Berita Borneotribun.com: Covid-19 Hari ini -->
Tampilkan postingan dengan label Covid-19. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Covid-19. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juli 2021

RSUD Melawi butuh 50-70 Tabung Oksigen Perhari untuk Pasien COVID-19

RSUD Melawi butuh 50-70 Tabung Oksigen Perhari untuk Pasien COVID-19
RSUD Melawi. Butuh 50-70 Tabung Oksigen Perhari untuk Pasien COVID-19.

BORNEOTRIBUN MELAWI - RSUD Melawi butuh 50-70 Tabung Oksigen Perhari untuk Pasien COVID-19. Jumlah kasus pasien terpapar Covid-19 di sejumlah daerah membuat kebutuhan oksigen juga meningkat.

Kebutuhan oksigen saat ini secara khusus untuk penanganan pasien terpapar COVID-19 mengalami peningkatan.

Hal ini Di sebabkan tingginya jumlah kasus harian dari hari ke hari secara khusus di kalbar dan nasional, Selasa (06/07/2021).

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat memastikan stok oksigen untuk kebutuhan medis dalam kondisi aman.

"ketersediaan oksigen untuk kebutuhan medis di sini aman," kata Dirut RSUD Kabupaten Melawi Dr.Sien.

Dia mengatakan RSUD Kabupaten Melawi memiliki tempat penyimpanan oksigen yang cukup besar sehingga mampu menampung oksigen dalam jumlah banyak.

Dr.Sien menyebut perlengkapan medis itu digunakan untuk melayani seluruh pasien rawat inap yang membutuhkan bantuan oksigen sementara bagi pasien dengan kamar tidur tambahan diberikan oksigen jenis tabung.

"Penggunaan oksigen ini rata-rata per hari bisa mencapai 50-70 tabung oksigen Per harinya. Mudah-mudahan tidak ada tambahan kasus positif COVID-19," paparnya.

Di RSUD Melawi saat ini terdapat 25 pasien terkonfirmasi positif COVID-19. Dari jumlah itu sebanyak 5 pasien dirawat di ruang isolasi/Pasien gejala berat sementara sisanya  masih berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Selain kesulitan mendapatkan oksigen medis RSUD Melawi juga harus rela mengeluarkan uang lebih banyak dari harga sebelumnya,tutup Dr Sien.

Penulis : Erik.P

Minggu, 04 Juli 2021

536 Ibu Hamil Terjangkit COVID, POGI Rekomendasikan Vaksinasi

Foto: Seorang ibu hamil datang untuk tes swab virus corona COVID-19 di Surabaya pada 21 Juli 2020. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

BORNEOTRIBUN JAKARTA - Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mencatat 536 ibu hamil terinfeksi virus corona sepanjang April 2020 hingga Mei 2021.

Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) merekomendasikan vaksinasi corona terhadap ibu hamil. 

Ketua POGI Ari Kusuma Januarto mengatakan lembaganya mencatat setidaknya ada 536 ibu hamil yang terinfeksi virus corona sepanjang April 2020 hingga Mei 2021. 

Foto: Ketua POGI Ari Kusuma Januarto. (Foto: VOA/Sasmito)

Sekitar tiga persen di antaranya meninggal dan 4,5 persen masuk ruang gawat darurat atau Intensive Care Unit (ICU).

Selain itu, menurut Ari, 51 persen dari 536 ibu hamil tidak bergejala atau orang tanpa gejala. 

Kondisi tersebut membuat virus berpotensi menular kepada keluarga ibu hamil ataupun dokter dan tenaga kesehatan.

"Dari 536 orang, 72 persen ditemui pada usia 37 minggu. Artinya terlambat diketahui atau baru datang. Padahal kita tahu itu masa akan melahirkan jelas membutuhkan fasilitas atau dirujuk," jelas Ari Kusuma Januarto dalam konferensi pers daring, Jumat (2/7/2021).

Ari menambahkan ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan tertular virus corona. 

Kata dia, hal ini diperkuat data Dinas Kesehatan Jakarta yang menunjukkan sekitar 1.600 ibu hamil dinyatakan positif virus corona dari 15 ribuan ibu hamil yang dites PCR (polymerase chain reaction). 

Seribu di antaranya yang dinyatakan positif membutuhkan fasilitas rujukan.

"Ini kita juga bisa bayangkan fasilitas-fasilitas. Sementara kita sekarang belum punya rumah sakit yang benar-benar khusus," tambahnya.

