Setelah olahraga, pembuluh darah secara alami mengecil. Pada pasien dengan penyumbatan, perubahan suhu yang mendadak bisa memicu serangan. Jadi, ini harus diwaspadai," tambahnya.

Dr. Dani juga mengingatkan bahwa berolahraga tanpa pemanasan dan pendinginan serta dengan intensitas tinggi bisa meningkatkan risiko serangan jantung. 

"Terlalu semangat berolahraga dengan intensitas tinggi tanpa istirahat yang cukup, lupa melakukan pemanasan, dan pendinginan, terutama dalam olahraga yang bersifat permainan seperti futsal atau badminton, memiliki risikonya sendiri," jelasnya.

Namun, Dani menekankan bahwa penderita penyakit jantung tetap disarankan untuk berolahraga guna melatih otot jantung dan memperlancar sirkulasi darah. 

"Olahraga yang aman bagi penderita penyakit jantung adalah olahraga dengan dampak rendah seperti bersepeda, joging, berenang, atau senam aerobik. Kombinasi yang lengkap seperti kardio, angkat beban, dan olahraga pernapasan seperti yoga sangat dianjurkan," pungkasnya.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan lebih memahami fakta sebenarnya mengenai serangan jantung dan olahraga, serta menerapkan tindakan yang tepat dan aman dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya Deteksi Dini Lupus: Menghindari Kesalahan Diagnosis Mandiri

Pentingnya Deteksi Dini Lupus: Menghindari Kesalahan Diagnosis Mandiri. (Gambar ilustrasi)
Pentingnya Deteksi Dini Lupus: Menghindari Kesalahan Diagnosis Mandiri. (Gambar ilustrasi)
JAKARTA - Penyakit lupus, yang kerap dijuluki sebagai "si seribu wajah" karena gejalanya yang mirip dengan banyak penyakit lain, memerlukan diagnosis medis yang akurat. 

Diagnosis mandiri atau "self diagnosis" sering kali menyesatkan dan dapat membuat gejala lupus keliru dianggap sebagai rheumatoid arthritis (RA) karena kemiripan gejalanya.

Systemic Lupus Erythematosus (SLE), atau yang lebih dikenal dengan lupus, adalah penyakit reumatik autoimun yang dapat menyerang berbagai organ tubuh dengan beragam gejala. 

Jika tidak segera ditangani, lupus bisa menyebabkan kerusakan organ yang lebih parah dan bahkan kematian. 

Pada tahap awal, penderita lupus mungkin tampak sehat karena gejalanya yang minim, namun pemeriksaan mendalam dapat mendeteksi keberadaan penyakit ini lebih cepat.

Menurut data Google Trends Indonesia pada Senin, pencarian terkait lupus digunakan oleh 80 persen peselancar dunia maya, lebih rendah dibandingkan pencarian terkait rheumatoid arthritis (RA) yang mencapai 120 persen. 

Kueri, yang merupakan instruksi khusus untuk mengekstraksi data dari pangkalan data, menunjukkan bahwa lupus sering keliru dianggap sebagai RA jika pencariannya tidak tepat. 

Nyeri sendi adalah salah satu gejala umum lupus yang paling parah dirasakan saat bangun tidur.

Namun, nyeri sendi bukan satu-satunya gejala lupus. Gejala khas lainnya termasuk ruam berbentuk kupu-kupu di pipi atau hidung, tekanan darah tinggi, pembengkakan kaki, urine keruh atau berbusa, anemia, trombosit rendah, pusing, sakit kepala, kejang, hipersensitif terhadap sinar matahari, dan penumpukan cairan di paru-paru atau perut.

Wanita dengan riwayat keluarga yang pernah mengidap lupus disarankan untuk lebih waspada terhadap gejala-gejala ini dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. 

Dokter spesialis penyakit dalam-konsultan reumatologi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. RM Suryo Anggoro KW, SpPD-KR, mengatakan, "Jika ada keluhan, berobat ke dokter umum dulu. Mereka yang akan menentukan apakah pengobatannya menuju penyakit tertentu atau perlu dirujuk ke faskes berikutnya."

Penanganan lupus bertujuan mengendalikan peradangan, meringankan gejala, dan mencegah kerusakan organ. 

Obat-obatan yang digunakan adalah yang menekan sistem imun agar tidak menyerang sel sehat. Penggunaan suplemen yang diklaim meningkatkan kekebalan tubuh sebaiknya dihindari karena dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi. 

Terapi pengobatan lupus didasarkan pada pengamatan dokter terhadap kondisi pasien untuk mendeteksi apakah aktivitas lupus telah mencapai remisi, yaitu kondisi di mana gejala penyakit lupus terlihat minimal.