Foto: Dokter kandungan-ginekologi Ika Sri Purnamaningsih (tengah) dan perawat memakai alat pelindung saat memeriksa ibu hamil di RSIA Tambak, Jakarta, 22 April 2020. (Foto: AFP/Adek Berry)

Sekjen POGI Budi Wiweko menambahkan vaksinasi terhadap ibu hamil aman dilakukan. 

Hal tersebut berdasar studi observasi di Amerika Serikat terhadap 35 ribuan ibu hamil yang divaksin Pfizer dan Moderna pada Desember 2020 hingga Februari 2021. 

Hasilnya sebagian besar ibu hamil merasakan nyeri pada tempat suntikan dan kelelahan.

"Yang relatif lebih tinggi pada ibu hamil adalah nyeri pada tempat suntikan. Kalau lain-lain sebanding, bahkan ibu hamil dibandingkan lebih sedikit dibandingkan pada ibu tidak hamil," jelas Budi Wiweko.

Budi menambahkan hasil studi observasi juga menunjukkan terdapat kasus keguguran berkisar 12,6 persen, kematian di bawah usia 5 bulan 0,1 persen, dan kelainan lain, seperti persalinan prematur dan bayi kecil.

Namun, menurutnya ini masih dalam kategori wajar karena berasal dari studi observasi yang dilakukan secara acak dari ibu hamil.

Selain itu, kata Budi, pihaknya juga berkaca kepada organisasi profesi di dunia seperti Royal College of Obstetricians and Gynecologists dan American College of Obstetricians and Gynecologists yang menunjukkan keamanan vaksinasi terhadap ibu hamil.

Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan pemerintah masih menunggu rekomendasi dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) soal vaksinasi ke ibu hamil.

VOA sudah berusaha meminta tanggapan ke juru bicara BPOM soal rekomendasi vaksinasi kepada ibu hamil. 

Namun, belum ada tanggapan dari BPOM terkait hal ini hingga berita ini diturunkan. [sm/ah]

Oleh: VOA

Sabtu, 03 Juli 2021

Seorang Warga Meliau Terkonfirmasi Positif COVID-19 Meninggal Dunia

Seorang Warga Meliau Terkonfirmasi Positif COVID-19 Meninggal Dunia
Seorang Warga Meliau Terkonfirmasi Positif COVID-19 Meninggal Dunia.

BORNEOTRIBUN SANGGAU, KALBAR - Seorang Warga Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalbar yang terkonfirmasi positif COVID-19 meninggal dunia di Pontianak.

Kapolsek Meliau Iptu Nana Supriatna beserta personel Polsek lakukan pengamanan prosesi pemakaman jenazah pasien COVID-19 di Desa Meliau Hulu Kecamatan Meliau, Sabtu (3/7).
 
Hari Sabtu dini hari bertempat di RS Santo Antonius Pontianak telah dinyatakan meninggal dunia 1 (Satu) orang Pasien COVID-19 yang merupakan salah satu warga di Desa Meliau Hulu Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau.
 
Sebelum melaksanakan pemakaman Jenazah warga Kecamatan Meliau yang positif COVID-19 tersebut, terlebih dahulu dilaksanakan Konsolidasi Tim Satgas penanganan  COVID-19 di Polsek Meliau yang dihadiri oleh Kapolsek Meliau Iptu Nana Supriatna beserta Satgas Kecamatan COVID-19 beserta Tim Medis Kecamatan Meliau untuk membahas Prosedur Pemakaman pasien yangg meninggal dunia akibat terkonfirmasi positif COVID-19.
 
Adapun kegiatan Pemakaman warga Kecamatan Meliau yang meninggal akibat positif COVID-19 dipimpin oleh Kapolsek Meliau beserta Satgas COVID-19 dan tim Medis Kecamatan Meliau.
 
Kapolsek mengatakan bahwa kegiatan pemakaman warga Kecamatan Meliau yangg meninggal Dunia akibat positif COVID-19 sudah sesuai dengan prosedur Protokol kesehatan.
 
“Dengan bertambahnya angka kematian akibat positif COVID-19 di Kecamatan Meliau, maka Tim Satgas COVID-19 Kecamatna Meliau akan melakukan tracking terhadap warga yang pernah kontak dengan Pasien COVID-19 di Kecamatan Meliau,” pungkasnya.

(yk/Hms)

Senin, 28 Juni 2021

Varian Baru Virus COVID-19 Mengancam Anak-anak dan Remaja!

Varian Baru COVID-19 Mengancam Anak-anak dan Remaja!
Sumber foto: #MediaLawanCovid19

BORNEOTRIBUN.COM
 - #MediaLawanCovid19 kembali meluncurkan konten edukasi bersama dengan fokus pada Anak-anak dan Remaja, pada Senin-Selasa (28-29 Juni) ini. 