Remisi lupus tidak berarti berhenti berobat. Biasanya, dokter menargetkan remisi pada bulan keenam pengobatan, terutama pada pasien dengan gejala ginjal. 

Pengobatan perlu dilanjutkan hingga remisi tercapai terus-menerus, setelah itu dosis obat bisa diturunkan atau dihentikan. 

Tes anti-double-stranded DNA (anti-dsDNA) digunakan untuk memantau aktivitas penyakit dan memastikan apakah lupus sudah mencapai remisi.

Selain pengobatan, gaya hidup sehat juga berperan penting dalam mengurangi gejala lupus. 

Mengatur waktu istirahat, berhenti merokok, mengelola stres, diet khusus ginjal, dan olahraga ringan seperti berjalan kaki 6.000 langkah sehari dapat membantu mengurangi risiko lupus. 

Menghindari paparan sinar matahari berlebihan, infeksi, dan obat-obatan tertentu juga penting untuk mengurangi risiko serangan lupus.

Tidak ada tes tunggal yang dapat memastikan seseorang menderita lupus. Dokter menggunakan berbagai metode, termasuk tes penghitungan sel darah lengkap (complete blood count), analisis urine, pemeriksaan ANA (antinuclear antibody), pemeriksaan imunologi, tes komplemen, serta pemindaian jantung (ekokardiogram) dan paru-paru (foto rontgen) untuk mendiagnosis lupus secara akurat.

Dengan mengenali gejala dan faktor risiko lupus, serta melakukan pemeriksaan medis secara berkala, pasien dapat mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, sehingga risiko komplikasi serius akibat lupus dapat diminimalkan.

Dokter RSCM Ajak Perempuan Mewaspadai Lupus Sejak Dini

Dokter RSCM Ajak Perempuan Mewaspadai Lupus Sejak Dini. (Gambar ilustrasi)
Dokter RSCM Ajak Perempuan Mewaspadai Lupus Sejak Dini. (Gambar ilustrasi)
JAKARTA - Dokter spesialis penyakit dalam-konsultan reumatologi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. RM Suryo Anggoro KW, SpPD-KR, mengimbau anak perempuan untuk mewaspadai lupus sejak dini dengan memeriksakan kesehatannya secara berkala. 

"Pada perempuan usia muda, kalau ada keluhan nyeri sendi dan ruam atau nyeri sendi dan anemia, atau ada ruam dan anemia, misalnya, maka kemungkinan adanya lupus harus diwaspadai," ujar dr. Suryo dalam seminar RSCM terkait Lupus yang diadakan secara daring di Jakarta, Senin.

Ia menekankan bahwa anak-anak atau perempuan berusia muda memiliki risiko lebih tinggi terserang lupus jika memiliki faktor genetik atau riwayat keluarga yang menderita penyakit tersebut. 

"Kendati belum tentu dokter akan mendiagnosis seseorang terserang lupus jika mengalami gejala-gejala tersebut, namun potensi terserang lupus tetap ada jika perempuan yang mengalami gejala-gejala tersebut," tambah dr. Suryo. Untuk itu, serangkaian pemeriksaan tambahan sering kali diperlukan untuk mengonfirmasi diagnosis lupus.

Menurut informasi yang disiarkan oleh Kementerian Kesehatan, lupus adalah penyakit peradangan kronis yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri. Penyakit yang dikenal sebagai Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) ini dapat menyerang berbagai organ tubuh seperti persendian, kulit, ginjal, sel darah, otak, jantung, dan paru-paru.

Faktor-faktor yang diduga memengaruhi terjadinya lupus meliputi faktor genetik, seperti riwayat penyakit lupus dalam keluarga, serta faktor lingkungan seperti infeksi virus atau bakteri, paparan sinar matahari, obat-obatan tertentu, dan stres. 

Gejala lupus bisa bervariasi dari ringan hingga parah. Beberapa gejala umum yang sering terjadi antara lain ruam kulit berbentuk seperti sayap kupu-kupu di pipi dan batang hidung, kelelahan yang berlebihan dan sulit diatasi, serta nyeri dan pembengkakan pada sendi, terutama di tangan dan kaki.

"Lupus juga dapat memengaruhi organ lain seperti ginjal, jantung, paru-paru, dan otak, menyebabkan gejala yang berbeda-beda tergantung pada organ yang terkena," jelas dr. Suryo. Terapi pengobatan lupus dilakukan untuk mengendalikan peradangan, meringankan gejala, dan mencegah kerusakan organ.

Dengan kesadaran dan pemeriksaan kesehatan yang rutin, diharapkan deteksi dini lupus bisa dilakukan, sehingga pengelolaan penyakit ini dapat lebih efektif dan kualitas hidup penderita dapat terjaga.

Hukum

Peristiwa

Pilkada 2024

Kesehatan

Lifestyle

Tekno