Kampanye ini dilakukan mengingat tingginya daya penularan varian-varian baru virus COVID-19 yang mengancam kelompok usia anak (0-18 tahun).

Sumber foto: #MediaLawanCovid19

Kian menanjaknya kasus positif COVID-19 pada kelompok usia anak, perlu mendapat perhatian sangat serius dari para orang tua, tenaga pendidik, dan juga kalangan remaja. 

Dalam laporan “Update Data Nasional dan Analisis Kasus Covid-19 pada Anak-anak” per 24 Juni 2020 yang dikeluarkan oleh Satgas Penanganan Covid-19, proporsi yang terpapar di kelompok usia anak ini cukup besar.

Sumber foto: #MediaLawanCovid19

Dari total kasus Covid-19 di Indonesia, sebanyak 12,6% (250 ribu) berasal dari kelompok usia anak. Proporsi terbesar berada pada kelompok usia 7-12 tahun (28,02%), diikuti oleh kelompok usia 16-18 tahun (25,23%) dan 13-15 tahun (19,92%). 

Sumber foto: #MediaLawanCovid19

Namun, berdasarkan persentase angka kematian, yang tertinggi justru berada pada kelompok umur 0-2 tahun (0,81%), diikuti oleh kelompok usia 16-18 tahun (0,22%) dan 3-6 tahun (0,19%). 

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menunjukkan rawannya penularan virus COVID-19 pada kelompok usia anak. 

Sumber foto: #MediaLawanCovid19

Ketua Umum IDAI Prof. Dr. Aman B. Pulungan memaparkan, sebanyak 1 dari 8 kasus COVID-19 adalah anak-anak. Dari jumlah kasus itu, sebanyak 3-5 persen di antaranya meninggal dunia, dan separuhnya adalah balita. 

Penambahan kasus positif COVID-19 ini sesungguhnya mencapai puncaknya pada Januari 2021 dan sempat mengalami penurunan hingga April 2021. 

Namun, perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan trennya kembali mengalami kenaikan pada Mei 2021, seiring dengan kian menyebarnya varian-varian baru COVID-19.  

Sumber foto: #MediaLawanCovid19

Sejumlah penelitian menyebutkan, varian-varian baru virus COVID-19 memiliki daya penularan lebih tinggi dibanding virus COVID-19 awal. 

Dari empat varian baru yang berkembang, varian Delta asal India dinyatakan sebagai paling berbahaya, dengan daya tular 97 persen lebih tinggi. 

Sumber foto: #MediaLawanCovid19

Diikuti oleh varian Gamma (Brasil) 38 persen,  Alpha (Inggris) 29 persen, dan Beta (Afrika Selatan) 25 persen. 

Sehubungan dengan itu, potensi penularan masif pada kelompok usia anak perlu sangat diwaspadai. Dalam konteks itu pula, #MediaLawanCovid19 pasa Senin (28/6) pagi ini menayangkan kampanye bertajuk “Ayah-Bunda, Lindungi Aku dari COVID-19”. 

Kampanye ini ditujukan kepada para orang tua agar untuk sementara waktu tidak mengajak anak-anaknya bepergian, kecuali dalam keadaan darurat. 

Rumah menjadi tempat terbaik bagi mereka untuk terlindung dari ancaman COVID-19.

Kampanye ini disusul dengan kampanye kedua pada Selasa esok (29/6) bertajuk “Ada yang Ngajak Ngumpul? Tolak Saja”. 

Kampanye ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran di kalangan remaja dan anak muda agar sementara waktu menghindari berbagai acara kumpul-kumpul bersama teman-temannya. 

Masih kuat anggapan bahwa kalangan muda tidak rentan terpapar oleh COVID-19 dibanding kelompok usia lanjut, seperti di masa-masa awal pandemi. 

Kedua kampanye ini akan dipublikasikan secara serentak di berbagai platform media, baik di jaringan televisi, radio, majalah, koran, media siber maupun media sosial. 

Aksi ini menindaklanjuti kampanye-kampanye #MediaLawanCovid19 sebelumnya yang dimulai pada 24 Maret 2020, dengan mengusung sejumlah tema antara lain: 

Jaga Jarak, Jangan Lengah, Jangan Mudik, Aman Pakai Masker, Peduli Sekitar Kita, Hati-hati Makan Bersama, Yuk Lindungi Mereka (vaksinasi lansia), dan terakhir PantunGakMudik menjelang Idul Fitri, Mei lalu.

#MediaLawanCovid19 adalah sebuah inisiatif bersama kalangan media untuk menyebarkan berbagai konten edukatif secara masif dalam upaya memerangi penyebaran virus COVID-19 di Indonesia. 

Inisiatif ini pada awalnya diikuti oleh sekitar 100 jaringan media nasional dan daerah dalam berbagai platform, yaitu televisi, radio, media cetak, media siber serta media sosial.

Inisiatif ini muncul secara spontan dari kalangan media dan bersifat independen, tanpa terafiliasi dan dibiayai oleh pihak mana pun. 

Dengan begitu, kerja-kerja jurnalistik tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya, dengan tetap menjunjung azas independensi. 

Melalui kerja berjaringan ini, diharapkan berbagai pesan penting dalam upaya memerangi penyebaran virus COVID-19 dapat tersebar luas dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara cepat. 

Hal ini menjadi amat penting, karena penyebaran COVID-19 tampaknya semakin random dan luas. Sementara, kesadaran publik belum terbangun secara sistematis.
(*)

Koq Bisa? Belasan Dokter yang Sudah Divaksin, Meninggal karena COVID-19

Belasan Dokter yang Sudah Divaksin, Meninggal karena COVID-19
Seorang karyawan melintas di depan mural yang dibuat untuk menghormati tenaga kesehatan di RSUD Cengkareng, Jakarta, Kamis, 24 Juni 2021.

BORNEOTRIBUN JAKARTA - Seperti dikutip oleh kantor berita AFP, Jumat (25/6), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengungkapkan belasan dokter yang telah divaksinasi lengkap meninggal karena COVID-19 di Indonesia.

Korban meninggal di kalangan nakes terjadi ketika Indonesia sedang berjuang memerangi sejumlah kasus parah yang dialami para petugas medis yang sudah divaksin dan varian virus baru yang sangat menular.

Dalam sepekan belakangan, jumlah infeksi meningkat di Indonesia, yang berpenduduk 270 juta orang itu, melampaui dua juta kasus pada Senin (21/6). 

Sementara, tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit meningkat menjadi lebih dari 75 persen di Jakarta dan daerah-daerah yang terkena dampak parah lainnya.

Hampir 1.000 petugas kesehatan Indonesia telah meninggal karena virus itu sejak pandemi dimulai. IDI mengonfirmasi pada Jumat (26/6) bahwa 401 dokter termasuk di antara para korban, 14 di antaranya telah divaksinasi lengkap.

“Kami masih memperbaharui data dan memastikan apakah kasus lain sudah divaksinasi atau tidak,” kata Mohammad Adib Khumaidi, Ketua Tim Mitigasi COVID-19 IDI kepada para wartawan.

Peningkatan kasus parah di kalangan pekerja medis yang telah divaksin menimbulkan pertanyaan tentang vaksin Sinovac buatan China, yang sangat diandalkan Indonesia untuk memvaksinasi lebih dari 180 juta orang sebelum awal tahun depan.

Bulan ini lebih dari 300 dokter dan petugas kesehatan yang sudah divaksin di Jawa Tengah terinfeksi COVID-19 dan sekitar belasan dirawat di rumah sakit.

Negara ini juga sedang bergulat dengan jenis virus baru, termasuk varian Delta yang sangat menular, yang pertama kali diidentifikasi di India. [vm/ft]

Oleh; VOA

Jumat, 25 Juni 2021

Kasus Konfirmasi Positif Covid-19 di Kalbar kembali meningkat, Bertambah Kasus Baru 189 orang

Kasus Konfirmasi Positif Covid-19 di Kalbar kembali meningkat, Bertambah Kasus Baru 189 orang
Foto: Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Harisson.

BORNEOTRIBUN PONTIANAK - Kasus Konfirmasi Positif Covid-19 di Kalbar kembali meningkat, dimana pada Kamis (24/6/2021) terdapat tambahan kasus baru sebanyak 189 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Harisson menjelaskan, penambahan kasus itu diketahui setelah adanya uji laboratorium terhadap 1.045 sampel. Dari penambahan kasus tersebut 29 orang diantaranya masih dirawat di rumah sakit.

“Pada 24 Juni 2021 dari 1.045 orang yang di uji laboratorium, terdapat 189 orang kasus positif Covid-19, 29 orang masih dirawat di rumah sakit,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson, kepada wartawan (25/6/2021) malam.

Adapun kasus baru ini tersebar di Kota Pontianak 28 orang, Bengkayang 19 orang, Kayong Utara 11 orang, Ketapang 13 orang, Kubu Raya 18 orang, Melawi 21 orang, Mempawah 15 orang, Sambas 17 orang, Sanggau 3 orang, Landak 25 orang, Sekadau 15 orang, Kapuas Hulu 3 orang, dan Sintang 1 orang.

Harisson menjelaskan, untuk konfirmasi dinyatakan sembuh terdapat 120 orang yang tersebar di Kota Pontianak 8 orang, Kubu Raya 8 orang, Ketapang 7 orang, Melawi 18 orang, Landak 14 orang, Bengkayang 23 orang, Sambas 23 orang, dan Kota Singkawang 19 orang.

Dengan adanya penambahan kasus baru ini membuat total kasus Covid-19 di Kalbar ada sebanyak 13.711 orang, kasus aktif 993 orang atau 7.24 persen, kasus sembuh 12.502 orang atau 91,18 persen dan kasus meninggal dunia sebanyak  216 orang atau 1.57 persen.(*)

Kamis, 24 Juni 2021

Hong Kong Larang Penerbangan dari RI karena COVID-19

Hong Kong Larang Penerbangan dari RI karena COVID-19

BORNEOTRIBUN.COM - Hong Kong akan melarang penerbangan dari Indonesia mulai Jumat (25/6) karena mengganggap "berisiko sangat tinggi" terkait virus corona. 

Pemerintah Hong Kong mengatakan pada Rabu (23/6) malam bahwa mereka menangguhkan penerbangan setelah jumlah kasus COVID-19 yang diimpor dari Indonesia melewati ambang batas yang ditetapkan oleh pusat keuangan global itu, sebagaimana dilansir dari Reuters. 

Hong Kong telah melarang kedatangan maskapai dari India, Nepal, Pakistan, dan Filipina. 

Selama ini wilayah administrasi khusus China tersebut menerapkan regulasi yang mengatur penangguhan penerbangan jika terdapat lima atau lebih penumpang yang dites positif untuk salah satu varian kasus COVID-19 pada saat kedatangan. 

Penangguhan penerbangan juga dapat diterapkan jika ada 10 atau lebih penumpang yang ditemukan memiliki varian lain selama masa karantina.

Hong Kong telah mencatat lebih dari 11.800 kasus dan 210 kematian akibat virus corona. Sebagian besar kasus COVID-19 yang terjadi baru-baru ini di kota tersebut dipicu oleh kasus impor.   

Kementerian Luar Negeri RI mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa larangan Hong Kong adalah "sementara" dan bahwa pekerja migran Indonesia yang terkena peraturan baru harus menghubungi majikan dan agen mereka.  

Hong Kong mempekerjakan ribuan pekerja migran dari sejumlah negara, termasuk Indonesia dan Filipina. [ah/au]

Oleh: VOA

Kematian Anak Akibat COVID-19 di Indonesia Tertinggi di Dunia

Kematian Anak Akibat COVID-19 di Indonesia Tertinggi di Dunia
Anak-anak memakai masker pelindung berbaris saat kegiatan belajar mengajar di tengah wabah COVID-19 di Lebak, Provinsi Banten. (Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas/via Reuters)

BORNEOTRIBUN JAKARTA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyerukan seluruh orang tua untuk waspada dan lebih menjaga anak-anak seiring meningkatnya jumlah kematian anak akibat pandemi virus corona, yang mencapai tingkat tertinggi di dunia.

“Saya malu sebenarnya. Ketika saya olahraga rame-rame di Wisma Atlet, di tengah pasien yang banyak itu, saya merasa kenapa mesti ada di sini. Seperti nyesek aja di dalam hati, kenapa bisa kecolongan," ujar Renata Silalahi, penyintas COVID-19.

Padahal, katanya, Indonesia sudah melewati pandemi lebih dari setahun dan ia termasuk orang yang serius dalam menerapkan protokol kesehatan.

"Anak-anak bilang saya 'prokes bawel' karena aku terlalu bawel dan terlalu khawatir. Jadi kecolongan ini bikin saya sakit hati karena kita sudah menjaga sedemikian rupa," tuturnya.

Renata Silalahi adalah ibu dua anak yang baru saja diizinkan kembali ke rumah setelah menjalani perawatan selama dua minggu di Wisma Atlet Jakarta. Renata, yang berusia 46 tahun, baru merasakan gejala tertular COVID-19 ketika indra penciumannya mati rasa.

“Seminggu sebelum kita di-swab di puskesmas, anak saya sudah demam menggigil, tapi dikasih paracetamol demamnya hilang. Meski mereka tetap tidak mau makan," katanya.

"Lalu sakit tenggorokan, pilek sedikit, tidak ada batuk. Mereka masih tidak apa-apa. Seminggu setelah gejala itu, saya merasa tidak bisa merasakan apa-apa ketika mencium benda-benda yang biasa dipakai, seperti minyak telon atau minyak kayu putih," tambah Renata.

Ia bergerak cepat. Ia mendatangi puskesmas di Jagakarsa, yang langsung memisahkannya dari pasien lain dan melakukan uji swab. Hasilnya ia dan kedua anaknya yang berusia 7 dan 5 tahun dinyatakan positif COVID-19. Puskesmas memberinya dua alternatif, yaitu melakukan isolasi mandiri di rumah, tetapi pihak puskesmas tidak dapat membantu jika kondisi memburuk atau muncul penyakit lain; atau ia harus dirawat di rumah sakit. Beruntung ada tempat kosong di Wisma Atlet sehingga pada 4 Juni ia dapat dirawat di sana.​

Kematian Anak Akibat COVID-19

Dalam konferensi pers perhimpunan lima profesi dokter Indonesia pada 18 Juni, Ikatan Dokter Anak Indonesia IDAI mengatakan di tengah lonjakan kasus baru harian COVID-19, terjadi pula peningkatan tajam penularan dan bahkan kematian pada anak-anak.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia IDAI Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan mengatakan data nasional menunjukkan konfirmasi COVID-19 pada anak berusia 0-18 tahun mencapai 12,5 persen.

“Artinya 1 dari 8 kasus konfirmasi COVID-19 adalah anak-anak. Data IDAI juga menunjukkan case mortality (tingkat kematian.red) mencapai 3 persen – 5 persen, jadi kita memiliki tingkat kematian tertinggi di dunia,” ujar Aman Pulungan. Ditambahkannya, dari seluruh data anak yang meninggal itu, 50 persen adalah balita.​

Kematian Anak Akibat COVID-19 di AS

Sebagai perbandingan dengan Amerika Serikat (AS), American Academy of Pediatrics pekan ini melaporkan bahwa sejak pandemi merebak hingga 17 Juni lalu, jumlah anak-anak yang tertular mencapai 14,2 persen dari total orang yang tertular di seluruh negara bagian, atau berarti sekitar 4,02 juta anak. Namun tingkat kematian anak akibat COVID-19 di AS adalah 0,22 persen. Tujuh negara bagian bahkan melaporkan tidak ada anak yang meninggal karena COVID-19.

Oleh karena itu Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan menggarisbawahi pentingnya orang tua menjaga anak-anak mereka lebih ketat lagi. “Kapan lagi kita jadi orang tua menyayangi anak? Jadilah orang tua saat pandemi! Dampingi anak-anak kita. Hindari membawa anak ke luar rumah, kecuali dalam keadaan mendesak," tukasnya.

Ia menekankan pentingnya anak-anak untuk tinggal di rumah. Jikapun harus berkegiatan di luar rumah, hindari area dengan ventilasi tertutup, kepadatan dan risiko kontak erat.

"Penuhi hak anak untuk hidup dan untuk sehat, secara fisik dan mental, untuk masa depan yang lebih baik. Kita hidup untuk apa kalau bukan untuk anak? Jaga anak kita! Jaga anak kita! Jangan sampai ada yang sakit,” tegasnya.

IDAI juga mengajak warga untuk berperan aktif bersama pemerintah, mengawasi protokol kesehatan di tempat-tempat umum.

Renata Silalahi – yang tetap merasa “kecolongan” karena selama ini senantiasa mendampingi kedua anaknya belajar dan beraktivitas di rumah, serta memberikan makanan bergizi dan vitamin – mengatakan sempat pilu ketika harus menjalani isolasi dan perawatan di Wisma Atlet selama dua pekan. Namun ia menguatkan diri dengan memberi semangat pada anak-anaknya dan selalu berdoa. Terlebih karena dari enam anggota keluarganya, lima dinyatakan positif dan dirawat di lokasi berbeda.

“Ketika berangkat ke Wisma Atlet saya bawa bola, mainan, skuter anak-anak, buku. Apapun yang bisa membuat mereka gembira, karena kegembiraan juga obat.. Kalau malam saya ajak anak-anak naik ke lantai atas Wisma Atlet," katanya.

"Mereka suka karena kelihatan gedung-gedung tinggi Jakarta yang indah banget. Saya bilang sama anak-anak, anggap saja kita lagi liburan. Nikmati saja. Kami juga sempat merayakan ulang tahun bersama para perawat," ujar Renata.

Tak lupa ia menekankan perlunya berdoa. " Doa menguatkan kita untuk gak bernafsu akan hal apapun, menjaga dan memagari diri dengan doa," pungkasnya. [em/ah]

Sumber : VOA

Rabu, 23 Juni 2021

Pemerintah Prioritaskan Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Pada APBN 2021

Tumpukan kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok di tengah pandemi COVID-19 di Jakarta, 3 Agustus 2020. (Foto: Reuters).

BORNEOTRIBUN JAKARTA -- Pemerintah Indonesia terus berupaya melakukan perbaikan dan pemulihan ekonomi berbarengan dengan penanganan kasus COVID-19. Ini dilakukan sebagai upaya untuk menumbuhkan perekonomian dalam negeri yang sempat merosot selama pandemi.

Pemerintah menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap tumbuh pada tahun 2021 di tengah pandemi virus corona yang melanda Indonesia dan dunia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pada konferensi pers, Senin (21/6), bahwa pertumbuhan ekonomi ditunjukkan oleh sejumlah indikator mulai tumbuhnya perekonomian di dalam negeri, yang juga dipengaruhi proyeksi ekonomi global karena optimisme terhadap vaksinasi.

Indikator pertumbuhan ditunjukkan oleh aktivitas dan mobilitas ekonomi masyarakat yang terus meningkat dalam empat bulan terakhir. Sampai Mei 2021, belanja negara tumbuh meyakinkan hingga 12,1 persen, diikuti belanja barang pada kementerian dan lembaga yang tumbuh 33,1 persen, belanja modal, dan penyaluran bantuan sosial.

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati, saat memberikan keterangan pers terkait APBN 2021 (Foto: VOA).

Belanja barang naik 91,4 persen, atau menjadi Rp.132,4 triliun dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp.69,2 triliun. Mayoritas belanja, kata Sri Mulyani, digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, yakni Rp.8,14 triliun untuk 37,78 juta dosis vaksin, bantuan pelaku usaha mikro Rp.11,76 triliun, serta pembayaran rawat pasien COVID-19 sebesar Rp.11,97 triliun untuk 177,8 ribu pasien.

“Pembiayaan kita terealisir Rp.309,3 triliun, terutama untuk menutup defisit yang menurut UU APBN memang diperkirakan mencapai 5,7 persen dari PDB. Pembiayaan utang mencapai 96 persen dari target semester satu, atau kalau secara keseluruhan 40,55 persen dari target keseluruhan tahun, yaitu kalau kita lihat sebesar Rp.1.177 triliun totalnya,” papar Sri Mulyani.

Meski menunjukkan defisit pada anggaran APBN 2021, Sri Mulyani tetap optimistis pertumbuhan ekonomi akan tetap positif sampai akhir tahun, namun dengan catatan penanganan COVID-19 diimbangi oleh kesadaran masyarakat untuk menjalani dan menaati protokol kesehatan selama beraktivitas ekonomi. Optimisme ini didasari oleh kenaikan pendapatan negara yang sampai Mei 2021 mencatatkan angka Rp.726,4 triliun, atau lebih tinggi 9,3 persen dibandingkan akhir Mei 2020 yang minus sembilan persen akibat kontraksi ekonomi.

“Pendapatan negara mengalami rebound yang sangat luar biasa. Tahun lalu kontraksi sembilan persen, tahun ini positif sembilan persen. Untuk pajaknya tiga persen, dan untuk bea dan cukai maupun PNDB juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi, 21 persen dan 22 persen,” lanjutnya.

Selain sektor konsumsi, sektor investasi juga mengalami peningkatan yang menunjukkan geliat ekonomi masyarakat semakin baik. Sri Mulyani menegaskan pentingnya masyarakat mengetahui faktor yang menopang atau mendukung pemulihan ekonomi, yaitu keberhasilan pengendalian perebakan virus Corona, baik melalui vaksinasi, serta penerapan protokol kesehatan yang ketat. Bila pengendalian COVID-19 berjalan baik, maka pemulihan ekonomi dapat lebih cepat dilakukan.

Seorang perempuan mengenakan masker untuk mencegah penularan COVID-19 sedang berbelanja di sebuah pasar tradisional di Jakarta, 1 Maret 2021. (Foto: Willy Kurniawan/Reuters).

“Memang di satu sisi adalah suatu rebound atau natural base effect yang terjadi, tapi di sisi lain juga menggambarkan bahwa memang ada geliat perekonomian. Kita harus terus melihat faktor yang menopang atau yang mendukung pemulihan ini adalah pengendalian COVID dan vaksinasi, dan juga protokol kesehatan yang harus terus dilakukan,” kata Sri Mulyani.

Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya), Firman Rosjadi Djoemadi, mengatakan APBN merupakan instrumen yang dibuat untuk merespon situasi atau keadaan ekonomi di suatu negara. Defisit anggaran APBN yang mencapai 5,7 persen ditentukan berdasarkan asumsi ekonomi yang mulai pulih, meningkatnya konsumsi masyarakat, serta kegiatan ekonomi lainnya yang meningkat. Kepada VOA, Firman berharap defisit anggaran tidak terus naik, serta diikuti penurunan biaya-biaya ekonomi pada bidang-bidang yang tidak terlalu mendesak untuk dianggarkan pendanaannya selama pandemi.

“Defisit silakan ditekan, kalau bisa jangan naik, dengan pengurangan pos-pos yang memang tidak sangat mendesak, diiringi kebijakan untuk menurunkan biaya-biaya ekonomi. Jadi bukan single policy, jadi multiple policy, harus begitu,” ujar Firman Rosjadi.

Pelaksanaan rapid tes di salah satu pasar di Surabaya (Foto: Humas Pemkot Surabaya).

Firman meyakini, pemulihan ekonomi di masyarakat akan terus positif trennya, yang ditunjukkan adanya kenaikan konsumsi masyarakat dan investasi. Namun, Firman menegaskan pentingnya menjaga penanganan COVID-19 tetap pada jalur yang benar, untuk mengantisipasi terjadinya gelombang kedua atau ketiga pandemi corona di Indonesia. Peningkatan kasus akan berdampak pada pembatasan aktivitas ekonomi, yang berarti akan mengoreksi proyeksi ekonomi yang direncanakan di APBN.

“Seminggu terakhir ini ada lonjakan ya, nah ini yang akan dikhawatirkan pembatasan-pembatasan ketat akan dilakukan, dan kalau itu dilakukan berarti rencana atau proyeksi ekonomi tumbuh itu bisa terkoreksi. Ujungnya apa, kalau terkoreksi, kalau memang benar itu terjadi, ya defisit 5,7 persen itu mungkin tidak akan bisa dicapai. Jadi defisitnya akan lebih besar dari yang direncanakan,” tandas Firman. [pr/ka]

Oleh: VOA

Selasa, 22 Juni 2021

DPAC GANN dan Kecamatan Tigaraksa Bagikan Masker Gratis


Camat Tigaraksa dampingi DPAC GANN bagikan masker dijalan raya

BorneoTribun TangerangBanten Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Generasi Anti Narkotika (GANN) dan Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, membagikan Masker Gratis di depan kantor Kecamatan Tigaraksa, Selasa (22/6/2021).

Camat Tigaraksa Rahyuni dan Ketua GANN Tigaraksa Ujang Mustafa serta staff Kecamatan berikut jajaran GANN, turun langsung memberikan masker gratis dengan sasaran Masyarakat yang melintas baik pejalan kaki, maupun pengguna kendaraan Roda 2, Roda 4 atau lebih.

Camat Tigaraksa Rahyuni sangat antusias dan berterimakasih kepada DPAC GANN, yang sudah memperhatikan warganya dengan ada pembagian masker gratis ke pada pengguna jalan di wilayahnya. 

"Saya mewakili instansi Kecamatan Tigaraksa berterimakasih kepada DPAC GANN Tigaraksa, yang sudah memperhatikan warga saya dengan membagikan Masker gratis kepada pengguna jalan. Jangan menilai seberapa harga masker, tapi wujud kepedulian dan jiwa sosial dari rekan-rekan GANN," terang Camat Tigaraksa.

Sementara Ketua DPAC GANN Tigaraksa Ujang Mustafa menerangkan, adapun Jumlah masker yang dibagikan sebanyak 250 masker kepada Masyarakat yang jalan Kaki atau yang menggunakan kendaraan Roda 2 maupun Roda 4 atau lebih.

“kegiatan ini adalah untuk menekan Penyebaran Covid 19 mengingat Pandemi Covid-19 sampai sekarang belum berakhir,” ujarnya.

"Dalam kegiatan bagikan masker kepada masyarakat pengguna jalan, kami selalu mengedukasi dan mensosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya selalu melakukan protokol kesehatan, apalagi sekarang PPKM Mikro yang mana ketentuan dan aturannya sudah di tuangkan dalam peraturan tersebut,” pungkas Ujang Mustafa. (**)

Editor : R. Hermanto

Hukum

Peristiwa

Pilkada 2024

Kesehatan

Lifestyle

Tekno